DONGENG ANAK: Tetanggaku Seekor Naga


tetangga naga

photogrid_1464649327246.jpg

Flip, si kurcaci kecil, sedang menikmati makan malam bersama Papa dan Mama.

“Sup Makaroni Jamur memang paling lezat!  Nyam-nyam-nyaam!” kata Flip.

Mama tersenyum mendengar komentar Flip.  “Kamu boleh tambah kalau mau, Flip.”

“Oya, hampir lupa.”  Sahut Papa.  “Pak Naga, tetangga baru kita akan segera tiba, lho!”

“Pak Naga?”  seru Flip kaget. ”Apakah ia seekor naga, Pa?”

“Tentu saja, Flip.  Pak Naga adalah seekor naga.”  Papa tersenyum geli.

Gawat!  Flip tahu banyak cerita tentang naga.  Makhluk ini bisa menyemburkan api.  Punggungnya berduri-duri dan kuku-kukunya tajam.  Ia  suka menculik putri raja, lalu dibawa ke gunung yang tertutup awan.  Flip juga pernah mendengar cerita naga yang menculik kurcaci kecil seperti dirinya.

“Wah, pasti menyenangkan punya tetangga seekor naga.  Kapan Pak Naga pindah ke sebelah rumah kita, Pa?” tanya Mama bersemangat.

“Malam ini.  Jadi, kalau ada suara berisik dari rumah sebelah, maklum saja. Itu artinya, Pak Naga sedang pindahan.”  Pesan Papa.

Glek!  Flip langsung kehilangan selera makan.  Ia takut sekali mendengar penjelasan Papa.  Tapi, kenapa Papa dan Mama tenang-tenang saja, ya?

“Naga itu kan… menyeramkan!” Flip bergidik ngeri.  “Papa dan Mama tidak takut?”

Mama menjelaskan, “Sayang, sebenarnya, naga termasuk makhluk yang ramah. Tidak seperti dalam dongeng yang kita baca.”

Flip berusaha mempercayai kata-kata Mama.  Saat jam tidur tiba, ia menguatkan hati memasuki kamarnya sendiri.  Ia naik ke kasur, memejamkan mata, dan berdoa dengan kata-kata yang panjang.  Tanpa sadar, ia pun tertidur pulas.

photogrid_1464649354655.jpg

Greeekkk…!  Greeekkk…!

Suara-suara aneh membangunkan Flip.  Ia memeluk gulingnya erat sekali.

Malam sudah begini larut.  Tapi, masih ada suara-suara ribut.  Ia teringat pesan Papa saat makan malam tadi.

“Itu pasti suara Pak Naga yang sedang pindahan…”  bisiknya dalam hati.

Greeeeeeeek….!!  Ckriiiiiittt…!

Aduh….! Suara itu membuat telinga Flip sakit.  Suara apa ya, kira-kira?  Kalau dipikir-pikir… kok mirip suara… kuku-kuku panjang dan runcing sedang diasah di dinding!

Hiii…!! Flip menarik selimutnya sampai menutupi kepala.

Bumm! Brukk!! Bummm!! Brukk!! Bumm! Bumm!

Suara berdebam itu terus berulang-ulang.  Tampaknya, sesuatu yang berat menimpa lantai rumah sebelah berkali-kali.  Sesuatu itu…apa ya?  Apakah… sepasang kaki yang sangat besar sedang berjalan??

“Bukan!  Bukan suara Pak Naga!  Bukan!  Bukan!  Bukan!”  Flip berusaha menenangkan diri.

“Itu pasti….” Ia berpikir keras.  “Ah, daripada ketakutan seperti ini, aku akan memastikannya!”

Flip mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.  Ia mengintip dari balik tirai jendela.  Tepat di seberang sana…., di jendela rumah Pak Naga…., Flip melihat api merah yang menyala-nyala.

“Huwaa…!!  Semburan api naga!!”  Ia menjerit dalam hati.

photogrid_1464649366678.jpg

Flip langsung mengambil selimut dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.  Ia tak dapat berpikir lagi.  Tubuhnya menggigil.  Ia sangat… sangat takut!  Ia tak berani bergerak maupun bersuara. Ia yakin, malam ini, Pak Naga sedang mempersiapkan diri.  Menculik kurcaci kecil!

Flip berusaha menenangkan hatinya.

“Mama-Papa pasti datang ke sini… Tunggu sebentar lagi…tunggu…tunggu…”

Flip memejamkan mata erat-erat.  Menunggu Mama dan Papa menyelamatkannya. Lama…sekali.  Lalu, ia pun tertidur.

photogrid_1464649381157.jpg

Cuit-cuit-cuit!

Suara cicit burung bersahutan menyambut pagi.

“Flip?  Bangun, Sayang!  Kenapa kamu ada di kolong tempat tidur?  Mimpi buruk, ya?”

Suara lembut Mama membangunkannya.  Namun, Flip segera teringat kejadian tadi malam.  Ia melompat memeluk Mama.

“Mama, Mama!  Mama dengar, kan, suara-suara seram tadi malam?  Di rumah Pak Naga!”

Mama balas memeluk Flip.  “Seram?  Memang, kamu mendengar suara apa?”

“S-suara…kuku-kuku panjang yang diasah sampai tajam…. lalu… suara langkah kaki raksasa yang berdebum-debum di lantai….”

Mama mengelus kepala Flip.  “Pak Naga sedang pindahan. Memang banyak sekali barang-barang yang harus ditata.  Geser sana, geser sini.  Angkat ini, angkat itu.  Mama rasa, itu bukan hal yang menyeramkan.”

“Tapi, Ma… aku lihat sendiri dari jendela.  Pak Naga menyemburkan api!!”

Mama tersenyum, “Kalau kamu masih penasaran, sekarang cepat mandi.  Pagi ini, kita akan sarapan dengan tamu istimewa.  Mama yakin, ia bisa menjelaskan apa yang kamu dengar tadi malam.”

Meja bundar di ruang makan sudah tertata rapi saat Flip datang untuk sarapan.  Di sana, sudah ada Papa, Mama, dan …oh, tamu istimewa?

Tamu itu berbadan hijau bersisik dan mempunyai ekor.  Kaki dan tangannya gemuk.  Perutnya panjang tapi buncit.  Lehernya juga panjang. Dan wajahnya… sungguh jenaka! Matanya bulat dan mulutnya bermoncong!

“Nah, Flip. Ini Pak Naga.  Tetangga kita yang baru.”  Kata Papa.

Mata Flip terbelalak.  Bukan karena ketakutan, melainkan keheranan.

“Jadi-ini-Pak Naga?  Kenapa ia sama sekali tidak menyeramkan?” pikir Flip.

Pak Naga lebih mirip kadal besar daripada naga dalam dongeng. Memang sih, ia berkali-kali lebih tinggi dari Papa.  Namun, Pak Naga tidak memiliki duri-duri punggung ataupun kuku-kuku tajam.

“Oi, Flip!  Kata mamamu, kamu tidak bisa tidur kemarin malam, ya?”  sapa Pak Naga dengan ramah.  Suaranya besar dan empuk.

“Kamu tahu?  Aku harus menata beberapa kursi, lemari, dan menaruh beberapa barang berat di rumah.  Greeekkk….!!  Bummm…!!  Pasti berisik sekali.  Jangan marah ya…”  Pak Naga  memohon pada Flip dengan mimik lucu.

Flip tersipu-sipu.  Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Pak Naga, sebenarnya Flip ingin menanyakan sesuatu.” Mama tersenyum kecil.

“Oh!  Silakan saja, Flip!” sahut Pak Naga agak terkejut.

Flip melirik Mama dan Papa.  Mereka tersenyum memberi dukungan.

“Nggg… apakah Pak Naga bisa menyemburkan api?” Tanya Flip takut-takut.

Pak Naga terdiam sejenak.   Ia mengingat-ingat sesuatu.

“Oh!  Hahahaha!  Kemarin malam, aku mencoba alat pemanggang yang baru.”

Puffffff!!

Tiba-tiba, Pak Naga meniup Flip keras-keras.  Semua yang ada di meja makan terkejut sekali.

“Nah, Flip. Apakah kau terbakar?” Pak Naga mengerlingkan mata.

Flip meringis malu.  Buru-buru, ia merapikan rambutnya. “Cuma rambutku yang berantakan.”

“Hahahahaha!”  Semua tertawa bersama.

Diam-diam, Flip mulai menyukai Pak Naga yang ramah dan lucu.  Lain kali kalau Mama mendongeng, Flip akan berkata.

Ma, tolong bacakan dongeng tentang naga yang ramah, ya?  Seperti Pak Naga.

[ Eryani Widyastuti ]

 

—————————————————————————–

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

—————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s