NGUPING BBW April 2016: Konsep 3 Lapisan dalam Memandang Hidup


bbwapril

Ini adalah pertama kalinya saya menulis mengenai acara Forum Maiyah Bang-Bang Wetan, Surabaya (BBW). Sebagaimana forum Maiyah-an yang lain, dalam setiap acara BBW selalu ada ‘mutiara-mutiara hikmah’ yang terserak dan siap dipungut bagi siapapun yang menghendaki. Mutiara-mutiara tersebut akan saya tuliskan di sini secara pribadi, berdasarkan apa yang saya dengar dan pahami.

Pada acara yang bertema Tadabburan: Di Sini, Saat Ini, para jamaah melontarkan berbagai pertanyaan, baik mengenai hal-hal yang belum dipahami, maupun solusi permasalahan keseharian yang dihadapi. Berikut catatannya.

Konsep 3 Lapisan: Cara Pandang Permasalahan Hidup

Mas Sabrang (yang merupakan vokalis Letto, sekaligus putra pertama Cak Nun) mengungkapkan bahwa setiap manusia diberi bekal waktu yang sama (24 jam sehari) oleh Tuhan. Dengan bekal waktu tersebut, manusia bisa melakukan banyak hal/perubahan dalam hidupnya. Sebaliknya, ada juga manusia yang hanya mandheg dan tidak bisa berkembang. Mengapa ini bisa terjadi, padahal kita semua sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari?

Maka, Mas Sabrang memberikan sebuah konsep/cara pandang yang bisa digunakan untuk menjawab persoalan ini, bahwa kita harus mulai memilah-milah hal-hal yang kita hadapi dalam hidup berdasarkan 3 Lapisan berikut:

noe

1. Lapis Pengaruh

Pada Lapis Pengaruh, perbuatan-perbuatan kita memiliki kemampuan untuk mengubah/memberi efek langsung terhadap suatu hal/permasalahan. Hal-hal dalam Lapis Pengaruh biasanya dekat/berada di sekitar kita, misalnya: urusan keluarga, keseharian hidup, dll. Maka, seharusnya pada hal-hal/permasalahan tersebutlah energi dan pikiran terbesar kita curahkan. Pada pada Lapis Pengaruh, diibaratkan kita adalah pengendara sepeda motor. Kita bisa menentukan arah dan bagaimana cara mengendarainya. Dalam lapis ini, bentuk kepasrahan kita kepada Tuhan adalah dengan cara bekerja keras tanpa memiliki pamrih terhadap hasilnya.

2. Lapis Peduli

Pada Lapis Peduli, perbuatan kita memiliki pengaruh yang tidak begitu besar terhadap suatu hal. Ibarat mengendarai sepeda motor, kita adalah orang yang dibonceng. Kita hanya bisa mengingatkan jalannya motor (hati-hati, jangan ngebut, dll), tetapi yang memegang kemudinya bukan kita, melainkan orang lain.

Contohnya, ketika menyampaikan hal yang kita anggap benar. Kita hanya bisa sebatas memberitahu/menyampaikan, tetapi kita tidak bisa memaksa/menentukan seseorang menerima nasehat/pendapat kita tersebut. Menerima atau tidak pendapat kita tadi akan menjadi urusan orang tersebut dengan Tuhan. Jadi, untuk hal-hal dalam lapis ini, energi dan pikiran yang kita gunakan lebih sedikit daripada lapis pertama.

Contoh lain, adalah ketika kita berharap seseorang menjadi pasangan kita. Kita tidak mungkin memaksa dia menerima perasaan kita, karena hal tersebut berada di luar Lapis Pengaruh kita. Daripada stres memikirkan hal itu, lebih baik kita melakukan sesuatu yang berada dalam Lapis Pengaruh kita. Perbaiki kualitas diri kita, sehingga kepercayaan diri kita meningkat dan bisa membantu kita dalam berinteraksi dengan orang lain.  Jadi, alih-alih menghabiskan energi pada Lapis Peduli, lebih baik kita fokuskan energi berbuat sesuatu dalam Lapis Pengaruh.

3. Lapis Perhatian

Pada Lapis Perhatian, perbuatan kita bisa dikatakan tidak memiliki pengaruh untuk memberikan efek/mengubah sesuatu. Hal-hal yang termasuk dalam Lapis Perhatian ini misalnya berita/isu yang sering kita jumpai di koran, media sosial, dan televisi.  Di sinilah energi dan pikiran kita paling sedikit tercurahkan. Ibaratnya, Lapis Perhatian ini adalah pengendara sepeda motor lain yang kita lihat di jalan. Kita tidak bisa mempengaruhinya, tapi cara pengendara tersebut berkendara bisa kita jadikan pelajaran.

Misalnya, terhadap isu pemilihan pemimpin di daerah lain. Apapun yang kita lakukan, toh tidak akan bisa memberikan perubahan pada isu tersebut, sebab isu tersebut terlalu jauh dari jangkauan kita. Namun, bukan berarti kita mengabaikan isu ini. Kita harus tetap memberikan perhatian, karena bisa jadi ada pelajaran yang bisa kita ambil dari isu tersebut dan pelajaran tersebut bermanfaat bagi kita kelak.

Nah, kebanyakan orang tidak mengetahui pada lapis mana energi mereka harus dipusatkan, sehingga bisa energi (dan waktu) malah habis untuk mengurusi hal-hal pada Lapis 2 dan 3. Sementara hal-hal pada Lapis 1 malah tak terurus. Padahal pada Lapis 1 inilah kita bisa membuat perubahan-perubahan yang nyata. Keterampilan dalam bertindak sesuai lapis-lapis inilah yang dinamakan KEARIFAN.

(Eryani Widyastuti)

 

Sumber foto:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s