Sang Pembuka Pintu


CYMERA_20150502_225358

Ini adalah sebuah kisah kecil yang terselip di antara kisah-kisah lain dalam kehidupan keluarga kami. Bukan sesuatu yang wah, heboh, ataupun mencengangkan. Sebuah kisah sederhana dan biasa yang bisa dialami oleh milyaran manusia di bumi. Namun, amatlah besar artinya bagi perjalanan keluarga kami.

Kala itu, di salah satu titik krusial bagi kami untuk menemukan bentuk pendidikan terbaik bagi anak, Tuhan mempertemukan kami dengan seorang perempuan pejuang pendidikan, baik bagi putranya sendiri maupun bagi orang lain. Pendiri Klub Sinau, Mbak Maria Magdalena.

Untuk kami yang baru saja memijakkan kaki pada Pendidikan Berbasis Keluarga, ia bukakan pintu pertama. Jalan masuk ke sebuah ruang berkumpul para keluarga yang mengambil kembali hak dan kewajiban mereka dalam mendidik anak; Klub Sinau. Tempat istimewa, di mana perbedaan adalah keindahan pelangi dan bukan halangan bagi kerjasama dan interaksi. Saling menguatkan perjuangan satu sama lain.

Sungguh tak terduga, bahwa pintu-pintu berikutnya menyusul ia bukakan untuk kami. Pintu-pintu yang di dalamnya bersemayam sosok-sosok begawan sarat ilmu, kenyang pengalaman, dan memiliki kematangan jiwa. Sosok-sosok yang semakin mencerahkan perjalanan hidup kami.

Ketika kami sedang terinspirasi oleh pemikiran Cak Nun tentang pendidikan (dan kehidupan) yang sebelumnya hanya bisa kami simak lewat buku dan You Tube, Klub Sinau memberikan kesempatan pada kami untuk bertatap muka dengan beliau dan mendapatkan dukungan langsung atas jalan pendidikan yang kami tempuh.

Klub Sinau juga mempertemukan kami dengan Bapak Sulistyanto Soejoso yang mengajarkan kami kekuatan tekad perjuangan dan memberikan gambaran besar bagaimana konsep pendidikan keluarga kami di masa depan.

Dan yang terkini, Klub Sinau mempertemukan kami dengan sosok teladan penuh semangat dan begitu mengesankan; Eyang Wiwiek. Beliau telah melaksanakan Pendidikan Berbasis Keluarga sejak tahun 1960 bagi anak-anaknya dan membuktikan keberhasilan jalan pendidikan ini.

Cakrawala kami pun terbuka lebar. Hati kami mekar.

Sungguh, kami takkan pernah lupa pada Sang Pembuka Pintu itu. Meskipun sesudah ini, ia akan melanjutkan petualangan hidupnya ke sebuah tanah yang amat jauh dari tanah yang kami pijak.

Mbak Maria Magdalena, tetaplah menjadi Sang Pembuka Pintu bagi banyak orang, di manapun engkau berada. Selamat berpetualang!

 

Dari kami yang berterimakasih dan mendoakan perjalanan barumu,

Eryani Widyastuti, Wahyu Herdianto, Paksi Bhumisena

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Sang Pembuka Pintu

  1. Saya sangat terberkati dengan tulisan ini. Saya yakin siapa pun bisa menjadi “sang pembuka pintu”, lakukan dengan ke-ikhlasan untuk memperbaiki kehidupan bersama. Itu saja intinya. Karena uang bukan segalanya, dan tidak berkorelasi dengan kebahagiaan.

    Terima kasih mbak Eryani… Saya sangat terharu dengan apresiasinya.

    Liked by 1 person

    • Terimakasih… senang membaca tanggapan Mbak Maria… betapa membahagiakan bila banyak orang bersemangat menjadi Sang Pembuka Pintu bagi orang lain. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s