Senandung Biru Pulau Tropis


senandung

Website: serenityseeker*

Klik!

Seek A Serenity: Indonesia

Klik!

April 13, 2013, 04:45 pm

Seek A Serenity: Indonesia – Part One

Sebenarnya, ide siapa ini?

Melakukan perjalanan ke negara Indonesia untuk pertama kali, tetapi tidak menuju pulau Bali. Bukankah, Bali adalah Indonesia, dan Indonesia adalah Bali? Some say: “Indonesia? Is it a random country?”. Lain halnya dengan Bali. “Bali? Yes, of course! What a beautiful country!”

Bali adalah sebuah negara. Dulu, saya pikir begitu. Padahal, Bali adalah sebuah pulau kecil, dengan pantai-pantainya yang indah, adat budaya yang masih kental tercermin dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang religius yang ramah, kuliner yang menantang lidah Amerika, dan mataharinya yang melimpah.

Setelah ada Bali Bombing, saya baru tahu. Bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia. Pantas saja saya pernah dapat F untuk Geografi di sekolah. Hahaha!

And damn! Sayangnya, meskipun benar-benar ingin, saya tidak pergi ke Bali. Gara-gara menuruti saran teman saya yang pernah ke Indonesia. So, saya naik pesawat ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dia bilang, in Bali, you cannot find Lombok. But in Lombok, you can find Bali! Setelah berpikir lama di pesawat, saya merasa menyesal mengikuti idenya begitu saja. But, it‟s too late!

Nama saya Efendi.” Sapa pengemudi mobil rental yang saya naiki. Sekaligus, tour guide saya. Dengan sigap, dia membantu menaikkan barang-barang saya ke bagasi. Tepatnya, satu tas ala backpacker yang tinggi dan sebuah tas plastik kecil berisi snack dan minuman yang saya beli di bandara tadi.

Mandy Roberts. USA.” Saya memperkenalkan diri.

Efendi adalah seorang laki-laki berperawakan kecil dengan wajah Mr. Nice Guy. Seperti umumnya orang Lombok yang hari ini saya temui, dia berkulit gelap, sopan, dan ramah. And, thanks God. Dia bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Jadi, tidak akan ada masalah komunikasi, kan?

Apakah ini bandara internasional? Kenapa banyak orang yang duduk di tepi teras bandara?” Saya mengamati orang-orang lokal yang duduk-duduk di teras bandara. You know, bahkan sebagian besar duduk di lantai secara bergerombol! I don‟t get it. Jumlah mereka bahkan lebih banyak daripada orang yang berada di dalam bandara.

Mereka adalah orang-orang yang sedang mengantar atau menjemput para penumpang pesawat. Kebanyakan adalah anggota keluarga atau tetangga.” Effendi menjelaskan.

Sebanyak ini?” Tanya saya heran.

Efendi tersenyum sambil mengangguk. Dia menambahkan lagi, bahwa seorang penumpang bisa dijemput oleh tiga atau lima orang. Dan jika Musim Haji tiba, seorang haji bisa diantar oleh lebih banyak orang lagi. Sampai sepuluh orang!

What?? Saya tercengang.

Tanpa menunggu saya selesai tercengang, Effendi menjalankan mobil rental warna hitam keluaran Japan, membawa saya meluncur keluar Lombok International Airport menuju hotel. “Fave Beach Hotel.” Kata saya.

Apakah anda ingin pergi ke suatu tempat sebelum pergi ke hotel?” Tawarnya.

Tidak, terimakasih. Langsung ke hotel saja.

Saya rasa, saya akan menggelung dan mendengkur seperti kucing di atas kasur hotel hari ini. Jadi, tunggulah kelanjutan cerita ini besok. Sampai si kucing benar-benar bangun.

—-

Hihihi. Sepertinya, orangnya lucu.” Zahra menatap layar smartphone-nya sembari tertawa kecil.

Dia baru saja selesai membaca sebuah artikel berjudul Seek A Serenity: Indonesia – Part One dalam blog pribadi milik Mandy Roberts yang dia temukan secara tidak sengaja, saat blog walking di kamar hotel. Fave Beach Hotel, Lombok.

Zahra terlonjak dari tempat tidurnya. Dia baru menyadari sesuatu. Fave Beach Hotel?? Dan, hari ini, tanggal 13 April 2013, bukan??

Ya, Allah! Berarti, kami berdua berada di hotel yang sama, dong! Sekarang!

Zahra kembali menekan-nekan layar smartphone-nya. Dia meninggalkan pesan di kotak komentar blog Mandy Roberts dalam bahasa Inggris.

Zahratul Jannah wrote:

Hi, Mandy. Saya tidak sengaja membaca blogmu. Sekarang, saya berada di hotel yang sama denganmu. What an extraordinary coincidence, isn’t it?

Sepuluh menit Zahra menunggu balasan. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Belum ada balasan. Ah, sudah jam 7 malam. Zahra melihat jam tangannya. Waktunya makan malam.

Dengan kecewa, dia mengunci pintu kamarnya, dan beranjak pergi menuju restoran hotel untuk makan malam. Zahra berhenti sebentar di depan pintu.

Segala puji bagiMu, ya Allah. Terimakasih telah memberi hamba rejeki untuk menginap di hotel seindah ini.” Gumamnya.

Hotel ini memang istimewa, karena mengusung tema pedesaan Lombok. Suasana tenang, tak ada hiruk pikuk. Kamar-kamar dan bangunan-bangunannya beratapkan rumput alang-alang yang telah dikeringkan dan dianyam rapat.

Dinding-dindingnya dikesankan seolah dinding tradisional Lombok yang terbuat dari anyaman bambu atau bedek. Dikombinasikan dengan dinding kapur sebagai dinding dasar dan pintu-pintu kaca berbingkai kayu. Bagaimana dengan lantainya?

Lantai rumah tradisional Lombok terbuat dari tanah dengan campuran bahan-bahan alami seperti abu jerami dan getah pohon. Lantai ini unik; karena biarpun tidak terbuat dari keramik atau batu pualam, permukaannya tetap halus, tanpa mengalami retak-retak, dan tanpa meninggalkan rasa tanah berbutir di telapak kaki. Heran? Ini belum apa-apa. Yang lebih mengherankan lagi, lantai akan terasa sejuk di musim kemarau, tetapi hangat di musim penghujan. Rahasianya?

Secara berkala, lantai harus dilapisi dengan kotoran kerbau atau sapi.

Saat Zahra pertama kali tiba di kamar hotel, dia segera memeriksa lantai. Huff…. Syukurlah, hotel ini tidak sepenuhnya tradisional. Lantainya terbuat dari kayu. Pasti tidak dilapisi oleh kotoran kerbau, kan?

Zahra melangkah meninggalkan teras kamar.

Hotel ini bagaikan sebuah desa kecil. Dan, kamar-kamarnya bagaikan rumah-rumah penduduk. Area hotel di luar kamar semakin memperkuat nuansa itu dengan lampu-lampu temaram yang dikemas dalam lentera-lentera kuno, seolah nyala api kecil yang kekuningan. Menerangi tanaman-tanaman tropis yang ditanam di tepi jalan-jalan setapak dalam area hotel. Pohon palem-paleman, kaktus, bebungaan warna cerah seperti bougenville, dan tanaman-tanaman tropis lain. Sungguh eksotis.

Zahra tiba di restoran hotel. Restoran berdesain terbuka ini terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai Kuta. Eits! Di Lombok memang ada pantai yang bernama Kuta. Seperti di Bali. Namun, pantainya masih lebih alami dan sepi. Tidak disesaki pengunjung. Apalagi, pantai Kuta di bagian ini adalah milik hotel yang ditinggali Zahra. Sangat menyenangkan, makan malam sambil menikmati pemandangan malam di pantai, diiringi debur ombak yang lamat-lamat terdengar. Walaupun, ada satu yang membuat Zahra rikuh. Para turis asing. Tak hanya restoran, namun hotel ini dipenuhi oleh turis-turis mancanegara dari benua Eropa, Amerika, dan Australia. Hanya segelintir turis Asia yang datang. Bahkan, jumlah turis lokal lebih sedikit dari segelintir. Zahra merasa, ia menjadi turis asing di negeri sendiri.

Boston…Boston…

Telinganya mendengar sekelebat pembicaraan dua turis berkulit pucat dan berambut pirang di meja seberang, sebelah kiri. Zahra merenungi penampilannya sekilas. Dia memakai kerudung kain yang terjulur melewati dada, dan baju panjang terusan model gamis. Tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Selama ini, begitulah cara berpakaiannya. Tapi, bagi turis-turis itu, penampilannya mengingatkan mereka pada peristiwa Bom Boston yang beberapa waktu lalu terjadi, dan disinyalir, dua pria beragama Islam yang melakukannya. Semenjak dia datang ke hotel, banyak pasang mata asing yang memperhatikan kehadirannya.

Apakah mereka merasa terusik dengan kehadiranku?

Zahra memandang dua turis asing yang kemungkinan besar sedang membicarakan dirinya. Dan, mata mereka beradu pandang.

Hello…” Dia tersenyum seramah mungkin. Ingin sekali dia mengatakan: Hei, kalian tahu, aku tidak membawa bom. Inilah Islam. Islam adalah senyum. Bukan teror.

Kedua turis itu balas tersenyum. Mereka nampak menyembunyikan sedikit keterkejutan karena Zahra tersenyum kepada mereka.

Blup, blup, blup! Smartphone-nya berbunyi. Ada email masuk. Dia baru saja menerima notifikasi bahwa Mandy membalas komentarnya di blog.

Mandy Roberts wrote:

Hi, Zahratul Jannah! This is really really an extraordinary coincidence! Saya sedang makan di restoran hotel. Memakai baju biru muda. Satu-satunya orang berbaju biru di sini. Where are you now?

Pandangan Zahra menyapu ruangan restoran hingga ke sudut-sudut. Mandy ada di sini!

Zahratul Jannah wrote:

Mandy, saya juga sedang berada di restoran. Rupanya, tempat duduk kita hanya berjarak satu meja. Saya memakai baju kuning. Saya seorang perempuan muslim. It will be very easy to find me. :))

Zahra melongok ke seberang meja dua turis yang ia beri senyuman tadi. Di situ, duduk seorang wanita muda, seperti dirinya. Wanita asing itu berpostur tinggi ramping, berkulit kecoklatan, berambut coklat gelap sepanjang leher, memakai kaos you-can-see tipis warna biru muda dipadu dengan hot pants warna khaki. Sekilas, penampilannya mirip artis Hollywood Keira Knightley, salah satu pemain film Pirates Of Carribean.

Wanita muda itu juga melongok ke arah Zahra. Dia melambaikan tangan dengan girang pada Zahra. Itu pasti Mandy!

—-

Website: serenityseeker

Klik!

Seek A Serenity: Indonesia

Klik!

April 14, 2013, 09:00 pm

Seek A Serenity: Indonesia – Part Two

Well, well. Look, who‟s here? Si kucing telah bangun dan memiliki sesuatu untuk diceritakan. Kemarin, saya bepergian dengan teman baru, seorang perempuan muda Indonesia. Seperti saya, sedang sendirian berpelesir di Pulau Lombok ini. Namanya, Zahra. Dia seorang muslim. Berpakaian tertutup, memakai hijab, dan, you know what, dia sangat ramah dan baik. I don‟t see any terrorism threat in her eyes.

Hari ini, mulai pagi, kami melakukan perjalanan bersama. Tujuan utama kami adalah Gili Trawangan. FYI, Gili berarti pulau. Ada tiga gili utama di Lombok. Gili Trawangan, yang terbesar; Gili Meno, dan Gili Air.

Sebelum pergi ke Gili Trawangan, kami harus melalui perjalanan yang cukup panjang. Sekitar tiga sampai empat jam dari hotel. Sepanjang perjalanan, saya menikmati pemandangan alam yang cantik. Sawah-sawah membentang luas, pohon-pohon rindang yang ditanam di tepi jalan seolah menaungi jalanan aspal yang halus mulus, gunung Rinjani yang tinggi menjulang menembus awan, dan masjid-masjid yang bertebaran di mana-mana.

Mayoritas penduduk Lombok adalah muslim. Lebih dari sembilan puluh persen. Sisanya, memeluk agama lain, seperti Hindu.” Effendi menerangkan dalam bahasa Inggris.

Tapi, aman, kan? Tidak ada yang berselisih paham karena perbedaan keyakinan?” Tanya Zahra yang duduk di sebelah saya. Tertangkap kekhawatiran di wajahnya.

Effendi menggeleng. “Orang Lombok cinta damai. Kami tidak suka keributan. Semua yang berbeda keyakinan di sini hidup berdampingan.”

Oooooh. Saya mengangguk-angguk. That‟s really great. Di USA saja masih sering terjadi diskriminasi ras dan agama. Saya pernah melihat seorang kulit hitam menyetop taksi, tetapi taksi itu tidak mau berhenti. Tak jauh dari tempat orang kulit hitam itu berdiri, taksi itu berhenti, dan mengangkut penumpang lain yang memberhentikannya. Seorang kulit putih.

Effendi menawari kami untuk mengunjungi sebuah pura, tak jauh dari jantung kota Lombok, Mataram. Tentu saja saya mau. Dan Zahra, malah terlihat antusias.

Sebelum sampai di tempat berdoa orang Hindu di bagian atas, kami harus melewati areal yang sangat luas. Seperti memasuki sebuah halaman istana. Di sebelah kanan dan kiri terdapat rumah-rumah ibadah yang tertutup maupun sedang digunakan. Pada pintu-pintu masuknya, ada banyak patung-patung monster yang terukir di sana.

Patung penjaga. Tugasnya menakut-nakuti roh-roh jahat yang hendak masuk ke pura ini.” Kata Guide kami. Seorang laki-laki besar dan berambut panjang. Sedangkan Effendi menunggu di parking area.

Lalu, kami tiba di sebuah tangga batu yang naik agak curam. Tangga itu berujung pada sebuah pintu masuk yang disebut gapura. Di dalamnya, kami melihat sebuah pelataran tanah yang bersih dan sejuk dengan beberapa pohon rindang. Hidung kami digelitiki bau-bauan dupa yang wangi. Orang-orang Hindu dengan pakaian adat seperti pakaian orang Bali yang pernah saya lihat di gambar majalah, sedang berdoa bersama di tengah pelataran. Hanya beralaskan tanah kecoklatan yang bersih dan rata.

Dan, di tanah ini, semua orang bisa menyaksikan kemegahan gunung Rinjani. So exotic dan beautiful.

Saya dan Zahra duduk di pinggiran lantai ruangan yang terbuka. “Damai sekali rasanya berada di sini.” Zahra tersenyum pada saya.

Benar. Belum pernah saya mengunjungi tempat semacam ini.” Saya menyahut. Angin sejuk menyapu kulit wajah saya.

Me, too. Saya belum pernah masuk Pura sebelumnya. Seandainya mereka melihat ini… ”

Saya menoleh heran. “Maksud kamu?

Nothing. Hanya, di tempat saya tinggal, ada orang-orang dari golongan keyakinan mayoritas yang meremehkan orang-orang yang berkeyakinan lain. Mereka menganggap yang berbeda itu buruk dan harus dimusuhi. Lalu, saya berpikir, kenapa jika berbeda harus dimusuhi? Mengapa tidak bisa hidup bersama dalam damai? Memusuhi mereka yang sedang berdoa di situ? I can‟t.”

Wajah Zahra terlihat sendu.

Saya memandang orang-orang Hindu yang sedang berdoa itu. Mereka terlihat tenggelam dalam keheningan, diiringi doa-doa yang terucap lirih.

I think you‟re right. Kita semua mencari kedamaian, kan? Lihatlah tempat ini. Dibangun supaya orang-orang menemukan kedamaian dalam hidup. Saya juga menemukan kedamaian ketika sedang berada di Gereja. Is that wrong?” Saya bertanya sedikit memancing. Saya ingin tahu pemikiran teman baru saya ini.

Fakta bahwa dia dalah seorang muslim sangat menarik saya untuk mengetahui apa yang ada dalam benaknya.

Saya menemukan kedamaian ketika menyembah Tuhan di Masjid. Itulah kebenaran yang saya yakini. Tapi, Gereja adalah kebenaran menurutmu. Dan, Pura adalah kebenaran menurut orang-orang itu.” Zahra menatap saya tegas.

Saya hanya mengernyitkan dahi.

Sorry. Kita baru saja kenal, dan saya sudah berbicara macam-macam. I didn’t mean anything.” Zahra tersenyum segan.

It‟s okay. Kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan. I‟m okay with that.” Saya merespon.

But… , di luar perkara benar atau salah, bukankah kamu juga merasakan kedamaian berada di Pura ini?” Saya iseng menyeletuk.

Zahra hanya tertunduk diam. Mungkin, dia tidak mendengar kata-kata saya. But, whatever. This story must move on, right?

Dari Pura, kami meneruskan perjalanan ke dermaga kecil supaya bisa menaiki public boat untuk menyeberang ke Gili Terawangan. Tiketnya, hanya sepuluh ribu rupiah per orang. Ternyata, menyeberangi laut sangat menyenangkan. Hembusan angin kencang menerpa wajah, cipratan air laut yang asin, langit luas yang biru bersih, sinar matahari yang menyilaukan, dan air laut kebiruan yang jernih. What a ride!

Sesampainya di Gili Trawangan, kami menaiki kereta kuda kecil untuk mengelilingi pulau. This island is super small! Hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai kembali ke tempat semula. Biarpun kecil, pulau ini padat dengan foreigners seperti saya. Jarang ada local tourist semacam Zahra. Here, some people say, this island is a mini-world. Kita bisa menemui berbagai orang dari berbagai macam negara dan bermacam merk pakaian, alat surfing ternama dari seluruh dunia. Saya dan Zahra membeli lemon ice cream yang enak di sini. It‟s originally made of lemon! Dan, kabar bagusnya adalah, di sini tidak ada kendaraan bermotor. Kita bisa naik kereta kuda, sepeda, atau berjalan kaki untuk menjelajahi pulau. Isn’t it fun?

—-

Zahra tertawa sambil mengucek-ucek kedua matanya yang mulai pedas. Dia menyukai tulisan yang baru saja diposting oleh Mandy.

Hm, Mandy memang orang yang suka berterus terang. Dia menulis dengan gaya apa adanya. Bahkan, percakapan di Pura yang menurut Zahra pribadi agak sensitif, ditulis juga.

Zahra mengambil nafas panjang. Lalu, dia menulis pesan di kotak komentar.

Zahratul Jannah wrote:

Tulisan yang bagus, Mandy! Thank you for everything. Terimakasih, kamu sudah membantu untuk mewujudkan impian saya. May God always bless you. :))

Zahra teringat pada momen di akhir sore ini, sepulang dari berkeliling tiga gili.

Mandy, are you sure? Apa kamu yakin mau menemaniku?”

Zahra dan Mandy berjalan beriringan ke pantai yang terletak di area belakang hotel. Kaki-kaki mereka melangkah berat karena terhalang oleh tebalnya pasir pantai.

I’ve told you. Saya akan menemanimu untuk mewujudkan keinginanmu. Saya yakin, kamu pasti sangat menginginkannya.” Mandy tersenyum yakin.

Beberapa puluh meter dari garis pantai, mereka berhenti. Di sini, belasan gazebo ala Lombok berjajar rapi. Langit mulai memerah jauh di sebelah barat sana. Zahra memeriksa jadwal sholat Magrib Lombok yang tercantum di smartphone.

Ya. Sekarang saatnya!

Di sebelahnya, Zahra melihat Mandy sedang duduk bersila di kursi santai untuk berjemur. Tangannya bergerak memasang headphone di kedua telinganya. Dia mengangguk kepada Zahra.

Zahra menghamparkan sajadahnya di atas pasir pantai yang putih bersih. Pasir-pasir itu mirip dengan butir-butir merica putih. Kemudian, pelan-pelan, memasang mukena. Matanya memandang lepas ke arah lautan yang membentang di depan. Debur ombak pantai siap menyambutnya. Langit kelabu kemerahan memayungi dirinya. Zahra merasa dirinya sangat kerdil.

Allahu Akbar! Sungguh, Maha Besar DiriMu, Ya Allah!

Zahra mengangkat kedua tangannya, bertakbir.

Mandy memejamkan mata dengan punggung tegak dan kaki bersila menghadap pantai. Di telinganya, mengalun musik relaksasi pengiring yoga.

Kamu mau beribadah di tepi pantai? Well, itu ide yang cukup aneh. Tapi, brilliant. Tak perlu malu dan risau bila orang-orang memandangi yang kamu lakukan. Saya akan menemani.

Kata-kata itu tak akan pernah dilupakan oleh Zahra. Dan, mungkin juga, oleh Mandy sendiri.

[Eryani Widyastuti]

*alamat website dalam cerita di atas hanyalah rekaan.

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru yang lain? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Senandung Biru Pulau Tropis

  1. jempol utk juwit deh, yg aku rasa sampe skr hny tercengang, g percaya, terharu , terharu, dan terharu. Itu ungkapan perasaaanku saat ini juwit. teruslah berkarya juwit

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s