Jejak Tinju Pak Kiai (Emha Ainun Nadjib – 2009)


Jejak tinju pak kiai

 

 

Buku ini dibuka dengan cerita seorang Kiai yang menonton pertandingan tinju di televisi, antara George Foreman dan Muhammad Ali. Pak Kiai begitu memuja Muhammad Ali, tetapi bersorak-sorai ketika Ali dipukul habis-habisan oleh Foreman, dan malah jatuh pingsan saat Ali menjatuhkan Foreman. Apa pasal? Rupanya, Pak Kiai salah mengira Foreman itu sebagai Ali!

Cerita ini mengingatkan saya pada orang-orang yang seharusnya mewakili kepentingan rakyat. Betapa seringnya kita jumpai mereka yang duduk di sana salah mengira, bahwa kursi-kursi itu adalah tempat untuk mencari uang, memakmurkan diri sendiri. Salah mengira bahwa kepentingan kelompoknya berada di atas kepentingan rakyat. Tapi, jika Pak Kiai tidak sengaja salah mengira Foreman sebagai Ali; maka mereka yang menjadi penyambung lidah rakyat malah melakukan kesalahan itu dengan sadar. Kepentingan rakyat hanya dijadikan topeng pemanis. Bukan menjadi tujuan utama.

Lagu Gundul-Gundul Pacul benar-benar menjadi kenyataan. Lagu kuno tentang seorang bocah gundul yang membawa bakul berisi nasi di atas kepala. Karena main-main, bakul nasi itu terguling, dan isinya berserakan di tanah. Kesejahteraan rakyat gagal dicapai.   Begitu pula dengan kita yang selalu bertengkar, mempermasalahkan perbedaan agama, aliran, dan lain sebagainya. Saudara yang seharusnya kita rangkul dan kita bimbing dengan cinta, malah kita cabik-cabik hatinya dan kita remukkan kehidupannya. Bukankah, perbedaan itu adalah fitrah dari Yang Maha Kuasa? Perbedaan itu tidak akan bisa dihapuskan dari muka bumi, sebab perbedaan adalah suatu keniscayaan. Bukan perbedaan yang menjadi masalah, namun cara kita memandang dan menyikapi perbedaan yang seringkali tidak tepat.

Jangan sampai kita masuk golongan manusia haram. Yang keberadaannya di bumi malah merugikan, dan lebih baik tidak ada. Juga lebih baik tidak tergolong sebagai manusia halal. Yang ada atau tidak eksistensinya, tidak membawa keuntungan bagi lingkungannya. Lebih mending kita menjadi manusia sunnah, yang kehadirannya membawa kebaikan, walaupun jika tidak ada pun tidak masalah. Dan, paling baik, jadilah manusia wajib. Jika ia ada, maka kehadirannya membawa banyak manfaat. Dan jika ia tidak ada, maka bumi dan seisinya akan merasa rugi, rindu, dan kehilangan.

 

Pilihan ada di tangan kita masing-masing.

 

[ Eryani Widyastuti ]

 

———————————————————————————————————-

Ingin membaca resensi-resensi buku lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s