Mencari Pendidikan Sejati (Bagian 2): Pendidikan yang Berketuhanan


pendidikan sejati2

 

“Apa dasar negara kita?”

“Pancasila!”

“Bagaimana bunyi Sila Pertama?”

“Ketuhanan Yang Maha Esa!”

 

Hampir seluruh penduduk Indonesia hapal isi dasar negara kita, yaitu Pancasila. Bagi kami, yang teristimewa adalah Sila Pertama. Menurut tafsiran kami, Ketuhanan Yang Maha Esa ini menduduki posisi tertinggi dan menjadi dasar laku sila-sila berikutnya. Bila kita ingin menerapkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, maka pelaksanaan kemanusiaan itu haruslah dijiwai oleh prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Begitu pula bila kita ingin menerapkan persatuan, kerakyatan, dan keadilan, haruslah didasarkan pada penghambaan kita terhadap Tuhan. Bukan berdasarkan pangsa pasar, kepentingan kelompok, dan yang lain. Sebab negara kita ini adalah negara yang berketuhanan, bukan negara sekuler.

Penghayatan Sila Pertama dalam Pendidikan

Sungguh, dalam kenyataan dunia pendidikan, patut kita pertanyakan: apakah kita sudah berketuhanan seperti bunyi Sila Pertama?

Bila sudah, mengapa agama sebagai pengejawantahan prinsip Berketuhanan malah dijadikan sebuah mata pelajaran? Bukankah seharusnya agama/rasa Berketuhanan itu menjadi ruh dalam mempelajari ilmu-ilmu lain? Mengapa menganggap ilmu Ketuhanan adalah hal yang berlainan dengan ilmu sains, misalnya.  Pemisahan-pemisahan semacam inilah yang tanpa sadar telah membuat kita berpikir secara sekuler.

Pemisahan tersebut merupakan suatu hal yang gawat, seperti memisahkan jiwa manusia dari badannya. Sang Jiwa akan melayang di awang-awang tanpa bisa menemukan tindakan nyatanya di bumi, sedangkan Sang Badan hanya akan menjadi zombie. Sayang sekali, jarang terpikir dalam dunia pendidikan, bahwa mata pelajaran Biologi, Fisika, Teknik, Matematika, Bahasa merupakan penggambaran dari keagungan Tuhan.

Perenungan di atas membawa kami pada kesimpulan bahwa ilmu apapun yang kita pelajari, tidak bisa lepas dan jangan sampai lepas dari Ketuhanan. Bila terlepas, maka kita sendirilah yang akan hancur.

Tuhan dan Pembelajaran Ilmu

… Namun, manakala cahaya akal mampu mengalahkan atribut-atribut indera, maka si pelajar tidak membutuhkan banyak belajar, melainkan sedikit tafakkur. Dengan hanya bertafakkur satu jam, jiwa reseptif akan mampu menemukan faedah-faedah yang tak mampu ditemukan oleh jiwa beku dengan belajar setahun.

(Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, Abu Muhammad Iqbal, halaman 36)

Apakah itu tafakkur? Menurut pemahaman kami, bertafakkur berarti berpikir dengan menyertakan Tuhan di dalam prosesnya. Mengapa harus menyertakan Tuhan? Apakah tidak cukup dengan berpikir saja?

Kami mencoba menjawab dengan merenungi suatu fenomena yang kemungkinan besar pernah dirasakan oleh semua orang; yaitu a-ha! momentSebagai contoh, Archimedes dengan eureka!-nya yang terkenal itu. Marilah kita pikirkan dan rasakan. Apakah eureka itu merupakan murni hasil kepintaran otak Archimedes ataukah itu merupakan hasil dari usaha Archimedes yang telah bersusah payah mempelajari suatu ilmu, hingga akhirnya Tuhan berkenan memberi ilham? Bagaimana dengan  a-ha! moment kita sendiri?

Jadi, sungguh lucu rasanya, bila kita mengatakan mengimani Tuhan, tetapi kita masih saja memisahkan antara Tuhan dan ilmu-ilmu yang dipelajari manusia. Padahal, Tuhan meliputi gelap dan terang, baik dan buruk, nyata dan rahasia, sekaligus meliputi sains, matematika, bahasa, teknik, sosial, bahkan keseluruhan alam semesta.

Bukankah, Tuhan itu Maha Meliputi Segala Sesuatu?

Tujuan dari tafakkur adalah menghasilkan ilmu di dalam hatinya, sehingga hal itu menimbulkan keindahan dan perbuatan yang menyebabkan keselamatannya, dan keduanya adalah buah ilmu, sedangkan ilmu adalah buah tafakkur

(Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, Abu Muhammad Iqbal, halaman 37)

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

One thought on “Mencari Pendidikan Sejati (Bagian 2): Pendidikan yang Berketuhanan

  1. Pingback: Mencari Pendidikan Sejati (Bagian 1): Tiga Pertanyaan Mendasar | Jejak-Jejak Embun Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s