That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle-1: YELLOW MEETS BLACK


 

airmata

Apakah orang itu sungguh akan datang malam ini?

Di atas sofa ruang keluarga, mata bulat Alin bergerak gelisah seiring bunyi tik-tok jam dinding. Pipi tembamnya berkali-kali menggembung tegang di balik novel anak The Miraculous Journey Of Edward Tulane. Sementara novel-novel anak lain, bersama komik-komik aksi, tersebar berantakan di atas sofa, meja, dan lantai.

Ah, siapa namanya? Terlalu sulit diingat! Pokoknya, Kim-Kim sesuatu dan sejenisnya! Pikir gadis kelas dua SMA berkulit coklat gelap itu. Ia menggidikkan bahu, memicingkan mata dan mengerutkan mulut. Baru saja, ia mencecap permen lemon yang bekas bungkusnya tersebar di mana-mana. Rasa masam  melecut syaraf-syarafnya, disusul oleh rasa manis samar. Cara ini biasanya efektif memperbaiki kekacauan suasana hati. Mengganggu hidupku saja! Huh!

Gadis berambut keriting pendek itu merapatkan jaket kuningnya yang berpadu dengan celana training warna senada. Semilir dingin angin malam dari halaman belakang membelai tengkuk, menambah tegang penantiannya. Ia melirik foto jumbo berbingkai ukiran tersepuh warna emas yang tergantung pada dinding ruang keluarga. Foto yang selalu berusaha dihindarinya. Foto pernikahan kakak semata wayangnya, Bram, yang bekerja bertahun-tahun di Korea Selatan. Hasil jepretan amatir itu berhasil menangkap aura kebahagiaan Bapak dalam setelan jas hitam dan berkopiah, persis pakaian Bram yang berdiri di sebelah beliau. Ia dan istrinya, seorang perempuan oriental berkerudung yang memakai hanbok[1] merah, tersenyum cerah menyambut masa depan.

Alin memicingkan mata pada perempuan itu; rasa pedih menggores hatinya. Lantas, ia  beralih pandang pada sosok jangkung di sebelahnya. Pemuda berkacamata itu berpakaian seperti Bapak, namun tanpa kopiah. Tampak canggung dan malu-malu. Tampang pecundang! Begitulah pendapat Alin selama ini.

Ck-klek! Terdengar bunyi daun pintu depan ditekan. Alin menoleh cepat. Segera saja, punggungnya menegak siaga. Menggenggam erat kedua sisi buku Edward Tulane, dan perutnya bereaksi seolah sedang melewati jalan turunan. Jangan-jangan, dia!

*****

Dua bulan lalu. Korea Selatan.

Greeek!

Nuna[2]!”

Kim Yeonghun menggeser pintu depan rumahnya, dan berlari masuk. Pemuda jangkung berusia 21 tahun itu buru-buru melepas sepatu, dan menaruhnya di rak dekat pintu. Dengan masih terbungkus kaos kaki hitam, ia menjejak lantai utama rumah yang sedikit naik, memisahkan diri dari tempat melepas sepatu.

Nuna!” teriaknya tak sabar. Yeonghun memiliki warna suara berat dan dalam, tak sepadan dengan kurus badannya. Namun, cocok untuk menggambarkan tipe wajah seseorang yang lebih matang dari usia sebenarnya.

Yah! Bisa pelan sedikit?”

Rupanya, perempuan yang ia cari sedang mengupas sekeranjang besar penuh bonggol-bonggol bawang putih di depan televisi, menonton serial drama Korea kesayangannya. Kim Boram, seorang perempuan muda berambut panjang dan beraut tegas keibuan, secara refleks menjingkatkan bahu karena kaget mendengar keributan tiba-tiba itu. “Musim panas begini masih saja berpakaian hitam-hitam? Tidak adakah baju warna lain dalam lemarimu? Kamu ini malaikat kematian atau apa?”

Badan tinggi Yeonghun segera menutupi pandangan Boram dari televisi. Ia berlutut. Matanya berbinar di balik kacamata berbingkai hitam, mengabaikan omelan kakak yang usia lima tahun lebih tua darinya itu. “Aku dapat beasiswa ke Indonesia!”

Boram menjatuhkan  pisau dan bawang  yang ia pegang sedari tadi ke dalam keranjang. “J-jeongmal[3]??

Yeonghun mengangguk mantap.

Uwaah! Jalhaesseo[4]! Heii… Dasar Bocah! Pagi mengantar koran-susu, lalu kuliah, malam pun harus jadi pelayan… Aku heran, bagaimana kamu bisa mendapatkan nilai bagus dan beasiswa dengan aktivitas seperti itu?” Boram mengguncang-guncang keras bahu adik lelakinya dengan bangga, “Kamu harus segera memberitahu Beuram-ssi! Dia pasti akan sangat senang!”

Yeonghun termenung sejenak.

Beuram-ssi, begitu Yeonghun dan Boram memanggilnya, adalah seorang lelaki Indonesia yang bekerja di Korea Selatan. Darinya, Yeonghun belajar lebih mendalam tentang Islam, agama yang dipeluknya sejak usia 19 tahun. Ia juga mendengar berbagai cerita menarik tentang Indonesia, sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Uniknya, Indonesia memiliki dasar negara yang tidak pernah Yeonghun temukan di negara-negara bercorak Islam lainnya. Beuram-ssi menyebutnya Pancasila. Sebuah konsep, yang menurut Yeonghun mengandung pokok agama Islam itu sendiri, yaitu tauhid; karena meletakkan Tuhan pada Sila Pertama. Dengan konsep ini, negara Indonesia mampu mewadahi perbedaan keyakinan yang sering menjadi sumber konflik pelik berdarah-darah seperti di negara-negara Timur Tengah. Itulah yang membuatnya amat tertarik belajar di Indonesia.

“Aku pasti akan memberitahu dia. Beuram-ssi adalah ‘bimbingan dari langit’. Ingat kata Appa[5]? Saat membutuhkan seorang guru, Hananim[6] akan mengirimkannya untuk kita. Seperti jodoh. Allah sangat baik telah mengirimkan Beuram-ssi untuk nuna-ku yang berkali-kali sial dengan lelaki.” Yeonghun terkekeh.

Boram bersemu merah. Mengangkat telapak tangannya, hendak memukul Yeonghun. Diancam begitu rupa, Yeonghun malah  menyodorkan  kepala, “I geo, i geo, i geo[7]! Pukul. Setelah ini, Nuna tidak bisa memukulku atau memarahiku; selama tiga bulan…”

Boram menurunkan tangan. Melembek. “Jangan bicara begitu. Aku jadi sedih…”

“Lulus kuliah nanti, aku akan mencari pekerjaan bagus–” mendadak, Yeonghun dicekat perasaannya sendiri. Ia memegang pergelangan tangan Boram, memutar telapaknya ke atas, “Jadi, Nuna tak perlu bekerja keras begini. Aku akan mencari uang untukmu.”

Kedua telapak tangan Boram bergurat-gurat kasar, akibat kerja keras yang dilakukannya secara serabutan selama bertahun-tahun. Bau bawang putih menyengat dari sini. Telah banyak yang diperbuat kedua tangan ini untuk menjaganya, melindunginya, dan memastikan dirinya menjalani kehidupan yang baik, setelah sebuah insiden kecelakaan merenggut nyawa orangtua mereka tujuh tahun lalu.

Aigo… manis sekali kata-katamu. Tapi, sebentar lagi aku akan menikah. Jadi…” Boram mengacak-acak rambut Yeonghun dengan sayang, lantas tiba-tiba memukul kepala adiknya, “Tak perlu memikirkan Nuna-mu! Pikirkan masa depanmu sendiri! Jangan jadi orang bodoh dan pekerja serabutan seperti aku! Cepat sholat! Ppalli, ppalli[8]!” serunya.

Heissh… Arasseo[9]!” Yeonghun  mendesis  jengkel,  sambil  mengusap-usap  kepalanya yang masih sakit, “Apa pernah lihat aku melewatkan sholat?” Ia mengeluarkan beberapa bekas bungkus permen rasa kopi dari saku baju, membuangnya ke tempat sampah, dan meninggalkan Boram menuju kamar tidur.

Yah!  Jangan baca buku!  Cepat  istirahat!  Bukankah nanti malam kamu harus kerja di coffee shop?”

“Baca buku adalah istirahat, istirahat adalah baca buku!” sahut Yeonghun dari balik pintu.

Bibir Boram mengembang, dipeluk perasaan bangga dan haru pada adik lelakinya. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada sebuah foto yang tergantung pada dinding. Foto orangtua mereka, dirinya, dan Yeonghun, 10 tahun lalu.

Eomma… Appa…. lihatlah… Uri[10]-Yeonghun telah tumbuh dewasa… dan akan meninggalkan rumah ini ke negeri yang sangat jauh…. di seberang lautan…

*****

Dua bulan lalu. Indonesia.

Cahaya matahari Sabtu pagi mendesak di antara dedaunan pohon mangga yang bersaling-silang berusaha menutupi satu sama lain di halaman belakang rumah yang bersambungan tanpa pintu dengan bangunan utama. Di bawah rerimbunan itu, di atas sebuah kursi bambu panjang berlapis cat hijau tua, Alin duduk bersila, memangku sebuah netbook kuning cerah. Sementara tangan kirinya asyik menggerak-gerakkan spidol hitam pada permukaan netbook yang baru saja ia lapisi selembar stiker transparan dengan amat hati-hati. Sebelum akhirnya, ia menyadari kehadiran seseorang tak jauh di depannya. Berdiri pada tangga pendek yang menyambungkan keasrian halaman belakang dan ruang keluarga yang dindingnya tak lebih tinggi dari leher Alin.

“Assalamu’alaikum!” ucap seorang pemuda gagah berkulit coklat gelap dengan sorot mata tenang yang dibingkai ketegasan sepasang alis tebal.

“Mas Bram!!” bola mata Alin membulat sumringah. Dengan ceroboh menyingkirkan netbook-nya ke samping hingga berbunyi glodak! Tapi, ia tak peduli. Langsung saja menghambur memeluk sang kakak. Persis anak kecil.

Bram baru saja tiba dari bandara. Tapi, Alin tak memberinya kesempatan bernapas sejenak. Langsung saja menggeretnya menuju kursi bambu. “Bagus, kan? Netbook-hadiah dari Mas Bram jadi seru!”

“Pintar, pintar.” Bram mengamati dekorasi buatan Alin pada permukaan netbook.  Latar warna kuning cerah sangat kontras dengan garis hitam para kurcaci kecil yang sedang bersuka ria, tersebar di berbagai penjuru. Memasak kue, bergelantungan di dahan, meniup terompet, berjumpalitan, dan masih banyak pose atraktif lain.

“Ada cerita baru dari Seoul?” Alin menggoyang-goyangkan tangan Bram. Sangat antusias. “Mas Bram jadi pergi ke Pulau Jeju tahun ini? Lalu, bagaimana dengan perempuan yang belajar Islam pada Mas Bram itu? Apakah sekarang dia sudah menjadi seorang muslim seperti adiknya yang selalu menemani saat bertemu Mas Bram? Ceritakan semua padaku!”

Tak lama kemudian, mereka terlibat percakapan panjang di mana Alin mendominasi isinya. Alin tampak sangat bahagia. Namun, ketika Bram mulai mengatakan sesuatu di luar topik pembicaraan, raut bahagia itu perlahan menghilang. Tentang pernikahan.

“Mas Bram mau menikah? Dengan siapa?” Terus terang, Alin bingung harus bereaksi bagaimana mendengar berita ini. Apakah ia harus memekik senang, ataukah menangis sedih? Pikiran dan hatinya mendadak blank.

“Dengan… hmmm… tentu saja dengan perempuan. Haha…” Bram mencoba berkelakar, berusaha mencairkan wajah beku Alin. Tapi, sepertinya tidak mempan. Akhirnya, ia berkata, “Dengan perempuan yang kuceritakan itu. Namanya… Kim Boram.”

“De-dengan perempuan yang belajar agama Islam pada Mas Bram itu?! Tapi, dia kan orang Korea!” Alin membeliak kaget.

“Memang kenapa dengan orang Korea?” selidik Bram.

“Dia pasti genit, berambut panjang, suka memakai hotpants dan kaos ketat. Iya kan? Iya kan?”

“Husss!” Bram mengibaskan tangan. Tersenyum geli, “Tidak semua yang kamu lihat di televisi mewakili kenyataan yang ada. Boram-ssi bukan perempuan seperti itu. Dia jauh berbeda. Perempuan sederhana, ulet, dan bertanggungjawab.”

Alin menatap Bram. Menangkap kerlip-kerlip pada sorot mata Bram yang sedikit menerawang. Sepertinya, Kim Boram memang sosok istimewa. Sejurus kemudian, Alin menunduk murung. “Oh… begitu. Setelah menikah… pasti Mas Bram akan semakin jarang pulang ke Indonesia. Pasti akan jarang meneleponku, ataupun membalas emailku…”

Rasa kehilangan mendadak menyergap Alin. Disusul oleh amarah, “Kim Boram itu… dia akan memonopoli Mas Bram untuk dirinya sendiri!”

Bram terhenyak mendengar perkataan Alin. Meskipun sebenarnya Bram bisa memahami, bahwa bila dirinya menikah, akan meninggalkan ruang kosong di hati Alin. Dengan usia terpaut 7 tahun dari Alin, posisi Bram melebihi seorang kakak. Semacam orangtua kedua.

“Kamu sedih?”

Alin beringsut mendekati Bram, lalu menyandarkan kepala pada bahu kakaknya itu. Posisi yang kaku, tapi membuatnya merasa sedikit lega. Sudah lama ia tidak bermanja pada Bram, semenjak kakaknya bekerja di luar negeri. Bukankah, sewaktu kecil ia sering sekali minta gendong di punggung Bram? Alin teringat masa-masa itu. Rasa kehilangan dan kemarahan itu semakin meresap dalam sumsumnya.

“Aku tetap kakakmu. Tapi, aku punya tanggungjawab yang lebih utama setelah menikah; yaitu keluargaku. Istriku… dan anakku. Nanti…”

Mendadak Alin teringat sesuatu. Sesuatu itu sedang berkelindan dalam benaknya. Ini bukan sekedar kabar pernikahan. Ini kabar buruk!

Ia pun memotong, “Kalau menikah– berarti Mas Bram tidak bisa memenuhi janji…”

“Janji apa?” Bram menarik mundur dagunya. Mengerutkan kening, berusaha keras menelusuri ingatannya.

(Bab 1 & 2 LENGKAP di Wattpad — klik di sini)

———————————————————–

[1]Hanbok: Pakaian tradisional perempuan Korea 

[2]Nuna: Panggilan kakak perempuan yang diucapkan oleh adik lelaki

[3]Jeongmal: Benarkah

[4]Jal haesseo: Kerja bagus

[5] Appa: Ayah

[6]Hananim: Tuhan

[7]I geo : Ini

[8]Palli: Cepat

[9] Arasseo: Mengerti

[10]Uri: Kita

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s