DONGENG ANAK: Kisah Putri Bisu


putri bisu.jpeg

Sang Shahzada sakit akibat kutukan seorang nenek. Untuk memusnahkan kutukan itu, ia harus menemukan Putri Bisu yang memakai cadar lapis tujuh. Dapatkah Sang Shahzada menemukan putri misterius itu?

photogrid_1464649327246.jpg

Nun jauh di sana, ada sebuah kerajaan kecil di tanah Turki yang dipimpin oleh seorang Pasha. Sang Pasha memiliki seorang putra bernama Shahzada. Shahzada mempunyai sebuah bola kesayangan yang terbuat dari emas. Sedari kecil hingga dewasa, ia sangat suka memainkan bola itu setiap hari di halaman istananya. Permainan yang paling disukainya adalah mengganggu orang-orang yang mengambil air di mata air yang terletak di halaman istana.

“Paman! Awas!” seru Shahzada kepada seorang lelaki yang sedang mengisi kantung air minumnya di mata air. Kaki kanan pangeran muda itu menendang kuat-kuat bola emas ke arah mata air.

Byurr!

“Ya, ampun!” teriak si pengambil air. Badannya basah terkena air cipratan bola. Shahzada terbahak-bahak melihat kejadian itu.

“Semoga kau mendapatkan balasan atas kenakalanmu, Pangeran!” Lelaki itu merutuk dalam hati. Ia mengambil air, kemudian pergi. Tidak berani memarahi Shahzada, sebab pemuda itu adalah anak seorang Pasha.

Lain hari, datanglah seorang wanita tua yang membawa sebuah guci untuk mengambil air di mata air istana Pasha.

“Hihihi. Ini dia. Pasti lebih seru!” Shahzada merencanakan sebuah kenakalan saat melihat wanita itu datang. Shahzada menendang kuat-kuat bola emasnya ke arah guci itu.

Praang!

Guci baru yang dibawa oleh wanita itu pecah. Sambil bersungut-sungut, wanita itu pergi. Diiringi gelak tawa Shahzada yang senang karena menganggap semua itu adalah hal lucu.

“Aku suka permainan ini.” kata Shahzada.

Seakan tak mau berputus asa, wanita tadi datang lagi untuk ketiga kalinya dengan guci baru. Guci ini dibelinya dengan cara berhutang. Sebab, uangnya telah habis untuk membeli guci kedua yang dipecahkan Shahzada sebelumnya.

Shahzada meletakkan bola emasnya di dekat kaki, kemudian menendangnya lagi.

Praang!

Guci ketiga telah pecah. Dan, pecah pula kesabaran wanita itu untuk menahan amarah. Ia melotot jengkel kepada Shahzada.

“Anda memang seorang pangeran yang tidak berperasaan! Dengarlah kata-kata saya ini; semoga anda jatuh hati pada Putri Bisu!” kutuknya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Shahzada yang mulanya tertawa terbahak-bahak, kini terdiam seribu bahasa. Terpukul mendengar kutukan wanita pembawa guci. Putri Bisu? Siapakah Putri Bisu itu? Apa maksud kata-kata wanita itu? Pikir Shahzada. Ia terus memikirkannya sehari semalam, seminggu tujuh hari, sebulan empat minggu, hingga ia lupa pada permainan bola emasnya, enggan makan, dan tidak nyenyak tidur. Shahzada berubah menjadi pemuda yang murung dan sakit-sakitan. Seribu tabib dan orang bijak didatangkan ke istana untuk mengobati penyakit misterius yang diderita Shahzada, namun takkunjung membawa hasil menggembirakan. Sang Pardishah mulai gelisah memikirkan penyakit putranya itu.

“Anakku, sebenarnya, apa yang menyebabkan engkau menderita sakit seperti ini? Bisakah kau menceritakan sesuatu? Mungkin, ada yang aneh terjadi sebelum engkau sakit?” tanya Pasha.

Shahzada menatap ayahnya dengan sayu. “Iya, Ayahanda. Saya pernah memecahkan tiga guci milik seorang wanita tua yang sedang mengambil air di halaman istana. Dia mengutuk, semoga saya jatuh hati hati kepada Putri Bisu.”

Pasha mengerutkan kening, “Akan tetapi, siapakah Putri Bisu yang dimaksud itu? Apa maksud dari kutukannya itu?”

“Itulah yang merisaukan saya selama ini ini, Ayahanda. Lebih baik, saya melakukan perjalanan untuk mencari Putri Bisu. Mungkin hanya itu obat bagi penyakit saya.” Kata Shahzada.

Pasha merenung. “Engkau pasti akan menempuh banyak rintangan di luar sana. Tetapi, jika ini jalan yang terbaik, maka pergilah, Anakku. Bawalah serta satu orang pengawal istana terbaik untuk menemanimu dalam perjalanan.”

photogrid_1464649354655.jpg

Segala persiapan telah selesai dilakukan. Kini, Shahzada dan pengawalnya berangkat mencari Putri Bisu. Melewati hutan yang lebat, semak-semak, dan padang ilalang. Tetapi, tidak ada tanda-tanda mereka akan menemukan Putri Bisu.

Mereka terus berjalan melewati daerah tak berpenghuni. Tak ada manusia yang bisa ditemui. Bahkan, hewan dan tumbuhan pun jarang sekali hidup di sana. Bekal telah habis. Shahzada dan pengawalnya jarang sekali bisa makan dan minum. Penampilan mereka menjadi kurus, compang-camping dan lusuh.

Hingga tibalah mereka di sebuah puncak gunung yang memiliki bebatuan aneh. Bebatuan di puncak gunung itu berkilauan layaknya berlian. Mereka bertanya kepada seorang lelaki tua yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

“Tolong katakan kepada kami, apa yang menyebabkan batu-batu di puncak gunung ini berkilauan?” tanya Shahzada.

“Kalian sedang berada di gunung milik Putri Bisu. Ia memakai tujuh lapis penutup wajah. Batu-batuan adalah pantulan dari kecerdasan sang putri.” Jelas lelaki tua itu.
Shahzada dan pengawalnya tampak sangat senang. Setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan tanpa tujuan, akhirnya mereka menemukan petunjuk tentang Putri Bisu.

“Masih jauhkah istana Putri Bisu?” tanya Shahzada.

“Sabarlah, Anak Muda. Jika kalian berdua berjalan terus selama enam bulan lagi, kalian akan sampai di istananya.”

Shahzada dan pengawalnya merasa gembira. Berarti perjalanan mereka tidak sia-sia. Mereka telah menuju arah yang benar, dan sebentar lagi akan menemukan Putri Bisu. Mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga tiga bulan lamanya. Kemudian, sampailah mereka pada puncak gunung yang lain. Anehnya, bebatuan di gunung ini mempunyai warna semu merah yang amat cantik.

“Aku sangat lelah. Sebaiknya, kita pergi ke sebuah desa untuk beristirahat. Di sana, kita juga bisa bertanya mengenai gunung ini.” kata Shahzada.

Setelah mereka berdua menemukan sebuah desa, Shahzada dan pengawalnya pun beristirahat di sebuah penginapan di daerah itu.

“Selamat datang, Tuan-Tuan!” sapa si pemilik penginapan.

“Apakah anda bisa memberi tahu saya, mengapa batu-batu di puncak gunung sana berwarna merah?” tanya Shahzada.

“Oh, tak tahukah Tuan-Tuan? Batu-batu itu mencerminkan warna bibir dan pipi Sang Putri Bisu. Putri Bisu mengenakan tujuh lapis penutup wajah. Tetapi, kecantikannya tak dapat dihalangi. Meskipun begitu, tak ada yang pernah melihat wajah Putri Bisu. Tidak ada yang pernah bicara dengannya. Sebab, dia tak berbicara sepatah katapun. Banyak orang yang mencoba membuatnya bicara. Namun semua berakhir dengan kematian.”

Mendengar berita buruk itu, Shahzada tidak merasa gentar. “Di manakah letak istana Putri Bisu?”

“Lanjutkanlah perjalanan selama tiga setengah bulan lagi, dan Tuan-Tuan akan sampai di sana.”

photogrid_1464649366678.jpg

Shahzada dan pengawalnya melanjutkan perjalanan sesuai dengan saran pemilik warung kopi. Hingga akhirnya, mereka sampai pada sebuah puncak gunung yang sangat besar. Menurut perkiraan Shahzada, di situlah letak istana Putri Bisu. Namun, setelah mereka mendekat, pemandangan yang mengerikan menyambut mata. Sebuah istana megah berdiri menjulang dan kokoh. Di sekitar istana itu berserakan tulang-tulang tengkorak manusia.

“Tuan! Tengkorak-tengkorak itu pastilah orang-orang yang tidak berhasil membuat Sang Putri Bisu bicara. Kita akan berakhir sama seperti itu jika kita gagal. Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum terlambat!” Sang pengawal memperingatkan.

“Tenanglah. Cepat atau lambat, semua orang pasti mati, bukan? Jadi, tidak ada yang perlu kita takutkan.” kata Shahzada.

Ia pun memutuskan pergi ke sebuah desa di dekat istana untuk beristirahat. Di desa ini, mereka disambut oleh kesedihan dan tangisan para penduduk.

“Oh, Tuan-Tuan yang mulia. Apakah kita masih bisa berjumpa lagi?” seru orang-orang itu sambil berurai air mata.

“Mengapa kalian berkata seperti itu?” tanya Shahzada heran.

“Sepertinya Tuan-Tuan sedang menghampiri kematian. Desa ini adalah milik ayah dari Putri Bisu. Jika Tuan-Tuan ingin membuat Putri Bisu bicara, harus meminta ijin terlebih dulu kepada sang ayah. Jika gagal membuat Putri Bisu bicara, kalian akan menjadi salah satu dari tulang-tulang tengkorak itu.”

Shahzada mengangguk-angguk, dan berkata kepada pengawalnya. “Kita hampir sampai pada akhir perjalanan. Lebih baik, kita istirahat selama beberapa hari di sini terlebih dahulu.”

Sembari beristirahat, Shahzada dan pengawalnya berjalan-jalan di sebuah bazar. Tanpa sengaja, mereka melihat seekor burung bulbul yang dijual dalam sangkar. Shahzada tertarik dengan tingkah burung yang menyenangkan itu, kemudian memutuskan untuk membelinya.

Malam harinya, Shahzada termenung di kamar sambil memikirkan cara untuk membuat Putri Bisu bicara. Ia khawatir akan menemui kematian jika gagal.

“Apa yang merisaukan hati Tuan?” tanya sebuah suara.

Shahzada sangat terkejut. Awalnya, ia berpikir bahwa yang didengarnya tadi adalah suara hantu. Namun rupanya, atas kemurahan Tuhan, burung bul-bul yang baru dibelinya tadi bisa berbicara.

“Aku sedang memikirkan cara untuk membuat Putri Bisu bicara, atau aku akan berakhir pada kematian.” kata Shahzada.

“Jangan khawatir, Tuan. Bawalah aku serta. Gantungkanlah sangkarku di tiang lampu kamar Putri Bisu. Kemudian, ajaklah Putri Bisu untuk bercakap-cakap. Dan, tentu saja, ia tidak akan menjawab. Lalu, berbicaralah kepada tiang lampu. Aku yang akan membalas pembicaraan Tuan, sebagai sebuah tiang lampu.”

Shahzada menuruti nasehat Burung Bul-Bul. Keesokan harinya, mereka berangkat menuju istana Putri Bisu.

“Ingatlah Anak Muda. Putriku membuat sebuah mantra. Barangsiapa yang ingin menikahinya, harus bisa membuatnya bicara. Jika tidak, mereka akan menemui kematian. Ribuan orang telah mencobanya, namun gagal. Lihatlah tulang belulang yang berserakan itu. Apakah kau sudah siap?” tanya Sultan, ayah Putri Bisu.

“Saya siap. Suatu hari, mantra itu pasti bisa dihancurkan. Dan mungkin, hari itu adalah hari ini.” ucap Shahzada penuh semangat.

photogrid_1464649381157.jpg

Setelah mendapatkan ijin dari Sultan, pergilah ia ke tempat Putri Bisu berada. Di sana, dijumpainya seorang putri yang memakai penutup kepala berlapis-lapis yang menjuntai hingga menutupi seluruh wajahnya. Bahkan, sang putri awalnya tidak mengetahui kehadiran Shahzada, sebab pandangannya terhalang oleh lapisan-lapisan penutup wajah. Ia juga tidak bisa melihat bahwa sebuah sangkar berisi seekor burung bul-bul digantungkan di tiang lampu kamarnya.

Shahzada menyapa Putri Bisu. “Bagaimanakah kabar Tuan Putri? Saya harap Tuan Putri dalam keadaan sehat.”

Namun Putri Bisu tidak menjawab. Ia tetap tidak menjawab, ketika Shahzada berbasa-basi lebih panjang lagi. Hingga akhirnya, Shahzada berkata.

“Baiklah. Malam sudah semakin larut. Karena Tuan Putri tidak menjawab satupun perkataan saya, biarlah saya berbicara dengan tiang lampu. Walaupun tiang lampu ini tidak bernyawa, tapi mungkin lebih berperasaan daripada Tuan Putri.” Shahzada menghadapkan dirinya kepada tiang lampu kamar.

“Bagaimana kabarmu, wahai Tiang Lampu?” tanya Shahzada.

“Sangat baik, Tuan. Meski bertahun-tahun tidak pernah ada yang mengajakku bicara. Tetapi Tuhan sungguh Maha Pemurah, mengirimkan Tuan untuk berbicara kepadaku. Aku sangat senang. Maka dari itu, bolehkah aku menceritakan sebuah kisah untuk Tuan?” jawab Tiang Lampu yang sebenarnya adalah suara Burung Bul-Bul.

Anggukan Shahzada menjadi tanda dimulainya cerita. “Syahdan, ada seorang Pardishah yang memiliki seorang putri. Putri itu hendak dinikahi oleh tiga orang pangeran. Maka, Pardishah membuat sebuah lomba. Siapa yang berhasil menjadi pangeran terhebat, maka dialah yang berhak menikahi sang putri. Kemudian, tiga pangeran itu berpisah ke tiga arah mata angin yang berbeda.”

Burung Bul-Bul melanjutkan. “Pangeran pertama berhasil menguasai ilmu bagaimana menempuh perjalanan enam bulan dalam tempo satu jam. Pangeran kedua menguasai ilmu penglihatan jauh. Dan, pangeran ketiga menguasai ilmu pengobatan. Suatu hari, pangeran yang bisa melihat dari jauh menyampaikan kabar. Putri sedang sakit parah, dan akan meninggal sebentar lagi. Pangeran ketiga segera membuat ramuan obat. Dengan secepat kilat, pangeran pertama mengantarkan obat itu ke tempat sang putri untuk diminum. Akhirnya, putri pun sembuh. Namun, kini, Pardishah bingung memilih siapa pangeran terhebat yang berhak menikahi putrinya. Bagaimana menurut Tuan Shahzada? Siapakah pangeran yang berhak menikahi sang putri?”

Shahzada menjawab, “Tentu saja pangeran yang meramu obat untuk sang putri. Tanpa obatnya, sang putri tidak akan bisa disembuhkan.”

Tetapi, Burung Bul-Bul menolak jawaban Shahzada, “Tetapi, jika pengeran yang bisa menghilang tidak memberitahu bahwa sang putri sakit, sang putri tidak akan selamat.”

“Tanpa obat pangeran ketiga, sang putri pasti meninggal!”

“Tanpa kabar dari pangeran kedua, pangeran ketiga tidak akan membuat obat untuk menyembuhkan sang putri!”

Shahzada dan Burung Bul-Bul terlibat perdebatan seru. Putri Bisu hanya mendengarkan dan berkata dalam hati. “Mengapa tidak ada yang ingat jasa pangeran pertama? Ia yang berhasil mengantarkan obat secepat kilat, hingga bisa diminum sang putri tepat waktu. ”

Karena perdebatan sengit antara Shahzada dan Burung Bul-Bul tak kunjung usai, Putri Bisu menjadi jengkel. Tanpa sadar, ia berseru. “Oh, kalian benar-benar bodoh! Aku akan memberikan putri itu kepada pangeran pembawa obat. Tanpa kecepatan larinya, putri itu akan tetap mati!”

Shahzada dan Burung Bul-Bul senang sekali. Mereka telah berhasil membuat Putri Bisu bicara. Sultan pun segera diberi tahu. Namun, Putri Bisu menolak kemenangan Shahzada.

“Aku telah dijebak, Ayah! Ini bukan sebuah kemenangan.” kata Putri Bisu.
“Baiklah. Jika pangeran ini berhasil membuatmu bicara dua kali lagi, maka dia berhak menikahimu.” sahut Sultan.

Shahzada tidak berani menolak ketentuan itu. Ia yakin, Burung Bul-Bul akan membantunya. “Gantungkanlah sangkarku pada sebuah pilar, Tuan.” bisik Burung Bul-Bul. “Perhatikanlah. Setelah kita berhasil membuatnya bicara, kerudung yang menutupi wajah Putri Bisu mulai berjatuhan.”

photogrid_1464664321141.jpg

Keesokan harinya, Shahzada menyapa Putri Bisu lagi. Seperti biasa, sang putri diam saja.

“Bagaimana kabarmu, Pilar? Karena sang putri tidak bersedia berbicara denganku, bolehkah aku berbicara denganmu?” tanya Shahsada menghadap pilar kamar Putri Bisu.

“Oh, tentu saja, Tuan.” Jawab Burung Bul-Bul yang berpura-pura menjadi dinding. “Saya sangat senang punya teman bicara. Oleh karena itu, bolehkah saya menceritakan sebuah cerita?”

“Dengan senang hati akan kudengarkan.” Jawab Shahzada.

“Ada seorang gadis yang sedang bingung memilih calon suami. Apakah ia akan memilih Baldji, Jagdji, atau Firedji? Lalu, ia merencanakan sesuatu untuk melihat siapa yang paling bersemangat memenuhi permintaannya.”

Burung Bul-Bul melanjutkan. “Gadis itu pura-pura menangis, dan berkata. Oh,ayahku baru saja meninggal. Arwahnya selalu menghantuiku. Adakah yang bisa membantu? Mendengar hal itu, Baldji datang menawarkan bantuan. Tolong, pakailah selembar kain, dan tidurlah di dalam makam ayahku. Supaya, ayahku berhenti menghantuiku. Maka Jagdji pun menuruti permintaannya.”

“Kemudian gadis itu menangis lagi. Kini, datanglah Baldji. Jika hantu ayahku datang, pukullah dengan batu, supaya ia tidak menghantuiku lagi. Setelah Baldji pergi menuruti keinginannya, gadis itu kembali menangis. Hingga datanglah Firedji. Ada seorang penyihir yang hendak mengambil jasad ayahku dari makamnya. Tolong, ambillah jasad ayahku, dan selamatkan. Seperti kedua kawannya, Firedji juga menuruti keinginan gadis itu.”

“Firedji pergi ke tempat yang telah ditunjuk gadis itu, membongkar makam, dan menggotong Jagdji yang terbungkus kain. Tetapi, Baldji mengira ada dua hantu yang muncul, hingga ia memukul keduanya dengan batu. Sementara Jagdji mengira, bahwa hantu ayah si gadis yang memukulnya. Ia segera menubruk Baldji. Begitu semua terbongkar, mereka terkejut dan meminta penjelasan dari si gadis.”

“Menurut Tuan, siapa yang berhak menikahi si gadis? Menurutku Firedji!” tanya Burung Bul-Bul.

“Baldji! Karena ia berani menghadapi dua hantu sekaligus!” jawab Shahzada. Sebentar saja, mereka terlibat dalam perdebatan sengit.

Putri Bisu sungguh kecewa mendengarnya. Mereka berdua telah melupakan perjuangan Jagdji. Ketika Putri Bisu mengemukakan pendapatnya, Shahzada berkata, “Tinggal satu kali lagi, Tuan Putri.”

Putri Bisu sangat marah menyadari kekalahannya. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menghancurkan pilar yang berbicara dengan Shahzada tadi. Pada kesempatan terakhir, Putri Bisu menjadi lebih berhati-hati untuk tidak terbawa suasana perdebatan.

“Wahai Tirai, maukah engkau bercakap-cakap denganku? Sebab Tuan Putri enggan menjawab sapaanku.” Kata Shahzada menghadap tirai gelap di kamar sang putri.

“Tentu saja, Tuanku. Aku senang sekali. Sebagai balasan atas kebaikanmu, aku akan menceritakan sebuah kisah. Dahulu kala, ada seorang Tukang Kayu, seorang Penjahit, dan seorang Sakti yang membuat usaha bersama-sama. Suatu hari, Tukang Kayu terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur. Kemudian, ia membuat sebuah patung wanita. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Tak berapa lama, giliran Penjahit yang terbangun. Melihat sebuah patung wanita tanpa pakaian, ia menjahit sebuah gaun indah, lalu dipakaikan kepada patung itu. Gaun indah itu membuat patung itu kelihatan cantik. Setelah lelah menjahit sebuah gaun, Penjahit tertidur kembali. Kemudian, pagi-pagi sekali, Orang Sakti bangun dan melihat sebuah patung wanita yang cantik dan bergaun indah. Karena kekagumannya, ia memohon pada Tuhan untuk menghidupkan patung itu. Dan, benarlah. Tuhan mengabulkan doanya. Patung wanita itu berubah menjadi seorang wanita yang cantik dan anggun. Tukang Kayu, Penjahit, dan Orang Sakti berebut menikahinya. Menurutku, Tukang Kayu yang paling berhak menikahinya.” kata Burung Bul-Bul.

“Tidak bisa! Penjahitlah yang pantas menikahinya!” sergah Shahzada.
Perdebatan seru tak bisa dielakkan. Putri Bisu tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia jengkel sekali sebab tidak ada yang mengingat jasa Orang Sakti.

Putri Bisu bangkit dari tempat duduknya dan berteriak marah, “Ayolah! Tanpa Orang Sakti, wanita itu akan tetap menjadi sebuah patung mati. Jadi, Orang Sakti yang berhak menikahinya!”

Seketika itu juga, kerudung lapis terakhir Putri Bisu terlepas. Maka, terungkaplah wajahnya yang sangat rupawan. Ia pastilah putri tercantik di seluruh dunia.
Putri Bisu tersenyum kepada Shahzada. “Kau menang. Kau telah membuatku berbicara sebanyak tiga kali.”

Itu artinya, Shahzada berhak menikahinya. Semua orang bergembira mendengar kabar ini. Ayah Putri Bisu mengadakan pesta pernikahan yang meriah selama 40 hari 40 malam.

Shahzada sangat berterimakasih kepada pengawalnya yang setia dan burung bul-bulnya yang cerdik. Kini, ia telah terbebas dari kutukan dan berhasil menikahi Putri Bisu. Sedangkan wanita pembawa guci yang mengutuknya dulu, juga diundangnya. Secara khusus, Shahzada meminta wanita itu untuk tinggal di istana dan menjadi pengasuh anak-anaknya.

(Diambil dari buku Cerita Rakyat Turki, oleh Eryani Widyastuti. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang buku Cerita Rakyat Turki, silakan klik di sini.)

photogrid_1464649054260.jpg

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s