Di Balik Penulisan Novel ‘That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle’ (WAWANCARA IMAJINER)


thatkorean

Beberapa hari lalu, ketika saya sedang santai-santai sendirian di ruang tamu, menunggu suami dan anak yang sedang berburu menu buka puasa untuk dibawa pulang ke rumah, dua orang anak muda mengetuk pintu depan. Seorang gadis dengan mata bulat berbinar dan seorang pemuda jangkung berwajah oriental. Ah… sungguh terasa familiar di mata saya.

“Tentu saja familiar, Bu! Saya Alin, dan ini… Kim Yeonghun!” sahut gadis muda itu penuh semangat.

“Boleh kami tahu, mengapa Ibu menulis cerita tentang kami dan bagaimana prosesnya?” tanya si pemuda jangkung berkacamata dengan ekspresi segan dan bahasa formal.

“Hmmm….” Saya menggaruk-garuk kepala. “Baiklah. Hitung-hitung ngabuburit, ya?

Saya pun mempersilakan mereka berdua duduk di sofa. Selanjutnya, mulailah wawancara itu.

——————————————————————–

*Penulis: P, Alin: A, Yeonghun: Y*

——————————————————————–

A: Ibu Penulis!  Saya punya banyak pertanyaan–

Y: Yah… Alin-ssi… Tenang sedikit. Biar saya yang mulai bertanya.

(Berdehem) Apa yang memotivasi Ibu untuk menulis novel That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle? Apakah karena Ibu suka menonton drama Korea seperti Nuna saya?

P: Hmmm… begini, Adik-adik. Dulu, saya memang suka menonton drama Korea; tapi hanya beberapa saja. Menurut saya, jalinan cerita dan ide yang ditawarkan fresh dan creative. Juga, ada poin-poin di mana drama Korea berhasil menampilkan bahasa romansa yang berbeda dengan cerita-cerita ala Barat maupun Indonesia. Tapi, ada juga hal-hal yang saya sayangkan. Bahwa pada umumnya, secara muatan filosofis/nilai-nilai dalam ceritanya masih terjebak stereotip-stereotip dangkal. Ini menurut pandangan yang saya anut lho, Dik Yeonghun.

Y: Jangan khawatir, saya bukan penggemar K-Pop maupun K-Drama. Saya penggemar buku.

P: Bagus-bagus! Saya lanjutkan, ya?

Nah, kemasan renyah drama Korea inilah yang ingin saya gunakan untuk membungkus pesan-pesan bagi para remaja dalam memandang hidup dan cinta. Bahwa banyak hal-hal dalam hidup yang perlu direnungkan secara mendalam untuk mendewasakan kita dan kisah cinta tidak selalu berlangsung seperti kisah-kisah Walt Disney yang seolah sempurna, happily everafter itu. Saya berusaha meramu sebuah cerita yang renyah sekaligus punya gizi.

A: Ah, saya tahu! Makanya, banyak sekali kebingungan dan penderitaan yang saya alami. Bagaimana cara memunculkan konflik-konflik itu dalam cerita?

P: Tunggu… tunggu. Jangan terburu-buru membahas konflik, Alin. Saya jelaskan bertahap, oke?

Bagi saya, pertama, harus ada ide utama cerita dan misi mengapa cerita ini dibuat. Ide utama novel ini adalah kisah cinta dua orang yang bertolak belakang dan mereka menemukan banyak hikmah dari kisah yang mereka lalui. Terlepas ending-nya bersatu atau tidak.

A&Y: (blushing sambil manggut-manggut )

P: Misi tersembunyinya adalah… saya ingin memantik kerinduan para pembaca pada sosok Rasulullah.

Setelah itu, baru saya tentukan karakternya. Terutama ciri-ciri fisik, sifat, kebiasaan-kebiasaan kecil, sseperti cara bicara dan tingkah laku. Kesemuanya harus mencerminkan karakter yang spesifik.

Sebagai contoh. Untuk memperkuat kesan ceria Alin, saya masukkan kesukaannya pada permen lemon, matanya yang bulat berbinar, dan senyumnya yang cerah. Untuk memperkuat karakter unik dan kreatifnya, saya memasukkan tangan kidal dan hobi menggambar, serta kesukaannya membaca komik dan novel anak. Untuk memperkuat karakter keras kepala dan mudah emosi, saya masukkan kegemaran Alin berlatih Tae Kwon Do dan reaksi-reaksinya yang gampang marah.

Nah, khusus untuk penggambaran fisik Kim Yeonghun, saya kesulitan. Maka, saya melakukan survey lewat internet, dan berhasil menemukan seseorang (bukan selebriti) yang pas. Kebetulan, ia juga seorang mualaf muda. Sebab, saya tidak ingin menampilkan Yeonghun seperti kebanyakan selebriti K-Pop. Yeonghun haruslah sosok pemuda Korea Selatan yang umum dijumpai, tetapi punya karakter kuat. Punya prinsip hidup, penampilan sederhana, dengan tempaan masa lalu yang berat. Itulah yang akan mengesankan pembaca terhadap sosok Yeonghun. Bukan karena tajir, fashionable atau good-looking.

A: (tepuk tangan) Ha! Betul-betul! Ibu betul sekali! Mas Yeonghun memang seperti itu!

Y: (menunduk malu) A-aniyo…

Ah, Ibu. Kenapa kami berdua selalu bertengkar? (mencoba mengalihkan topik)

P: Tentu saja kalian berdua selalu bertengkar! Bukankah sifat kalian berdua bertolak belakang? Wajar, kan? Setelah karakter kalian kuat, bila bertemu, akan terjadi benturan-benturan. Nah, benturan-benturan alamiah apa yang mungkin terjadi? Saya membuat daftarnya dan meramunya dengan imajinasi. Tetapi, tidak semua kemungkinan konflik saya tampilkan dalam cerita. Saya harus memilah-milah, konflik-konflik mana yang bisa mewakili ide cerita, memuat misi cerita, dan membuat cerita ini mengalir dengan menarik dan sealami mungkin. Meskipun, ada dramatisasi di sana-sini.

Ada kalanya, saya sudah susah payah membuat sebuah cerita konflik, eh, ternyata malah menyebabkan cerita bertele-tele dan tidak fokus pada aliran utama cerita. Gara-gara itu, saya menulis ulang novel ini sampai 4-5 kali. Dari bab yang berjumlah 22 hingga memampat menjadi 10. Dari macam-macam judul; Aigo!, Fly Me To South Korea, Mimpi Bunga Matahari, Dream With Kim, hingga menjadi That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle.  Semuanya butuh waktu sekitar 3 tahun.

A&Y: (terlongong)

A: Cerita sesimpel ini membutuhkan waktu begitu lama?

P: (mengangguk) Sampai akhirnya saya menggunakan jurus Kill Your Darlings!

A&Y: Kill Your Darlings??

A: Mana boleh membunuh orang-orang yang kita sayangi? (tanpa sadar melihat ke arah Yeonghun)

Y: Alin-ssi, saya rasa bukan itu maksudnya. Mungkin… sesuatu yang Ibu Penulis sukai dalam cerita?

P: Tepat sekali, Kim Yeonghun! Kamu memang cerdas!

Saya pernah membaca teori ini dalam sebuah forum kepenulisan. Intinya, tidak semua bagian cerita yang kita sukai harus tampil dalam karya kita. Bila bagian itu -bisa bagian cerita, tokoh, atau apapun- mengganggu jalannya cerita atau bobot cerita, harus kita hilangkan. Meskipun kita sangat menyukainya. Sudah susah payah menuliskannya. Dan, saya berkali-kali killed my darlings. Harus tega! Meski dengan hati yang patah…

Y: Seperti… harus tega meninggalkan seseorang yang kita sayangi demi kebaikan bersama… (merenung)

A: Ya… aku tahu rasanya… pasti berat sekali… (ikut merenung)

P: (bingung karena kedua pewawancara sama-sama terdiam)

EHM! Ada pertanyaan lain?

Y: (tersadar dan tersipu) Ah… bagaimana dengan alur cerita? Dalam novel ini, Ibu menuliskan lebih dari satu alur. Ada alur tentang perjalanan hidup Alin-ssi, tentang konfliknya dengan Robi dan sekolah, hubungannya dengan orangtua… selain alur tentang… kami.

A: Ya, ya! Saya ingin tahu tentang itu! Sepertinya… alur-alur bertumpuk. Tetapi, anehnya tetap bermuara pada satu kisah. Tentang Alin dan Kim Yeonghun! Iya, kan, Mas Yeonghun? (menatap Yeonghun dengan polos)

Y: (menunduk malu, tak menjawab)

P: (tertawa geli dalam hati melihat kelakuan dua anak muda ini)

Alin benar. Seolah alur-alurnya bertumpuk. Supaya alur-alur ini tidak bertabrakan dan bisa menguatkan cerita, maka harus ada alur utama. Apakah alur utama dalam cerita ini?

A: Tentu saja kisah tentang Alin dan Kim Yeonghun! (semangat)

Y: (mendesis sebal, sambil melihat langit-langit ruangan dengan wajah merah)

P: Hahaha. Benar sekali, Alin! Alur utamanya adalah kisah kalian berdua. Tetapi, tidak mungkin dalam hidup ini hanya berkisah tentang cerita cinta saja, kan? Pasti ada cerita-cerita lain. Seperti ketika kamu dikeluarkan dari sekolah,  kebencianmu pada Yeonghun dan Boram, cita-citamu ke Korea…

Semua itu tidak boleh muncul secara tiba-tiba. Harus disiapkan latar belakangnya dan harus ada ujung alurnya. Misalkan untuk alur ceritamu tentang sekolah dimulai dengan permasalahan-permasalahmu dengan hal yang berbau sekolah, lalu berujung pada pertemuanmu dengan dunia menggambar. Cita-citamu ke Korea yang diawali dengan janji Bram, berujung pada kesadaranmu sendiri untuk memilih tidak pergi ke Korea demi orangtua. Dan, akhir ceritamu bersama Kim Yeonghun… sudah tahu sendiri, kan?

A: (meringis konyol)

Y: Ini… seperti saat Boram-Nuna merajut syal musim dingin untuk saya. Terdiri dari bermacam-macam benang, tetapi pada akhirnya terajut menjadi satu syal saja. All for one.

P: Tidak sia-sia Nuna-mu susah payah membesarkanmu… daebak!

Ada pertanyaan lain? Sebentar lagi waktunya buka puasa.

A: Boleh kami ikut buka puasa di sini?

Y: Heissh… Alin-ssi… Ah-aniyo… Ibu Penulis… kami pulang saja…

A: Nanti, di rumah kita makan lagi… ya… Mas Yeonghun?

Y: Heissh… jangan—

P: Tidak apa-apa. Buka puasalah di sini.

Y: (Membungkuk) Terimakasih… maaf merepotkan…

Ibu Penulis, pertanyaan terakhir. Menurut Ibu, apa yang disebut dengan proses menulis?

P: (merenung sejenak)

Berdasarkan pengalaman dan apa yang saya rasakan selama ini… proses menulis adalah mengamati, merenungkan, dan mengendapkan. Setelah itu, baru menuliskan. Bisa dikatakan, menulis adalah sebuah perjalanan spiritual pribadi.

——————————————————————–

Akhirnya, suami dan anak saya datang membawa makanan buka puasa. Di meja makan, kami semua pun makan dengan lahap, kecuali Kim Yeonghun. Sebab tidak ada Kimchi yang menemaninya makan kali ini.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

—-untuk PEMBACA: Silakan ajukan pertanyaan seputar novel ‘That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle’ lewat kolom komentar di bawah. Saya akan membuatkan wawancara imajiner semacam ini untuk menjawabnya. Kamsahamnida!    🙂

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Di Balik Penulisan Novel ‘That Korean Who Cooked Me Bulgogi Noodle’ (WAWANCARA IMAJINER)

    • Hai Mbak Fiza…

      Iya, Alin dan Yeonghun dua-duanya fiktif. Ide cerita murni khayalan, namun pesan-pesannya berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan pemikiran. Terimakasih sudah berkunjung, Mbak. 🙂

      Like

  1. Aih, Mas Yeonghun main ke rumah tho? Saya ga tanya, berharap ada sequel That Indonesian Who Cooked Me Tektek Noodle. Cerita tentang pergulatan batin Alin saat dewasa dan kisahnya dengan Mas Yeonghun 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s