Catatan Film: Captain ‘Naive’ America


captain-america-civil-war

Belakangan ini, saya membuat jarak dengan Hollywood yang dulu sihir-sihirnya hampir selalu berhasil membuat saya terpukau. Saya tidak menonton film-film mereka, baik lewat bioskop, internet, maupun televisi. Sebaliknya, saya mulai ‘menelusur ke belakang’, membaca buku-buku bercitarasa Nusantara, seperti buku mengenai pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dan Ki Hajar Dewantara.

Lantas, efek apa yang timbul ketika hari ini saya menonton film Captain Amerika: Civil War? Senang hingga terkenang-kenang? Puas sampai lupa bernapas?

Tidak. Ternyata, saya malah geli sendiri!

Saya tahu, ini adalah film (yang diharapkan) seru dan menegangkan. Jelas-jelas bukan film komedi, walaupun kemunculan singkat Spider-boy yang suka ngobrol saat bertarung sekalipun dan sempat ngotot minta pada Tony Stark untuk disebut Spider-man, berhasil mencuri tawa saya dalam diam. Yang membuat saya geli adalah setelah menonton film ini, saya menyadari betapa naifnya seorang Kapten Amerika yang imej-nya berusaha ditonjol-tonjolkan dalam film ini. Padahal ia adalah pemimpinnya para superhero yang tergabung dalam The Avengers. Saya bisa merasakan bagaimana si pembuat film berusaha ‘menghidupkan’ kembali Sang Kapten supaya menjadi simbol kepahlawanan Amerika, ‘sang penyelamat dunia’, lebih utama daripada Spiderman dan Iron Man yang imej-nya sudah kadung nendang duluan di hati para penonton akhir-akhir ini.

Sementara itu, jika kita membaca buku para pemikir Nusantara, jelas dinyatakan bahwa untuk menjadi seorang manusia utama, dibutuhkan pengendalian tinggi terhadap diri sendiri dan kebijaksanaan dalam bertindak serta berpikir. Seorang pemimpin tidak hanya menuruti apa maunya diri sendiri/egonya. Ia harus mampu membedakan mana suara ‘karep’/keinginan dan mana suara hati nuraninya yang sejati. Ia harus mampu merangkul semua pihak dan mampu berempati terhadap sesama.

Makanya, saya geli sendiri ketika melihat tindakan dan cara berpikir Sang Kapten selama film tersebut. Di hadapan pemikiran para tokoh Nusantara tersebut, Sang Kapten tak ubahnya seperti seorang ABG naif yang merasa dirinya keren dan menjadi pahlawan. Sang Kapten bahkan tidak bisa merangkul kawan-kawannya sendiri yang berseberangan jalan. Bukan karena kawan-kawannya berubah jahat, tetapi hanya karena berbeda pendapat. Sang Kapten digambarkan memilih menghajar sahabat-sahabatnya sendiri dibandingkan digambarkan berusaha mencari solusi permasalahan, mengorbankan ego, supaya tak terjadi perpecahan/pertarungan. Sepanjang film, saya malah menemukan Tony Stark alias Iron Man yang digambarkan mau berjiwa besar mengakui kesalahan dan Black Panther yang menahan diri tidak balas dendam pada pembunuh ayahnya. Menurut saya, penggambaran sifat-sifat demikian seharusnya dinisbatkan pada Sang Kapten untuk menunjukkan kualitas karakternya sebagai seorang pemimpin dan ikon Amerika. Ah, bahkan Sang Kapten tidak terlihat sungguh-sungguh meminta maaf pada Tony Stark, karena telah melindungi pembunuh Mr. & Mrs. Stark (orangtua Tony). Hanya lewat sebuah kata I’m sorry yang diucapkan tanpa ekspresi penyesalan dan tanpa emosi, alias datar saja. Mungkinkah ini karena akting Chris Evans yang memang datar-datar saja selama film berlangsung? Entahlah.

Menonton film Captain America: Civil War memang pilihan tepat bagi saya hari ini. Berkat film ini, saya menyadari kelemahan sihir Hollywood. Ketika kita mengambil jarak darinya dan mengamatinya dengan landasan pola pikir berbeda, maka sihir itu lambat laun akan kehilangan daya magisnya pada kita. Ada garis batas jelas yang saya temukan setelah menonton film ini. Peradaban Barat senantiasa mengajak manusia untuk melampiaskan ego (lihat saja adegan bak-bik-buk-nya yang asal hajar/barbar dan adegan percintaannya yang cenderung pada ekspresi pelampiasan fisik). Sementara, Peradaban Nusantara, senantiasa mengajak manusia untuk mengerem, menata, mengelola, menahan, mempuasai, dan melepaskan kekuatan pada saat dan ukuran yang tepat. Itulah yang dinamakan kebijaksanaan.

(Eryani Widyastuti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s