MENYEMBELIH EGO: Jurus Penting dalam Mendidik Anak


 

sembelihego

Sewaktu anak masih di awal usianya, saya sempat ‘terpesona’ oleh teori yang menyatakan bahwa anak adalah ‘spons berdaya serap tinggi’. Apakah teori ini salah? Tidak. Anak adalah pembelajar yang hebat. Tetapi, bila tak hati-hati, teori ini bisa menjebak orangtua ‘menjejalkan’ segala sesuatu untuk dipelajari anak. “Mumpung usia emas, nih!”

Dengan semangat seekor burung yang baru belajar terbang, saya membelikan dan membuatkan anak berbagai macam permainan ‘edukatif’, mengenalkannya pada huruf, angka, warna, bentuk, dan lain-lain. Setelah huruf dan angka dikenali anak tanpa kesulitan berarti, saya mulai merambah ke tingkat selanjutnya. “Kenapa tidak mengajarinya membaca, menulis, berhitung?” Lagi-lagi, in the name of education, saya mulai mencoba ‘menginvasi’ anak dengan mengenalkan konsep-konsep dasar calistung dengan jalan bermain serta mengikuti tips-tips pendidikan usia dini. Tak kurang-kurang, saya mencoba beberapa teknik yang ditawarkan June Oberlander, Maria Montessori, dan lain-lain. Semangat semakin membuncah setiap kali melihat keberhasilan teman-teman seperjuangan dalam mendidik putra-putrinya. Tapi, saya lupa. Pendidikan adalah dunia yang begitu unik, seunik para pembelajarnya. Apa yang disampaikan para ahli dan tips-tips itu belum tentu cocok untuk diterapkan pada setiap anak. Hal-hal tersebut bukan harga mati, melainkan merupakan bimbingan penting yang harus dikembangkan oleh orangtua; atau ditinggalkan, bila tidak sesuai dengan kebutuhan anak.

Lantas, apa reaksi anak atas kealpaan saya di atas? Ia melakukan pemberontakan. Bersikap sangat sulit untuk berkompromi dalam hal belajar calistung. Menolak segala jenis ‘mainan edukasi’ serta praktik-praktik edukasi lain yang ‘indah-indah’ dalam imajinasi para ibu muda. Bila anak-anak lain gemar mewarnai, menggambar, menggunting, anak saya tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Ia hanya bersedia bermain dengan tas kresek, koran, bola, pasir, dan air, sesuka hati. Lain tidak. Bahkan ia juga tidak tergiur mainan yang umumnya disukai anak-anak. Oh, tidak. Jadi apa yang harus saya lakukan? Tidak ada hal lain, kecuali mengikuti cara anak saya, seraya dihantui perasaan bersalah bahwa ia tidak sedang belajar dan saya tidak sedang mendidiknya. Meskipun saya tahu, bahwa bermain sama dengan belajar, belajar sama dengan bermain, kegelisahan tak mau pergi. Ego saya sebagai orangtua terlalu besar. Pendidikan hanya terjadi bila anak mau mengikuti cara saya. Titik. Maka, terciptalah pola begini; saya berusaha mendidik dengan cara saya, dan anak kukuh bertahan bermain dengan caranya. Situasi menjadi semakin runyam.

“Sesungguhnya, kita tidak tahu apa-apa tentang anak kita. Kita hanya bisa ‘menemaninya’ dalam berproses.”

Kalimat ini menampar saya. Bagaimana bisa selama ini saya sok tahu atas apa yang dibutuhkan anak saya dan menentukan bagaimana ia harus belajar? Bukankah saya baru beberapa tahun mengenalnya? Tidak ada yang sepenuhnya tahu tentang seorang manusia kecuali Sang Pencipta.
Fitrah. Saya harus mengikuti fitrah. Saya harus mengikuti cara anak saya. Saya menuntunnya, bukan menuntutnya.”
Pada titik inilah saya memutuskan untuk ‘menyembelih ego’. Proses yang sangat menguras energi dan airmata, namun berjuang untuk tetap bertahan. Saya biarkan anak menentukan bagaimana ia ingin belajar, apa yang ingin ia pelajari, dan lain-lain. Saya berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai kesulitan yang menghadang. Bila saya memiliki ‘tuntunan’ yang saya rasa penting untuk ‘dipelajari’ anak, saya akan memperkenalkannya terlebih dahulu lewat teladan dan pembiasaan dalam rentang waktu tertentu, sembari mengamati reaksi anak. Bila menurut saya ia belum siap dengan tuntunan itu, saya akan mundur dan mencobanya lain kali, supaya tuntunan tidak berubah menjadi tuntutan.

Setelah melewati proses yang amat menantang konsistensi dan dedikasi, jurus ‘menyembelih ego’ mulai menampakkan hasil. Dengan tersembelihnya ego, mata saya jadi terbuka akan banyak hal yang sebelumnya tidak saya pahami. Seperti situasi runyam antara saya dan anak rupanya terjadi karena saya terlalu tuli, padahal Tuhan sudah ‘berbicara’ melalui sikap anak; sehingga lantas Tuhan memepet saya dengan keadaan itu untuk membangunkan saya. Pemberontakan anak menjadi hal yang semakin disyukuri, ketika saya terbuka pada wacana dan kenyataan, bahwa belajar calistung membutuhkan kematangan mental anak. Bila dipaksakan, belajar calistung pada usia yang belum matang malah akan membuat anak stres dan layu semangat belajarnya.

‘Menyembelih ego’ dengan membiarkan anak membentuk pola belajar sendiri membuat saya lebih mengenali karakter dan kecenderungannya, sehingga saya lebih mudah memahami pilihan-pilihannya dan lebih mudah berkompromi dengannya. Kedekatan kami menjadi lebih kental, menyebabkan ia menjadi lebih terbuka dan senang hati menerima tuntunan dari saya dibandingkan sebelumnya. Hal ini diperkuat dengan pertambahan usianya juga.

‘Menyembelih ego’ membukakan saya pada spektrum baru pendidikan; bukan sekedar belajar adalah bermain dan bermain adalah belajar, tetapi lebih luas lagi: belajar adalah hidup dan hidup adalah belajar. Manusia adalah pembelajar sejati sepanjang hayat. Sangat sayang jika fitrah mulia itu padam bila saya memaksakan ego dulu. Terimakasih sudah mengingatkan Ibu, Nak!

image

Di usianya yang mendekati 7 tahun ini, anak memberikan kejutan-kejutan manis. Ia mulai bersedia menggambar dan berkreasi, mulai tertarik dengan konsep berhitung, dan mulai muncul inisiatif untuk melakukan pekerjaan rumah. Saya sangat bersyukur. Namun, saya tetap harus berhati-hati supaya ego tidak lagi mengambil alih.

Seperti ketika anak antusias membuka-buka buku pelajaran Matematika Kelas 1 SD pemberian neneknya, dan mengerjakan soal-soal hitungannya dengan menuliskan huruf m pada semua kolom jawaban. Meski gemas, saya memilih untuk tertawa dan bercanda dengannya mengenai huruf-huruf m itu. Bukannya saya tidak peduli bahwa berhitung adalah ketrampilan dasar hidup, namun memelihara semangat belajar anak jauh lebih penting daripada menjawab benar-salah.

Seperti ketika anak mendapatkan konsekuensi berpuasa gadget selama 7 hari-24 jam, saya memilih sikap solidaritas. Saya ikut berpuasa dengan mengakses gadget hanya saat anak telah tertidur. Kondisi ini malah mendorong kami untuk mencari keseruan-keseruan baru sebagai pengganti gadget, dan mendapatkan ide bermain Ular-Tangga. Tanpa disangka, permainan ini seolah menjadi jawaban atas usaha saya dalam mengikuti alur belajar berhitung anak. Rupanya, Ular-Tangga ‘memaksa’ anak belajar berhitung dengan cara yang menyenangkan dan tidak ia sadari.

Lalu, ketika ingin menuntun anak berkenalan dengan aktifitas menjahit, saya tak ingin serta-merta memaksanya. Saya memilih menjahit di depan anak dengan asyik dan antusias. Setelah beberapa kali melakukan hal tersebut, tiba-tiba pada suatu hari, ia minta diajari menjahit. Meski masih satu kali, tetapi momen itu sangat saya syukuri dan inisiatif anak sangat saya hargai.

Merenungkan peristiwa-peristiwa itu, membuat saya menyadari betapa banyak masalah dalam hidup ini yang disebabkan oleh melambungnya ego. Merasa diri paling benar, paling tahu, paling berhak, dan paling-paling yang lain, sehingga kita lupa untuk mencari tahu dan mengikuti kehendak dari Tuhan Yang Maha Segalanya. Bukankah kita tak ingin proses pendidikan yang kita lakukan dengan susah payah melenceng dari jalurNya? Bagi saya, ‘menyembelih ego’ adalah salah satu jawaban yang ingin terus saya latih dan pertahankan.

[Eryani widyastuti]

 

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s