Jangan Menangis! Anak-Anak dan Airmata


jangan menangis

Anak laki-laki tidak boleh menangis! Malu dong!

Eh, sudah besar kok menangis?

Masa’ gitu aja nangis?

Dasar cengeng!

—- 

Entah sejak kapan airmata seolah haram dikeluarkan oleh mata anak-anak. Sebagian orangtua menganggap bahwa menangis itu hanya monopoli bayi. Bahkan, kepada bayi pun terkadang, orangtua masih mengatakan, “Cup, cup, jangan menangis…”. Sebenarnya, apa yang membuat reaksi menangis begitu ‘dimusuhi’ oleh sebagian orangtua? Suaranya yang keras dan mengganggu? Malu dilihat orang lain karena anak bertingkah?

Bagi bayi, menangis merupakan cara ia mengkomunikasikan kebutuhan, seperti lapar-haus sekaligus merupakan ekspresi perasaan tidak nyaman, sedih-marah, takut, dan lain-lain. Tangisan adalah cara komunikasi paling efektif bagi bayi, sebab mereka belum bisa bercakap-cakap.

Baiklah, itu kan bayi. Wajar bila bayi sering menangis. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak yang sudah lebih besar? Terutama anak-anak yang sudah bisa dikatakan mampu berkomunikasi dengan orangtuanya. Bukankah seharusnya mereka tidak perlu menangis?

Jangan Menangis. Bicaralah yang Sopan!

Terkadang, seorang anak (terutama yang baru lepas dari masa bayinya) butuh waktu untuk memahami bahwa ada cara-cara lain yang lebih efektif untuk berkomunikasi selain menangis. Mereka belum sadar sepenuhnya bahwa berbicara dengan jelas dan sopan pada orangtua adalah cara terbaik untuk menyampaikan kebutuhannya. Berbicara dengan jelas dan sopan memang terdengar mudah dilakukan. Tetapi, bagi seorang anak, ini adalah sebuah ketrampilan yang sulit. Untuk berbicara jelas dan sopan, anak harus punya kosakata yang cukup, memilih kata yang tepat, dan memiliki kemampuan untuk mengucapkannya dengan baik. Tak hanya itu. Meskipun seorang anak sudah lancar berbicara, ia masih harus punya ketrampilan penguasaan emosi. Ia harus dalam keadaan tenang untuk berkomunikasi dengan baik. Padahal, kita semua tahu bahwa anak seringkali meluap-luap perasaannya. Oleh karena itu, seringkali anak tetap memilih untuk menangis. Sebab, menangis adalah cara termudah (semacam shortcut) untuk menyampaikan perasaannya, tanpa harus capek-capek mengendalikan emosi.

Airmata, untuk Apa?

Jadi bagaimana? Apakah anak dilarang menangis atau dibiarkan menangis sesuka hati? Sebelum menjawab pertanyaan ini, lebih baik jika memahami terlebih dahulu apakah itu menangis dan efek yang ditimbulkan bagi manusia.

Menurut artikel Kolom Sehat (klik di sini)menangis adalah reaksi alamiah tubuh dan seharusnya tidak perlu dikendalikan/dikontrol seolah penyakit.

Artikel tersebut menambahkan bahwa menangis justru baik bagi kesehatan tubuh maupun jiwa. Airmata yang dikeluarkan saat menangis ternyata berfungsi untuk mengeluarkan racun dari tubuh dan menjadi tanda sehatnya mental seseorang.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa menangis bukanlah sesuatu yang buruk dan harus dilarang. Jadi, bila anak menangis, biarkanlah ia menangis. Namun, sampai batas mana seorang anak dibiarkan untuk menangis?

Menangani Anak Menangis

Memang, dalam kondisi emosi sehat yang disertai kematangan psikologis, seseorang tidak akan berlebihan dalam menangis. Ia akan mengetahui sendiri bagaimana bentuk wajar reaksi tangisannya dan berapa lama ia akan menangis. Tetapi, bila kita membicarakan anak-anak, maka buanglah jauh-jauh harapan anak bisa bertindak semanis itu. Bahkan, orang dewasa yang menangis hingga histeris pun terkadang masih bisa dijumpai.

Jadi, bila anak menangis, kita bisa mencoba melakukan hal-hal berikut:

1.Bentangkan tangan lebar-lebar, peluk, dan tahan diri untuk menasehatinya

Dinginkan kepala. Siapkan kelapangan hati untuk menerima teriakan kepedihan dan airmatanya. Dalam kondisi seperti ini, nasehat tidak akan berguna dan malah akan membuat orangtua semakin frustasi karena rentetan nasehatnya tak didengarkan.

2. Fokuskan perhatian pada anak dan akui perasaannya

Tak usah peduli bila orang-orang menonton drama kecil ini. Daripada melarang anak menangis, lebih baik katakan bahwa kita memahami perasaannya. “Iya, Ibu paham kamu pasti merasa sangat marah.” Bila memungkinkan, ajak anak untuk menjauh dari keramaian.

3. Ajak anak memahami masalah

Sesudah anak tenang, ajaklah ia menelusuri penyebab ia menangis, supaya ia memahami apa yang sebenarnya terjadi, dan reaksi apakah yang seharusnya tepat ia lakukan untuk mengatasi masalah tersebut. “Kalau mainanmu direbut teman, apa yang sebaiknya kamu lakukan lain kali? Memintanya dengan tegas atau menangis saja?”

4. Bimbing anak untuk menghadapi emosi

Beri pengertian pada anak, bahwa menangis itu boleh. Tetapi, menangis yang disertai emosi meledak-ledak seperti rasa marah adalah sesuatu yang harus ditata. Katakanlah pada anak bahwa meledakkan amarah di tempat umum itu sama dengan membuang kotoran sembarangan. Tentu, kita tak ingin membuang kotoran sembarangan, bukan? Maka, tunjukkan pada anak apa yang harus dilakukan bila ia merasa tidak bisa mengontrol amarah. Misal, menjauh dari keramaian atau pulang ke rumah, membasuh wajah, atau mengubah posisi tubuh.

Mungkin sebagian orangtua masih enggan bila harus membiarkan anaknya menangis. Risau bahwa suatu hari anak akan menjadi lemah hati, terutama bagi anak lelaki.  Bila hal itu muncul dalam pikiran, coba renungkan hal ini. Para nabi yang mulia dan tangguh itu adalah lelaki-lelaki yang mudah menangis dan tersentuh hatinya. Sebab, airmata akan membasuh kotoran hati dan melembutkan kekerasan hati, membawa jiwa manusia semakin dekat pada Sang Pencipta.

[ Eryani Widyastuti ]

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s