Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar dan Berkarakter? (Bagian 1)


Seminar Ayah Edy

Sudah lama, saya dan suami menyimak konsep parenting yang diusung oleh Ayah Edy, yaitu Indonesia Strong From Home: membangun bangsa Indonesia yang kuat mulai dari keluarga kita masing-masing. Tak hanya lewat buku, Ayah Edy juga menjabarkan pemikiran beliau dalam talk show rutin di radio, dan kini beliau cukup sering diundang berbicara di televisi. Selain itu, bekerjasama dengan para relawan di seluruh Indonesia, beliau menyebarkan cd yang berisi rekaman talkshow beliau secara gratis, dengan syarat bersedia menggandakan dan menyebarkannya pada orang lain.

Maka, dengan semangat ’45, kami pun mendatangi Hotel Gajah Mada Malang pada tanggal 28 Februari 2015, meski harus menempuh waktu 3 jam perjalanan dari rumah. Inilah, untuk pertama kalinya, kami bertatap muka secara langsung dengan Ayah Edy; sosok yang telah banyak mempengaruhi cara kami dalam mengasuh dan mendidik anak, juga memantapkan niat kami untuk menempuh jalur homeschooling.

Ada Kebijaksanaan Tuhan Dalam Diri Seorang Anak

Ayah Edy mengawali seminar dengan menyatakan bahwa dalam mengasuh anak, hendaknya orangtua berusaha melihat Kebijaksanaan Tuhan dalam diri anak. Kalimat ini mengingatkan saya tentang pesan Ayah Edy dalam salah satu radio talkshow, bahwa apapun yang terjadi/dilakukan oleh anak kita, di situlah sebenarnya Tuhan sedang menitipkan pesan kepada orangtuanya mengenai karakter sang anak berikut dengan kelebihannya. Bila sang anak keras kepala, suka membantah, sukar dinasehati, tandanya dia memiliki pendirian yang teguh dan berbakat menjadi seorang pemimpin. Bila anak gampang rewel, mudah sekali merasa tidak nyaman, tandanya dia adalah seorang anak sensitif/peka, yang kemungkinan memiliki bakat di bidang sains atau seni karena kepekaannya tersebut.

Hal inilah yang sangat menginspirasi saya dalam mendidik anak, dan mendorong saya untuk menulis sebuah artikel tentang melihat sisi baik dari perilaku Tantrum pada anak, yang dimuat oleh website Aprinesia. Silakan klik di sini bila ingin membaca.

Pendidikan Menentukan Peradaban Bangsa

Sesuai dengan pernyataan Bapak Jusuf Kalla yang mengomentari tentang maraknya begal motor di Indonesia, bahwa terdapat korelasi antara kejahatan/perilaku sosial yang buruk dengan sistem pendidikan. Silakan baca beritanya di sini.

Sekolah yang diharapkan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi Kawah Candradimuka yang bisa menghasilkan satria-satria utama semacam Gatotkaca, malah menjadi menjadi tempat kontaminasi berbagai penyakit sosial yang melemahkan generasi muda Nusantara. Rata-rata, seorang anak mengenal rokok dan film/gambar porno dari lingkungan sekolah. Entah itu dari guru, teman sekolah, atau saat berada dalam sekolah. Padahal, Ayah Edy menyatakan, bahwa pendidikan itu berbanding lurus dengan kemakmuran, kemajuan, serta peradaban sebuah bangsa.

Sebagai contoh adalah Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Negara ini mempunyai tingkat kejahatan yang sangat rendah. Bahkan, jika kita meninggalkan mobil tanpa dikunci, mobil tersebut maupun isinya tidak akan hilang. Lalu, prinsip pendidikan seperti apa yang dipakai oleh Finlandia?

Ayah Edy bercerita; ketika Bapak Anies Baswedan berkunjung ke Finlandia dan menanyakan hal ini, beliau berkejut bukan kepalang. Ternyata prinsip pendidikan mereka adalah tiga ajaran pokok Ki Hajar Dewantara yang sering didendung-dengungkan di Indonesia, namun minim praktik.

Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)

Ing madya mangun karsa (di tengah menumbuhkan daya kreatifitas/ide)

Tut wuri handayani (di belakang memberikan motivasi/dorongan/arahan)

Entah apa yang terjadi, justru sistem pendidikan Indonesia yang secara jelas menjadikan figur Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan malah menafikkan tiga konsep tersebut. Jika Ki Hajar Dewantara membedakan antara Pendidikan dan Pengajaranmaka pada praktiknya, institusi pendidikan (sekolah) menganggapnya sama saja.

Pendidikan bertujuan membangun etika, moral (budi pekerti), sedangkan Pengajaran bersifat transfer knowledge/memberitahu dengan tujuan membangun intelektualitas. Selama ini sekolah hanya memberikan pengajaran, tetapi kurang memberikan pendidikan, atau mungkin memberikan dalam porsi kecil, bukan sebagai muatan utama. Dan bila terjadi masalah budi pekerti, kebanyakan sekolah akan melimpahkan tanggungjawab pada orangtua, padahal orangtua sendiri sudah merasa menyerahkan pendidikan sang anak kepada sekolah.

Inikah Potret Buram Pendidikan Indonesia?

Kemudian, Ayah Edy mulai bergerak pada slide presentasi. Sebagai pembuka, beliau menampilkan foto anak-anak SD yang berkumpul merayakan kelulusan sekolah dengan mencorat-coret baju seragam. Beliau mengatakan; padahal dulunya, corat-coret seragam ini dilakukan oleh anak SMA, lalu menurun ke anak SMP, hingga sampailah budaya ini kepada anak SD. Kemudian, slide-slide perilaku pelajar jaman sekarang menyusul ditayangkan; seperti menyatakan cinta di muka umum (di lingkungan sekolah) yang dilakukan oleh pelajar SMA, hingga foto berita anak usia SD yang nekat menaiki tower dan mengancam bunuh diri, karena patah hati. Berdasarkan contoh-contoh kasus tersebut, terbacalah pola; jika suatu perilaku dilakukan oleh pelajar tingkat SMA, maka berikutnya akan menurun/terwariskan pada tingkat-tingkat di bawahnya, yaitu SMP dan SD. Apakah mungkin perilaku itu ‘terwariskan’ hingga jenjang TK? Mungkin sekali. Kita semua tak bisa memungkiri kenyataan memang telah ada fenomena ‘cinta-cintaan’ di kalangan murid-murid TK.

Merenungkan hal ini saja, orangtua sudah merasa resah. Belum lagi fenomena kelulusan sekolah yang dirayakan dengan hura-hura bersepeda motor memenuhi jalan raya, tentu saja mengabaikan segala peraturan yang ada. Kemudian, di You Tube, kita bisa saksikan kasus-kasus bullying yang bahkan sudah merambah ke tingkat SD. Bukankah sebagai hasil/lulusan produk pendidikan, seharusnya para pelajar tersebut berperilaku sebagaimana orang yang terdidik/terpelajar?

Sakitnya Tuh Di Sini!

Potret buram pendidikan Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Ayah Edy juga menampilkan video tentang fenomena para pelajar SD yang berjoget seronok dengan iringan lagu Sakitnya Tuh Di Sini. Jelas sekali, lirik lagu tersebut mengandung pembelajaran negatif bagi anak-anak belia tersebut. Ayah Edy mengilustrasikan, ingin mengadukan fenomena ini pada para guru. Namun setelah tampil video berikutnya, ternyata para guru juga sedang asyik berjoget seronok dengan iringan lagu yang sama. Kalau begitu, haruskah dilaporkan ke pihak berwajib? Video berikutnya menjawab; dengan gaya sigapnya, para pihak berwajib juga sedang berjoget iiringi lagu yang sama! Maka, jalan terakhir adalah mengeluhkan fenomena ini pada pihak paramedis/dokter yang mungkin bisa memberikan pencerahan dari sisi ilmu kesehatan. Tetapi, yang membuat terhenyak adalah, video selanjutnya juga menampilkan paramedis yang berjoget kenes dengan iringan lagu sama. Akhirnya, Ayah Edy memilih untuk tobat kepada Tuhan dan berintrospeksi bahwa bangsa Indonesia memang sedang sakit dan kita harus berbuat sesuatu.

Hasil survey Komnas Anak terhadap Perilaku Seksual Remaja SMP-SMA tahun 2010

93,7% pernah berciuman, petting, oral seks

62,7% remaja SMP tidak perawan

21,2% Remaja SMU pernah aborsi

97% remaja pernah menonton video porno

Bagaimana hasil survey tahun 2015 nanti? Menurun ataukah bertambah parah?

Inilah hasil sistem pendidikan yang mengabaikan aspek pendidikan itu sendiri dan hanya mengejar intelektualitas. Anak-anak pintar, namun kosong jiwanya. Sesuai dengan kondisi seksual remaja yang sedang mengalami perkembangan pesat, maka kekosongan jiwa ini mereka isi dengan perilaku seksual yang tak terarah. Lalu bagaimana caranya mengatasi hal tersebut? Menurut pengalaman Ayah Edy, beliau menyarankan agar orangtua membantu dan membimbing anak untuk menemukan passion-nya. Bila sudah menemukan passion hidupnya, tanpa dilarang pun, anak akan memilih passion daripada kegiatan pacaran.

Bersambung ke bagian 2: Pondasi Paling Penting: Budi Pekerti atau Intelektualitas?

[ Eryani Widyastuti ]

* Ditulis berdasarkan penafsiran pribadi terhadap materi seminar yang disampaikan oleh Ayah Edy.

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

7 thoughts on “Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar dan Berkarakter? (Bagian 1)

  1. Pingback: Merasa Aktivis? | Achmad Zulfikar Fawzi

  2. Pingback: Merasa Aktivis |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s