Titik Temu Dua Jalan: Homeschool dan Sekolah


 

titik temu

Saya sungguh beruntung. Di saat homeschool banyak dipertentangkan di sana-sini, saya malah mendapatkan dukungan dari salah seorang sahabat. Ia menyemangati saya untuk terus berkomitmen dengan jalan yang saya yakini ini. Meskipun, jalan yang kami tempuh berbeda. Saya homeschool, sementara ia menyekolahkan anak-anaknya.

Perbedaan jalan ini tak menghalangi kami berdua untuk saling support serta bertukar pikiran mengenai pengasuhan dan pendidikan anak. Di sinilah, kami menemukan bahwa sesungguhnya kami memperjuangkan hal yang sama, yaitu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi kehidupan anak-anak. Ada satu hal penting yang kami sepakati bersama dalam berbagai diskusi, bahwa untuk memberikan pendidikan terbaik, maka orangtua harus bersedia mengembalikan pusat pendidikan kepada keluarga. Yang berarti, homeschool maupun sekolah, kami harus merumuskan sendiri konsep pendidikan keluarga masing-masing, mengambil peran utama sebagai pendidik lewat keteladanan dan bimbingan, serta membuat keputusan-keputusan pendidikan lain atas dasar kebijakan keluarga, termasuk menentukan sarana pendidikan apa yang hendak dipilih. Untuk gambaran lebih lanjut, berikut beberapa titik temu yang kami sepakati bersama:

1. Sekolah dan Homeschool adalah Sarana/Jalan Pendidikan

“Sekolah dan homeschool itu ‘hanya’ sarana pendidikan. Jadi, sangat disayangkan bila para orangtua masih terjebak dalam perdebatan tanpa ujung mengenai mana yang lebih bagus; sekolah atau homeschool. Karena ini masalah keyakinan dan pilihan hidup.” ungkap sahabat saya.

Saya pun senada dengannya. Dalam artikel Orangtua atau Guru: Pemikiran Pendidikan Profesor Driyarkara (klik di sini), saya tuliskan bahwa homeschool dan sekolah adalah jalan/alat pendidikan, bukan hakikat pendidikan itu sendiri. Homeschool dan sekolah adalah cara yang kita pilih, sebagaimana kita memilih cara hidup yang kita anggap terbaik. Sementara, hakikatnya (menurut penafsiran saya) adalah bagaimana proses penuntunan ini bisa berjalan sesuai fitrah/kodrat manusia, sehingga menjadikan manusia itu paripurna (insan kamil); yaitu menjadi pengejawantahan keindahan Asma Tuhan Sang Pencipta di bumi.

Jadi, sarana/jalan pendidikan itu bisa apa saja. Sekolah, homeschool, pesantren, padepokan, bahkan bermain, berlibur/travelling, membaca buku, membantu orangtua di sawah atau berdagang di pasar pun bisa merupakan salah satu sarana pendidikan. Asalkan semua aktivitas tersebut mengarah pada tujuan pendidikan.

2. Tuntunan Rohani adalah Dasar Pendidikan

“Jangan buru-buru merasa sukses, jika kita telah menyekolahkan anak di tempat terbaik atau merasa hebat karena bisa mengajari anak-anak kita berbagai macam hal di rumah, serta memberikan banyak fasilitas.” ucap sahabat saya. “Masih ada hal lain yang harus ditanyakan pada diri sendiri; apakah kita memilih salah satu jalan ini (baik sekolah atau homeschool) karena kesadaran diri atau hanya mengikuti kelaziman umum, atau malah karena mengikuti tren saja? Lalu, sudahkah pendidikan yang kita berikan itu berhasil menyentuh sisi ruhani anak? Sudahkah kita memenuhi kebutuhan krusialnya yang satu ini?

Kami sama-sama menyayangkan bahwa pendidikan dewasa ini begitu menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani seorang anak, hingga melupakan kebutuhan lain, yaitu sisi ruhani. Begitu banyak jumlah mata pelajaran atau variasi ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang harus dipelajari seorang anak di sekolah, tetapi baik isi maupun cara penyampaiannya tidak menyentuh ruhani sang anak. Padahal, sentuhan ruhani juga merupakan kebutuhan pokok seorang anak. Kebutuhan ruhani ini antara lain meliputi kasih sayang, penguatan nilai-nilai moral, pendidikan karakter, yang nantinya akan menghasilkan akhlak mulia.

Jika sisi ruhani kering, maka pengetahuan sebanyak apapun dan kecerdasan setinggi apapun akan sia-sia. Sebab, sisi ruhani inilah yang akan menentukan untuk apa sebuah kecerdasan itu digunakan.

Pandai berdiplomasi dan berstrategi, tapi menjadi pejabat korup? Cerdas logika, tapi digunakan untuk memutarbalikkan fakta dan kebenaran? Menguasai berbagai disiplin sains, tapi menjadi ilmuwan yang bekerja demi keuntungan materi pribadi tanpa peduli efeknya pada dunia? Maka dari itu, penguatan pemahaman tuntunan rohani (agama) yang merupakan petunjuk dasar kehidupan manusia (langsung dari Tuhan) amat krusial pada masa awal kehidupan anak, sebelum ia lebih jauh mendalami ilmu-ilmu lain. Bagi kami, pemahaman agama di sini tidak melulu tentang tata cara beribadah. Menyelami sifat-sifat agung Tuhan dan belajar meneladani akhlak mulia Rasulullah adalah hal-hal yang amat berpengaruh dalam pembentukan pribadi seorang anak.

“Jaman boleh bergeser, dunia boleh berganti, pendidikan nasional boleh direvisi; tapi  petunjuk agama yang tak akan berubah.” pesan sahabat saya.

3. Fitrah Anak adalah Dasar ‘Kurikulum’ Keluarga

“Untuk mempelajari sesuatu, anak saya cenderung membutuhkan waktu lama dan menggunakan pendengaran serta pengamatannya dalam diam. Seperti ketika belajar membaca. Ia hanya punya bekal mengenal huruf dan tidak pernah mau belajar mengeja atau melatih bacaan. Tapi ia tampak menyimak setiap saya membacakan kalimat-kalimat dari buku-buku. Hingga suatu hari, ia mengejutkan saya dengan membaca kalimat-kalimat panjang di sebuah surat kabar.”

Cerita di atas adalah pengalaman saya dalam mendampingi anak belajar membaca. Meskipun tak tampak belajar seperti lazimnya anak-anak belajar membaca, sesungguhnya ia sedang belajar, namun dengan caranya sendiri. Yang dibutuhkan oleh orangtua adalah memberikan motivasi, teladan, dan bersabar untuk tidak menuntut sang anak supaya sesuai dengan keinginan orangtua.

Begitulah. Anak bukanlah obyek semacam benda atau mainan yang bisa kita bentuk dan mainkan sesuka hati. Sesuai dengan sifat-sifat natural manusia pada umumnya, anak memiliki kehendak dan kecenderungan-kecenderungan sendiri yang merupakan desain/blue print dari Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut fitrah atau kodrat. Karena fitrah setiap anak berbeda, kita tidak dapat menyamaratakan proses pendidikan mereka.”

Oleh karena itu, dalam kegiatan homeschool, saya berusaha memperhatikan ritme dan cara belajar anak, juga minat-bakat, serta apa yang dibutuhkannya untuk mengarungi kehidupan. Baik jadwal maupun hal-hal yang dipelajari anak, saya sesuaikan dengan hal tersebut. Sebagai contoh; anak menyukai hal yang berhubungan dengan mobil dan bahasa, maka kesehariannya tak akan lepas dari dua hal tersebut. Ia akan banyak belajar tentang mobil dan melatih kecakapan bahasa lewat permainan yang ia lakukan.

Sahabat saya setuju dengan pendapat saya ini. Meskipun di sekolah sudah ada kurikulum nasional, ia tetap berusaha mengikuti fitrah anak-anaknya. Itulah yang menjadi patokan utamanya dalam mendidik anak-anak. Ia menemukan bahwa Si Sulung adalah anak kreatif dan suka dengan aktifitas baca tulis. Oleh karena itu, ia mendorong Si Sulung untuk memiliki buku jurnal sendiri dan berkorespondensi dengan orang-orang yang memiliki kecakapan menulis. Sedangkan Si Bungsu yang berusia 7 tahun masih berubah-ubah kecenderungannya. Dengan telaten, ia mengikuti saja perubahan tersebut; dari latihan Karate hingga berenang. Ketika Si Sulung berprestasi secara akademis sementara Si Bungsu biasa saja, ia tak menuntut dan membanding-bandingkan. Sebab ia tahu, Si Bungsu memiliki kelebihan lain, yaitu ketegasan dan inisiatif dalam bertindak.

4. Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan

“Yang bisa memenuhi kebutuhan ruhani pada seorang anak adalah orangtua. Mengapa? Karena orangtualah yang memiliki pertalian ruhani secara alamiah dengan sang anak. Artinya, kitalah yang dipilih Tuhan untuk menjadi pendidik utama sang anak dan memiliki kemungkinan terbesar mampu memahami anak secara utuh. Itulah mengapa anak kita lahir dalam pelukan kita, bukan dalam pelukan orang lain. Fungsi ini bisa ditunjang, tetapi tidak bisa diwakilkan, oleh orang lain, fasilitas, atau pihak lain.”

Pernyataan sahabat saya di atas sangat mewakili alasan utama kami meletakkan pusat pendidikan pada keluarga. Ya, karena pendidikan tidak sekedar mengisi ilmu ke dalam bejana kosong milik anak. Pendidikan itu memantik harta karun  potensi yang terpendam dalam diri anak, dengan kehangatan cinta. Pendidikan itu adalah persentuhan jiwa dengan jiwa supaya terjadi pemahaman, bukan sekedar hapalan ilmu. Pendidikan itu tidak hanya melejitkan kemampuan pikir, namun juga ketrampilan mengolah dan menajamkan rasa. Siapakah yang memiliki kemampuan paling baik, selain Pemegang Mandat Utama yang telah ditunjuk Tuhan melalui takdirNya, yaitu orangtua?

Ketika sebuah keluarga telah memutuskan untuk meletakkan pusat pendidikan dalam dirinya, maka keluarga (terutama orangtua) harus berperan aktif membuat konsep pendidikannya sendiri. Merumuskan tujuan dan cara-cara yang harus ditempuh dalam meraih tujuan. Tak bisa lagi keluarga hanya ‘pasrah total’ pada pemerintah, sekolah, atau institusi pendidikan tertentu.

Nah, kalau kami memang memiliki prinsip-prinsip pendidikan yang sama, mengapa kami memilih jalan yang berbeda? Berikut penjelasannya.

Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan Versi ‘Jalan Sekolah’

Sahabat saya memilih jalan sekolah sebagai salah satu penunjang pendidikan anak-anaknya bukan karena ia mengikuti kelaziman, namun memang menurut kebijakan keluarga, sekolah adalah sarana pendidikan yang tepat untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Berikut beberapa alasan yang ia kemukakan:

1. Sosialisasi

Sahabat saya berpendapat bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa lewat sekolah, anak-anaknya mendapatkan banyak teman dan mendapatkan pengalaman interaksi sosial yang bermacam-macam. Di matanya, hal ini amat penting untuk mengasah ketrampilan sosialisasi anak-anak.

2. Tolok Ukur Proses Belajar

Meskipun menyekolahkan anak-anaknya, bukan berarti sahabat saya lepas tangan terhadap pendidikan. Bersama sang suami, ia berjuang untuk berperan aktif dalam proses belajar anak-anaknya selepas jam sekolah. Ia juga memutuskan untuk tidak mengikutkan anak-anaknya ke bimbingan belajar. Berusaha sebisa mungkin menjadi fasilitator pendidikan di rumah, termasuk membimbing anak-anaknya untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan.

Ia juga berusaha menjadi pembuka wawasan dan menjadi sparring partner untuk mengembangkan pola pikir anak-anaknya. Misalnya dengan berdiskusi secara terbuka mengenai isu-isu berita di televisi atau permasalahan sehari-hari. Sebagai konsekuensinya ia jadi terpacu untuk terus belajar tentang berbagai hal. Tak terkecuali belajar membuang gengsi jauh-jauh untuk berguru pada anak-anaknya sendiri. Mengenai hal ini, sahabat saya berkata.

“Jangan menganggap anak sebatas obyek pelengkap dalam kehidupan rumahtangga. Kehadiran mereka haruslah dikupas lebih dalam; mengapa Tuhan menitipkan anak-anak pada kita?

Menurut ibu dengan satu putri dan satu putra ini, anak merupakan pemantik Ilahi bagi orangtua agar belajar menjadi manusia yang lebih baik. Bila sebelumnya tidak tahu atau tidak begitu konsen –misal- terhadap pendidikan, tumbuh kembang anak, pengetahuan alam, makna kehidupan; setelah anak hadir, orangtua jadi lebih terpacu untuk membuka wawasan lebih luas dan bersedia mempelajari hal-hal baru demi anak-anak mereka. Mau tidak mau, orangtua juga menjadi pembelajar, seperti anak-anak mereka. Makhluk pembelajar, itulah salah satu fitrah makhluk bernama manusia.

Nah, proses belajar yang telah ia lakukan bersama anak-anaknya di rumah ini membutuhkan sebuah tempat untuk ‘menguji-coba’, apakah proses pembelajaran di rumah sudah berjalan efektif ataukah ada kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Bagi sahabat saya, sekolah adalah tempat yang tepat untuk menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan di rumah. Seperti bagaimana anak-anaknya bisa menangkap pelajaran sekolah dan bagaimana mereka berinteraksi dengan kawan-kawan dan guru-guru. Seperti ketika Si Bungsu berkonflik dengan teman sekelas hingga menumpahkan air minum milik kawannya itu. Rupanya, Si Bungsu langsung berinisiatif meminta maaf, lalu meminjam pel dari pesuruh sekolah, dan membersihkan tumpahan air yang berceceran di lantai. Dari sini, sahabat saya jadi tahu, bahwa penguatan tentang tanggungjawab yang ia lakukan di rumah cukup merasuk dalam jiwa sang anak.

Selain hal di atas, tanpa menunggu surat panggilan sekolah, sahabat saya berperan aktif berbincang dengan guru sekolah mengenai perkembangan anak-anaknya. Ia juga mau ambil pusing berdiskusi mengenai perubahan kurikulum nasional, supaya ia juga bisa ikut menerapkannya di rumah, senada dengan sekolah. Keharmonisan pendidikan di sekolah dan di rumah, ia harapkan bisa menciptakan atmosfir belajar yang kondusif. Anak-anak tak perlu mengalami kebingungan yang mungkin terjadi akibat perbedaan pola pendidikan antara sekolah dan rumah.

3. Penggenap Pendidikan Keluarga dan Sumber Ilmu

Walaupun sahabat saya telah berusaha menggali fitrah/kodrat anak-anaknya, tetapi sebagai seorang manusia, ia menyadari keterbatasan kemampuannya dalam memenuhi pendidikan anak-anak di rumah. Terutama dalam hal ilmu. Apalagi ia juga tidak punya dasar ilmu kependidikan atau disiplin ilmu tertentu yang dijadikan mata pelajaran sekolah. Ia berpendapat, bahwa kehadiran guru-guru dapat memenuhi kekurangannya yang satu ini. Guru adalah sosok yang memang dipersiapkan khusus untuk membimbing anak melaksanakan proses pendidikan. Sementara sekolah sendiri merupakan salah satu sumber ilmu, di mana memang berbagai macam pengetahuan dan kecakapan diajarkan di sini. Banyak yang yang tidak bisa ia ajarkan di rumah, diajarkan di sekolah. Ia merasa sangat terbantu dengan kondisi ini.

4. Unsur legalitas

Tak dapat dipungkiri, bahwa dengan meyekolahkan anak-anak, sahabat saya merasa lebih tenang. Sekolah adalah jalur pendidikan yang terukur dengan jenjang-jenjang pasti dan merupakan bentuk pendidikan resmi yang mendapatkan perhatian utama dari Pemerintah. Ijazah yang didapat setelah lulus pun dapat dimanfaatkan untuk kepentingan anak-anak di masa depan.

Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan Versi ‘Jalan Homeschool’

Semula, konsep pendidikan=sekolah, sekolah=pendidikan bercokol kuat dalam otak saya. Bahwa, sekolah adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan pendidikan. Tetapi, setelah saya (dan suami) mendekonstruksi pemikiran tentang pendidikan, bertemulah saya dengan kesadaran bahwa sekolah bukanlah proses wajib yang harus dijalani untuk memperoleh pendidikan (wajib belajar, bukan wajib sekolah!). Sebab,  proses belajar/pendidikan dapat diperoleh dan dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa/apa saja. Tulisan selengkapnya bisa disimak di artikel Home Learning: mengapa Memilih Jalan Ini? (klik di sini). Saya akan mencoba merangkum poin-poinnya sebagai berikut:

1. Homeschool menjadikan keluarga sebagai pusat pendidikan

Setelah mendekonstruksi pemikiran mengenai pendidikan, saya (dan suami) merasa bahwa keluarga kami perlu memiliki konsep pendidikan sendiri yang sejalan dengan apa yang kami yakini. Apalagi kami menemukan banyak ketidaksesuaian prinsip dengan metode dan situasi dunia pendidikan yang ada sekarang. Nah, dalam homeschool, kami bisa leluasa mengaplikasikan konsep yang telah kami buat dan lmendapat ruang lega untuk mengalami proses pendidikan yang berpusat pada keluarga. Misalnya, ketika anak tertarik topik tentang tubuh manusia, maka saya dan suami otomatis tertarik dalam pusaran pembelajarannya. Buku yang dibaca anak, juga kami baca. Kami juga berusaha mencari sumber-sumber belajar semisal dari youtube atau buku lain. Kemudian kami tonton bersama, kami diskusikan, dan topik ini bisa terbawa masuk ke dalam obrolan sehari-hari kami. Ketika anak sedang mengalami masalah pengendalian emosi, otomatis hal ini akan menguji pengendalian emosi kami sebagai orangtua. Mau tak mau, kami memperbaiki ketrampilan emosi kami sendiri dan mencoba menyederhanakan langkah-langkahnya supaya bisa diadopsi oleh anak. Ketika anak sudah lebih terampil mengendalikan emosi, hal tersebut akan membawa pengaruh positif pada emosi kami. Begitu juga sebaliknya, ketika kami bisa mengelola emosi dengan lebih baik, anak pun bereaksi lebih positif. Lewat kebersamaan belajar seperti inilah kami merasakan ikatan batin yang menguat. Ikatan batin ini akan menjadi bekal kami untuk membimbing anak, dan menjadi jalan kemudahan bagi anak untuk berbakti kepada kami sesuai tuntunan Tuhannya.

2. Homeschool memungkinkan proses belajar yang fleksibel

Karena kami memiliki konsep bahwa proses pembelajaran haruslah mengikuti fitrah/kodrat anak, maka homeschool adalah bentuk pendidikan yang tepat untuk dipilih. Kami tidak menginginkan anak kami mengikuti kurikulum tertentu yang didesain oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenal bagaimana kecenderungan anak kami, melainkan hanya mengambil sifat-sifat umum dari kondisi seorang anak. Kami menjadikan konsep-konsep pendidikan di luar sana sebagai bahan masukan, bukan harga mati sebuah acuan. Tentu, hal ini tidak bisa kami lakukan bila kami menyekolahkan anak, di mana mau tidak mau, anak harus mengikuti aturan baku. Sebagai contoh, anak kami punya ketertarikan tinggi terhadap bahasa, dan ketertarikan rendah pada berhitung. Di rumah, kami bisa memberikan keleluasaan baginya untuk terus membaca dan bercerita, sembari kami selipkan konsep berhitung tanpa ia sadari. Bila ia memiliki kemampuan membaca setingkat kelas satu SD, sementara kemampuan berhitungnya setara anak TK jaman sekarang, bisa dibayangkan betapa tersiksanya jika ia harus terkungkung dalam salah satu tingkat pendidikan tersebut.

Kefleksibelan homeschool juga bisa dilihat pada kemampuan bentuk pendidikan ini dalam beradaptasi pada kondisi keluarga. Sebagai contoh kecil, ketika saya harus pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk merawat nenek yang sedang sakit, maka saat itu juga ‘mata pelajaran’ anak adalah ‘merawat orangtua’. Ketika lingkungan tempat tinggal kami menyediakan sedikit kawan bermain untuk anak, maka ‘mata pelajaran’ anak adalah ‘bermain mandiri atau terampil berinteraksi dengan diri sendiri’. Ketika kami harus bepergian untuk bertemu banyak orang, maka ‘mata pelajaran’ anak adalah ‘menyesuaikan diri dengan masyarakat’. Dalam skala lebih luas, memilih homeschool memungkinkan keluarga-keluarga yang tidak mampu membayar biaya sekolah, untuk tetap memberikan pendidikan pada anak-anaknya. Keluarga tersebut bisa belajar dari apa saja yang ada di sekitar mereka, kepada siapapun, dan di mana pun mereka berada, sesuai kondisi dan kemampuan mereka.

3. Homeschool memungkinkan proses pembelajaran yang holistik, lebih natural, dan mengalir

Kami memiliki konsep bahwa belajar dan hidup itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ketika manusia hidup, maka sejatinya ia sedang belajar; ketika manusia belajar, maka sejatinya ia sedang menjalankan kehidupan.

Sebagai contoh ketika anak kami sedang bermain game simulasi tabrakan mobil, mulutnya tak henti berbicara dalam bahasa Inggris, menarasikan adegan simulasi tersebut. Bahasa asing tersebut tidak ia pelajari lewat kami atau buku, melainkan lewat video simulasi yang sama yang ia tonton di You Tube. Pun, ketika saya mengajaknya merenung sehabis bertengkar dengan kawan sepermainannya. Saya katakan dalam diskusi kami, “Perasaan marah itu seperti mobil yang ngebut sampai driver-nya tidak bisa mengendalikan. Yang terjadi adalah mobil rusak, driver celaka, orang di sekitarnya juga bisa celaka. Tapi, kalau driver itu mampu mengendalikan mobil dengan baik, iaakan menyetir mobil dengan baik, dan terhindar dari kecelakaan.” Lalu, saya tutup dengan kisah bagaimana Rasulullah mengatasi rasa marah.

Dari satu topik simulasi tabrakan mobil, anak tak hanya refresh bermain, tapi juga mempelajari bahasa Inggris, teladan Nabi (yang biasanya dikaitkan dengan ‘pelajaran agama’), dan bisa mengaitkan topik dengan pembentukan akhlak yang baik (yang biasanya dikaitkan dengan ‘pendidikan karakter’). Belum lagi ketika ia hendak mengunduh game mobil, maka ia akan minta diajari bagaimana cara mengetik tulisan ‘car crash test’ pada mesin pencari.

Meski konsep serta pelaksanaan yang saya dan sahabat saya miliki masih jauh dari sempurna, kami merasa lebih mantap dalam mendidik anak kami. Keberadaan konsep pendidikan keluarga yang kami susun telah memberikan arah bagi kami tak hanya mendidik, tapi juga dalam menjalani kehidupan. Kami tak lagi gampang gamang atau merasa bingung bila menghadapi perubahan-perubahan yang terkait dengan pendidikan maupun dalam kehidupan. Karena kami punya pegangan. Seiring perubahan keluarga kami, konsep pun terasa makin mendalam dan matang dibandingkan saat pertama kali menyusun.

Menyikapi Perbedaan Jalan Pendidikan

Kita para orangtua bernaung pada rumah yang sama, bernama Pendidikan. Jika kita saling menjatuhkan, maka hancurlah rumah yang menaungi kita. Yang berarti kita akan ikut hancur, beserta anak-anak kita. Bukankah sangat disayangkan. Padahal kita memiliki semangat yang sama; ingin yang terbaik bagi anak-anak kita. Oleh karena itu, bersatulah. Kedepankan kesamaan kita, hal-hal yang bisa kita sepakati bersama, yang bisa membawa kemajuan kita bersama. Galilah lebih banyak lagi titik temu di antara kita. Mengenai perbedaan, kita tak dapat mengubahnya karena itu adalah suatu keniscayaan dari Yang Maha Kuasa. Seperti perbedaan rambut, kulit, bahasa, bangsa, keyakinan, dan lain sebagainya. Yang berbeda jalan dari kita bukan berarti lantas ‘hitam’ mutlak, dan yang sejalan dengan kita ‘putih’ mutlak. Setiap kita memiliki ‘hitam dan putih’. Tak perlu dipersoalkan. Toh, masih banyak harapan-harapan universal yang bisa kita sepakati dan perjuangkan bersama, seperti keluarga yang bahagia, alam yang asri, dan sebuah dunia yang aman sebagai tempat anak-anak kita tumbuh, berkembang, dan tertawa ceria.

—————————————————-

Ide: Ratih Pusparini & Eryani Widyastuti

Narasi: Eryani Widyastuti

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s