RAHUVANA TATTWA: Tafsir Kritis Ramayana


BERCERMIN PADA PERISTIWA PENAKLUKAN BANGSA DRAVIDA OLEH BANGSA ARYA
rahuvana
——————————
Judul: RAHUVANA TATTWA
Penulis: Agus Sunyoto
Jenis: Novel Epik/Fiksi
Penerbit: Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta
Tahun: 2006
————————–
Membaca bagian awal buku Rahuvana Tattwa (Kisah Sejati Rahwana), menarik kelebatan pelajaran sejarah SMA tentang kedatangan bangsa Arya (Eropa) ke India yang pada waktu itu ditinggali oleh bangsa Dravida. Digambarkan, bangsa Dravida adalah bangsa berkulit hitam, keriting, dan terbelakang; sementara bangsa Arya berkulit pucat, berhidung mancung, serta sudah memiliki peradaban yang lebih tinggi. Penaklukan ini semakin disukseskan oleh tindakan kawin campur antara dua ras berbeda tersebut, sehingga lahirlah manusia dengan ciri-ciri baru yang bisa kita saksikan secara nyata pada diri Kajol, Shahruk Khan, Hritik Roshan, Icha & Tapashya, dan teman-teman.
Yah, seperti pada umumnya tipe murid SMA yang tidak kritis, saya anggap kisah antara Dravida dan Arya sudah ‘happily everafter‘ dengan adanya pernikahan campur itu. “Oh, jadi begini asal-usul para bintang film Bollywood…” Cuma itu ‘hikmah’ yang dapat saya petik. Apalagi, buku sejarah yang saya pegang waktu itu tidak membahas peristiwa ini lebih lanjut. Namun, ketika buku Rahuvana Tattwa ini berada di tangan, barulah saya merasa konyol sendiri karena dulu pernah menyimpel-nyimpelkan suatu peristiwa sejarah.
Meskipun buku ini adalah fiksi, dan bukan buku sejarah seperti textbook sekolah saya di atas, tetapi ditilik dari detail penulisan yang penuh nama plus istilah ‘ajaib’, keberadaan sekitar 40 buku dalam lembar daftar pustaka, dan track record penulisnya sendiri, terlihat jelas bahwa buku ini ditulis secara (sangat) serius. Penulis bahkan sampai mempelajari mitologi Eropa dan membekali tafsir kritisnya dengan teori The Clash of Civilization and The Remaking of The World Order – Samuel P. Huntington. Dalam daftar pustaka, kita juga bisa menemukan berbagai judul serat (karya sastra kuno) maupun karya tulis yang lebih modern semacam Lord of The Rings – JRR Tolkien. Sampai di sini saya mulai menyadari sesuatu. Rupanya kisah-kisah klasik, legenda, dan mitologi merekam catatan-catatan sejarah lewat cerita dan tokohnya secara simbolik. Di luar isinya yang memikat, hal ini menjadi alasan kuat mengapa kisah legenda tak henti-hentinya diceritakan secara turun temurun oleh orang-orang jaman dulu. Ya, karena di dalamnya tersimpan sejarah/masa lalu bangsa kita sendiri. Sejarah diri kita sendiri.
TAFSIR KRITIS RAMAYANA
Dalam kisah Ramayana, bangsa kulit berwarna–saya simpulkan sebagai Dravida (yang diwakili Rahwana) digambarkan begitu buruk dan sang pemenang yang berkulit putih (diwakili oleh Rama) begitu diagung-agungkan. Padahal, menurut penulis, banyak poin dalam kisah ini yang patut dipertanyakan. Misal, jika Rahwana memang bengis dan tidak beradab, mengapa kerajaan Alengka digambarkan sebagai kerajaan yang makmur, megah, indah, dan tertata apik? Apakah seorang raja tidak beradab bisa memiliki rasa keindahan dan memikirkan kemaslahatan rakyat? Bagaimana dengan kesetiaan rakyat dan para prajuritnya yang mau mati-matian membela Rahwana saat berperang dengan Rama, jika memang Rahwana adalah raja yang lalim? Belum lagi jika mengamati cara Rahwana memperlakukan Shinta dengan penuh hormat, bahkan tidak pernah menyentuhnya selama ditawan. Bagaimana dengan Rama? Ya, Rama yang sempurna. Tampan, gagah, sakti mandraguna, dan berbudi luhur itu ternyata malah meragukan kesetiaan Shinta dan menyuruh istrinya itu melompat ke dalam api. Setelah terbukti suci (tidak terbakar dalam api), Rama masih meragukan Shinta yang saat itu sedang hamil dan mengusirnya dari istana. Bahkan setelah anak kembar mereka lahir, Rama tidak mau mengakui mereka sebagai keturunannya. Jadi, untuk para penggemar setia Ramayana, siap-siap patah hati jika membaca novel ini, karena akan banyak persepsi umum yang ‘dipatah-patahkan’ oleh sang penulis.
Nah selanjutnya, saya akan menyorot bagian Purwakandha di mana tercantum kisah terjadinya benturan antara bangsa Dravida dan Arya, yang merupakan latar belakang terjadinya kisah epik Ramayana. Bagian inilah yang coba saya renungkan pelajarannya.
Daftar Pustaka Rahuvana Tattwa
SEJARAH SINGKAT BANGSA ARYA
Di belahan bumi nun jauh di sana, di mana tinggal para manusia tanpa peradaban (barbar) dengan ciri-ciri: tinggi besar; berkulit putih tapi kotor dengan bercak-bercak kemerahan; bermata kelabu; berambut, berkumis, dan bercambang lebat; bertopi kepala binatang; bersenjata kapak, tombak, pentungan kayu dan batu; berpakaian kulit hewan kumal yang mengeluarkan bau apak (hal. 20), yaitu bangsa Arya, yang berarti mulia. Bangsa Arya adalah keturunan Mannu. Oleh karena itu mereka disebut Mannusa. Dari sinilah akar kata manusia berasal. Mannusa menganggap bahwa tidak ada makhluk di dunia ini yang pantas disebut insan dan mulia derajatnya selain mereka. Jadi selain tidak beradab, mereka juga sombong dan diskriminatif, serta memiliki nafsu berkuasa yang amat besar. Begitu pula perilaku dewa yang mereka puja-puja, bernama Dewa Indra. Persepsi saya, yang disebut dewa sebenarnya adalah manusia juga, namun memiliki kelebihan-kelebihan yang seolah membuat dia berada di atas manusia lain. Dewa Indra ini kejam, bahkan membunuh ayahnya sendiri supaya ia berkuasa. Setelah berkuasa dan menaklukkan banyak bangsa barbar lain lewat perang, ia mendapatkan perlawanan dari Odin yang dibantu oleh Thor, putranya, serta para pemuja mereka dari suku Anglia dan Saxoni. Tunggu. Thor dalam The Avengers yang punya senjata godam raksasa itu? Yap. Tapi saya tidak tahu apakah Thor yang asli wajahnya mirip Chris Hemsworth. 😀
Terusir dari negerinya sendiri,  Dewa Indra dan para pengikutnya yang berjumlah besar itu berusaha menyelamatkan diri, menuju negeri Timur tempat para Dwarrowdelf (orang cebol/dwarf) bangsa Hun berkuasa. Bangsa Hun berciri-ciri: kulit kuning, rambut hitam ikal, mata sipit, dan hidung kecil. Meski bangsa Hun berperawakan lebih kecil, namun mereka berhasil mengalahkan Dewa Indra dan pasukannya, hingga mereka lari terbirit-birit. Tak ada pilihan lain, kecuali menuju ke dunia bawah, yang mereka sebut Naraka; tempat terang, api, dan kematian, menurut orang-orang Eropa. Dalam bayangan saya, mungkin inilah penggambaran mereka tentang daerah tropis yang melimpah cahaya mataharinya, penuh gunung berapi, serta masih menjadi misteri bagi mereka.
SEJARAH SINGKAT BANGSA DRAVIDA

Naraka, tempat yang akan dituju para mannusa adalah sebuah bagian dunia yang gemah ripah loh jinawi, berperadaban tinggi dengan bangunan mereka yang indah, karya sastra dan ilmu pengetahuan, beserta tatanan hidup yang kental dengan nuansa spiritual.  Di tempat ini ada tujuh benua yang mengitari gunung suci bernama Sumeru. Di sini pula lahir tujuh leluhur bangsa Dravida, yang menurunkan bangsa Rakshasa, Paksi, Wanara, Naga, dll. Bangsa-bangsa itu adalah manusia biasa seperti kita. Bukan monster, siluman, atau hewan. Semisal bangsa Rakshasa; disebut begitu, bukan karena mereka tinggi besar, mengerikan, kejam, dan lain-lain; melainkan karena mereka merupakan keturunan dari Dewi Raksha, yang merupakan keturunan Daksha. Salah satu ciri fisik mereka adalah berkulit gelap/hitam.

Berbeda dengan para Mannusa yang menganut garis patriarki, bangsa-bangsa tersebut menganut garis matriarki, yaitu garis ibu. Oleh karena itu, mereka sangat memuliakan wanita. Inilah salah satu penyebab mengapa Rahwana sangat menghormati Shinta yang berstatus sebagai tawanan.
Lantas, apa yang akan terjadi ketika pasukan Dewa Indra semakin mendekat ke salah satu benua yang bernama Jambhudvipa, di mana banyak keturunan Daksha (termasuk bangsa Rakshasa) tinggal?
PERISTIWA PENAKLUKAN
Singkat cerita, setelah mendapatkan perlawanan sengit dari para raja rakshasa, Dewa Indra dan para Manussa berhasil menguasai Jambhudvipa dengan segala strategi dan kekuatan tempurnya. Selanjutnya, Dewa Indra segera melancarkan beberapa taktik yang rasanya tidak asing lagi, karena manusia modern juga banyak yang mempraktikkannya, seperti pencitraan, adu dombalobi-lobi yang disertai suap, pembunuhan karakter, dan lain sebagainya. Dewa Indra mulai mencitrakan dirinya sebagai dewa di atas dewa, yang memiliki senjata lebih ampuh, kendaraan yang lebih wah, dan sebutan-sebutan bombastis semacam pembantai raksasa, sahabat manusia, dan masih banyak lagi. Dewa-dewa yang menjadi kroninya selama ini ia buatkan citra bombastis pula dan meletakkan derajat mereka di atas dewa-dewa lokal. Contohnya, Dewa Surya diangkat sebagai dewa matahari dan dicitrakan lebih hebat dari dewa matahari lokal, yaitu Dewa Ravi. Dewa Indra juga mencitrakan bangsa rakshasa sebagai bangsa yang bengis, kejam, suka makan manusia, dan merampok. Untuk itu, ia bekerjasama dengan beberapa suku dari bangsa rakshasa yang memang bersifat jahat, supaya menebar teror dalam masyarakat. Maka, kukuhlah citra buruk para rakshasa. Selain itu, Dewa Indra juga merombak tatanan sosial masyarakat, sehingga derajat para Mannusa berada di puncak, sementara penduduk asli ada di derajat paling bawah.
Rupanya, Dewa Indra dan para mannusa tak hanya berkuasa saja. Terkagum-kagum akan tingginya peradaban Jambhudvipa, mereka mulai banyak belajar dan menyerap banyak ilmu dari peradaban yang baru mereka taklukkan ini. Peradaban para mannusa menjadi semakin maju, sementara nasib para penduduk asli semakin tergilas. Sampai lambat laun, yang tercatat dalam sejarah adalah kemegahan peradaban para mannusa, sementara para dhaksa (bangsa Dravida) hanya tercatat sebagai bangsa pribumi yang terbelakang dan bodoh.
The history repeats itself. Sejarah selalu berulang. Tersingkirnya (menuju kepunahan) bangsa Indian, bangsa Aborigin, dan mungkin banyak bangsa pribumi lain yang tidak kita ketahui akibat misi penaklukan, misi penemuan dunia baru yang dilakukan oleh bangsa Eropa selalu berulang dari masa ke masa.
Bagaimana dengan bangsa kita sendiri? Dulu, para leluhur dan pendahulu kita pernah melawan hingga para penakluk itu berdarah-darah dan hampir bangkrut. Tapi, sekali lagi, kita mengulang kesalahan yang sama: begitu mudahnya diadu domba dengan iming-iming kepentingan pribadi/kelompok/golongan; parahnya, hingga tega mengobarkan fitnah ke mana-mana. Situasi semakin rumit, karena bentuk penaklukan baru bukan lagi dengan todongan moncong senjata pada kepala kita, tapi dengan gaya hidup, cara berpikir, penguasaan ekonomi, dan adu domba tadi. Semua hal itu telah mempengaruhi alam bawah sadar kita, sehingga tak perlu para penakluk itu susah payah menghabisi kita satu per satu. Kitalah yang dengan senang hati menembak kepala saudara sebangsa sendiri, dengan senang hati menyerahkan hidup kita dalam ‘sistem perbudakan tak kasat mata’ yang mereka buat.
Apakah ini berarti kita harus membenci bangsa Eropa? Sama sekali tidak. Kita semua adalah saudara dalam kemanusiaaan, tak peduli apapun rasnya.
Kita juga tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa sebagian orang-orang Eropa sendiri sadar akan hal ini dan banyak melontarkan kritik pada kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan mereka. Sebagian lain bahkan rela mengorbankan diri demi kepentingan bangsa-bangsa Timur, seperti yang dilakukan para serdadu Belanda dan Inggris yang membelot ke Indonesia pada saat perang kemerdekaan karena fitrah kemanusiaan mereka terusik. Juga seperti seorang aktivis bangsa Eropa yang rela digilas tank Israel karena berusaha menghalangi penggusuran rumah keluarga Palestina.
Fitrah kemanusiaan. Kesadaran inilah yang harus terus kita bangun dan menjadi fokus kita semua, daripada terus menerus menyimpan dendam dan menyuburkan kebencian terhadap sesama manusia. Senantiasa belajar dari sejarah dan menghindari pola-pola yang bisa merusak kemaslahatan umat manusia, sehingga kita bisa mencapai kesejahteraan bersama-sama.
Mari berpikir ulang tentang semuanya.
( Eryani Widyastuti )
 
Ravana, figur antagonis pelambang keangkaramurkaan, sesungguhnya adalah maharaja pribumi India berkulit hitam dari wangsa Rakshasa, penguasa tiga dunia, yang gagah berani, pantang menyerah, pembela kehormatan wangsanya, pemuja Siva yang saleh, penganut matriarkhi.
Sebagai maharaja terpelajar yang menguasai Veda dan memiliki penasihat-penasihat bijaksana, mungkinkah tuduhan sebagai raksasa gila yang haus darah, kejam, mabuk kemenangan,bermoral rendah, pongah, dan licik yang ditudingkan kepadanya adalah akibat doktrin hegemonis ras Arya terhadap ras kulit berwarna.
Pendiskreditan atas yang menang terhadap yang terjajah.
(Bunyi tulisan yang tertera pada sampul belakang buku)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s