Resensi Buku: ATLANTIS, The Lost Continent Finally Found


atlantis-full

Buku ini ditulis oleh Profesor Arysio Santos (geolog dan fisikawan nuklir dari Brazil). Menyatakan bahwa Benua Atlantis yang senantiasa menjadi pembicaraan hangat dunia semenjak diungkapkan oleh Platon, ternyata terletak di INDONESIA (dan region sekitarnya). Hal ini didasarkan pada penelitian beliau selama 30 tahun, membuat peta bawah laut, mengkaji mitologi, arkeologi, dan sebagainya.

Tidak Hanya Satu Peradaban Atlantis, Tetapi Dua!

Menurut Profesor Santos, pertama kali ras manusia muncul di AFRIKA, sebab di sinilah fosil manusia tertua ditemukan. Pada jaman itu, daerah Afrika dan sekitarnya kurang memadai untuk kelangsungan hidup, pengembangan diri, dan penataan masyarakat. Terutama pada Jaman Es, hampir seluruh daratan bumi tertutup oleh lapisan es. Padahal, salah satu syarat terbangunnya peradaban adalah sebuah tempat di mana manusia bisa hidup tenang, tidak berpindah-pindah, dan tidak menghabiskan waktu untuk bertahan hidup, seperti mencari makanan/berburu (mungkin sebab itulah, suku nomaden tidak pernah menghasilkan peradaban tinggi). Maka mereka pun berpindah ke daerah ‘Garis Khatulistiwa’ yang beriklim tropis, yaitu Indonesia yang lebih subur, dan mulai membangun peradaban.

Saat itu, Indonesia dan daerah-daerah sekitarnya merupakan satu daratan luas, sehingga pantas disebut benua. Sebelum tenggelam ke dasar Samudera Pasifik, daratan Atlantis mencakup Benua Australia, Indonesia, Semenanjung Melayu, bahkan India.

Dari sini, peradaban manusia pertama kali pun muncul, yaitu Atlantis Lemuria (Ibu Peradaban). Tetapi, peradaban itu hancur, karena Gunung Toba meletus dengan dahsyat, sehingga menyebabkan banjir besar. Dan, bila ditilik dari segi mitologi, hampir semua bangsa/suku memiliki versi legenda Banjir Besar versi masing-masing.

Saat banjir besar terjadi, legenda Ramaya dan Mahabharata yang diperkirakan Profesor Santos terjadi di tanah Atlantis Lemuria ini (termasuk peradaban Hindu-nya), terbawa ke India melalui orang-orang Atlantis yang menyelamatkan diri.

Selanjutnya, manusia-manusia Atlantis yang berhasil selamat, membangun peradaban kedua, yaitu Atlantis yang disebut-sebut Platon. Peradaban besar inipun juga hancur karena letusan Gunung Krakatau, sehingga mengakhiri Jaman Es (menurut beliau, Jaman Es berakhir bukan karena meteor jatuh), dan menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan sebagian besar daratan Atlantis, sehingga yang tersisa adalah dataran-dataran tinggi (gunung-gunung) yang membentuk pulau-pulau.

santos

Profesor Arysio Nunes dos Santos dalam salah satu wawancara

Mitologi: Kode Rahasia Leluhur

Buku ini akan menjadi lebih memikat bila kita memahami mitologi-mitologi dunia (terutama Yunani), Geologi, Antropologi, dan Arkeologi. Sebab, aksi penelitian Profesor Santos bergerak pada kisaran bidang-bidang tersebut.

Hal yang membuat saya cukup terkejut sebagai orang awam adalah betapa kuatnya penggunaan tela’ah mitologi dunia yang digunakan oleh Profesor Santos dalam melakukan penelitiannya. Padahal, selama ini, saya menganggap bahwa mitologi/legenda/cerita rakyat, hanya bisa bermanfaat dalam ranah sastra. Saya tidak menyangka, bahwa sebuah penelitian ilmiah pun bisa menggunakan mitologi/legenda yang kesannya hanya khayalan/takhayul. Padahal, ternyata, di sana tersembunyi kode-kode/pesan-pesan rahasia dari nenek moyang yang coba diwariskan pada generasi selanjutnya. Sungguh sayang, Profesor Santos amat sedikit menggunakan sumber mitologi Indonesia, mengingat kesimpulan akhir dari penelitian beliau adalah bahwa Atlantis berada di Indonesia.

Terlepas benar tidaknya Atlantis adalah Indonesia, mungkin, inilah saatnya, bangsa Indonesia bangun dari tidur panjang dan mulai meneliti sendiri jati diri kita yang sebenarnya. Mendedah apa saja yang tersimpan dalam kode genetik kita yang diwariskan oleh para leluhur. Supaya semakin memahami kekuatan dan kelemahan kita, memetik pelajaran dari sejarah masa lalu, kemudian melangkah mantap menuju masa depan.

Bagi Profesor Santos, penelitian ini berakhir, karena beliau telah meninggal pada 9 September 2005. Namun, bagi bangsa Indonesia, saya yakin, penelitian ini hanyalah sebuah permulaan. (*sfx: musik The X-Files 🙂

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca resensi-resensi buku lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s