Asal-Usul ‘Sekolah’


Sekolah Itu Candu.jpg

Berbicara tentang pendidikan, rasanya tidak bisa lepas dari kata sekolah. Saking melekatnya pendidikan dan sekolah, muncullah pemahaman bahwa pendidikan adalah sekolah, dan sekolah adalah pendidikan. Seseorang tidak dikatakan ‘mendapat pendidikan’ bila tidak ‘belajar di sekolah’. Tetapi ironisnya, akhir-akhir ini, carut-marut dunia sekolah semakin membuat kening berkerut.

Sekolah Masa Kini: Fenomena yang Menggelisahkan

Beberapa waktu lalu, seorang tetangga bercerita mengenai anaknya (kelas 1 SD) yang berkali-kali sakit panas. Ketika saya tanya penyebabnya, sang ibu menjawab bahwa anak tersebut mengalami stres akibat kegiatan sekolah yang terlalu padat. Sekitar jam 7-8 pagi ia sudah harus berada di sekolah, kemudian pulang jam 1 siang. Sorenya, sekitar jam 3, ia harus berangkat lagi mengikuti les hingga jam 5 sore. Berulang kali sang anak mengeluh lelah. Sang Ibu menyuruhnya istirahat. Tapi, tentu saja tidak bisa, karena masih ada tugas-tugas sekolah yang menunggu untuk dikerjakan sang anak. Belum lagi bila ia menghadapi musim ujian. Sebenarnya, sang ibu ingin memindahkan sang anak ke sekolah lain yang lebih ringan ‘tuntutannya’, tetapi apa daya. Sang ibu mengatakan jika sekolah-sekolah yang telah didatangi memiliki load yang kurang lebih sama.

Saya merasa sangat prihatin menemui fenomena sekolah yang seperti ini. Belum lagi jika saya mendengar bagaimana sekolah menarik iuran-iuran bersifat wajib di luar kebutuhan pokok belajar mengajar, semisal piknik. Jika sang murid tidak sanggup melunasi iurannya, maka ia tidak bisa mengikuti acara piknik tersebut. Ironisnya, uang iuran yang belum lunas tadi tetap dipotong oleh sekolah. Tidak dikembalikan pada orangtua murid, alias hangus. Fenomena-fenomena miring tentang sekolah tak cukup berhenti di sini. Masih ada kasus bullying, pelecehan seksual, dan lain-lain yang terjadi di lingkungan sekolah.

Jika tidak segera berbenah, maka sekolah tidak akan lagi menjadi solusi pendidikan, melainkan menjadi kegelisahan tersendiri dalam benak masyarakat. Di satu sisi, masyarakat seakan tak punya pilihan cara dalam mendapatkan/memberikan pendidikan, selain bersekolah. Di sisi lain, diam-diam, masyarakat juga khawatir terhadap hal-hal negatif yang berkaitan dengan sekolah. Mungkin tak jadi masalah untuk kalangan bermodal besar, sehingga lebih leluasa memilih sekolah. Namun, bagaimana dengan kalangan umum yang tak punya banyak pilihan?

Sejarah Awal Sekolah

Sebenarnya, apa itu sekolah, yang seolah tabu dipertanyakan kehadirannya dalam dunia pendidikan? Berikut pengertian sekolah menurut beberapa tokoh.

“…oasis dalam artian yang sesungguhnya: elitis dan eksklusif untuk mencetak kader-kader terpilih di masa depan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.”
(James Hirsch-Pakar Mikrobiologi-Mantan Dekan Mahasiswa Universitas Rockefeller)

“Taman.” (Ki Hadjar Dewantara-Bapak Pendidikan Nasional Indonesia)

“Sekolah itu… kebun!” (Mzee Nyerere-Presiden Pertama Tanzania)
Bagi Nyeyere, semua rakyat Tanzania harus menjadikan kebun atau ladang garapan mereka sekaligus sebagai sekolah mereka juga. Jadi, anak-anak Tanzania akan belajar langsung dari pengalaman nyata mereka dalam kehidupan suatu sistem pertanian kolektif nasional.

“Seorang lulusan sekolah bisa diamsalkan dengan satu sekrup, satu komponen, dari roda mesin raksasa yang bernama sistem perekonomian.” (Adam Smith-Bapak Perekonomian Modern)

“Sumber daya manusia terlatih hasil sekolah adalah salah satu faktor atau fungsi produksi ekonomi yang utama dan vital, selain sumber daya alam dan sumber daya modal (uang dan harta kekayaan)”. (Alfred Marshall-Pemuka Aliran Teori Ekonomi Neo-Klasik)


Sementara banyak ahli yang berpendapat tentang sekolah, Roem Topatimasang – penulis buku Sekolah Itu Candu, menggugat hal ini. “Begitu banyak orang yang berbicara tentang sekolah, bahkan juga sepenuhnya yakin membela keberadaannya, tetapi ternyata begitu banyak pula perbedaan ragam pengertiannya yang tidak bisa disimpulkan secara gampangan: mana yang paling benar dan absah?” ungkapnya pada halaman 115.

Untuk menjawab hal tersebut, ada baiknya sejenak kita mengilas balik sejarah kemunculannya berikut, yang saya tuliskan berdasarkan potongan isi buku Sekolah Itu Candu oleh Roem Topatimasang.

Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae, atau schola. Keempatnya punya arti sama: ‘waktu luang yang digunakan khusus untuk belajar’ (leisure devoted to learning).

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu, akhirnya, tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah.

Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu, biasanya adalah orang dan tempat di mana mereka sendiri dulu pernah ber-skhole. Di tempat itulah anak anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang memang mereka anggap patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya. Maka sejak saat itulah, telah beralih sebagian fungsi scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini biasa juga disebut sebagai ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu pengetahuan’ (alma mater). (Sekolah Itu Candu, halaman 6-7).

Nah, bila ditilik dari sejarahnya, dapat disimpulkan bahwa sekolah pada dasarnya adalah pengisian waktu luang. Sekolah hanyalah salah satu cara yang ditempuh manusia untuk memperoleh pendidikan. Dan sesungguhnya, pengisian waktu luang untuk menimba ilmu dan ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan itu awalnya didasarkan pada kehendak/kesadaran manusia sendiri, bukan karena kewajiban semata. Seperti yang lazim terjadi sekarang. Sekolah masa kini sudah jauh menyimpang dari tujuan awal ia dilahirkan.

Sebuah Cara Pandang Terhadap Sekolah

sekolah

Narasi gambar:

Sebelum penjajah tiba, nenek moyang kita tak kenal ijazah, sekolah juga tak ada.

Tapi mereka BELAJAR!

Belajar segala soal.

Bertani, berladang…

Mengenal alat-alat penting…

Semua orang GURU!

Semua tempat SEKOLAH!

Meskipun keluarga kami memilih homeschooling sebagai bentuk pendidikan bagi anak (dan kami sendiri), tidak berarti kami anti sekolah. Bahkan jika suatu hari anak kami memilih pindah haluan, kami pun akan mengijinkannya belajar di sekolah.

Sebagaimana kami tidak menganggap sekolah sebagai harga mati untuk pendidikan, demikian juga cara pandang kami terhadap homeschooling. Bagi kami, homeschooling dan sekolah adalah jalan/alat pendidikan, bukan hakikat pendidikan itu sendiri. Homeschooling dan sekolah adalah cara yang kita pilih, sebagaimana kita memilih cara hidup yang kita anggap terbaik. Sementara, hakikatnya adalah bagaimana proses penuntunan ini bisa berjalan sesuai fitrah/kodrat manusia, sehingga menjadikan manusia itu paripurna (insan kamil); yaitu menjadi pengejawantahan keindahan Asma Tuhan Sang Pencipta di bumi.

Lalu, siapakah yang mendapatkan mandat utama ini? Ya, dialah keluarga, dalam bentuk jamaknya adalah masyarakat/kumpulan dari keluarga-keluarga (artikel tentang penanggungjawab pendidikan, silakan baca Orangtua Atau Guru? Klik disini). Untuk itu, terlepas memilih bersekolah atau tidak bersekolah, setiap keluarga seharusnya memiliki konsep pendidikan sesuai karakteristik masing-masing, dengan tujuan yang lebih mulia daripada sekedar mendapat gelar untuk mencari sesuap nasi.

Mari merenung lebih dalam, demi pendidikan yang lebih hakiki, demi kebaikan anak-cucu kita di kemudian hari.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Asal-Usul ‘Sekolah’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s