Miss Boy


Miss Boy

 

Bunda, aku mau mainan masak-masakan seperti punya Kak Nisa!

Kan, kemarin Boy sudah dibelikan mobil-mobilan oleh Ayah.

Aku tidak suka mobil-mobilan! Aku maunya masak-masakan!

Ih, Adek! Kalau laki-laki ya main mobil-mobilan! Kalau perempuan seperti aku, baru mainnya masak-masakan!

Boy bencong! Boy bencong! Boy bencong….!

Boy! Kamu itu cowok apa cewek, sih? Yuuuuk…Hahaha!

Boy! Mendingan, kamu ikutan ekstrakurikuler basket saja. Badan kamu kan tinggi.

Enggak, Do. Aku enggak tertarik. Lagipula, aku sudah ikut ekstra Tata Boga.

Ha? Serius? Itu kan kelas memasak buat para cewek! Hati-hati, deh, Boy. Lama-lama keterusan jadi cewek entar! Payah, nih!

Awan-awan putih di seberang jendela kamarku bergerak lambat tertiup angin siang. Aku merenung dan merenung. Setiap sebuah gumpalan awan bergerak membentur gumpalan awan yang lain, maka keduanya akan bersinergi. Menjadi bentuk yang baru. Aku mengamati dari kamarku di lantai dua. Kadang-kadang, awan-awan itu berbentuk seperti anjing lucu, wajah manusia, jamur raksasa…

Ada juga yang tak menyerupai bentuk apapun. Tak dapat diidentifikasi. Seperti aku.

Sejak kecil, seingatku, aku memang seperti ini. Sangat tertarik dengan hal-hal feminin. Di rumah, dibandingkan kakak perempuanku, akulah yang lebih rajin membantu Bunda di dapur untuk memasak, dan juga paling rajin membersihkan rumah. Tak hanya itu. Aku juga suka kegiatan-kegiatan seperti menjahit, menyulam, merawat anak kecil, dan mengobrol dengan para perempuan. Jika ditanya mengapa, aku sendiri tidak tahu. Aku suka. Itu saja.

Halo Boy….” Beberapa teman lelakiku di sekolah sering memanggilku dengan nada menggoda. Seperti tengah menggoda seorang perempuan.

Apa….” Sahutku ketus.

Kok bete begitu, Boy? Lagi dapet, ya? Cepetan minta itu ke ruang kesehatan!” Celetuk salah satu dari mereka. Tawa mereka pun meledak.

Hei, kalian ini! Enggak ada kerjaan apa??” Intan, teman sekelasku, sekaligus teman mainku sejak kecil, membentak para anak lelaki itu. Keisengan mereka semakin menjadi-jadi. Menyebut Intan sebagai Peri Tomboy.

Boy! Lawan, dong! Badan kamu kan lebih tinggi dari mereka!” Intan bersungut-sungut, mengepal-ngepalkan tangannya. Dia kelihatan lebih jengkel daripada aku.

Sudah biasa, In. Biarin saja. Tidak ada gunanya menanggapi. Enggak penting.” Sahutku menahan emosi.

Sebenarnya, bukannya enggak penting. Tapi, meladeni kata-kata mereka akan membuatku lebih sakit hati lagi. Ya, dibandingkan mereka, suaraku memang lebih lembut, dan gaya bicaraku lebih cerewet. Tingkah lakuku lebih luwes. Tapi, apa itu salah? Aku begitu sejak lahir. Dan, keluargaku tidak mempermasalahkan hal itu. Jadi, kenapa orang lain harus repot-repot mengomentari aku?

Oh, iya.” Aku teringat sesuatu. Aku bergegas keluar kamar, dan meluncur ke bawah melewati anak-anak tangga. Mencari Bunda.

Bunda, Bunda! Bunda kemarin kan beli sandal baru. Mana?” Tanyaku, ketika berhasil menemukan beliau di ruang keluarga, sedang merajut.

Bunda mengernyit heran. “Mau buat apa?”

Aku tersenyum. “Harus dijahit ulang, kan, Bun! Supaya lebih kuat dan tidak gampang rusak seperti sandal Bunda yang kemarin. Nanti, Bunda sedih lagi, kalau sandalnya rusak.”

Mata Bunda berbinar. Menepuk-nepuk pipiku. “Kamu ini memang paling tahu hati Bunda!”

Aku meringis senang. “Sekalian, aku mau antar makanan untuk Mbah Sariyem di belakang rumah Intan. Kasihan lho, Bun. Sekarang, anak tunggalnya pergi kerja ke Malaysia. Mbah Sariyem sendirian di rumah. Pasti senang kalau ada yang mengunjungi.”

Hmm…boleh-boleh. Tapi, sholat Dhuhur dulu ya?”

Aku mengangguk.

Cepat-cepat aku menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, melewati ruang makan. Ada sebuah foto tergantung di dinding. Foto gagah Ayah dengan seragam kerja kebanggaannya.

Kapan ya Ayah akan pulang? Tahun kemarin, hanya sekali. Tahun ini?

Ayahku seorang pelaut. Beliau jarang sekali pulang. Aku sangat merindukannya. Selalu.

Boy, tolong dong! Kancing bajuku lepas. Jahitkan, ya? Daripada melamun.” Kak Nisa muncul dari belakangku sambil membawa sebuah jarum, segulung benang, dan selembar kemeja perempuan warna pink.

Dijahit sendiri, dong, Kak! Aku mau sholat, nih!” Sahutku enggan. Biarpun perempuan, tapi kakakku adalah orang paling malas di rumah ini.

Ayo dong, Adek…” Rayunya.

Aku memandang wajah memelas Kak Nisa sebentar. Huh.

Sini.” Aku menyahut barang-barang di tangannya, mengambil tempat duduk, dan mulai menjahit kancing baju Kak Nisa yang lepas. Jari-jariku bergerak turun naik, menusukkan jarum yang melompat-lompat dari lubang kancing satu ke lubang kancing lain.

Kamu kan sudah lulus SMA, nih. Nanti kuliah, ambil jurusan apa, Dek?” Tanya Kak Nisa bermanis-manis.

Aku terdiam.

Pariwisata.” Jawabku sekenanya.

Dan, ternyata kata-kataku sendiri adalah ramalan masa depanku. Tak lama kemudian, aku diterima di jurusan Pariwisata dan Perhotelan. Sekarang, aku sedang menjalani program magang di sebuah hotel berbintang empat yang terkenal. Di sini, aku merasa seperti menemukan duniaku. Aku senang berbicara dengan banyak orang dan melayani mereka dengan kesungguhan hati. Sungguh, senyum puas di wajah para tamu adalah kepuasan batin bagiku.

Boy, elu pantesnya jadi cewek. Bukan jadi cowok.”

Aku menoleh.

Kalau elu cewek, elu pasti pasti banyak yang naksir. Elu tinggi, putih, dan pinter nyenengin hati orang.” Kata Bang Brian, salah satu pegawai di hotel ini. Dia yang menjadi penanggungjawabku selama di sini.

Saat jam istirahat siang, kami sering mengobrol berdua di bawah tangga hotel.

Bang Brian sudah sepuluh tahun bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata. Bagaikan kutu loncat, dia pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia bahkan pernah bekerja di Dubai! Keren, kan? Aku sangat senang mendengarkan cerita-cerita tentang pengalaman serunya.

Namun, hari ini, ceritanya berbeda. Bukan tentang pengalamannya. Tapi, tentang aku.

Aku? Jadi perempuan? Ide macam apa itu??

Tulang-tulangku langsung ngilu mendengarnya. Untung yang berbicara ini adalah Bang Brian yang kukagumi. Kalau bukan, sudah kutinggal pergi.

Aku memandang lekat-lekat ke arah Bang Brian. Dia tipe lelaki bersih dan rapi yang tersentuh oleh sedikit aroma pemberontakan dengan memasang tindik kecil di telinga kanan.

Maksud Abang apa?” Tanyaku dengan nada dalam. Aku teringat ejekan teman-teman sekolahku.

Di dunia ini, enggak cuma ada manusia jenis cewek atau cowok aja. Ada yang lain. Yang orang-orang enggak mau akuin bahwa mereka ada.” Bang Brian menghisap rokoknya dalam-dalam.

Maksud Abang seperti apa?”

Yah, kadang Tuhan itu memasukkan jiwa laki-laki ke dalam tubuh perempuan. Dan sebaliknya, memasukkan jiwa perempuan ke dalam tubuh laki-laki. Ngerti, nggak?”

Aku termangu, berusaha mencerna kata-kata Bang Brian.

Gue yakin. Elu pasti banyak ngalamin diejek-ejek orang karena elu berbeda dari laki-laki kebanyakan. Elu pasti tersiksa dengan keadaan ini, jauuuh di dalam hati lu. Iya kan? Padahal, elu berhak jadi apapun yang lu mau. Jadi diri lu sendiri. Sori kalau gue ngomong apa adanya.”

Bang. Jadi, menurut Abang, aku ini manusia jenis apa? Maksud Abang, aku ini perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki??” Aku menanggapi kata-katanya dengan perasaan tak nyaman.

Tidak. Aku tidak sedang marah ataupun sakit hati dengan kata-kata Bang Brian. Karena aku tidak menangkap ada ejekan dalam perkataannya. Hanya, aku benar-benar merasa asing dengan ide dan istilah-istilah yang digunakan oleh Bang Brian.

Aku bingung!

Semacam itulah. Seandainya lu ada di dalam tubuh seorang perempuan, pasti enggak akan ada yang ngejekin lu.” Bang Brian merunduk, menginjak rokoknya sampai mati.

Jadi, Tuhan salah memasukkan aku ke tubuh laki-laki? Apa Tuhan bisa salah, Bang?” Aku memburunya dengan pertanyaan lain.

Dia mengangkat bahu. “Elu tanya aja ke Tuhan.”

Ha?? Bagaimana aku bisa bertanya kepada Allah? Allah tidak mungkin berkata; Hei Boy. Bang Brian itu benar. Atau; Hei, Boy. Jangan dengarkan omongan Bang Brian. Apa bisa aku bertanya kepada Allah? Apa bisa? Bukankah–, seharusnya bisa?

Aku terbangun tengah malam. Kepalaku berdenyut-denyut. Keringat membasahi leher t-shirtku. Hawa panas di musim kemarau membuat tidur malamku terganggu. Membuatku bermimpi buruk. Aku bermimpi sholat di masjid dengan memakai mukena di antara para jamaah laki-laki.

Perutku mual.

Mungkin bukan salah musim kemarau. Ini pasti gara-gara perkataan Bang Brian tadi siang. Aku mengambil air wudhu, dan memutuskan untuk sholat tahajud. Aku akan bertanya pada Allah tentang pendapat Bang Brian. Aku akan bertanya tentang siapa aku sebenarnya. Kenapa aku berbeda. Dan, kenapa Allah menciptakan aku seperti ini.

Aku akan terus bertanya kepadaNya. Walaupun aku tidak tahu, bagaimana cara Allah akan menjawab pertanyaanku.

Ternyata, hanya sepi yang kutemui,

Tapi, aku tidak menyerah. Jika Allah, tidak menjawab. Maka, Google yang akan menjawabnya. Aku harus mengetik kata kunci apa? Oya.

lelaki feminin’

Dan, aku menemukan jawabannya.

Ternyata, ini semua karena kromosom. Seorang perempuan memiliki kromosom XX, yang menjadi pemicu terbentuknya karakter perempuan beserta ciri fisiknya. Sedangkan laki-laki memiliki kromosom XY, yang menjadi pemicu terbentuknya karakter laki-laki beserta ciri fisiknya. Kromosom berlebih pada seorang laki-laki, dapat menyebabkan kromosom XY menjadi kromosom XX yang tidak sempurna. Sifat yang dibawa pun akan cenderung bergeser dari maskulin ke feminin.

Aku berdiri menghadap cermin.

Aku melihat sosok laki-laki tinggi-kurus, berkulit putih, dan berwajah lebih lembut dibandingkan laki-laki pada umumnya. Laki-laki di cermin itu cenderung menyukai aktifitas para perempuan dibandingkan aktifitas para laki-laki. Laki-laki di cermin itu sangat luwes bersosialisasi, mempunyai sifat perhatian dan penyayang, seperti perempuan. Bahkan, gerakan tubuhnya agak gemulai mirip perempuan. Itulah AKU.

Lalu, kenapa aku disebut lelaki kalau sifatku lebih mirip perempuan? Apakah hanya karena ciri-ciri fisikku? Apakah aku akan lebih bahagia jika aku mengubah diri menjadi seorang perempuan?

Aku mulai tergoda dengan ide Bang Brian.

Hei. Apakah aku sekarang tidak bahagia?

Aku terus bertanya. Menggali diriku sendiri lebih dalam.

Ya. Aku bahagia dengan diriku apa adanya ini. Aku punya teman-teman yang baik, tempat magang yang bagus, keluarga yang sayang kepadaku….Sebelum mulut-mulut usil itu menyebutku dengan istilah-istilah feminin yang terkesan merendahkan harga diri seorang laki-laki. Aku marah. Aku terluka.

Jadi—

Jadi, kalau harga diriku sebagai seorang laki-laki yang terluka, berarti aku memang seorang laki-laki, kan?

Jadi, aku bukan seorang perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki, kan, Bang?” Tanyaku, setelah kuceritakan pergumulan batinku secara mendetail kepada Bang Brian.

Bang Brian menghisap rokoknya dalam-dalam. Menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Asap itu membentuk beberapa huruf O yang melayang-layang di udara. Lalu, pudar dengan sendirinya.

Tapi, apa lu enggak mikir? Karakter elu itu karakter perempuan. Seharusnya lu itu perempuan, kan? Kenapa sih harus takut untuk mengakui perasaan lu yang sebenernya? Bahwa lu suka, menikmati kegiatan-kegiatan perempuan.” Bang Brian memicingkan matanya kepadaku.

Aku terdiam. Ya, benar. Aku memang suka menjahit, memasak, membersihkan rumah, merawat sepupu-sepupu jauhku yang masih bayi ketika aku bertandang ke rumah mereka, memperhatikan keperluan Bunda dan Kak Nisa, membantu Bunda meladeni keperluan Ayah saat di rumah…Itukah yang membuatku patut digolongkan menjadi seorang perempuan?

Bang Brian menatapku. Ada perasaan aneh menjalariku. Pandangannya aneh. Sungguh aneh.

Gue ngomong seperti ini karena gue sayang sama lu.” Bang Brian merendahkan suaranya.

Aku gugup.

E-eh…iya Bang. Abang juga sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.”

Bang Brian mendengus pelan. “Bukan, Boy. Bukan seperti itu. Lu tahu, orang-orang seperti kita adalah orang-orang yang kesepian. Kita sendirian di dunia ini. Kita dimusuhi oleh masyarakat. Bahkan, kita dimusuhi Tuhan. Kita harus saling menjaga dan menguatkan. Gue juga seperti elu. Makhluk aneh. Bedanya, kecenderungan sifat gue tetep laki-laki. Tapi, gue benci perempuan. Gue cuma bisa sayang ke laki-laki.”

Dia menggeser duduknya, mendekat kepadaku. Memandangku lurus. Kedua bola mata Bang Brian seakan menerkamku.

Tiba-tiba aku sadar. Aku berdiri.

Sori, Bang. Aku memang sedang bingung. Tapi, bukan berarti aku harus menjadi manusia yang dimusuhi Tuhan. Aku tidak mau. Abang tenang saja, aku tidak akan cerita pada siapa-siapa.”

Aku memaksa untuk tersenyum. Aku mual. Bayangan mimpi diriku sholat memakai mukena mucul. Aku bertambah mual.

Kutinggalkan Bang Brian yang duduk mematung di bawah tangga.

Brian?” Suara Intan terdengar nyaring di handphoneku.

Aku baru saja menceritakan semuanya kepada Intan. Kurasa, dialah satu-satunya orang di luar keluargaku yang bisa mengerti posisiku. Kami berteman sejak kecil, dan saling membantu satu sama lain bila ada kesulitan. Tanpa dideklarasikan, semua orang tahu bahwa kami adalah sahabat dekat.

Ya ampun, Boy! Kurang ajar bener itu orang! Dia mau kamu masuk dunia dia. Jauh-jauh deh, Boy!”

Iya, In. Tapi, omongannya ada benarnya juga. Aku memang cenderung suka dengan aktifitas perempuan. Kamu juga tahu sendiri kan, bagaimana aku ini.”

Tidak ada suara.

Ha-halo? Intan?”

Boy. Kamu tahu. Aku suka karate. Aku suka mendaki gunung. Aku suka nonton sepakbola. Aku tidak suka memasak. Aku tidak suka menjahit. Cara bicaraku juga kasar. Apa menurutmu aku ini seorang laki-laki?”

Pertanyaan Intan menggelegar di telingaku. Intan laki-laki? Tidak.

Tidak pernah terpikir barang sedikit pun kalau Intan adalah laki-laki. Bagiku jelas. Dia seorang perempuan.

Sori, Boy. Aku tidak suka cara kamu menggolong-golongkan mana aktifitas untuk perempuan dan mana aktifitas untuk laki-laki. Walaupun aku menyukai aktifitas yang biasa dilakukan laki-laki, aku tetap seorang perempuan. Aku tetap punya mimpi untuk menikah dengan seorang laki-laki, melahirkan anak, merawat mereka dengan kasih sayang. Kamu tahu apa cita-citaku?”

Aku menggeleng. Intan takkan bisa melihat gelengan kepalaku.

Aku ingin menjadi seorang Ibu Rumahtangga. Seperti ibuku. Seperti bundamu. Aku, kamu…, kita seperti ini karena banyak penyebab. Mungkin karena kromosom seperti yang kamu ceritakan. Mungkin juga karena label-label lingkungan yang diberikan pada kita. Mungkin juga, karena pola asuh orangtua kita. Dan, pilihan-pilihan yang kita buat sendiri dalam hidup kita. Tapi, ya sudahlah. Itu tidak penting. Apapun yang kita alami adalah kehendak Allah, kan? Jadi, terimalah dengan ikhlas. Lalu, jadilah sebaik-baiknya orang. Supaya kalau kita mati nanti, kita bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada Allah.”

In…” Aku terhenyak. Tidak mampu menanggapi kata-kata Intan yang menggodam hatiku. Kemudian, aku merasakan wajahku menghangat. Rasa hangat itu berkumpul di kedua pelupuk mataku. Satu demi satu, lelehan air mata mengalir keluar. Otot bibirku memaksa untuk melengkung ke bawah. Aku bergetar.

Ya Allah, aku malu kepadaMu! Aku malu kepada Intan!

Intan sudah banyak berubah semenjak kuliah di luar kota. Aku kehilangan banyak momen perubahan dirinya. Dan aku sudah kalah banyak langkah darinya.

Aku sekarang memakai kerudung, Boy. Belum seperti yang diajarkan Rasulullah, sih. Masih pendek saja. Aku harap, ini menjadi awal yang baik. Ini perjuanganku untuk menjadi perempuan yang diridhoi Allah. Doakan, ya, Boy?”

Iya, In. Kamu benar-benar hebat.” Aku berusaha mendatarkan nada suaraku yang bergetar. Menguasai emosiku. Airmataku semakin banyak mengalir.

Tawa Intan berderai.

Hahahaha. Tumben, kamu memuji aku. Sudah, deh, Boy. Percaya saja sama Allah. Semua yang kita alami tidak akan sia-sia. Kamu tahu, dengan sisi femininmu yang lebih menonjol itu, kamu jadi pandai memahami isi hati wanita. Iya, kan? Coba pikir-pikir, deh. Tidak seperti cowok-cowok lain, yang umumnya tidak sensitif dengan perasaan cewek. Enak dong istri kamu nanti, ya? Hahaha!”

Aku tersenyum menahan malu. Teringat pada sosok-sosok wanita yang selama ini berinteraksi denganku. Bunda, Kak Nisa, Intan, Mbah Sariyem…. Aku tahu, mereka semua merasa nyaman dengan kehadiranku.

Hehehe.” Aku mengusap wajahku yang basah oleh airmata. “Siapa tahu, kamu nanti yang beruntung jadi istriku.”

Wahahaha! Boleh juga, tuh, Boy! Hehe… sudah ah, bercandanya. Yang penting, kamu jangan sedih lagi. Oke?”

Oke.”

Akhir percakapanku dengan Intan di telepon menjadi awal baru untukku. Intan telah menunjukkan sudut pandang lain yang tak pernah terlihat olehku. Aku kembali merenung di jendela kamarku. Memandangi awan-awan yang berarak di siang hari. Kujulurkan separuh badanku keluar jendela kamar, kuhirup nafas panjang dan dalam. Hingga oksigen terasa memenuhi paru-paruku. Sejuk…!

Barakallah…

Pandanganku beralih pada langit biru tinggi yang luas tak terbatas. Hatiku terasa lapang.

Ya. Aku adalah aku. Aku adalah apa yang Allah ciptakan. Aku terima ketentuanNya. Aku ikhlas. Terimakasih. Engkau telah memberiku jawaban dari arah yang tidak aku sangka-sangka. Seharusnya, aku ingat dari awal. Bahwa Engkau akan pasti akan menolongku menghadapi kesulitanku. Entah itu lewat sebuah search engine atau lewat telepon seorang sahabat lama. Bahkan, Engkau membangunkan kesadaranku lewat kehadiran Bang Brian.

Di search engine Google, aku mengetik kata kunci yang sama dengan yang pernah aku ketik dahulu. Setelah hasilnya keluar, aku membuka salah satu alamat blog yang muncul.

Mataku tertambat pada sebuah kumpulan kalimat di situ: Gentleman terdiri atas kata gentle dan man. Gentle berarti lembut. Man berarti lelaki dewasa. Jadi, bila kamu seorang lelaki dewasa, dan kamu tidak bisa berlaku lembut atau tidak mempunyai hati yang lembut, maka kamu bukanlah seorang Gentleman.

Aku rasa, itulah aku. Seorang gentleman.

[ Eryani Widyastuti ]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s