Home Learning: Mengapa Memilih Jalan Ini?


wpid-cymera_20141026_201709.jpg

Membuka Pintu Pertama

Sekitar 5-6 tahun lalu, ketika anak baru lahir, dalam diri saya dan suami mulai tumbuh kesadaran untuk belajar ilmu pengasuhan anak (parenting). Ilmu yang seharusnya kami pelajari lebih awal sebelum menjadi orangtua (bahkan lebih baik dipelajari sebelum menikah). Tapi, tak apa. Tak ada kata terlambat untuk mulai belajar dan memperbaiki diri. Kami pun bertekad melatih diri supaya bisa mengasuh anak sebaik-baiknya sambil terus belajar.

Ketika anak kami menginjak usia 2,5 tahun, pada masa itu (dan sampai sekarang pula), sedang marak pendidikan usia dini yang mengambil berbagai macam bentuk dan tawaran dengan tujuan sama: menggegas kecerdasan intelektual anak sedini mungkin. Hal ini disandarkan pada salah satu teori tumbuh kembang bahwa otak anak usia dini bagaikan spons dahsyat yang memiliki daya serap tinggi terhadap berbagai input maupun stimulasi. Kami adalah salah satu orangtua yang terkesan dengan teori ini dan tertarik untuk memasukkan anak ke dalam salah satu PAUD di dekat rumah. Tetapi, di sisi lain, timbul keraguan. Apakah pendidikan semacam ini sesuai dengan tumbuh-kembang fisik, dan terutama, kejiwaan anak?

Kami tidak ingin membuat keputusan gegabah. Kami tidak ingin membuat keputusan hanya karena hal tersebut jamak dilakukan orang (tren) seindah apapun bungkusnya. Juga, harus disadari bahwa bungkus tersebut tidak bisa dilepaskan dari urusan menarik ‘pembeli’. Kami harus mencari tahu, sesungguhnya, pendidikan seperti apa yang terbaik bagi anak kami?

Dalam pencarian inilah kami bertemu dengan, dua di antaranya, Rumah Inspirasi dan Klub Sinau. Di sinilah awal perkenalan kami dengan jalur pendidikan bernama homeschooling (HS).

HS benar-benar mendekonstruksi pemikiran kami tentang pendidikan. Semula, konsep pendidikan=sekolah, sekolah=pendidikan bercokol kuat dalam otak kami. Bahwa, sekolah adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan pendidikan. HS mementahkan itu semua. Dalam prinsip HS, proses belajar/pendidikan dapat diperoleh dan dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa/apa saja. Juga, HS berusaha meletakkan keluarga sebagai pusat pendidikan. Kebijakan pendidikan ada di tangan orangtua dan anak, bukan pada pihak sekolah ataupun pihak lain. Sedangkan sekolah hanyalah salah satu bentuk dari pendidikan atau alat untuk memperoleh pendidikan. Sekolah bukanlah proses wajib yang harus dijalani untuk memperoleh pendidikan (wajib belajar, bukan wajib sekolah!). Inilah yang membuat hati kami setahap demi setahap berpaling dari sekolah.

Pendidikan Yang Kami Cari

Seiring berjalannya waktu, bertemulah kami dengan kenyataan, bahwa begitu banyak metode yang bisa menjadi acuan dalam menjalankan HS. Rata-rata dikembangkan oleh para ahli pendidikan Eropa/Amerika. Mulai dari Charlotte Mason, Montessori, Moore Formula, sampai kurikulum Cambridge serta -yang made in IndonesiaKurikulum Nasional. Ragam praktik HS membuat kami merenung lebih dalam lagi. Hari-hari kami habiskan untuk mencoba mempraktikkan beberapa metode yang kami anggap bagus, membaca buku-buku pendidikan, dan mendiskusikan isinya.

Maka, sampailah kami pada suatu kesimpulan. Bila HS meletakkan pusat pendidikan pada keluarga, maka, sudah sewajarnya bentuk pelaksanaan HS beragam pula. Sebab, setiap keluarga memiliki karakter dan kondisinya masing-masing yang unik. Hal ini semakin kuat tertanam ketika dalam salah satu talkshow, Ayah Edy menyatakan bahwa setiap manusia memiliki Blue Print-nya sendiri dari Yang Maha Kuasa.

Akhirnya, alih-alih memilih metode HS yang mana, kami memutuskan untuk lebih banyak menggali konsep-konsep dari dalam keluarga kami sendiri. Mulailah kami berfokus pada pengenalan diri kami sendiri sebagai orangtua dan pengenalan terhadap pribadi anak kami beserta potensi yang ia miliki. Juga, merenungkan ulang bagaimana kami memandang masa depan.

Sebenarnya, semua proses pendidikan yang kami lakukan bersama ini, apakah gunanya di masa depan? Untuk menjadi pintar kah? Untuk mencari pekerjaan yang berujung pada kemakmuran hidup kah? Untuk jadi orang hebat kah? Untuk apa? Kalau sudah mejadi orang kaya, hebat, pintar, apakah akan menjamin kebahagiaan? Kalau sudah menjadi orang bahagia, lantas mati, apakah semuanya berakhir begitu saja? Apakah buah dari proses pendidikan ini akan berakhir begitu maut menjemput? Sedangkal itukah tujuan pendidikan?

Untuk hal semulia Pendidikan, pastilah ada tujuan yang lebih long lasting daripada sekedar urusan dunia.

Pada titik inilah, kami mengembalikan semuanya pada tuntunan agama. Di sinilah, kami menemukan bahwa kami tidak boleh meletakkan tujuan pendidikan pada Kemuliaan Hidup saja. Karena dalam agama yang kami yakini, kebahagiaan tertinggi manusia bukanlah kehidupan mulia di dunia, namun bertemu dengan Tuhan. Apa gunanya menjadi orang pintar, kaya, sukses bila manusia jauh dari Tuhannya? Jadi, proses pendidikan yang kami lakukan haruslah memiliki Tujuan Sejati, bukan sementara. Untuk meraih Tujuan Sejati, maka kami harus memahami konsep-konsep Pendidikan Sejati. Bertemu orang-orang inspiratif dalam lingkup HS dan pendidikan, serta membaca buku-buku pendidikan dan kehidupan semacam Ki Hadjar Dewantara, Al Ghazali, Cak Nun, amat membantu kami dalam proses ini.

Tentunya, bila kami mengarahkan diri pada Tujuan Sejati, kami pun tak dapat lagi menjadikan hal-hal yang bersifat sementara sebagai tujuan pendidikan keluarga kami. Kami belajar bukan untuk mendapatkan ijazah, bukan untuk menjadi pintar, bukan untuk kaya, bukan sukses, bukan untuk lain-lain; kecuali menjadi manusia yang bisa kembali kepada Tuhan.

Blue Print/Fitrah Sebagai ‘Kurikulum Pendidikan’

Nah, bagaimanakah caranya supaya pendidikan yang kita lakukan bisa menuntun anak kembali pada Tuhan?

Ikutilah Blue Print (fitrah) yang telah ditetapkan Tuhan dalam diri anak. Fitrah ini beberapa di antaranya tercermin pada minat-bakat anak dan kecenderungan perilakunya. Proses pendidikan yang mengikuti fitrah seorang anak tentulah tidak dapat dilakukan dengan cara pembelajaran yang kaku seperti model sekolah. Apalagi dikotakkan dalam kurikulum tertentu seperti model masa kini. Tak terbayangkan betapa rumitnya mengkurikulumkan pendidikan berdasarkan fitrah anak-anak didik yang amat beragam itu secara nasional ataupun internasional.

Karena ‘kurikulum’ yang kami gunakan untuk mendidik anak adalah anak itu sendiri, maka proses pembelajaran kami membutuhkan situasi yang amat fleksibel, cair, dan harus menyatu dengan kehidupan si anak sendiri dan dunia di mana ia tinggal. Bentuk pendidikan yang paling mungkin bagi kami untuk menerapkan konsep ini ada dalam HS. Atau, karena kami tidak memiliki proses ‘schooling’ dalam pelaksanaannya, bisa dicondongkan pada istilah unschooling. Apapun istilahnya,  tidak menjadi masalah. Yang penting, kami harus terus berproses dan belajar hal-hal baru tanpa henti.

Dalam kehangatan keluarga, bersama-sama, kami menyusuri jalan yang sangat panjang, berliku, mendebarkan, penuh perjuangan, kaya rasa, sekaligus mencerahkan. 

Inilah jalan pendidikan yang kami tempuh. Sebuah pendidikan yang kami maksudkan untuk menuntun anak kami, serta diri kami, untuk menuju Kesejatian, yaitu kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Home Learning: Mengapa Memilih Jalan Ini?

  1. Menarik sekali bu, Kami saat ini dititipkan jg 2 orng putra. Rikmadenda dan danarwillis semoga mereka bisa mengenal diri dan Tuhannya didunia ini

    Like

    • Amin, Pak Maulana. Mengenal diri sendiri dan Tuhan adalah senjata andalan untuk menghadapi perubahan jaman yang kian tak terarah ini…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s