11 Fatwa “Sendi Hidup Merdeka” Ki Hajar Dewantara


ki_hajar_dewantara_by_aryakuza-d6hwiwl

Tepat hari ini, seratus dua puluh enam tahun yang lalu, pada tanggal 2 Mei 1889, Tuhan mengirimkan suluhNya bagi Nusantara lewat kelahiran seorang lelaki bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Dalam perjalanan hidupnya, beliau merelakan begitu banyak bagian dari dirinya untuk mencari kesejatian arti pendidikan. Kedalaman pemikiran-pemikiran beliau selalu mencita-citakan kemerdekaan manusia yang selaras dengan kodrat diri, alam, dan masyarakat; sesuatu yang kemudian menjadi warisan berharga bagi bumi Indonesia (dan bagi dunia -hanya saja belum disadari oleh manusia secara jamak-).

Berikut ini merupakan beberapa poin utama dari ajaran-ajaran mulia beliau yang saya sarikan (berdasarkan isi asli dan penafsiran pribadi saya) dari buku Ki Hajar Dewantara-Biografi Singkat 1889-1959, oleh Suparto Rahardjo, Penerbit Garasi, Cetakan V, 2014 (halaman 86-89). Terangkum dalam 11 Fatwa Sendi Hidup Merdeka Ki Hajar Dewantara:

1. Lawan Satra Ngesti Mulya (dengan ilmu, kita menuju kemuliaan)

Ilmu adalah kendaraan manusia untuk memahami alam kehidupannya. Dengan memahami kehidupan, maka manusia akan lebih mudah mencapai kemuliaan.

2.Sastra Herdjendrajuningrat Pangruwating Dyu (ilmu yang luhur akan menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban)

Ilmu yang mengandung nilai-nilai luhur akan dapat membimbing manusia keluar dari kegelapan hawa nafsunya/niat jahat, menghindarkan manusia dari tipu daya, dan membimbing manusia untuk memanfaatkan potensi dirinya bagi tujuan yang luhur pula.

3. Suci Tata Ngesti Tunggal (suci batinnya, tertib lahirnya, menuju kesempurnaan)

Manusia harus senantiasa menjaga kesucian batin dan ketertiban tindakan lahiriahnya dengan maksud menuju kesempurnaan hidup.

4. Hak Diri untuk Menuntut Salam dan Bahagia

Ini berarti setiap manusia, di hadapan Tuhan, punya hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh keselamatan lahir dan kebahagiaan batin hidup. Seyogyanya kepentingan lahir-batin ini diperjuangkan secara selaras.

5. Salam Bahagia Diri Tidak Boleh Menyalahi Damainya Masyarakat

Kemerdekaan manusia yang dicita-citakan Ki Hajar bukanlah kemerdekaan yang kebablasan, melainkan kemerdekaan yang penuh tanggungjawab. Manusia harus mengenali batas kemerdekaan diri supaya tidak melanggar hak orang lain, sehingga semua bisa mencapai jalan keselamatan secara bersama-sama.

6. Kodrat Alam Penunjuk untuk Hidup Sempurna

Kodrat alam adalah segala kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang mengelilingi dan melingkupi hidup manusia, yang mempunyai sifat berjalan dengan tertib dan sempurna di atas kekuasaan manusia. Hidup selaras dengan kodrat alam akan membawa manusia menuju kehidupan yang sempurna.

7. Alam Manusia adalah Alam Berbulatan

Alam manusia yang dimaksud adalah tiga rasa yang tak bisa dipungkiri keberadaannya dalam setiap sanubari manusia, yaitu rasa diri, rasa kebangsaan, dan rasa kemanusiaan. Harus disadari, bahwa tiga rasa/alam ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain (berbulatan).

8. Dengan Bebas dari Segala Ikatan dan Suci Hati Berhambalah kepada Sang Anak

Lewat kalimat ini, Ki Hajar sedang memberikan motivasi bagi pendidik/orangtua, supaya jangan ragu-ragu untuk melakukan perjuangan dan pengorbanan demi mendidik dan membesarkan anak. Iringilah dengan keikhlasan. Kesucian hati. Jauhkan dari rasa pamrih. Sebab, ternyata, penghambaan semacam ini sejatinya membawa banyak manfaat bagi diri pendidik/orangtua itu sendiri. Mendidik anak sama dengan mendidik diri sendiri.

9. Tetep-Mantep-Antep

Tetep berarti berketetapan hati, tekun bekerja dalam berjuang, dan tidak usah menoleh ke kanan-kiri. Tetaplah tertib dan berjalan maju. Mantep berarti setia dan taat pada asas perjuangan. Teguh iman, hingga tak ada kekuatan yang sanggup menahan gerak dan membelokkan aliran perjuangan. Sesudah berhasil untuk tetap dalam gerak lahir dan mantap dalam batin, maka segala perbuatan kita akan antep. Berat, berisi (bernas), dan berharga.

10. Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel

Kita harus ngandel/percaya dan yakin kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. Kendel atau berani (tanpa was-was) bertindak, karena kepercayaan terhadap Tuhan dan diri sendiri telah berakar kuat. Kemudian, diteruskan dengan bandel/tahan uji dan tawakal. Dengan demikian, tercapailah sebuah sifat kandel/tebal, kuat lahir dan batin untuk berjuang demi cita-cita.

11. Neng-Ning-Nung-Nang

Diawali oleh neng (meneng) tenteram lahir batin, tidak ragu, dan tidak malu-malu. Ketrentraman lahir batin membawa ning (wening), yaitu bening dan jernih pikiran, sehingga mudah membedakan benar-salah. Tercapainya ning, akan membawa manusia menjadi nung (hanung) atau kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhirnya, nang (menang) dan dapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.

Siapapun yang membaca dan merenungkan secara jujur ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara, akan merasakan pendaran cahaya kebenaran yang merasuk ke dalam kalbu. Beliau memang sosok istimewa dan amat pantas kita sebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Seperti ucapan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang tertulis di Monumen Yogya Kota Pendidikan, “Seperti Kuntum Padma di Tamansari, engkau kembang dan menyala di kalbu pertiwi, cipta, rasa, karsa, juga keluhuran budi, menggema di seluruh Persada Nusantara.”

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s