DONGENG ANAK: BuHu! Apa Yang Kau Cari?


buhu

 

SATU

BuHu, si burung hantu, sedang sibuk mencari-cari sesuatu di dalam rumah.

“Ini…tidak.  Yang ini…bukan.  Itu…ah, tidak bagus. Huuuuuuuh…”  keluh BuHu.

Tidak ada satu hal pun di sini yang bisa membuat BuHu merasa bahagia.

“Rumahku terlalu kecil.  Barang-barangku juga sudah usang dan membosankan!” katanya.

Lalu, BuHu memakai mantel abu-abu dan memasang bros bintang kesukaannya.

“Mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan di luar sana. Hu-huuuuu…”

Baru beberapa langkah meninggalkan rumah, BuHu melihat kejadian menarik. Ottok, si tokek pesolek, sedang memamerkan jas barunya pada CikCak, si cicak pengagum.

“Ck-ck-ck-ck!”  CikCak berdecak kagum memuji Ottok.  “Kau gagah sekali!”

“Siapa dulu dong?!  Ottok Si Tokeeek!”  seru Ottok bangga.  Ia tampak bahagia.

Itu dia!  Pujian bisa membuat BuHu menjadi burung hantu yang bahagia!

Namun, tak lama kemudian, lewatlah seekor bunglon berbaju kuning cerah.

“Ck-ck-ck-ck!”  CikCak mengagumi penampilan bunglon.  “Warna baju yang cantik!”

Tanpa pamit, CikCak pergi mengikuti bunglon itu.  Ottok pun menjadi kesal, sebab sekarang tidak ada lagi yang memuji.

“Hai, Ottok.”  Sapa BuHu.  “Kurasa, kau tetap terlihat gagah. Walaupun tanpa pujian.”

“Eh, rupanya kau, BuHu.  Lantas, apa gunanya tampil gagah jika tak ada yang memuji?!”  balas Ottok bersungut-sungut.

BuHu mengangkat bahu.  “Aku juga tidak tahu.  Apakah tampil gagah harus dapat pujian?”

Mendengar hal itu, Ottok seakan baru saja menyadari sesuatu.

“Eeee, berarti kau sedang memujiku?” tanya Ottok.  Wajah ketusnya berubah riang.

“Aku tidak sedang memuji.  Aku hanya mengatakan yang sejujurnya.  Kau gagah.”

“Nah, benar kan?  Kau memujiku!  Iya kan, BuHu?” seru Ottok senang.

“Uh…maksudku…”  BuHu merasa tidak nyaman dengan masalah puji-memuji ini.

“Ayo, puji aku lagi!  Katakan, Ottok Si Tokek sungguh gagah!” desak Ottok.

“Uuhhh…” Keluh BuHu.  Pelan-pelan, ia meninggalkan Ottok.  “Sampai jumpa ya…”

Dari jauh, ia masih bisa mendengar Ottok berseru.  “Aku gagah, kan?  Ottok Si Tokeek…!  Si Tokeek…!”

Pujian memang membuat bahagia.  Tapi, jika yang memuji pergi, maka kebahagiaan juga ikut pergi.  Bukan itu yang diinginkan BuHu.

DUA

 

BuHu meneruskan langkahnya.  Saat melewati gundukan tanah yang berlubang, terdengar suara tawa aneh, “Hiss-hiss-hiss-hiss-hiss…..!”

BuHu berhenti dan melongokkan kepala ke dalam lubang yang besar.  Hissa si ular sedang memasang mahkota berkilau ke atas kepalanya sendiri.  Ular itu mendesis bahagia.

“Apa yang membuatmu bahagia, Hissa?”  tanya BuHu penasaran.

“Sssstt…”  Hissa mendesis kaget.  “Pelankan sssuaramu…  Aku tidak ingin Gagak Sssi Pencuri mengetahui sssarangku dan merebut Mahkota Kaca-ku…”

Hisa menarik BuHu masuk menyusuri lorong-lorong panjang, gelap, dan lembab, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gua.  Di sana, tertimbun banyak sekali harta karun yang gemerlapan.

“Inilah kebahagiaanku…  Aku sssuka sssekali melewati lorong-lorong dalam tanah untuk mendapatkan harta karun…tak perlu menggali…  Hiss-hiss-hiss-hiss…!”

“Huhu-huhu!  Harta karunmu tak terhitung jumlahnya!  Kau pasti bisa hidup bahagia sepanjang masa!”  seru BuHu kagum.

Dengan suara rendah dan pelan, Hissa menjelaskan, “Yaaa …Hatiku bahagia memiliki banyak harta karun!  Sssampai aku merasssa….bahwa aku ingin lebih banyak lagi…!  Dan kebahagiaanku pun sssirna…”

“Huuu…” BuHu ikut sedih.   “Ada yang bisa aku bantu?”

Mata Hissa berbinar licik. “Yaaa..  Berikan saja brosss-mu itu.  Bros bintang sssangat cocok untuk menghiasss sssarangku…Dan, aku akan bahagia kembali…”

“Hu-huhu-hu!  Tidak mau!”  seru BuHu.  “Ini pemberian ayahku!”

“Berikan sssekarang…” desis Hissa memaksa.

BuHu gemetar ketakutan.  Ia melarikan diri tanpa berani menoleh ke belakang!  Entah Hissa mengejarnya atau tidak.  Ternyata, memiliki harta banyak bisa membuat siapapun menjadi tamak.  Mengerikan!

TIGA

Akhirnya, BuHu berhasil keluar dari dalam tanah, lewat sebuah lubang besar di dekat kolam teratai.  Ia berjumpa dengan sekelompok katak yang sedang bernyanyi gembira.

Nyanyian para katak yang berpadu-merdu membuat BuHu lupa akan rasa takutnya pada Hissa.

“Apakah bernyanyi selalu membuat kalian bahagia?” tanya BuHu.

Para katak menjawab pertanyaan BuHu dengan lagu katak.

“PingPung-PangPing…!”  katak paling besar mulai bernyanyi.

“…bernyanyi selalu…”  sambung yang lain.

“…ceriakan hati!” katak terkecil mengakhiri jawaban.

BuHu menyahut dalam lagu burung hantu, “Huhu-huhu-hu…!  Aku mau bernyanyi bersamamu…hu-hu-hu-hu…”

Ia dan para katak bernyanyi bersama dengan riang.  BuHu sangat bahagia.

Tik-tik-tik! Tiba-tiba, gerimis membasahi tanah.  Disusul  hujan yang deras.  Oh, tidak!  BuHu bisa sakit karena kehujanan.

“Jangan bernyanyi lagi. Kita semua harus cepat pulang!” ajak BuHu pada para katak.

Tetapi para katak tak mempedulikan ajakan BuHu.  Mereka malah bernyanyi semakin keras dan riang.

“PangPang-PangPang-PangPangPung-PangPing…! Hujan-hujan…pesta-pesta…hujan telah turun…pesta dimulai…”

Bernyanyi di bawah hujan adalah kebahagiaan bagi para katak.  Sayangnya, bukan kebahagiaan yang sesuai untuk BuHu.

Hujan turun sangat deras dan angin bertiup kencang sekali.

“Uuhh…dingin sekali…badanku juga sakit semua…” Suara BuHu terdengar menggigil.

Ia teringat rumah kecilnya dengan semua perabot usang di dalamnya.  Tadi pagi, ia tidak suka berada di sana.  Namun sekarang…

“Aku ingin pulang…huuu…huuu…”  BuHu tersedu-sedu.

Sesampainya di rumah, ia segera berganti baju hangat.  Kemudian, ia duduk di kursi malas, sambil menikmati secangkir minuman jahe dan sepotong kue serabi coklat.  Sedaap…sekali!

“Hu…hu…”  serunya pelan.  “Aku senang berada di rumah!”

Sepanjang hari, BuHu mencari kebahagiaan di luar sana.  Pujian, harta karun, nyanyian…bukan, bukan itu kebahagiaan yang dicarinya.  Kini BuHu mengerti.  Bersyukur atas apa yang ia miliki adalah kebahagiaan sejati.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s