Sentuhan Kecil Ki Hadjar Dewantara dalam Konsep Homeschooling Keluarga Kami


CYMERA_20150506_151635

Tanggal 2 Mei 2015 yang lalu, bersama beberapa narasumber lain, saya diminta berbagi pengalaman menjalankan homeschooling dalam sebuah acara yang diadakan oleh Klub Sinau yang bertajuk Ki Hadjar Dewantara Di Masa Kini. Namun, karena keterbatasan waktu, materi yang telah saya siapkan tidak dapat tersampaikan seluruhnya. Nah, daripada materi ini ‘berdebu’ dalam folder komputer, saya pikir, lebih baik dibagikan secara utuh lewat blog ini. Siapa tahu, ada pembaca yang bisa memetik manfaatnya.

—–

Dalam keluarga kami, homeschooling tidak hanya ditujukan kepada anak. Orangtua pun ikut menjalani proses belajar ini. Orangtua dan anak sama-sama saling mendidik dan dididik oleh satu sama lain. Pada satu sisi, kami adalah pendidik bagi anak. Namun, di sisi lain, pada saat yang sama, begitu banyak hal yang diajarkan anak pada kami.

Sebenarnya, agak sulit juga bila kami harus menceritakan bagaimana kami menjalankan homeschooling dalam keluarga kami. Sebab, kami merasa bahwa homeschooling/proses belajar yang kami jalani ini menyatu dengan kehidupan kami setiap detik dan tak terpisahkan darinya. Ketika bermain, kami belajar; ketika makan, kami belajar; bahkan ketika bertengkar, kami juga belajar.

Yang pasti, tujuan kami menjalankan homeschooling ini bukan untuk mengejar ijazah, gelar, ataupun supaya anak lebih pintar dari anak-anak lain. Kami berangkat dari tujuan akhir hidup kami sekeluarga -sesuai dengan tuntunan keyakinan kami, yaitu kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan pencarian ilmu, pengabdian pada masyarakat, dan penafkahan hidup merupakan bagian-bagian dari proses yang harus kami jalani untuk mencapai tujuan akhir tersebut.

Bila coba ‘dirumuskan’ dengan pendekatan berdasarkan beberapa prinsip pendidikan yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara, maka berikut penafsiran kami sesuai dengan alam keluarga kami dan usia anak kami:

1. Mengikuti Dasar Jiwa/Kodrat/Fitrah Anak

“Maksudnya, pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.” (Menuju Manusia Merdeka – Ki Hadjar Dewantara, halaman 3)

Supaya manusia bisa mencapai tujuan akhir, yaitu kembali pada Tuhan, maka salah satu jalannya adalah manusia harus memenuhi tujuan penciptaan dirinya. Tujuan penciptaan ini beserta kecenderungan-kecenderungan bawaannya terkandung dalam dasar jiwa/kodrat/fitrah. Kodrat inilah yang harus dijadikan dasar oleh orangtua dalam mendidik/memberi tuntunan pada anak, supaya anak dapat berkembang secara optimal.

Untuk mengenali kekuatan kodrat spesifik anak, orangtua perlu melakukan proses ‘niteni’ anak; bagaimana gaya dan ritme belajarnya, kecenderungan sifatnya, bagaimana anak menangani masalah, dan lain-lain. Bisa dikatakan bahwa ‘kurikulum pendidikan’ yang dipakai adalah si anak itu sendiri.

Bila anak memang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi petani, maka orangtua bertugas menuntun anak untuk menjadi petani yang sebaik-baiknya, bukan malah mengarahkannya menjadi seorang pegawai kantoran. Karena jelas, tidak akan membawa kebahagiaan hidup bagi anak, meskipun ia memiliki banyak harta sebagai seorang pegawai.

2. Menerapkan Tiga Semboyan Ki Hadjar Dewantara

Tiga semboyan yang kami maksud adalah Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani. Menurut pengalaman kami, pada pelaksanaannya, tiga semboyan ini tidak berdiri terpisah, melainkan saling taut-menaut dan saling mengisi. Bisa jadi, dalam satu kegiatan, tiga prinsip ini diterapkan sekaligus:

Ing Ngarso Sung Tuladha (orangtua memberi teladan, sebab orangtua adalah buku pelajaran utama dan pertama bagi anak). Contoh: Bila ingin anak gemar membaca, maka kami harus memberi contoh mengisi waktu kami dengan membaca dan menunjukkan betapa menyenangkan kegiatan membaca itu. Bila ingin anak melaksanakan ritual ibadah, maka kami harus menunjukkan bahwa ritual ibadah itu nikmat. Sehingga anak tertarik untuk melakukannya.

Ing Madya Mangun Karsa (di tengah/bersama-sama dengan anak, orangtua menumbuhkan dan mengembangkan kehendak, cita-cita, dll.) Contoh: Sebelum tidur, kami bercakap-cakap mengenai kegiatan hari ini, apa yang disukai dan tidak disukai, besok berencana melakukan apa. Kemudian, kami juga menyediakan waktu untuk bermain bersama anak sambil mengobrol tentang ide-ide baru dan bayangan tentang masa depan.

Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan atau dukungan dan memberikan ruang/kesempatan pada anak untuk menjadi mandiri). Contoh: Ketika anak ingin menggoreng telur sendiri atau mencuci mobil sendiri tanpa campur tangan orangtua, maka kami memberinya kesempatan dan menyemangatinya. Meskipun hasilnya tidak tidak begitu bersih dan rumah jadi semakin kotor.

3. Menumbuhkan Jiwa Merdeka dalam Diri Anak yang Dilandasi Rasa Cinta kepada Tuhan, Sesama Manusia, dan Tanah Air

“Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Dalam pendidikan harus senantiasa diingat, bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri.” (Bagian I: Pendidikan, poin 6 dan 8, halaman 3 dan 4.)

Berdasarkan prinsip Ki Hadjar Dewantara ini, singkat kata, kami berusaha membangun kesadaran dan kebiasaan anak untuk menjadi manusia yang mandiri dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup yang sesuai dengan tuntunan agama.

Dalam usaha kami mengembangkan tiga sifat Manusia Merdeka ini, secara bertahap, kami biasakan anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan, antara lain sebagai berikut:

-Mengurus keperluannya sehari-hari seperti mandi, merapikan mainan sendiri, menggoreng telur, dan lain-lain.

-Bekerja/magang pada orangtuanya dan hasilnya dipergunakan untuk membeli barang yang diinginkan anak.

-Membangun kesadaran tentang pentingnya dan nikmatnya berbuat kebaikan.

-Menumbuhkan anak untuk menjadi seorang pembelajar mandiri dengan mengeksplorasi minat bakatnya dan menumbuhkan inisiatifnya.

Sedangkan sebagai pengembangan aspek Rasa terhadap Tuhan, sesama manusia, dan tanah air, kami melakukan hal-hal, antara lain sebagai berikut:

Rasa cinta terhadap Tuhan: Kami berusaha menghubungkan keseharian anak dengan rasa takjub kepada Tuhan dan menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Cinta Tuhan kepada sang anak. Dalam hal ritual ibadah, kami berusaha memberikan teladan bahwa melakukan ritual ibadah merupakan hal yang nikmat.

Rasa cinta terhadap sesama manusia: Bersama orangtua, anak belajar saling melayani dan mengekspresikan rasa sayang dalam tindakan; mengajak anak berdiskusi dan menunjukkan bahwa perbedaan adalah hal biasa; mengajak anak berbagi dengan orang lain.

Rasa cinta terhadap tanah air: Kami menjadikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai bahasa Ibu (bahasa sehari-hari), sedangkan bahasa asing kami tempatkan sebagai permainan/bersenang-senang saja, sampai anak tumbuh sendiri kemauannya untuk mempelajari bahasa asing secara serius. Saat melewati patung pahlawan, kami membangun kebiasaan memberi hormat dan berdoa untuk sang pahlawan. Sebelum tidur, kami membacakan dongeng dalam bahasa Jawa dan Indonesia, menyanyikan lagu-lagu nasional dan sedikit tembang Jawa, juga membacakan puisi-puisi karya penyair Indonesia. Hal ini kami lakukan bergantian, sesuai permintaan anak.

Secara garis besar, konsep homeschooling kami tergambar dalam puisi iniDemikianlah isi materi saya pada hari istimewa itu.

Semoga bermanfaat!

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s