Cerita Rakyat; Benarkah Untuk Anak-Anak?


cerita rakyat turki

 

(Belajar Dari Proses Penulisan Buku Pertama Saya: Cerita Rakyat Turki, Penerbit Andi, 2015)

Dari dulu, saya selalu bertanya-tanya tentang ‘status’ cerita rakyat yang sering dikategorikan sebagai cerita untuk anak-anak. Padahal, jika mau memperhatikan, hampir seluruh cerita rakyat berkisah jauh dari keseharian anak-anak. Tak jarang kita menemukan kisah cinta lelaki-perempuan dewasa, kisah kekejaman, kisah kejahatan, atau kebaikan yang sebenarnya lebih menggambarkan kehidupan orang dewasa.

Ketika saya menulis buku ini 1-2 tahun lalu, saya menemukan jawabannya dari Ignac Kunoz, seorang penghimpun cerita rakyat Turki yang hidup di zaman lampau. Dalam kata pengantar buku Forty Four Turkish Fairy Tales, ia menulis: “Seperti semua cerita rakyat yang sesungguhnya, cerita-cerita ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak. Meski begitu, anak-anaklah yang paling tertarik dengan cerita-cerita rakyat, kemudian, baru para wanita.”

Dari sini saya sadar, bahwa menulis cerita rakyat untuk anak haruslah sangat berhati-hati, sebab bahan dasarnya tidaklah diperuntukkan untuk anak-anak. Apalagi, saat itu, agen naskah mensyaratkan kategori cerita yang bisa dibaca oleh anak-anak dan orang dewasa. Hati saya langsung terbelah. Bagaimana bisa menulis cerita yang diperuntukkan bagi dua segmen pembaca yang kematangannya berbeda jauh? Menulis cerita rakyat untuk anak saja sudah merupakan kesulitan tersendiri.

Meski menemui banyak kesulitan, saya berusaha tetap mempertahankan prinsip yang saya pakai dalam menulis buku ini. Prinsip saya adalah: menonjolkan pesan moral, meminimalisir istilah/adegan kekerasan/percintaan, dan memfokuskan cerita pada alur imajinasinya. Oleh karena itu, saya benar-benar berhati-hati dalam proses pemilihan bahan dasar cerita. Tidak asal comot ‘yang penting Turki’.

Dengan segala keterbatasan saya dalam menulis, pemilihan kata dan penyusunan kalimat pun sungguh-sungguh saya pertimbangkan supaya tidak terlalu ‘kekanak-kanakan’, juga tidak terlalu ‘mendewasa’, dengan tetap mempertimbangkan ‘aura dongeng’ dan kekhasan Turki dalam buku ini.

Akhirnya, saya pun berhasil menyelesaikan 12 cerita rakyat Turki. Berikut judul-judulnya:

1. Kisah Tuan Kemal dan Keluarga Hasan. Berkisah tentang keluarga miskin yang diharuskan membayar denda berupa koin emas, hanya gara-gara mencium bau masakan tetangganya yang kaya raya.

2. Kisah Leila dan Sang Ratu Malam. Berkisah tentang seorang gadis baik hati yang dibuang ke hutan oleh kakak-kakaknya, hingga akhirnya diselamatkan Sang Ratu Malam.

3. Kara Mustofa, Sang Pahlawan. Kisah seorang penakut yang bercita-cita menjadi pahlawan hebat, melawan para Dew (monster Turki).

4. Balas Budi Burung Gagak. Kisah seorang pemuda yang beruntung mendapatkan banyak pertolongan ajaib dari seekor burung gagak.

5. Kisah Pemanah dan Peniup Terompet. Kisah dua orang kawan yang mempunyai keahlian berbeda dalam peperangan.

6. Kamer-Taj, Sang Kuda Rembulan. Kisah pengorbanan seekor kuda ajaib terhadap keluarga sultan.

7. Kisah Pemuda Tanpa Rasa Takut. Kisah seorang pemuda yang melakukan pengembaraan demi menemukan rasa takut.

8. Kisah Si Cantik Mawar. Kisah seorang putri yang mengeluarkan kuntum mawar bila berbicara dan mengeluarkan butiran mutiara bila menangis.

9. Kisah Harta Karun Murat. Kisah seorang lelaki tua yang bermimpi menemukan harta karun di bawah kaki piramida Mesir.

10. Kisah Deli Dumrul dan Malaikat Maut. Kisah tentang seorang ksatria perkasa melawan Malaikat Maut.

11. Kisah Putri Bisu. Kisah perjuangan seorang pangeran demi menemukan Putri Bisu yang penuh teka-teki. (klik judul untuk membaca kisahnya)

12. Kisah Si Gundul dan Segel Ajaib. Kisah seorang pemuda gundul baik hati yang berubah hidupnya karena mendapatkan sebuah segel ajaib dari Raja Ular.

Dari proses penulisan keduabelas kisah tersebut, saya mendapatkan pelajaran berharga; bahwa patutlah kita meneliti terlebih dahulu isi buku yang hendak kita bacakan untuk anak-anak. Pertimbangkanlah muatan dan cara penuturannya, apakah sudah sesuai dengan kematangan usia anak kita? Terutama bagi anak-anak yang berusia di bawah tujuh tahun. Bila dirasa kurang sesuai, tetapi cerita tersebut memiliki pesan bagus atau kisah yang memikat, lebih baik gubah sendiri ceritanya. Kemudian, tuturkan kembali dalam bahasa kita sendiri.

Mengingat betapa banyak kekurangan saya dalam proses penulisan, saya sangat berharap; semoga, Allah berkenan mencondongkan hati para pembaca kepada nilai-nilai kebaikan dalam buku ini. Amin.  

Buka Dongeng.jpg

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca resensi-resensi buku lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s