Orangtua Atau Guru?


PEMIKIRAN PENDIDIKAN PROFESOR DRIYARKARA

Driyarkara

Kemarin siang, di ruang tunggu poliklinik gigi, saya membuka sebuah bacaan tipis sangu dari rumah. Jurnal Filsafat DRIYARKARA Th. XXXIV No. 2/2013 dengan judul Driyarkara: Filsafat dan Pendidikan, yang saya beli dari internet. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Daripada terpukau menyaksikan suguhan televisi poliklinik yang memutar FTV Akibat Sumpah Sambar Gexxxxx dan Perempuan Penyedot Axxx, lebih baik saya pusing kepala membaca jurnal ini.

Dari lima buah jurnal yang dimuat oleh buku ini, saya tertarik untuk membaca jurnal Driyarkara Di Pusaran Mistifikasi Profesi Guru Dalam Pendidikan Formal yang ditulis oleh Yohanes Sevi Dohut. Hasil merenung dan mempersepsikan ulang isi jurnal tersebut, saya tuliskan di sini.

 

Selayang Pandang Pengemban Tanggungjawab Pendidikan Indonesia

Jurnal ini dibuka oleh penggambaran fenomena sekolah-sekolah yang berlomba memunculkan dirinya dengan predikat-predikat bergengsi semacam RSBI, SBI, SSN, dan sebagainya. Dengan label-label ini, masing-masing sekolah menganggap dirinyalah yang paling bermutu dalam penyediaan pendidikan. Hal ini, disambut meriah oleh para orangtua. Orangtua merasa bangga dan merasa telah memenuhi kewajiban mendidik anak bila anak-anak mereka bersekolah di tempat berpredikat mutu tersebut. “Tugas orangtua menjadi tak lain daripada melunasi segala kewajiban administratif.” sebut Yohanes. Orangtua begitu menumpukan proses pendidikan anak-anak mereka pada sekolah. Negara, dalam hal ini sebagai pihak yang berkewajiban menjamin pendidikan bagi rakyatnya, juga memberikan tekanan-tekanan pada sekolah. Tentu, hal ini berimbas pada garda terdepan pendidikan, yaitu guru, yang dianggap sebagai aktor utama pendidikan.

Guru adalah manusia setengah dewa yang harus menyunggi beban berat ini. Guru harus mampu memenuhi semua tuntutan, baik dari orangtua maupun negara. Jika ada kekerasan pelajar, maka yang harus bertanggungjawab adalah guru. Jika angka kelulusan siswa rendah, maka yang disasar adalah guru. Namun, ada pertanyaan yang harus dijawab. Haruskah kita melimpahkan seluruh proses pendidikan (baik akademis maupun akhlak) kepada guru semata? Siapakah sebenarnya yang paling bertanggungjawab atas pendidikan generasi muda?

Pertanyan ini dijawab penulis dengan mengacu pada pemikiran Driyarkara mengenai pendidikan.

 

Mendidik, Perbuatan Apakah Itu?

[…] mendidik adalah serupa dengan perbuatan manusia lain yang sifatnya mendalam. Bandingkan dengan cinta kasih. Cinta kasih manusia, misalnya antara suami istri, tidak terikat pada bentuk yang tertentu. Suatu perbuatan yang hari ini merupakan penjelmaannya mungkin lain hari merupakan sebaliknya. Tidak ada perbuatan tertentu yang dengan sendirinya menjadi bentuk pelaksanaannya, tetapi juga setiap perbuatan bisa menjadi penjelmaannya.

Pendidikan amatlah penting bagi kehidupan manusia. Sebab, pendidikan termasuk jenis perbuatan yang digolongkan oleh Driyarkara sebagai perbuatan fundamental; artinya perbuatan yang menyentuh akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup kita. Seperti halnya cinta kasih.

Bagi Driyarkara, semua perbuatan bisa menjadi pendidikan, karena pendidikan tidak dibatasi dengan perbuatan ini atau itu. Misalnya, ketika seorang ibu sedang menjemur baju, memasak, atau mandi, kita memang tidak bisa mengatakan bahwa ibu sedang mendidik anaknya. Tetapi, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa dengan aktifitas-aktifitas itu, Ibu tidak sedang mendidik anaknya. Menurut saya pribadi, aktifitas sekecil apapun yang dilakukan orangtua bisa menjadi teladan bagi anak. Sementara teladan adalah salah satu bentuk pendidikan paling efektif. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengotak-kotakkan aktivitas pendidikan, karena aktivitas tersebut bisa menjelma ke dalam berbagai bentuk. Jadi, aktivitas pendidikan tidak harus berupa membaca buku, tekun mengerjakan soal-soal, atau duduk diam mendengarkan guru mengajar, dan belajar di sekolah. Bermain pun bisa di golongkan sebagai aktifitas pendidikan, asalkan memang mempunyai sifat mendidik serta memiliki arah dan tujuan utama, yang menurut Driyarkara, yakni mengantar manusia muda ke taraf insani.

Aktifitas untuk mengantarkan manusia ke taraf insani ini digolongkan menjadi dua jenis oleh Driyarkara, yaitu Hominisasi dan Humanisasi. Hominisasi adalah proses pendidikan yang bertujuan untuk mengantar perkembangan manusia ke tingkat minimal, yakni perkembangan manusia secara biologis dan psikologis. Sementara Humanisasi merujuk pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi, yakni perkembangan manusia sebagai makhluk berbudaya dengan berbagai dimensi. Dimensi ini digolongkan menjadi 4, yaitu dimensi ekonomis (manusia mengolah materi/barang agar menjadi sesuatu yang berguna baginya), dimensi teknik (manusia memanfaatkan potensi yang ada pada materi/barang dengan cara mengikuti hukum alam), dimensi kebudayaan dalam arti sempit (ekspresi diri, rasa, cinta, dan jiwa manusia saat mengolah dan mengangkat alam), dan dimensi peradaban (manusia mempersantunkan ekspresi dalam budi bahasa dan ungkapan berkeadaban, supaya hidup meluncur dengan lancar).

 

Sikap Pelaku Pendidikan Terhadap Pendidikan Itu Sendiri

Lalu, bagaimanakah pembagian peran para pelaku pendidikan supaya manusia muda bisa mencapai taraf insani atau manusia seutuhnya?

Anak dan Guru

Anak/manusia muda atau murid harus memanusiakan diri, ungkap Driyarkara. Dari sini saya menyimpulkan, bahwa anak harus berperan aktif menghendaki proses belajar/proses pendidikan. Ia tidak boleh menganggap dirinya sebagai obyek pendidikan yang hanya menerima tuangan ilmu dari luar. Sebab itulah, anak harus mempunyai kesadaran dan sikap sebagai seorang manusia (memanusiakan diri).  Oleh karena itu, sebelum seorang anak masuk ke dalam proses pendidikan yang terstruktur, maka ia harus menyiapkan diri (secara biologis maupun psikologis) terlebih dahulu. Saya setuju dengan pendapat beberapa ahli pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan moral harus dijalankan terlebih dahulu sebelum pendidikan yang bersifat akademis. Karena bila anak belum siap secara sikap dan pemikiran, ia tidak akan bisa memanusiakan diri dalam proses belajar. Pendek kata, ia hanya akan menjadi obyek pendidikan. Nah, bila anak atau murid sudah memanusiakan diri, maka guru juga harus bersikap memanusiakan mereka.

Orangtua dan Masyarakat

Bagi Driyarkara, pendidikan adalah hak dan kewajiban orangtua. Mereka tidak hanya memiliki tanggungjawab membesarkan anak secara fisik, tetapi juga secara rohani. Orangtualah yang harus mengantar anak menjadi manusia berkepribadian. Hak dan kewajiban orangtua dalam mendidik anak merupakan bawaan kodrat (fitrah) yang tidak boleh dicabut oleh siapapun.

Karena hak dan kewajiban pendidikan terutama dipegang oleh orangtua, maka pendidikan awal/pertama dilangsungkan dalam lingkup keluarga. Dalam lingkup yang lebih besar, pendidikan juga berlangsung dalam masyarakat, di mana keluarga-keluarga kecil ini berkumpul. Masyarakat harus menyadari bahwa dirinya juga merupakan sekolah (dan guru) bagi manusia-manusia muda yang ada di dalamnya. Orangtua (dalam skala kecil) dan masyarakat (dalam skala luas) juga ikut bertanggungjawab bila terjadi kerusakan moral pada generasi muda. Sebab anak-anak itu belajar dari apa-apa yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga, tak bisa lagi kita menimpakan semua kesalahan atas kegagalan pendidikan pada guru/sekolah semata.

Negara dan Sekolah

Menurut Driyarkara, negara memiliki peran untuk mengakui, melindungi, dan membantu pelaksanaan hak dan kewajiban orangtua dalam mendidik anak. Sebab, hak dan kewajiban orangtua ini sangat fundamental, levelnya sama dengan hak-hak kemerdekaan, berpikir bebas, dan beragama menurut keyakinannya sendiri. Jika sampai tidak dipenuhi, maka sama halnya dengan melanggar kemanusiaan. Meski begitu, kewajiban ini tidak perlu dipandang sebagai beban oleh negara. Sebab, anak-anak yang berhasil dalam proses pendidikannya akan memberi sumbangan besar bagi kemajuan negara. Sementara, sekolah formal yang merupakan kepanjangan tangan negara dalam memenuhi hak pendidikan warganya, tidak boleh menjalankan proses pengajaran semata. Sekolah harus pula menjalankan proses pendidikan, sebagai satu kesatuan dengan proses pengajaran.

 

Setelah membaca jurnal ini, saya jadi berpikir. Mungkin, yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah meletakkan peran masing-masing pelaku pendidikan pada tempatnya. Murid dan guru saling memanusiakan, orangtua dan masyarakat mengambil hak dan tanggungjawabnya sebagai pendidik utama generasi muda, sekolah menyatukan aktivitas pendidikan dan pengajaran dalam menyelenggarakan tugasnya sebagai kepanjangan tangan negara, sedangkan negara melindungi dan berperan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s