Kado Untuk Ibu


kado untuk ibu

SATU

Cici sedang asyik bermain masak-masakan di halaman belakang, ketika Ayah menghampirinya.

“Hari ini Ibu berulangtahun, lho! Ayah akan menyiapkan pesta kecil di rumah. Sedangkan tugasmu, membelikan kado untuk Ibu. Ini uangnya.” bisik Ayah.

“Oooh…tugas rahasia ya, Yah? Asyiiik!” seru Cici senang.

“Ssttt…!” Ayah menoleh kanan-kiri, takut kalau Ibu mendengar rencana pesta kejutan ini.

Setelah berpamitan pada Ayah, Cici pun pergi keluar rumah. Sepanjang perjalanan, ia bernyanyi-nyanyi penuh semangat. “Aku pasti akan membelikan kado yang paling bagus buat Ibu!”

Tak lama kemudian, Cici memasuki daerah pertokoan. Ia memandang sekeliling. Berbagai macam toko berderet-deret, seolah memanggil-manggil Cici untuk masuk dan melihat isinya.

“Kado apa yang bagus ya?” Cici terus melangkah, menyusuri trotoar di sepanjang pertokoan.

 

DUA

Tak sengaja, mata Cici tertumbuk pada sebuah benda biru lembut nan empuk di sebuah etalase toko. Sebuah boneka beruang yang lucu.

“Ah, bagus sekali…” Cici langsung jatuh cinta pada boneka itu. “Hmm…ini akan menjadi kado terbaik!”

Maka Cici pun membeli boneka beruang biru itu.

“Uang dari Ayah masih sisa! Aku dapat diskon dari pemilik toko, ketika aku bilang ini hadiah untuk Ibu. Aku memang pintar! Hihi!”

Tak lama kemudian, Cici melewati sebuah toko hewan peliharaan. Ia tertarik masuk untuk melihat hewan-hewan yang lucu. Ada hamster, kucing, anak anjing, kura-kura, dan…oh! Seekor ikan mas koki bermata bulat, gemuk, dan lincah berenang ke sana kemari. Terlalu sayang untuk pulang tanpa membeli ikan itu.

Tapi, ia kan sudah membeli boneka untuk kado Ibu….

“Apa salahnya membeli dua kado? Apalagi kalau kadonya bagus-bagus.” gumamnya.

Sekali lagi, Cici menghitung sisa uang dari Ayah. Ah, cukup! Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Cici pun membeli ikan mas koki itu.

Dua kado yang hebat!” Cici tersenyum puas ketika keluar dari toko hewan peliharaan. “Sekarang, waktunya pulang!”

Cici bernyanyi-nyanyi riang, kembali menelusuri trotoar pertokoan, menuju rumah. Membayangkan wajah gembira Ibu saat membuka kado-kado ini nanti.

Tapi… eh, apa itu? Ada bulatan-bulatan berwarna-warni sebesar kelereng, dalam toples kaca di sebuah toko grosir. Permen! Mmm…pasti manis sekali rasanya….

Cici teringat uang pemberian Ayah, lagi-lagi menghitung sisanya. “Kalau begitu, semua sisa uang ini aku belikan permen saja. Jadi ada tiga kado hebat untuk Ibu!” Cici mengangguk-angguk mantap.

Namun, sepanjang perjalanan pulang, hati Cici merasa gelisah. Sepertinya, ada yang salah dengan kado-kado ini. Apa ya?

Padahal, Cici tidak hanya mempunyai satu kado, tapi tiga kado malah! Semuanya Cici suka. Semua bagus-bagus!

Ia berpikir lagi, “Boneka….ikan mas koki….permen….ah tunggu! Semuanya kan kesukaanku! Bukan kesukaan Ibu! Aduh…aku telah salah membeli hadiah!!”

 

TIGA

Cici bingung bukan kepalang. “Uang pemberian Ayah sudah habis! Bagaimana caranya supaya aku bisa membeli kado kesukaan Ibu, ya?”

Syu… syu…

Angin sepoi-sepoi mengarahkan pandangan Cici pada sebuah kebun berpagar kayu di sampingnya. Dalam kebun itu, berderet rapi tanaman bebungaan Lili Putih yang cantik, bergoyang-goyang lembut tertiup angin.

Ini adalah kebun bunga Lili milik Bibi Lili… indahnya…

Cici berhenti sebentar, mengagumi kebun bunga itu. Tiba-tiba… Aha! Ia ingat bahwa Ibu sangat menyukai bunga Lili Putih!

Lekas-lekas, ia memasuki kebun dan menyapa Bibi Lili, bermaksud meminta beberapa potong bunga.

“Oh, kado untuk Ibu, ya? Ambillah sesukamu, Cici.” kata Bibi Lili ramah.

“Terima kasih, Bibi!” Cici merasa senang sekali. Berkat kebaikan hati Bibi Lili, ia bisa mendapatkan kado kesukaan Ibu.

Sambil memeluk semua kado yang ia punya, Cici berjalan cepat menuju rumah. Ketika sampai, dilihatnya Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang makan. Ruangan itu tampak meriah dihiasi pita-pita dan balon-balon oleh Ayah.

“Nah, ini dia kadonya datang!” sambut Ayah senang.

“Selamat ulang tahun ya, Bu! Cici sayang Ibu!” Cici meletakkan tiga kado yang dibelinya tadi di meja makan, mencium pipi Ibu, dan memberikan buket bunganya.

“Waah, ada bunga Lili Putih yang cantik! Terimakasih, ya?” Ibu tampak sangat bahagia.

“Lalu… tiga kado ini untuk siapa?” tanya Ayah bingung, melihat tiga buah kotak berwarna cerah yang dibawa Cici tadi.

“Nggg… semuanya buat Ibu!” Seru Cici.

Ibu mengangguk-angguk senang. Dan, ketika semua kado-kado itu dibuka….

“Ooo, benar-benar hadiah yang istimewa ya? Pasti ini pilihan Cici sendiri.” Ibu tertawa kecil, dengan agak heran, mengamati kado-kado itu. Sebuah boneka beruang biru, seekor ikan mas koki lucu, dan sekantung permen bulat warna-warni.

“Betul! Istimewa ya?”Cici tersenyum malu-malu.

Diam-diam, ia berjanji dalam hati. Lain kali, bila memilih kado untuk seseorang, ia tidak akan memikirkan kesukaannya sendiri. Melainkan, memikirkan apa yang disukai oleh orang itu.

 

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca dongeng-dongeng lain? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s