MISSING LINK: Sebuah Perenungan Tentang Sisi Lain Negara Maju


missing link

(*Ini adalah tulisan seorang ibu yang mencoba mengemukakan pandangannya terhadap dunia luar dari jendela rumahnya yang kecil, dengan penglihatan dan pemikiran yang terbatas. Seorang ibu yang tidak ingin anak-anaknya kelak terjebak dalam ikon semu kemajuan jaman, sehingga terseret jauh dari jati dirinya, dan akhirnya mengalami kekosongan jiwa.)

Jepang adalah negara yang sangat tertib dengan kemajuan teknologi dan perekonomian yang mengagumkan. Banyak sekali hal yang patut kita teladani. Mulai dari kepatuhan hukum, kemandirian, kedisiplinan terhadap kebersihan, ketertiban mengantri, kreatifitas, semangat kerja, dan pemeliharaan budaya.

Tentu semua hal itu tidak begitu saja jatuh dari langit. Bila mau membaca, kita akan menemukan banyak artikel inspiratif tentang bagaimana orang-orang Jepang bisa meraih kemajuannya yang sekarang.

Sedari kecil, mereka sudah terbiasa dengan kemandirian seperti rumahtangga tanpa pembantu, tertib di tempat umum, membangun kebiasaan membersihkan toilet sekolah oleh murid-murid, dan lain-lain. Pendidikan ‘kecil’ itu membawa dampak besar bagi bangsa. Bisa kita lihat, bahwa Jepang cepat sekali bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh bencana besar seperti bom atom dan yang terakhir adalah tsunami.

Gambaran situasi negara Jepang ini mengingatkan saya akan negara Korea Selatan yang menurut saya mirip. Rakyat Korea Selatan, dengan kekompakan mereka saat krisis ekonomi melanda, ramai-ramai menyumbang pada negara, sehingga Korea Selatan tidak ambruk oleh krisis, dan sekarang malah menjadi salah satu ‘hwarang’ (macan) Asia. Sungguh salut!

Gejala Sosial Di Balik Kemajuan Negara

Kehebatan dua negara ini tak urung membuat saya terkagum-kagum. Tetapi, di balik kekaguman itu, tersembunyi sebuah kegelisahan besar dalam diri saya.

Mengapa?

Karena saya memandang, ada ‘sisi lain’ dari kedua negara tersebut yang sanggup menegakkan bulu roma saya sebagai orangtua.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa tren bunuh diri* Jepang dan Korea Selatan termasuk yang paling tinggi di dunia (*pembahasan di bawah). Belum lagi tren film porno profesional, yang kabarnya saking banyaknya aktris film porno Jepang, sampai kekurangan jumlah aktor untuk mengimbanginya (bisa dibaca di sini.).  Lalu, silakan simak gaya penyajian komik Jepang jaman sekarang yang hampir semua mengeksploitasi bentuk tubuh wanita. Fakta ini bisa langsung dicek di toko-toko buku Indonesia dan internet. Bahkan untuk komik-komik populer seperti Naruto, Sailor Moon, dan Bleach. Makanya, saya sangat terkejut ketika melihat komik Highschool Of The Death mejeng di salah satu jaringan toko buku terbesar Indonesia, padahal tingkat ke-ecchi-annya cukup tinggi  (salah satu review-nya bisa dibaca di sini.). Bagaimana dengan tren teknologi robot humanoid? Rupanya sekarang telah berkembang dengan tujuan sebagai ‘teman khusus’ orang-orang Jepang (bisa dibaca di sini). Juga, tren operasi plastik di Korea Selatan yang konon sampai dijadikan hadiah ulang tahun para orangtua untuk putri-putrinya (bisa dibaca di sini).

*Pembahasan tren bunuh diri

Global_AS_suicide_rates_bothsexes_2012Sumber: World Health Organization (WHO) tahun 2012. Bisa diakses pada alamat: http://gamapserver.who.int/mapLibrary/Files/Maps/Global_AS_suicide_rates_bothsexes_2012.png?ua=1

Atau simak berita berikut:

http://www.voaindonesia.com/content/angka-kematian-akibat-bunuh-diri-lebih-besar-dari-perang-bencana-alam/2442084.html

Dari peta kasus bunuh diri seluruh dunia yang dimiliki WHO (data terbaru yang berhasil saya temukan adalah tahun 2012), bisa kita baca bahwa negara-negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi (warna oranye gelap– di atas angka 15.0) antara lain adalah Rusia, kawasan Eropa, dan Jepang-Korea. Sedangkan Indonesia yang negerinya carut-marut malah masuk pada kategori tingkat bunuh diri terendah. Sedikit melenceng dari topik, semoga saya salah lihat, karena sepertinya negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia-yaitu Finlandia*- juga masuk dalam kategori tingkat bunuh diri tinggi. (*Di sini saya merasa agak patah hati. :P)

Saya pun terus bertanya. Mengapa justru yang menempati ranking tertinggi depresi/bunuh diri adalah negara-negara yang (dikatakan) maju ini? Malahan, tingkat bunuh diri di negara-negara kawasan Afrika masih kalah tinggi* (*kecuali untuk bagian kecil benua Afrika yang berwarna oranye gelap). Padahal, negara-negara itulah yang terus-menerus dilanda peperangan, konflik, kelaparan, penyakit-penyakit mematikan. (Bagi pembaca yang ahli menganalisis data mungkin bisa lebih jeli dalam membaca peta ini.)

Apakah tidak cukup segala kenyamanan hidup* (*dibandingkan negara-negara lain yang situasinya tidak kondusif untuk hidup layak) yang telah mereka dapatkan? Bukankah mereka juga merupakan orang-orang yang taat hukum, tertib mengantri, cinta kebersihan, dan tidak akan mencuri sepeda meski tergeletak di pinggir jalan tanpa dikunci? Mengapa gejala-gejala sosial ini begitu kontras dengan hal-hal indah tentang Jepang dan Korea Selatan, seperti yang telah saya kemukakan di awal tulisan?

Missing Link

Selama ini, saya menganggap bahwa kemajuan sebuah bangsa itu ditandai oleh -antara lain- kemajuan perekonomian, teknologi, kepatuhan hukum/ketertiban sosial, dan tingkat kemakmuran. Namun, pada fenomena dua negara maju ini, mengapa justru saya mulai melihat tanda-tanda kemunduran di balik kemajuan tersebut, yaitu berupa kemunduran nilai-nilai moral secara universal (yang bisa ditanyakan pada hati nurani tiap manusia terlepas dia beragama atau bersuku apa) dan kemunduran kekuatan jiwa untuk bertahan hidup? Bila memang Seppuku (budaya bunuh diri di Jepang demi kehormatan diri) memiliki andil terhadap dorongan bunuh diri, perlu diselidiki lebih lanjut berapa persen jumlah kematian karena Seppuku? Sejak kapan budaya ini lahir dan pengalaman hidup apa yang melatarbelakanginya? Sebab, budaya merupakan hasil dari pengalaman hidup suatu bangsa dan tidak begitu saja muncul tanpa sebab. Seandainya saja saya bisa bertemu dengan orang Jepang, maka saya ingin menanyakan pendapat mereka dari hati nurani terdalam, apakah budaya Seppuku ini merupakan budaya yang membawa kedamaian hidup atau malah menggelisahkan?

Berbicara tentang budaya; saya amat terkesan dengan keanggunan budaya Jepang dan Korea pada umumnya yang tercermin tak hanya dari pakaian tradisional mereka, namun dari cara bertingkah laku, karya-karya seni dan literasi, maupun cara bicara mereka. Bahkan Korea pun memiliki bahasa dengan berbagai tingkat kesopanan laiknya orang Jawa (krama, ngoko, dsb.). Apakah budaya yang dilestarikan itu kini tinggal simbol-simbol dan selebrasinya saja, sehingga banyak yang kehilangan makna?

Lalu, bagaimana dengan tingkat kemakmuran, kemajuan teknologi, dan ketertiban sosial? Apakah kemakmuran hidup itu ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya semangat perjuangan hidup? Apakah kemajuan teknologi dan kepatuhan hukum malah semakin menjauhkan para penduduknya dari jiwa mereka sendiri?

Apakah ada mata rantai yang hilang dalam kehidupan orang-orang di negara-negara maju itu? Bila ada, di manakah letak ‘missing link‘-nya?

Kemudian, saya mencoba mendiskusikannya dengan suami. Maka, ia pun berkata: bisa jadi, missing link-nya adalah kekosongan jiwa. Bila manusia telah kosong jiwanya berarti ia tak mampu lagi memaknai tindakan, pikiran, dan perasaannya.

Lalu, bisakah setidaknya saya menemukan satu atau dua akar permasalahan dari kekosongan jiwa ini?

Pemaknaan Kemajuan Suatu Bangsa

gimhae

Bila pembangunan suatu bangsa (dan kelihatannya Indonesia juga) hanya terpaku pada tujuan menumbuhkan/meningkatkan parameter-parameter materi belaka tanpa memperhatikan kecenderungan alamiah manusia yang terus gelisah mencari tujuan hidup/kebahagiaan sejati, maka bisa jadi kemajuan bangsa itu semu belaka. Sebab, kebahagiaan sejati tidak bisa diwakili oleh dompet tebal, tubuh seksi/atletis, wajah cantik, mobil mewah, rumah gedongan, dan jabatan mentereng.

Dalam membangun sebuah bangsa, lagu kebangsaan kita -Indonesia Raya- telah berulangkali mengingatkan: “… bangunlah jiwanya… bangunlah badannya…“. Bahwa kita tidak boleh melupakan pembangunan jiwa manusia. Bahkan, sesuai urutan syair tersebut, jiwa inilah yang harus diprioritaskan pembangunannya daripada pembangunan badan/fisik. Jika hal tersebut diabaikan, maka akan datang masa di mana manusia mempunyai teknologi canggih, perut kenyang, gedung-gedung tinggi, dan berpenampilan serba indah, tetapi begitu rapuh jiwanya dan tak ada yang tahu untuk apa mereka diciptakan di dunia ini selain untuk mereguk kepuasan diri sebanyak-banyaknya.

Jika sudah begitu, apa artinya kemajuan dan kemakmuran?

Pemaknaan Kepatuhan

“Kalau anakmu berwudhu, shalat, menolong orang lain, memilih kegiatan yang konstruktif, menghindarkan diri dari perusakan diri dan lingkungan, puasa dari narkoba dan molimo, atau apapun, ITU BUKAN KARENA TAAT KEPADA KITA, BUKAN KARENA TAKUT KEPADA POLISI ATAU NEGARA, melainkan sedang MENJALANKAN KEGEMBIRAAN BERTANGGUNGJAWAB KEPADA PENCIPTA-NYA.” (Cak Nun-Kitab Ketentraman)

Ketika berusaha menemukan missing link tersebut, bertemulah saya dengan potongan isi buku Kitab Ketentraman di atas. Saya sungguh tergugah dan mulai berpikir tentang motivasi manusia dalam mematuhi suatu aturan yang berlaku dalam dunianya.

Ternyata, kita tidak bisa mendasarkan perbuatan baik atau tanggungjawab pada kepatuhan hukum atau nilai kemasyarakatan semata. Tanpa kesadaran yang lebih tinggi terhadap motivasi perbuatan baik, maka  jiwa manusia akan mengalami kehampaan makna sekaligus tekanan akibat kepatuhan buta maupun kepatuhan ‘anut-grubyuk’ (ikut-ikutan). Hal ini bisa berbalik menghancurkan manusia itu sendiri.

Frasa  ‘sedang menjalankan kegembiraan bertanggungjawab kepada Pencipta-nya‘ mengingatkan saya bahwa manusia memiliki potensi yang lebih tinggi/lebih mulia daripada sekedar patuh terhadap peraturan. Menurut saya, inilah motivasi puncak dari seorang manusia dalam berbuat baik. Boleh saja, manusia berbuat baik karena peraturan, atau demi kemanusiaan. Tetapi, peraturan bersifat mengekang dan akan menghasilkan rasa frustasi; sedangkan alasan kemanusiaan bisa kehilangan kekuatan motivasinya bila manusia yang dibela tidak tahu terimakasih kepada kita.

Bila kita ingin sungguh-sungguh ikhlas dalam berbuat baik dan bertanggungjawab tanpa paksaan, maka lakukanlah semua itu dengan kesadaran bahwa ‘kita sedang menjalankan kegembiraan bertanggungjawab kepada Tuhan’. Insya Allah, kita tak akan mencuri meskipun hukum memperbolehkan untuk mencuri, kita akan tetap mengantri tertib dan membuang sampah pada tempatnya walaupun tak ada papan peringatan ataupun petugas berkumis melintang yang sedang berjaga.

Perenungan saya mengenai sisi lain dari negara Jepang dan Korea Selatan ini membawa saya pada satu kesimpulan bahwa sepatutnya kita mulai mendefinisikan ulang apa yang disebut kemajuan suatu bangsa. Parameter teknologi dan ekonomi bisa demikian mengaburkan bila kita melupakan sisi manusianya. Memang, saya belum pernah bertemu langsung dengan warga negara Jepang dan Korea Selatan, ataupun punya pengalaman tinggal di sana. Sehingga perenungan saya ini pastilah amat berbeda dengan orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dan lebih memahami seluk beluk kehidupan serta manusia yang tinggal di kedua negara itu. Sayangnya, untuk merenungkan gejala-gejala sosial yang menggelisahkan ini, saya hanya bisa melakukannya dari jendela kecil di rumah saya.

Bagaimana dengan hasil perenungan anda?

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s