Sosialisasi ala B.O.S.


CYMERA_20150508_083608

(BocahOraSekolah.OraSekolahTetepSinau)

Lingkungan tempat tinggal kami (perumahan) mengkondisikan anak kami mempunyai sedikit teman bermain, karena kebanyakan anak-anak pergi ke sekolah dan les dalam kesehariannya (kecuali adik-adik balita). Sehingga, ‘most of the time‘, anak kami menghabiskan hari dengan bermain sendiri (kami menyebutnya ‘bermain mandiri‘, karena artinya ia belajar memenuhi sendiri kebutuhan bermainnya, tanpa tergantung orang lain) dan bersama ibu-bapaknya.

Awalnya, kami berpikir bahwa ini akan menjadi kekurangan dalam proses homeschooling. Apalagi, pada usia awal, anak kami takut bertemu orang lain, dan ada masa ketika sudah lebih besar, anak seringkali mengeluh, “Aku ingin bermain bersama teman. Kenapa teman-teman sekolah? Seharusnya mereka homeschooling semua kayak aku.” Kami banyak merenungkan hal ini, lantas mengambil langkah dengan menata pola pikir, bahwa inilah BAGIAN DARI HIDUP seorang homeschooler. Kenyataan yang tak dapat dipungkiri, di mana ia akan mendapatkan sedikit teman bermain karena kondisi. Kenyataan ini haruslah dihadapi dan tak perlu dimanipulasi. Maka, kami berkata, “Nak, inilah konsekuensi kalau kita memilih belajar dengan cara homeschooling. Ketika kamu bermain, teman-temanmu bersekolah. Kalau kamu ingin bertemu teman-teman, apakah kamu mau Ibu/Bapak daftarkan ke sekolah? Tapi konsekuensinya, kamu tidak bisa belajar dan bermain sesuka hatimu. Harus menurut pada guru, duduk di kelas…”

Begitulah. Kami ajak anak berpikir dengan memberikan pembanding seobyektif mungkin tentang kondisi homeschooling dan sekolah. Dengan resiko, tentunya, anak memilih sekolah. Kamipun sudah menyiapkan mental untuk itu. Ternyata, setelah berulang-ulang dialog seperti ini berlangsung, anak selalu saja memilih homeschooling.

Lalu, bagaimanakah kami memperlakukan anak dalam bermain dan berinteraksi di rumah ketika tak ada teman? Seperti halnya menghadapi individu lain, kami berusaha menghormati dan menghargai anak kami. Menanyakan dan meminta pendapatnya, menghormati pilihannya, mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal (mulai tentang Tuhan, Setan, Narkoba, sampai konflik anak dengan teman-temannya), meminta maaf bila kami melakukan kesalahan kepadanya, dll. Kami juga mendorongnya untuk berinteraksi dengan siapa saja, seperti menyapa tukang sayur, berbicara pada kasir, mengantar makanan untuk pak satpam, bahkan bermain dengan anak yang belum ia kenal saat mengantri di supermarket.

Kemudian, datanglah sebuah momen, di mana anak kami diundang ke sebuah pesta ulang tahun. Kami benar-benar tidak menyangka. Tanpa ragu, anak kami maju untuk duduk di barisan terdepan, meski saat itu ia berada dalam tempat asing dan di antara orang-orang yang asing baginya. Dengan antusias, mengikuti acara dan berpartisipasi tanpa ragu. Bahkan ikut membantu pembawa cara mengajak anak-anak lain maju ke depan, ketika anak-anak lain ragu dan malu-malu. Ia juga lantang menjawab bila ditanya. Sedangkan kami, orangtuanya, hanya bisa tertegun memandang dari barisan paling belakang.

Di sinilah kami menyadari. Bahwa belajar bersosialisasi tidaklah HARUS SELALU bersama banyak orang. Pokok paling utama ada pada PERAN ORANGTUA sebagai pembimbing dan sparring partner dalam berlatih ketrampilan sosialisasi. Lalu, bersabarlah. Tunggulah momen itu tiba. Seperti kita bersabar menunggu mekarnya sekuntum bunga.

Orangtua ibarat petani yang menanam padi. Dengan kesabaran, menunggu masa panen tiba. Petani yang ‘kemrungsung’/terburu-buru memanen, hanya akan mendapatkan padi yang belum matang.

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s