Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar Dan Berkarakter? (Bagian 2)


Seminar Ayah Edy

Pondasi Paling Penting: Budi Pekerti atau Intelektualitas?

10 Tanda Kehancuran Sebuah Bangsa menurut Dr. Thomas Lickona, seorang ahli pendidikan Amerika Serikat:

  1. Meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan remaja
  2. Penggunaan kata dan bahasa yang cenderung memburuk (ejekan, makian)
  3. Pengaruh teman/lingkungan melebihi pengaruh keluarga
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri sendiri, seperti: seks bebas, narkoba, dan alkohol
  5. Lenyapnya nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa
  6. Menurunnya rasa kebangsaan dan cinta tanah air
  7. Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru
  8. Rendahnya tanggungjawab pribadi dan kepada publik
  9. Ketidakjujuran terjadi di mana-mana
  10. Tumbuhnya rasa saling curiga dan kebencian sesama warga negara

(Salah satu wawancara Dr. Thomas Lickona tentang pendidikan karakter telah saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Silakan disimak di sini.)

Berdasarkan sepuluh tanda dari Dr. Thomas Lickona, bisa kita simpulkan bahwa yang mempengaruhi keberlangsungan sebuah bangsa atau peradaban, dan tentunya keberlangsungan manusia itu sendiri, adalah budi pekerti. Bahkan, bila mau merenung, kita akan menemukan dalam ajaran agama-agama mondial tidak ada yang menitikberatkan intelektualitas. Penekanan terbesarnya selalu membangun akhlak/etika/perilaku moral, berbuat baik pada orangtua & orang lain, dan kebijaksanaan. Malahan, para ilmuwan besar Islam, seperti Ibnu Sina dan Al Kindi, memulai proses keilmuannya dari mengkaji isi kitab suci/Al Qur’an. Juga Socrates, yang berhasil melahirkan Plato (Sang Begawan Filsafat Dunia), kemudian Plato melahirkan Aristoteles (Bapak Ilmu Pengetahuan Modern versi Barat); beliau mengusung Etika/Moral dalam pemikiran-pemikirannya.

Namun, coba kita lihat sekali lagi dunia pendidikan kita. Berapa banyak anak usia di bawah tujuh tahun yang digegas untuk menguasai calistung (baca-tulis-hitung)? Ayah Edy menegaskan, bahwa Pendidikan bukanlah lomba pacuan kuda. Anak terus-menerus dihela supaya lebih pintar dari yang lain, lebih cepat menguasai ini-itu, paling juara dalam berbagai macam bidang. Padahal, pendidikan adalah suatu proses, bukan perlombaan. Sedangkan pendidikan itu sendiri adalah proses yang berlangsung seumur hidup. Menurut Ayah Edy, seorang anak yang digegas bisa mengalami drop syndrom, yang berarti ketika seorang anak mencapai titik jenuh, ‘kepintarannya’ akan banyak menurun. Juga, blocking brain yang ditandai kebiasaan melamun/bengong/tidak aktif, terutama bila anak sudah besar.

Untuk mengetahui apakah seorang anak sudah siap untuk ‘disekolahkan’, maka orangtua harus membedakan usia fisik dan usia mental. Usia fisik adalah usia yang dihitung semenjak anak dilahirkan, sedangkan usia mental adalah tingkat kematangan jiwa sang anak dalam menyikapi diri dan lingkungannya. Usia mental inilah yang dijadikan dasar anak mampu menerima pendidikan dan pengajaran di sekolah (umumnya minimal 7 tahun).

Lalu, bagaimana dengan fenomena semakin banyak pelajaran bisa membuat seorang anak semakin unggul dan mampu bersaing?

Dalam kenyataan hidup, moral dan etika lah yang membuat seseorang dinilai lebih unggul dari yang lain. Sebagai contoh, bila kita ingin mempekerjakan asisten rumahtangga, manakah yang akan kita prioritaskan, kejujuran atau kepintarannya? Silakan tengok sejarah orang-orang besar yang begitu dipercaya dan cintai banyak orang. Kita akan menemukan keunggulan moral di balik kisah-kisah hebat mereka. Meski lebih banyak yang unggul secara intelektual, namun kekuatan karakter terbukti selalu menjadi penentu keberhasilan para tokoh tersebut.

Salah satu aspek karakter yang ditekankan Ayah Edy dalam seminar ini adalah EMPATI. Seperti dalam video yang ditunjukkan oleh Ayah Edy tentang seorang kakak yang mencari akal untuk membantu adiknya menyeberangi sebuah got/lubang. Sang kakak merebahkan diri supaya bisa menjadi jembatan. Begitulah kekuatan empati, melebihi dari yang orang dewasa pikirkan. Inilah, kekuatan cinta kasih. Maka dari itu, Ayah Edy meletakkan empati sebagai pondasi pendidikan. Sebab, empati inilah yang akan mengajak otak untuk berpikir cerdas dan kreatif. Inilah prestasi anak yang sebenarnya. Bukan sekedar ‘juara-juaraan’ yang semu.

Masih ingin anak pintar dan berkarakter? Mari, kita tumbuhkembangkan rasa empati dalam diri anak-anak kita.

 

[ Eryani Widyastuti ]

*Ditulis berdasarkan penafsiran pribadi penulis terhadap materi seminar yang disampaikan oleh Ayah Edy.

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

7 thoughts on “Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar Dan Berkarakter? (Bagian 2)

  1. Pingback: Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar dan Berkarakter? (Bagian 1) | Jejak-Jejak Embun Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s