DONGENG ANAK: Kisah Tuan Kemal dan Keluarga Hasan


*diambil dari buku CERITA RAKYAT TURKI oleh Eryani Widyastuti; Penerbit Andi, 2015

received_10207824399667459_1446879526499.jpg

— info lebih lanjut, klik di sini

“Bagaimana cara Tuan Hasan yang miskin membayar aroma makanan Tuan Kemal?”

photogrid_1464649327246.jpg

Pada jaman Kesultanan Utsmani, Turki menjadi daerah yang tentram dan makmur. Keadaan yang aman dan hasil bumi yang melimpah seperti gandum, zaitun, anggur, kacang-kacangan, hasil laut, juga berbagai hewan ternak yang gemuk dan sehat, membuat banyak rakyat Turki hidup dalam kenyamanan. Bahkan tak sedikit pula yang kaya raya. Banyak rumah besar dengan kubah-kubahnya yang megah dibangun di sana sini sebagai tempat tinggal mereka.

Meski begitu, tetap saja ada orang-orang yang tak tersentuh oleh tangan-tangan kemakmuran di sana. Tetap saja, ada para pengemis dan orang-orang miskin yang hidup serba kekurangan di tengah-tengah kelimpahan para tetangganya. Salah satunya adalah Hasan.

Hasan, lelaki paruh baya yang kurus ini, tinggal di sebuah rumah peninggalan orangtuanya yang sempit, bersama istri dan keempat anaknya. Lelaki itu sangatlah miskin. Setiap hari, ia harus pergi ke pasar untuk menjadi kuli panggul barang. Setelah itu, ia pergi ke pelabuhan, menawarkan jasanya untuk mengangkuti ikan-ikan turun dari kapal. Tentulah, pekerjaan seperti itu tidak bisa menghasilkan banyak uang. Namun, istri Hasan tak kurang akal. Biasanya, ia mengajak anak-anaknya pergi ke pasar. Bukan hanya untuk berbelanja sedikit keperluan rumah, namun juga, untuk memunguti butir-butir gandum dan kacang-kacangan yang tercecer jatuh dari karungnya di jalanan pasar. Jika beruntung, kadang, mereka bisa memungut beberapa butir buah anggur, zaitun yang masih segar, juga buah tomat yang agak penyok.

Sesampainya di rumah, istri Hasan menggiling gandum murahan yang dibelinya di pasar dan mencampurnya dengan ceceran butiran gandum yang telah dikumpulkannya tadi. Setelah gandum itu hancur menjadi tepung, istri Hasan mengolahnya menjadi roti. Roti hambar bertekstur kasar dan keras. Roti seperti itulah yang mereka makan hari ini. Juga kemarin, besok, dan besoknya lagi.

“Ayah, aku ingin makan roti yang besar dan lembut. Di atasnya diolesi banyak mentega dan keju yang guuuriiih…”

“Aku mau paha kambing muda yang lemaknya mengkilat di permukaannya.”

“Aku mau manisan juga. Dan susu!”

“Aku mau sup dengan yogurt yang kental!”

Setiap waktu makan malam, anak-anak Hasan sering bersahutan membicarakan berbagai jenis makanan lezat yang mereka inginkan. Makanan yang belum pernah tercicipi seumur hidup mereka. Mendengar celotehan mereka, Hasan merasa sedih. Apalagi, melihat tubuh kurus mereka; tidak seberisi anak-anak kecil pada umumnya.

Bagaimana mungkin aku dapat memberikan mereka makanan-makanan lezat dan bergizi? Bisa makan roti keras ini dengan sedikit mentega setiap hari saja, sudah merupakan suatu keberuntungan. Pikir Hasan.

“Ayah, aku pernah melihat seorang anak lelaki dan monyetnya mengambil buah di pasar tanpa ijin pemiliknya.” kata anak ketiganya yang berumur 5 tahun. “Aku juga bisa begitu, Yah! Supaya, kita bisa makan enak setiap hari.”

Hasan menggeleng cepat-cepat. “Tidak, anakku. Itu namanya mencuri. Bukankah Tuhan tidak suka kalau kita mencuri? Semiskin apapun, kita tidak boleh mengambil milik orang lain. Bagaimana perasaanmu, jika rotimu yang dicuri oleh anak itu?”

“Aku tidak akan suka rotiku dicuri. Ini kan punyaku!” jawab anak ketiganya.

Anak kedua ikut menimpali. “Ayah, bagaimana dengan pengemis? Setiap hari, pekerjaannya hanya duduk dan berkeliling pasar. Meminta uang dan makanan. Padahal, aku lihat, dia lebih muda dan lebih gemuk daripada Ayah. Coba Ayah seperti itu. Tidak perlu bekerja keras dan bisa mendapatkan banyak uang.”

Hasan menggeleng-geleng lagi. “Tidak, Nak. Kita harus tetap bekerja keras, hingga kita tidak mampu lagi Seperti para pengemis tua. Tuhan lebih mencintai orang-orang yang bekerja keras mencari makan, daripada orang yang hanya duduk berpangku tangan sambil meminta-minta.”

“Ayo, kita makan sekarang?” tawar istri Hasan.

“Tunggu, Ibu. Kita masih menunggu hidangan dari dari Tuan Kemal.” jawab anak pertama Hasan.

photogrid_1464649354655.jpg

Tuan Kemal adalah tetangga dekat mereka yang sangat kaya. Ia memiliki rumah besar beratapkan kubah berkeramik biru dengan motif-motif melengkung yang sangat indah. Di halamannya terdapat sebuah kolam air mancur yang cantik. Kebetulan, rumah mereka menghadap tembok dapur Tuan Kemal. Tembok itu memiliki lubang-lubang ventilasi kecil. Dan, dari lubang-lubang kecil itulah, hidangan dari Tuan Kemal datang. Hidangan itu adalah aroma berbagai macam makanan yang sedang dimasak di dapur saudagar kaya itu.

“Hmmmm…., hari ini, kita makan daging sapi panggang yang diolesi mentega yang sangat banyak!”

“Dan, sup kacang yang kental!”

“Wah, ini bau kue baklava! Lezatnya….!”

Sambil mengunyah roti mereka pelan-pelan, keluarga Hasan menghirup aroma masakan dari dapur Tuan Kemal. Beginilah, cara mereka menikmati makanan. Bertahan hidup dengan memakan roti yang hambar dan keras memang tidak mudah.

Untunglah, Tuhan berbaik hati. Setiap hari, pada waktu makan, bau-bauan lezat itu datang memasuki rumah mereka. Kini, roti keras itu seolah berubah menjadi berbagai hidangan lezat sesuai aroma yang tercium oleh masing-masing hidung. Roti keras itu bisa menjadi daging sapi panggang, sup, dan kue-kue. Sungguh nikmat!

“Terimakasih, Tuan Kemal!” seru anak-anak itu.

Gara-gara aroma makanan itu, mereka menganggap Tuan Kemal sebagai orang yang baik hati. Padahal, kenyataannya, Tuan Kemal adalah orang yang kikir. Ia memang punya banyak harta. Tetapi, ia tidak pernah mau berbagi dengan orang lain yang kekurangan. Sebenarnya, Tuan Kemal sering mengadakan pesta di rumahnya. Namun, ia hanya mengundang bangsawan dan orang-orang kaya. Bukan tanpa alasan. Sebab, hal itu akan menguntungkan urusan perdagangannya. Sedangkan orang-orang yang dianggap tidak membawa keuntungan, seperti keluarga Hasan, tidak akan diundang. Bahkan, ia tidak tahu, bahwa keluarga Hasan yang miskin itu tinggal di belakang rumahnya.

Suatu hari, keluarga Hasan mendengar, Tuan Kemal akan mengadakan pesta besar di luar rumah. Pesta itu akan diadakan di padang rumput yang menghadap laut.

“Pasti, akan ada banyak makanan lezat! Ayo, kita ke sana, Yah!” pinta anak-anaknya.

“Tapi, kita kan tidak diundang.” Kata Hasan.

“Kita tidak akan masuk ke pesta itu. Kita akan duduk di dekatnya sambil makan roti. Bagaimana?” Usul anak pertamanya.

Anak-anak yang lain merajuk-rajuk, mengelilingi Hasan. Ia pun mengabulkan keinginan anak-anaknya.

Waktu pesta pun tiba. Siang itu, udara sejuk dan matahari bersinar lembut. Padang rumput yang menghadap laut itu sudah dipenuhi oleh orang-orang berpakaian mewah. Semua tampak senang menikmati hidangan Tuan Kemal. Namun, ada beberapa tamu yang merasa tak nyaman di pesta itu. Sebab, mereka melihat kehadiran keluarga Hasan yang lusuh, sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang, tak jauh dari lokasi pesta tersebut.

Mendengar keluhan para tamu, Tuan Kemal mengutus salah seorang pengawalnya untuk menyuruh keluarga itu pergi.

“Kenapa kami harus pergi? Tidak bolehkah kami duduk di bawah pohon ini? Pohon ini bukan milik Tuan Kemal, kan?” kata Hasan pada pengawal itu.

Pengawal muda itu menjawab sopan. “Benar, Tuan. Tapi, tamu-tamu itu merasa terganggu. Apakah kalian ingin saya ambilkan beberapa potong daging dan roti, secara diam-diam?” tawarnya.

“Tidak. Mengambil tanpa ijin itu namanya mencuri.” tolak anak ketiga Hasan.

“Tuan, tolong ijinkan kami di sini hingga roti kami habis.” pinta Hasan.

Pengawal itu pun menyerah. Ia tidak tega untuk mengusir keluarga miskin itu dengan cara kekerasan.

photogrid_1464649366678.jpg

Melihat pengawalnya tampak kesulitan menjalankan tugas, Tuan Kemal pun menghampiri. Tuan Kemal adalah seorang lelaki tinggi besar bertubuh tambun. Ia mengenakan rompi kulit yang sangat bagus dan turban besar berhias batu safir warna hijau di tengahnya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Tuan Kemal gusar.

“Kami hanya menikmati apa yang dibawa oleh sang angin.”

“Apa yang dibawa oleh angin untuk kalian?”

“Mmmm… kue-kue…, domba panggang…, makaroni bertabur keju…” sahut anak-anak Hasan.

Tuan Kemal terkejut. “Hei! Itu kan makanan-makananku! Kalian mencuri makananku?!”

“Tidak, Tuan. Kami tidak mencuri makanan Tuan. Kami hanya menghirup aromanya saja sambil memakan roti kami sendiri.” Hasan menujukkan sekerat roti kering yang dibawanya.

“Kenapa Tuan harus marah sekarang? Kami tinggal di belakang rumah Tuan, dan menghirup aroma makanan dari dapur Tuan setiap hari, sambil memakan roti kami. Dengan begitu, roti kami terasa lezat. Tuan juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kan?” Anak pertama Hasan mencoba membela.

Tetapi, rupanya, pembelaan itu malah berbuah kemarahan Tuan Kemal yang lebih besar lagi. Sifat kikirnya muncul ke permukaan. “Apa?! Itu sama saja kalian mencuri dariku! Oh, pantas, makananku selalu terasa hambar. Ini gara-gara kalian menghirup aroma makananku!”

“Aku akan menuntut keadilan! Kalian harus mengganti aroma makananku seharga sepuluh ribu koin emas!” Tangan Tuan Kemal mengacung tinggi ke udara. 

Karena tidak mampu memenuhi tuntutan Tuan Kemal, akhirnya Hasan diseret ke pengadilan di kota, diiringi oleh isak tangis istri dan anak-anaknya.

Sang Qadi, sebutan hakim di daerah itu, bernama Nasrudin Hoja. Ia terkenal dengan kepiawaiannya dalam memutuskan perkara melalui cara yang adil. Tapi, rupanya, Tuan Kemal bermaksud mengakali Qadi Nasrudin untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.

“Perkara apa yang membawa kalian kemari?” tanya Nasrudin Hoja, Sang Qadi.

“Lelaki ini dan keluarganya telah mencuri makananku! Setiap hari dia mencuri makanan dari rumah saya. Dan, hari ini, dia mencuri makanan di pesta saya!” seru Tuan Kemal.

Nasrudin menatap Hasan. “Benarkah apa yang dituduhkan tuan ini kepada anda?”

“Tidak, Tuan Qadi. Sungguh, saya tidak mencuri. Kami sekeluarga memang miskin. Tapi, kami tidak pernah mencuri.”

“Lalu, kenapa, tuan ini menuduh anda mencuri? Apa yang anda lakukan bersama keluarga anda?” tanya Qadi Nasrudin.

“Setiap hari, kami menghirup aroma makanan yang lezat dari dapur Tuan Kemal untuk memberi rasa pada roti kami yang hambar, Tuan Qadi. Hari ini pun juga begitu. Kami hanya menghirup aroma hidangan pesta…” Hasan menjelaskan dengan nada sedih.

Pandangan Qadi Nasrudin beralih kepada Tuan Kemal. “Tuan Qadi. Yang dilakukan orang ini dan keluarganya telah merugikan saya. Membuat makanan saya terasa hambar dan hilang gizinya. Pasti sari-sari makanan itu terhirup bersama aroma makanan. Lihatlah, saya jadi semakin kurus dan sering sakit-sakitan.” Tuan Kemal pura-pura lemas dan memelas. Semua orang tahu, badan Tuan Kemal tidak menunjukkan tanda-tanda orang kurus ataupun kesakitan.

Qadi Nasrudin berpikir sebentar. Kemudian, ia bertanya.
“Berapa yang harus dibayar oleh tuan ini untuk aroma makanan itu?” tanya Qadi Nasrudin.

“Sepuluh ribu koin emas! Itu harga yang adil untuk aroma makanan saya yang telah diambilnya selama ini. Makanan-makanan yang dimasak di dapur saya selalu menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi!” Mata Tuan Kemal menyorotkan kelicikan. Qadi Nasrudin bisa melihatnya.

“Baiklah.” Kata Qadi Nasrudin. “Saya yang akan membayarnya untuk tuan ini. Hari ini, saya akan menyiapkan uangnya. Besok, datanglah ke sini untuk menerima pembayarannya.”

Semua orang yang ada di situ sangat terkejut. Sepuluh ribu koin emas bukanlah jumlah yang sedikit.

Setelah Tuan Kemal pulang, Hasan menghampiri Qadi Nasrudin, dan berbisik kepadanya. “Tuan Qadi, terimakasih banyak atas kemurahan hati anda untuk keluarga kami. Tetapi, rasanya tidak adil jika Tuan Kemal menerima uang sebanyak itu hanya untuk aroma makanan.”

“Tenang saja. Sekarang pulanglah bersama keluarga anda, dan kembalilah esok hari di waktu yang sama.”

photogrid_1464649381157.jpg

Keesokan harinya, pengadilan atas perkara Hasan dan Tuan Kemal pun dibuka kembali. Wajah Tuan Kemal terlihat berseri-seri. Dari kemarin, ia sudah membayangkan menerima tambahan kekayaan sebanyak sepuluh ribu koin emas. Huh! Ternyata Qadi Nasrudin itu mudah sekali untuk ditipu. Hahaha!

Qadi Nasrudin menyiapkan sebuah guci yang terbuat dari emas di tengah-tengah ruang pengadilan. Tangannya menggenggam sebuah kantung kulit besar dan berat, berisi sepuluh ribu koin emas. “Sekarang mari kita hitung sama-sama. Semua yang disini, silahkan ikut menghitung, supaya tidak ada yang merasa ditipu karena kekurangan uang pembayaran.” seru Qadi Nasrudin.

Qadi Nasrudin meminta Hasan untuk menjatuhkan koin-koin itu satu persatu ke dalam guci. “Jatuhkan keras-keras supaya Tuan Kemal bisa mendengar bunyi masing-masing koin, dan memastikan jumlahnya. Tidak usah terburu-buru.”

Hasan mengangguk.

Criing! Satu koin emas…

Bunyi gemerincing koin emas yang beradu dengan dasar guci terdengar sangat merdu di telinga Tuan Kemal. Ia menyerigai senang.

Criing! Dua koin emas…

Criing! Tiga koin emas…

Perhitungan itu terus berlangsung tanpa henti. Saking banyaknya koin, bahkan Hasan harus bergantian menjatuhkan koin ke dalam guci dengan istri dan kedua anaknya. Sedangkan Tuan Kemal, sepertinya tak merasa lelah sedikit pun menghitung koin-koin itu. Semakin banyak koin yang masuk ke dalam guci, semakin berseri wajahnya. Kedua telinganya terasa nyaman dimanjakan oleh bunyi koin-koin emas itu.

…Criing! Sepuluh ribu koin emas!

“Bagaimana Tuan Kemal? Sudah genap pembayarannya?” tanya Qadi Nasrudin.

“Ya, sudah! Sudah genap!” seru Tuan Kemal dengan yakin. Kedua bola matanya bersinar tamak, ingin segera memeluk guci berisi emas itu.

“Jika demikian, saya nyatakan Tuan Hasan bebas dari segala tuduhan.” Putus Qadi Nasrudin. Kemudian, ia mengambil kembali guci yang berisi koin emas itu, diiringi dengan seruan Tuan Kemal. “Tu-tunggu! Mau dibawa kemana koin-koin itu? Itu kan milik saya!”

Qadi Nasrudin berucap tenang. “Bukan. Koin itu bukan milik anda. Anda sudah mendapatkan pembayaran tadi bukan?”

“Mana? Mana?” tanya Tuan Kemal panik.

“Bukankah anda mendengar gemerincing suara koin-koin itu ketika dihitung?”

“Ya!”

“Itulah pembayaran anda! Tuan Hasan hanya mencium bau dari makanan anda. Maka, pembayaran yang adil bagi anda adalah suara gemerincing sepuluh ribu koin emas itu.”

“Tapi-tapi…!” Tuan Kemal semakin gugup. Keringat membanjiri keningnya.

“Seandainya Tuan Hasan mengambil makanan anda, maka, anda berhak mengambil uang itu. Karena Tuan Hasan hanya mendapatkan aroma makanan, maka anda mendapatkan suara koin emas. Bukankah itu adil?”

Ketika Tuan Kemal hendak menyanggah penjelasan itu, Qadi Nasrudin berbisik di telinganya. “Anda beruntung tidak dituntut karena penipuan ini.”

Tulang-tulang Tuan Kemal terasa lemas. Dengan gontai, ia berjalan pulang ke rumah megahnya. Sedangkan keluarga Hasan, atas kemurahan hati Qadi Nasrudin, mendapatkan sebagian dari koin-koin emas itu untuk memperbaiki kondisi keluarga mereka.

(Selesai)

photogrid_1464649054260.jpg

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s