PENDIDIKAN KARAKTER (Wawancara Early Childhood Today dengan Thomas Lickona, Ph.D)


 

thomas lickona

Beberapa masa terakhir ini, kita pasti sering mendengar tentang istilah Pendidikan Karakter.

Pendidikan Karakter dinilai mampu memberikan jawaban atas coreng-moreng jelaga di wajah pendidikan Indonesia, di mana bertebaran tragedi-tragedi yang memiriskan hati masyarakat (terutama orangtua), seperti kasus bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional, kasus asusila dan kekerasan di lingkungan sekolah, kecurangan sistemik dalam ujian sekolah, dan masih banyak lagi.

Semoga wawancara Early Childhood Today dengan Thomas Lickona, PhD.* bisa membantu kita untuk lebih memahami makna Pendidikan Karakter dan implementasinya secara nyata.

Selamat menyimak!

 

*Dr. Thomas Lickona adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan profesor pendidikan dari State University Of New York di Cortland. Sekarang, beliau memimpin Center for the Fourth and Fifth Rs (Respect and Responsibility) dan duduk dalam jajaran direktur Character Education Partnership. Wawancara asli dimuat pada bulan April 2000 oleh Early Childhood Today.

—–

 

Sebagai pendidik, apakah peran kita dalam pembentukan karakter moral seorang anak?”

Early Childhood Today (ECT) menanyakan hal ini kepada salah seorang ahli pendidikan karakter Thomas Lickona, PhD. (Lickona). Berikut wawancaranya:

 

ECT: Mengapa pendidikan karakter sangat penting untuk anak-anak kita?

LICKONA: Peradaban mengalami kemunduran seiring memburuknya pondasi moral. Salah satu tanggungjawab pokok yang paling utama dari orang dewasa adalah menopang peradaban dengan cara mewariskan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam masyarakat.

 

ECT: Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan Pendidikan Karakter?

LICKONA: Saya percaya bahwa pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk menyuburkan nilai-nilai kebajikan – yaitu, kualitas kebaikan dalam diri manusia yang bermanfaat bagi individu maupun seluruh masyarakat. Hal ini tidak bisa terjadi tanpa sengaja atau otomatis. Melainkan, merupakan hasil dari usaha keras yang dilakukan terus-menerus.

 

ECT: Bagaimana cara anak-anak mengembangkan karakter yang baik?

LICKONA: Biasanya, anak-anak akan menjadi orang yang berkarakter ketika mereka tumbuh dalam komunitas yang berkarakter pula. Dalam komunitas ini terdapat usaha-usaha yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, gereja, masjid, kuil, media, pemerintah, liga olahraga, serikat perdagangan – semua pihak yang memiliki kesempatan untuk mempengaruhi nilai-nilai yang dianut anak muda – selain sebagai teladan, juga mengajarkan kualitas-kualitas karakter ini. Ini adalah sebuah tantangan yang sangat besar. Dan, telah kita saksikan, setidaknya dalam tiga dekade, sebuah penurunan kualitas moral dalam kehidupan sehari-hari, yaitu hal-hal simpel semacam etika bermasyarakat, perilaku di area umum, dan kesopanan dalam berkendara. Butuh usaha yang besar untuk mengembalikan struktur moral ini.

 

ECT: Nilai-nilai mana yang diutamakan?

LICKONA: Saya lebih memilih untuk memasukkan kualitas seperti kejujuran, kasih sayang, keberanian, kebaikan, pengendalian diri, kerjasama, ketekunan atau kerja keras. Semua ini adalah kualitas-kualitas yang kita butuhkan baik untuk meraih kebahagiaan hidup maupun supaya bisa hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis dan produktif.

 

ECT: Bagaimana nilai-nilai kebajikan ini bisa diajarkan di sekolah?

LICKONA: Pendidikan karakter mengembangkan nilai-nilai ini lewat setiap fase dalam kehidupan sekolah. Yang kami lakukan; kami mempromosikan apa yang disebut sebagai ‘pendekatan menyeluruh terhadap pendidikan karakter’. Kami mendorong sekolah untuk berpikir tentang kehidupan moral dalam kelas-kelas atau sekolah secara keseluruhan. Komponen-komponen kelas -termasuk guru sebagai teladan- mengembangkan moral dalam komunitas kelas, hubungan kelompok remaja yang positif, menggunakan disiplin sebagai alat untuk mengembangkan karakter, dan membangun kelas yang demokratis, sehingga anak akan merasa terlibat dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah nyata di kelas.

 

ECT: Mengapa keterlibatan dua pihak -yaitu rumah dan sekolah- menjadi begitu penting dalam pembimbingan karakter anak?

LICKONA: Menurut sejarah, pembentukan karakter pada anak dilakukan oleh tiga institusi berikut: rumah, agama, dan sekolah. Ketiga institusi ini bekerjasama mewariskan nilai-nilai untuk membentuk karakter generasi selanjutnya. Keluarga yang meletakkan pondasi, kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh agama dan sekolah.

Para orang dewasa harus bersatu untuk memaksimalkan kesempatan memiliki sebuah generasi anak muda yang cukup matang dan cukup baik untuk membangun masa depan bersama-sama pada abad berikutnya. Pembentukan organisasi kemitraan sangat penting di sini. Character Education Partnership , organisasi kemitraan nasional pengusung pendidikan karakter yang ternama saat ini, disebut-sebut berhasil menyampaikan sebuah pesan yang amat jelas, bahwa pendidikan karakter bukanlah tugas sekolah, keluarga, ataupun agama saja.

 

ECT: Bisakah anda memberikan beberapa contoh kerjasama positif antara orangtua dan guru?

LICKONA: Beberapa contoh adalah: sekolah-sekolah mengkomunikasikan kepada orangtua bahwa keluarga adalah pendidik utama karakter seorang anak, membantu para orangtua untuk menyadari betapa kuat mereka, menginformasikan beberapa penelitian dasar yang menunjukkan berapa banyak perbedaan dapat dibuat oleh orangtua jika mereka mau menghabiskan waktu bersama anak-anak.

 

ECT: Bagaimana sebaiknya kita menanggapi pengaruh-pengaruh buruk dari media?

LICKONA: Media telah muncul sebagai sebuah institusi sosial yang kuat dan penuh persaingan dalam menarik perhatian anak-anak. Media elektronik memiliki porsi pengaruh yang sangat besar.

Untuk hal ini, sekolah bisa membantu lewat beberapa cara. Contoh singkat; guru dan sutradara bisa bekerjasama mengembangkan ‘melek media‘ untuk mendorong anak berpikir kritis terhadap acara TV atau film yang mereka tonton. Sekolah bisa mendorong orangtua untuk memonitor tontonan anak, memastikan bahwa acara-acara itu membawa pesan-pesan positif, dan bukan negatif. Akhirnya, sekolah juga bisa mendorong orangtua untuk mengurangi porsi menonton televisi keluarga mereka. Beberapa pimpinan sekolah dasar mengirim surat yang berbunyi, “Jika putra-putri anda masih duduk di kelas dua atau lebih muda lagi, kami menyarankan anda untuk membatasi waktu menonton televisi hingga ½ jam sehari. Jika putra-putri anda duduk di kelas tiga ke atas, maksimal 1 jam sehari.” Para pimpinan sekolah itu juga memberikan alasan rasional: “Kami menemukan bahwa anak yang menonton televisi dengan durasi lebih sedikit, biasanya rajin mengerjakan PR dan mempunyai waktu tidur yang lebih banyak, dan biasanya lebih jarang berkelahi dan bertengkar dengan kawan-kawannya.”

 

ECT: Apa saran anda untuk para guru atau orangtua yang ingin memulai program pendidikan karakter?

LICKONA: Bentuklah sebuah komite kepemimpinan yang mencakup pemimpin administrasi, beberapa pengajar yang berpengaruh, staf pendukung semacam konselor, pengasuh dan orangtua. Secara alternatif, sebuah sekolah bisa mendirikan dua komite kepemimpinan: satu komite beranggotakan staf sekolah, sedangkan yang satu lagi beranggotakan para orangtua. Seorang perwakilan orangtua dapat melayani di kedua komite.

Tugas orangtua di sini adalah untuk mengumpulkan masukan dari orangtua lain, menginformasikan para orangtua tentang tujuan program pendidikan karakter, dan mengirim materi ke rumah, supaya orangtua mampu memperkuat nilai-nilai moral yang telah diajarkan di sekolah. [ ]

 

Diterjemahkan bebas oleh Eryani Widyastuti dari sumber: http://www.scholastic.com/teachers/article/ect-interview-thomas-lickona-phd-talks-about-character-education

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca pemikiran-pemikiran lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

One thought on “PENDIDIKAN KARAKTER (Wawancara Early Childhood Today dengan Thomas Lickona, Ph.D)

  1. Pingback: Pilih Anak Pintar Atau Anak Berkarakter? Atau, Anak Pintar Dan Berkarakter? (Bagian 2) | Jejak-Jejak Embun Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s