Ksatria Kelinci


ksatria kelinci

 

SATU

Ibu Kelinci sedang membuat pai wortel yang manis dan lezat. Sebelum siap dimakan, pai itu harus didinginkan dulu supaya tidak lembek dan hancur.

“Kinci, tolong jaga pai wortelnya ya? Ibu mau pergi ke rumah tetangga sebentar.” pesan Ibu Kelinci pada Kinci, si kelinci kecil, yang sedang asyik membaca buku tentang para ksatria gagah sambil berbaring di atas rumput halaman.

“Siap, Bu!” sahut Kinci memandangi pai yang diletakkan di pinggir jendela dapur yang terbuka lebar.

Kemudian, ia berlari masuk dapur, dan mendekati pai yang berbau harum itu. “Aku Ksatria Kelinci akan menjagamu, wahai Pai Wortel!”

Kinci membalikkan badan dan membusungkan dada di depan pintu kaca lemari yang berisi peralatan makan keramik kesayangan Ibu. Tapi, bukan ksatria yang dilihatnya, melainkan seekor anak kelinci biasa, berbulu putih dan bermata cerah.

“Sama sekali tidak mirip ksatria…” Kinci menggeleng-geleng sambil berpikir. “Ah, aku tahu!”

Sebuah ide hinggap di kepalanya.

DUA

Kinci berlari masuk ke dalam rumah, mengambil sprei dari keranjang cucian, sepatu bot milik Ayah, panci masak dari rak piring, dan sapu lantai di belakang pintu. Sprei itu ia selimutkan ke belakang punggung, kedua ujungnya ia ikat di depan leher. Dengan sigap, ia memasukkan kedua kaki mungilnya ke dalam sepatu bot besar milik Ayah, memasang panci di kepala, dan menggenggam tegak gagang sapu lantai.

“Hmm…apa aku sudah benar-benar mirip ksatria?” tanyanya dalam hati sembari mematut diri di depan kaca lemari.

Kinci memutuskan berkeliling rumah untuk menanyakan hal ini pada keluarganya.

“Kek, apa aku sudah mirip ksatria?” tanya Kinci membentangkan jubah spreinya dengan bangga.

“Hm…hm…” jawab Kakek yang sedang duduk-duduk di kursi goyang sambil terkantuk-kantuk.

Tak puas dengan jawaban Kakek, Kinci mencari Ayah yang sedang menanam wortel di kebun. Ia pun menanyakan hal yang sama.

“Mirip sekali! Hahaha…” kata Ayah tertawa melihat sepatu bot Kinci yang kebesaran.

“Kakak gagah sekali!” puji adik perempuannya.

Atas dua jawaban yang memuaskan itu, Kinci menunjukkan rasa terima kasih dengan mengangkat panci masaknya dari kepala, seolah sebuah helm tempur yang berharga.

“Sekarang, aku siap menjaga pai wortel Ibu, karena aku sudah mirip ksatria!” Kinci membusungkan dada, lalu berlari-lari menuju dapur, mengayun-ayunkan gagang sapu lantai, seakan-akan sebuah pedang tangguh yang siap menghalau musuh.

“Oh, tidak! Ini serangan mendadak!” seru Kinci terkejut saat tiba kembali di dapur.

Sayang sekali,  ternyata para musuh sudah lebih dulu menyerang. Pai wortel Ibu dipatuki oleh sekumpulan burung kecil! Dan, ketika Kinci berusaha mengusir mereka dengan pedang gagang sapunya, pai itu malah jatuh berantakan di lantai! O-oh!

Tepat saat itu, Ibu pulang dan melihat semuanya.

TIGA

“Ah, rupanya Ksatria Kelinci Ibu melalaikan tugas utamanya untuk menjaga pai wortel.” kata Ibu kecewa.

Kinci juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. “Seharusnya aku lebih memperhatikan tugasku menjaga pai wortel daripada memperhatikan penampilanku…” Dengusnya sedih.

Ibu mengetuk-ngetuk panci di kepala Kinci, hingga berbunyi tong-tong-tong. “Tak apa-apa, Ksatria Kelinci. Hari ini, kita berbagi pai wortel dengan burung-burung. Lihat, mereka makan lahap, kan?”

Kinci memperhatikan burung-burung kecil itu. Mereka riang gembira mematuki pai wortel Ibu yang lezat. Pasti, hari ini mereka akan pulang ke sarang dengan perut kenyang.

“Besok, Ibu akan membuat pai wortel lagi. Apakah Ksatria kelinci mau menjaganya dengan lebih sungguh-sungguh?” Tanya Ibu lembut.

Kinci mengangguk tegas. Seorang ksatria haruslah pantang menyerah meski mengalami kegagalan. Dengan kepala tegak dan menyilangkan gagang sapu di depan dada, ia berseru lantang.

Kinci Sang Ksatria Kelinci siap menjalankan tugas!”

Namun khusus hari ini, tugas Ksatria Kelinci mengalami sedikit perubahan; bukan menjaga pai wortel, melainkan, membersihkan sisa-sisa pai yang berceceran di lantai dapur.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s