Bila Buah Tak Semanis Harapan


buah harapan

Ayah dan Bunda sudah mendidik kamu dengan baik dan benar, tetapi kenapa kamu masih saja begini?

Pernahkah kita mengalaminya? Kita merasa telah membesarkan anak sebaik mungkin; melaksanakan hampir seluruh tips-tips parenting, menuruti saran ahli gizi dan tumbuh kembang anak, mengorbankan banyak waktu pribadi kita, menahan seluruh rasa lelah dan kantuk untuk menemaninya bermain atau membacakan satu-dua cerita pengantar tidur; dan ternyata hasilnya di luar dugaan. Anak masih saja tidak mau merapikan mainannya sendiri, susah sekali disuruh belajar dan nilai-nilai sekolahnya tidak kunjung membaik, seringkali membantah perkataan orangtua, tak jarang marah sambil berteriak, bertengkar terus dengan saudaranya…

Ah, rasanya, sudah berkali-kali kita memperbaiki cara, berkali-kali itu pula gagal.

Belum lagi bila kita membandingkan anak kita dengan anak-anak lain yang mungkin lebih pandai, lebih manis, lebih ceria, dan lebih-lebih yang lain. Benar-benar mendorong orangtua kepada titik nadir, yaitu putus asa.

… pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita… Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya)…  (Menuju Manusia Merdeka – Ki Hadjar Dewantara)

Ketika kondisi itu tiba, mari kita renungkan benar-benar pesan Sang Bapak Pendidikan Indonesia, bahwa sebagai orangtua yang otomatis menjadi pendidik bagi anak-anak, kita tidak dapat menuntut apapun dari tumbuh kembang mereka, selain hanya melakukan tuntunan terhadap mereka.

Yang sering kita lupakan, saat memberikan tuntunan pada anak (menerapkan pola asuh), kita menyertakan tuntutan. Padahal, tuntutan inilah yang seringkali menjadi sumber permasalahan antara orangtua dan anak. Tembok kokoh yang menghalangi kelekatan batin orangtua-anak. Kita ingin anak menjadi seseorang yang begini-begitu, seperti si-ini atau si-itu, memenuhi standar sana-sini , sehingga kita lupa bahwa anak memiliki kodratnya sendiri (dasar). Yaitu fitrah dari Sang Maha Pencipta. Apa-apa yang menjadi kegemarannya, kecenderungan sifatnya, ritme belajarnya, dan lain-lain, hanya dapat dioptimalkan dan diarahkan, bukan diubah sesuai keinginan orangtua. Anak memiliki takdir sendiri untuk ia penuhi, sebagaimana halnya orangtua.

Proses belajar si anak dan proses menuntun sang orangtua juga merupakan ketentuan dari Sang Penentu Takdir. Berhasil memenuhi seluruh standar pola asuh terbaik di dunia pun tidak berarti akan mengubah anak menjadi seperti yang orangtua harapkan; baik hati, manis, pintar, kreatif, dsb. Sebab, kita hanya punya hak dan kewajiban untuk melakukan proses tuntunan, sebagaimana anak punya hak dan kewajiban untuk melakukan proses belajar. Tetapi, yang berhak menentukan HASIL DARI PROSES, bukanlah kita maupun anak, melainkan TUHAN.

Jadi, sebagai orangtua, tak selayaknya kita menyandarkan secara kaku pola asuh kita pada tips-tips parenting, teori-teori tumbuh kembang, dan lain sebagainya. Ilmu mengasuh anak hanyalah* (*meskipun amat penting perannya) ilmu untuk melakukan tuntunan terhadap anak. Sandaran terkuat untuk mengasuh anak adalah keikhlasan dan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ikhlas berproses dalam manis-pahit menuntun anak menuju kebaikan, tanpa disertai tuntutan. Selalu mengevaluasi pola asuh yang telah dilaksanakan. Kemudian, memasrahkan hasilnya kepada Sang Maha Penentu Kehidupan.

Ki Hajar Dewantara menggambarkan dengan amat indah proses tuntunan orangtua terhadap anak-anak:

Seorang petani (yang dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi, dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman padi dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat-iradatnya padi. Misalnya, ia tidak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti halnya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya. Memang benar, ia dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodratnya padi itu tetap mustahil. Demikianlah pendidikan itu, walaupun hanya dapat ‘menuntun’, akan tetapi faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak sangatlah besar.  

Hasil pola asuh kita adalah sepenuhnya hak prerogatif Tuhan, dan kita benar-benar tidak punya kuasa dan tidak punya hak untuk menuntut semuanya sesuai keinginan kita.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s