Resensi Buku: Tuhan Pun Berpuasa


Tuhan puasa

“Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini: ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan.”  

Buku Tuhan Pun Berpuasa ini merupakan perkenalan pertama saya dengan pemikiran Cak Nun. Sebelumnya, saya hanya mengenal beliau lamat-lamat lewat sebutan Kiai Mbeling-nya. Tetapi, setelah seorang sahabat menghadiahi saya buku ini, saya baru ngeh bahwa beliau memang benar-benar mbeling, dalam artian, mempunyai pemikiran yang mbeling/nakal alias out of the box atau bahkan sebenarnya without the box. Sebab menurut saya, yang menjadi khas dari pemikiran-pemikiran Cak Nun adalah bagaimana beliau memandang dengan jernih manusia beserta problematika kehidupannya secara holistik, dan konsistensi beliau ‘menggembalakan’ (ng-angon) banyak orang supaya mau lebih jeli menyikapi realitas sehari-hari, tidak terjebak pada kemasan/citra di depan mata, sehingga yang tampak adalah bentangan padang-padang rumput Kesejatian.

Pun dalam buku ini, kita akan menemukan pemaknaan bahwa aspek puasa tidak hanya sebatas puasa wajib Ramadhan dan puasa-puasa sunnah lain, tetapi menyusup dalam segala sendi kehidupan manusia. Puasa bisa hadir tanpa terikat. Kapanpun, di manapun, siapapun kita, bisa menjelma menjadi Makhluk Puasa, yaitu makhluk yang bersedia memasang ‘pagar makna puasa’ (ketidakkekurangan dan ketidakberlebihan) pada dirinya sendiri tanpa harus menunggu Ramadhan tiba. Maka, puasa yang dilakukannya pun tidak sekedar menahan lapar-haus-marah, melainkan Puasa Sejati; yaitu mengambil jarak dari nafsu yang senantiasa menghendaki ‘asupan-asupan palsu’. Saking istimewanya perihal puasa ini, bahkan Tuhan sendiri pun ‘turun tangan’ memberikan contoh-contoh dahsyat bagaimana Ia ‘berpuasa’. 

Sebagai pendalaman makna puasa, di bawah ini saya sertakan beberapa kutipan dari buku ‘Tuhan Pun Berpuasa‘:

Satu

“Puasa adalah pilihan atau keharusan untuk ‘tidak’ atas sesuatu yang sewajarnya ‘ya’. Atau sebaliknya: keputusan untuk ‘ya’ terhadap sesuatu yang halal untuk ‘tidak’.”

Dua

Puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar engkau melatih diri untuk melakukan apa yang pada dasarnya tidak engkau senangi serta tidak melakukan apa yang ada dasarnya engkau senangi. Cobalah ulangi pandang dirimu di cermin dan tataplah segala sesuatu di rumahmu: betapa kebanyakan dari kenyataan hidupmu itu ‘bersifat hari raya’, yaitu memenuhi kesenangan.”

Tiga

“Ramadhan itu bagaikan kolam suci yang Beliau sengaja sucikan karena disediakan untuk proses penyucian jiwa kita… Kita memasuki kesucian ini, belajar untuk tahu diri.

Bahwa…

Kita dipinjami diri ini oleh Allah. Atau bisa juga kita ini menyewa diri kita kepada Allah dalam jangka waktu yang Beliau tentukan. ‘Uang’ sewa kita adalah cinta dan kepatuhan: syahadat, shalat, zakat, puasa, haji, akhlak pribadi dan sosial yang karimah.”

Empat

“Bulan Ramadhan hanyalah ‘alamat KTP’ puasa. Namun, puasa hadir kepadamu kapan saja dan di mana saja: sebagai makna hidup ia siap engkau peralat, sebagai metode penyehatan dan penyelamatan kehidupan ia selalu stand by untuk engkau daya gunakan.” 

Lima

“…Padahal perut hanya membutuhkan ‘makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Maka yang dinamakan Makan Sejati ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah ‘memberi makan kepada nafsu.'”

Enam

 “Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak. Allah memancarkan cahaya matahari tanpa menghitungnya dengan pengkhianatan yang kita lakukan atas-Nya setiap hari… Allah sendiri ‘berpuasa’. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan olehNya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.” 

Setelah membaca buku ini, kita akan menyadari begitu krusial dan revolusionernya fungsi puasa dalam kehidupan kita, terutama dalam perjalanan menuju pada Yang Sejati. Maka, menangislah penuh kekecewaan, bagaimana bisa sebelum ini hati kita amat buta, sehingga telah melewatkan banyak kesempatan Puasa Sejati yang seharusnya bisa melejitkan kedekatan kita kepadaNya.

[ Eryani Widyastuti ]

*dedicated to Ratih Puspa

———————————————————————————————————-

Ingin membaca resensi-resensi buku lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Resensi Buku: Tuhan Pun Berpuasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s