Bocah Bangku Belakang


Bocahbangkubelakang

 

Pak Tabri, spanduk Selamat Datang sudah dipasang?” Bu Dyah, guru Bahasa Indonesia Kelas 5, berkeliling memeriksa kondisi sekolah kecil kami. Beberapa kali tangannya bergerak lincah, membuat tanda centang di atas kertas A4 beralas papan segi empat. Kertas itu berisi daftar persiapan acara hari ini.

Sudah, Bu.” Pak Tabri; sang tukang kebun, merangkap satpam, petugas kebersihan, dan teknisi serba bisa; menunjuk ke pintu bagian luar ruang kelas 5.

Bu Dyah berjalan cepat ke arah yang dimaksud Pak Tabri, menengadahkan kepala. Membaca tulisan yang tertera di spanduk dengan hati-hati dan teliti. Mungkin, mengecek apakah tulisan tersebut sudah sesuai dengan EYD: Ejaan Yang Disempurnakan.

Aku tersenyum kecil.

Bu Dyah, guru mungil, cekatan, dan perfeksionis. Sangat cocok menjadi Ketua Panitia Pelaksana. Sekolah Dasar Negeri Satu kami yang semula berpenampilan sederhana; hanya enam ruang kelas, satu ruang guru sekaligus kepala sekolah, halaman depan yang masih berupa tanah – cukup menampung seluruh penghuni sekolah saat upacara bendera dan senam Jumat pagi, kebun tanaman obat, tiang bendera, dan gerbang besi; kini nampak lebih meriah. Karena ruang kelas lima dihias spanduk kain warna merah dengan huruf-huruf emas, kertas-kertas hias panjang warna-warni menyulur-nyulur dari atap ke atap, dan lampion-lampion gantung buatan tangan murid-murid Kelas 5 sendiri. Seandainya ditambahkan balon-balon, pasti orang mengira, ini adalah sebuah pesta ulang tahun.

Tapi, acara ini bukan untuk ulang tahun siapa-siapa. Acara ini ada untuk menyambut kedatangan bocah itu. Si Bocah Bangku Belakang.

Aku belum terlalu tua untuk mengingat semuanya. Aku punya memori yang bagus.

Tiga belas tahun yang lalu, bocah itu adalah salah satu murid kami. Seorang anak laki-laki berambut jabrik, bertubuh kurus kecil, dengan mata bulat berkilat. Dia selalu memilih tempat duduk yang sama dari tahun ke tahun. Bangku belakang di pojok dekat jendela.

Damar.” Aku menepuk pundak bocah itu saat pelajaran IPA, Ilmu Pengetahuan Alam. Aku melirik ke arah mejanya di mana terdapat beberapa buku pelajaran. Ingin tahu, apa yang sebenarnya yang dikerjakannya selama jam pelajaranku berlangsung. Sebab dia, tampak tidak memperhatikan pengajaranku di depan kelas. Selalu menunduk, memandang meja. Diselingi dengan memandang ke luar jendela.

Damar, bocah itu, memiringkan kepalanya ke atas. Terkejut melihat kehadiranku. Wajahnya menegang.

Kamu dengar apa penjelasan Ibu di depan kelas tadi?” Aku bertanya dengan tegas.

Walaupun saat itu aku adalah guru baru, aku tidak akan membiarkan seorang murid pun meremehkan pengajaranku.

Bima, teman sebangku Damar, tertawa cekikikan. “Biasa, tuh, Bu…” Celetuknya.

Damar tersenyum meringis ke arahku, sedangkan tangannya bergerak cepat menyelipkan sesuatu di bawah buku-buku yang terbuka di atas meja.

Namun, aku lebih cepat. Aku tarik kembali buku yang coba ia sembunyikan. Sebuah buku tipis bergambar sampul pesawat terbang. Judulnya membuatku mengernyitkan dahi. Sebab, aku tak begitu familiar dengan bahasa Inggris.

Airplanes From Time To Time.

Aku tertegun.

Buku itu membuatku teringat akan kejadian buruk di masa lampauku saat SD.

Risma! Tidak boleh baca buku selain buku pelajaran di kelas!!”

Bu Nur, guruku waktu itu, mendelik marah. Ia menjumpaiku membaca sebuah buku di jam pelajarannya. Buku tentang pesawat terbang pemberian Ayah di hari ulang tahunku. Waktu kecil, aku sangat suka pesawat terbang.

Mau jadi apa kamu nanti?! Anak perempuan kok suka pesawat terbang!” Semprot Bu Nur. Dengan kasar, beliau merenggut buku kesayanganku dari bangku.

Spontan, aku memegangi bukuku erat-erat. Kami berebut. Aku tidak mau kalah dengan Bu Nur. Begitu juga beliau. Kekuatan tarik-menarik kami menyebabkan buku itu robek menjadi dua. Robekan buku itu persis sama dengan robekan di hatiku. Aku kecewa, sedih, dan marah. Tapi, anak kecil bisa melakukan apa untuk melawan superioritas orang dewasa? Selain diam.

Wajah Bu Nur menyeringai puas. Seolah mengatakan, rasakan, anak nakal!

Tidak. Aku tidak akan melakukan hal yang sama pada muridku. Tekadku.

Aku menatap Damar lembut. Seolah, menatap diriku yang kecil beberapa puluh tahun lalu. “Ibu simpan sampai pelajaran usai, ya? Kamu bisa mengambilnya sepulang sekolah.” Senyumku.

Damar hanya terbengong melihat reaksiku. Bima juga menampakkan ekspresi sama.

Sayup-sayup kudengar komentar Bima kepada Damar. “Bu Risma baik ya, Mar?”

Satu jam kemudian, bel tanda sekolah usai pun berbunyi. Setelah berdoa dan mengucap salam, anak-anak berebut bersalaman denganku untuk pamit pulang. Riuh rendah suara mereka. Kulihat Damar tetap duduk di kursinya, memandang keluar jendela.

Setelah kelas sepi. Dia menghampiriku. Aku mempersilahkannya duduk di kursi depan meja guru.

Damar suka pelajaran IPA?”

Sesuai janjiku, kukembalikan buku pesawat terbang yang tadi kusimpan dalam laci meja. Damar memandangi bukunya. Tidak berani menatapku.

Kalau tidak suka, nilai saya jelek, Bu?” Tanyanya lirih.

Aku tertawa. Anak-anak memang polos.

Tentu tidak, Mar. Ibu hanya bertanya. Ini bukan ujian, kok. Memangnya ada guru yang begitu sama kamu? Hahaha.” Ini pertanyaan retorika yang tak perlu dijawab.

Ada. Bu Santi.”

Tanpa diduga, Damar menjawab pertanyaan retorikaku. Wajah kanak-anaknya menatapku dengan ekspresi tak berdosa. Tawaku terhenti. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana atas jawaban Damar.

Ehm! Begini, Damar.” Aku langsung mengalihkan pembicaraan.

Ibu perhatikan, kamu sering tidak konsentrasi pada pelajaran Ibu. Kenapa?”

Damar menunduk. Pandangannya kembali kepada buku pesawat terbang di meja.

Bosan, Bu.” Jawabnya lemah. Hampir tak terdengar.

Aku mendengus pelan. Bosan dalam belajar bukanlah dosa seorang murid. Ini tanggungjawabku sebagai seorang guru untuk membuat murid tertarik pada pelajaran yang kusampaikan. Berkaca pada diri sendiri waktu kuliah. Aku ingat bagaimana rasanya kalau harus mengikuti mata kuliah dari dosen yang membosankan. Ingin sekali cepat-cepat kabur keluar ruangan.

Ooh, begitu. Kalau begitu, kamu suka pelajaran apa?” Lanjutku.

Damar mengangkat wajahnya. “Mmm, matematika dan menggambar, Bu.”

Aku mengangguk-angguk.

Kata menggambar memberiku sebuah inspirasi. Aku bisa menggambar. Menggunakannya dalam metode mengajar adalah ide yang patut dicoba. Bukankah, kebanyakan anak-anak suka melihat gambar? Pasti lebih menyenangkan daripada melihat tulisan melulu.

Seusai berbicara dengan Damar, aku membereskan buku-bukuku, menuju ruang guru untuk mengerjakan beberapa hal administratif.

Bu Risma mengajar Si Bangku Belakang?” Pak Togar, guru olahraga, memulai pembicaraan saat aku berada di ruang guru. Aksen Bataknya sungguh kentara.

Siapa itu, Pak?” Tanyaku heran. Kuletakkan pensil yang kugunakan untuk mengisi lembar daftar nilai para murid.

O iya. Bu Risma kan masih baru. Belum kenal sama Si Bangku Belakang.” Pak Togar menyentakkan kepalanya ke atas sambil tersenyum misterius.

Bu Hapsari, guru paling senior, yang duduk di sebelahku, mencondongkan badan ke arahku. “Yang dimaksud Pak Togar adalah Damar. Dia murid kelas lima. Selalu duduk di bangku belakang dekat jendela. Dia tidak membuat ulah di pelajaran Bu Risma, kan?”

Aku menggeleng agak ragu.

Ulah? Apakah membaca buku tentang pesawat saat pelajaran itu termasuk kategori ulah?

Pokoknya, kalau Damar sampai berkelahi lagi, panggil saya saja, Bu Risma! Biar saya yang tangani!” Timpal Pak Togar jengkel.

Damar berkelahi? Anak kecil kurus itu? Menilik dari wajah dan penampilannya, dia bukan tipe anak yang gemar kekerasan.

Benar itu, Pak! Saya sendiri sudah pusssiiiiingg menghadapi Damar. Dia sering melamun, melihat keluar jendela, tidak memperhatikan pelajaran.…, dan kalau diingatkan, ada saja bantahannya. Anak bodoh seperti itu—mau jadi apa di masa depan…” Bu Santi, guru Pendidikan Kewarganegaraan, menepuk-nepuk keningnya. Frustasi.

Tapi, Bu. Kalau pelajaran Matematika, Damar paling cepat mengerjakan soal-soal yang saya berikan. Dia memperhatikan pelajaran saya. Walaupun, sedikit diselingi melamun, sih. Sedikiiiit!” Bu Meta memberikan pendapat berbeda.

Hmmm. Boleh juga Damar. Kalau menyukai pelajarannya, dia bisa menyelesaikan soal dari guru. Berarti, bukan jenis anak lambat belajar.

Walaah…! Ya jelas, Bu Meta kan wali kelasnya!” Tukas Bu Santi sewot.

Bu Hapsari berbisik di telingaku, “Anehnya, walaupun di kelas, ada saja tingkahnya yang mengesalkan guru pengajar. Tapi, banyak anak yang menyukainya, lho Bu. Teman-temannya banyak. Umumnya, mereka bilang, Damar itu baik. Suka menolong.”

Aku memandang guru senior pengajar Bahasa Indonesia ini. Raut bijaknya seakan memberi tanda kepadaku untuk berpikir lebih dalam tentang Damar.

Si Bocah Bangku Belakang menjadi topik pembicaraan di ruang guru hari itu. Rata-rata, para guru mengecap Damar sebagai anak pemalas, cuek, pemberontak, lamban, dan ada juga yang menganggapnya bodoh. Hanya segelintir guru yang memberi tanggapan positif terhadap Damar.

Kalau menurutku sendiri waktu itu?

Sebutan bodoh dan komentar-komentar negatif lain tentang Damar sempat membuatku hatiku terasa panas. Kenapa seolah tidak ada hal baik dalam diri Damar? Padahal Allah tidak pernah menciptakan sesuatu untuk kesia-siaan belaka. Apalagi dalam menciptakan manusia! Pasti… pasti ada alasan kenapa Damar harus ada di dunia ini. Dan itu pasti untuk sesuatu yang baik.

Berangkat dari pemikiran itu, aku terus mencoba mencari-cari kebaikan Damar. Bukan hal yang sulit, karena aku lihat, Damar menunjukkan sikap baik selama aku mengajar. Tidak pernah berkelahi, membuat keributan, ataupun membantah. Dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda anak yang mempunyai niat jahat. Apalagi, setelah aku mengubah gaya mengajarku menjadi lebih menarik dan komunikatif. Aku menyertakan banyak gambar dan melibatkan murid-murid dalam diskusi. Damar yang suka melamun memandang ke luar jendela, Damar yang mencuri baca buku pesawat terbang saat pelajaran berlangsung, sudah berganti menjadi Damar yang aktif bertanya dan sering menjadi pemimpin diskusi. Dia memiliki potensi sebagai anak yang cerdas dan kritis. Setidaknya, dalam jam pelajaranku.

Bu Risma, jam berapa tamunya datang? Jadi jam sembilan?” Suara Bu Dyah menarikku kembali ke masa sekarang.

Aku melihat jam tangan. Tiga puluh menit lagi, dia akan datang.

Iya, tadi Damar sudah telepon saya. Sedang di jalan, Bu.” Jawabku.

Bu Dyah nampak tidak sabar menunggu kedatangan Damar. “Bu Risma, apa benar dulu Damar anak nakal? Suka berkelahi? Tidak disangka, ya, Bu? Anak nakal seperti itu bisa jadi orang.” Bu Dyah menatapku.

Pasti sudah ada yang bercerita kepada Bu Dyah tentang masa lalu Damar. Cerita yang sepihak. Dan, harus diluruskan. Perkelahian yang dilakukan Damar memang tidak hanya sekali. Entah mengapa, semua kejadian itu selalu berakhir dengan kesimpulan bahwa Damar yang bersalah. Damar yang mencari gara-gara. Apa benar begitu? Logikaku tidak dapat menerima fakta, bahwa Damar yang kukenal cerdas, disukai teman-temannya, bisa melakukan tindakan barbar. Ada sesuatu yang keliru.

Lalu, suatu peristiwa mengguncangkan keyakinanku. Ketika aku sedang mengambil cuti untuk menjenguk orangtuaku yang sedang opname di rumah sakit di luar kota.

Damar berkelahi, Pak?” Tanyaku pada Pak Togar, di hari pertama aku masuk kerja seusai cuti satu minggu. Aku tidak bisa percaya kabar itu.

Pak Togar mencibirkan mulutnya. “Makanya, Bu Risma jangan terlalu memuji-muji Damar. Bu Risma tidak tahu bagaimana nakalnya anak itu! Sudah berapa kali dia berkelahi di sekolah ini! Sepertinya, setiap tahun, ada saja anak yang dihajarnya. Sekarang Roni, anak kelas enam, yang jadi korban. Sampai hidung Roni berdarah-darah! Butuh transfusi darah, anak itu!”

Roni? Roni yang badannya bongsor itu? Yang besarnya dua kali lipat daripada Damar. Masa sih??

Meski berita ini sedikit menggoyahkan keyakinanku terhadap kebaikan Damar, tetapi aku tidak ingin menyerah di sini. Aku harus memastikan berita ini. Aku tidak menuduh Pak Togar berbohong. Tidak mungkin. Sebab, hampir setiap guru dan murid yang kutemui menceritakan hal yang kurang lebih sama. Namun, bagaimana sebenarnya kejadian ini berlangsung, itu yang masih simpang siur. Sebagian cerita telah dibumbui dengan adegan-adegan perkelahian dramatis dan cerita-cerita miring seputar karakter Damar. Karena kasus ini, Damar mendapatkan hukuman skors selama satu bulan dari Kepala Sekolah.

Tidak! Aku tidak akan menjadi seorang guru yang malas untuk memahami anak didiknya! Bila memang Damar yang bersalah, aku akan tetap mendampingi supaya dia tidak kehilangan masa depannya.

Maka, hari Minggu, tanpa pemberitahuan, aku mendatangi rumah Damar. Rumah sederhana yang jaraknya 15 menit dari sekolah jika ditempuh dengan berjalan kaki. Pagi itu, tidak ada siapa-siapa di rumah, kecuali Damar dan neneknya yang sudah tidak mampu banyak bergerak karena termakan usia.

Damar membimbing neneknya untuk menyambut kedatanganku. Kemudian, menuntun beliau duduk di kursi tamu. Aku tertegun melihatnya. Betapa seorang anak yang dicap bermasalah oleh sekolahnya, memperlakukan neneknya dengan begitu telaten. Rasanya, tidak mungkin anak seperti ini suka berkelahi.

Maaf, Jeng. Bapak Damar masuk kerja hari ini. Terus ibunya juga di Hongkong. Jadi TKW. Tidak apa-apa kan, kalau neneknya yang mewakili?” Jelas nenek Damar ramah.

Iya, Nek. Tidak apa-apa. Sama saja.” Senyumku.

Setelah berbasa-basi sebentar, dan menerangkan maksud kedatanganku kepada nenek Damar, aku segera memulai percakapan.

Bagaimana kejadian sebenanya, Mar? Sebab, Ibu tidak percaya kalau kamu suka berkelahi. Memukul teman tanpa alasan.”

Damar memandang neneknya.

Sudah, cerita saja ke Bu Guru. Tidak apa-apa. Bu Guru ke sini karena sayang sama Damar. Bukan mau memarahi.” Nenek Damar memberi dorongan.

Damar ganti memandangku, dengan segan.

Nggg… itu, Bu. Kak Roni sering minta-minta uang ke Bima. Terus, kalau tidak dikasih, dia ngancam mau pukul Bima…..terus, Kak Roni pukul saya, karena saya kasih tahu, jangan malakin Bima lagi, dong, Kak! Saya balas pukul. Terus, kami berkelahi…”

Nah, apa kataku! Damar memukul Roni karena membela temannya. Bukan semata karena suka berbuat onar.

Kamu sudah ceritakan ke Bapak Kepala Sekolah?” Tanyaku.

Sudah, Bu. Tapi, Pak Kepala Sekolah tidak percaya. Semua guru bilang, saya yang nakal. Saya yang salah! Saya kan mau nolong Bima, Bu. Salah ya, Bu? Bima juga sudah cerita yang sebenarnya. Tapi, tetap saja saya yang disalahkan!” Suara Damar berubah berapi-api. Mungkin dia merasa diperlakukan tidak adil.

Cucu saya ini bukan anak nakal, kok, Jeng. Dia memang tidak pernah juara kelas. Beberapa kali berkelahi. Itu juga untuk membela teman-temannya yang diganggu anak lain. Kalau ada apa-apa di sekolah, Damar selalu cerita kepada saya. Dan, di rumah ini, Damar yang merawat dan meladeni saya. Sebab, bapak ibunya sibuk bekerja.” Nenek Damar membersihkan sudut matanya. Beliau terlihat trenyuh saat bercerita tentang Damar. Aku bisa merasakan kedekatan mereka berdua.

Lalu, apa kata Bapak Damar, Bu?” Tanyaku pada nenek Damar.

Dimarahi habis-habisan, Jeng. Dihajarlah, cucu saya ini. Watak anak saya itu memang keras.”

Mendengar kata-kata neneknya, wajah Damar mengeras. Bibirnya mengerut, nafasnya agak memburu menahan emosi, dan dia membuang pandangan keluar rumah.

Ya Allah, aku aku harus menolong anak ini. Sekarang, aku mulai punya gambaran tentang apa yang terjadi. Pertama, Damar bukan anak bodoh dan pemalas. Aku sudah membuktikannya. Metode pengajaran guru yang kurang tepat lah penyebabnya. Kedua, Damar bukan anak yang hobi berkelahi. Dia melakukannya karena ingin membela teman-temannya. Aku melihat sendiri, betapa teman-temannya menyukai Damar. Ketiga, paling penting. Bahwa Damar adalah seorang anak korban keadaan. Bapak yang keras, ibu yang bekerja di luar negeri, nenek renta yang harus dirawat….dia kekurangan kasih sayang dan teladan yang baik dari orang dewasa. Lagipula, berapa banyak anak jaman sekarang yang mau merawat orang tua dengan telaten seperti Damar? Dengan tanggungjawab merawat neneknya, sudah pasti dia banyak kehilangan waktu bermain dan belajar.

Tunggu.

Setelah kupikirkan lagi, ada poin keempat yang tidak kalah penting. Prasangka buruk, cap buruk, yang telah distempelkan pada diri Damar selama ini, membuat guru-guru tidak obyektif dalam melakukan pendekatan kepada Damar. Itu juga harus diubah!

Aku memutuskan untuk berbicara dengan Kepala Sekolah. Aku jelaskan keterangan yang kudapat dari kegiatan berkunjung ke rumah Damar. Aku coba mengutarakan pemikiranku tentang Damar.

Bu Risma memang guru yang perhatian pada murid. Jarang sekali, ada guru yang berkunjung ke rumah Damar. Karena, rata-rata, guru di sini tidak suka pada Damar. Dan, kalau ada yang membela Damar, seperti Bu Meta, pasti akan dikucilkan oleh guru-guru lain.” Jelas Kepala Sekolah.

Nah, itu dia, Pak! Saya ingin supaya keadaan ini berubah. Kasihan kalau Damar diperlakukan seperti ini terus menerus. Seharusnya, kita menolong Damar, karena keadaannya yang seperti itu. Kasihan masa depannya, Pak!” Sambutku dengan semangat.

Kepala Sekolah tertawa renyah. “Oke. Bu Risma boleh menolong Damar.”

Maksud Bapak?”

Kalau Bu Risma mempunyai rencana untuk menolong Damar, silakan dilaksanakan.”

Tapi, kalau saya sendirian tidak akan efektif, Pak. Butuh kerjasama dari pihak sekolah. Dari guru-guru lain. Mohon Bapak menghimbau–”

Bu Risma.” Potong Kepala Sekolah dengan nada datar berbau peringatan. “Saya sudah hampir pensiun. Saya tidak ingin mencari keributan dengan guru-guru di sekolah ini. Saya juga tidak ingin permasalahan ini mencuat keluar sekolah. Saya ingin mengakhiri masa jabatan saya dengan tenang. Jadi tolong, jangan paksa saya melakukan hal yang bisa merusak masa-masa terakhir saya. Mengancam posisi saya sebagai kepala sekolah di sini. Lagipula, orangtua Damar bukanlah pemberi kontribusi yang signifikan di sekolah kita ini. Tidak akan ada untungnya, kalau kita ngotot membela anak itu. Bu Risma paham, kan?”

Astaghfirullah! Kepala Sekolah macam apa ini???

Bagaimana bisa seorang kepala sekolah lebih mementingkan jabatannya daripada anak didiknya? Dan, kontribusi yang tidak signifikan? Oh! Apa pula itu maksudnya? Uang??? Bagaimana—Oh, Tuhan! Aku benar-benar marah!

Tapi, apa aku harus marah-marah langsung di depan Kepala Sekolah, menceramahinya panjang lebar? Apakah itu akan mengubah kebijakannya terhadap Damar? Atau, seandainya aku melaporkan hal ini ke Departemen Pendidikan, apakah akan menyelesaikan masalah, atau malah memperunyam masalah? Aku merasa sendirian. Hanya wajah Damar yang terbayang menemaniku. Apa untungnya bagi masa depan Damar, jika aku bersikap reaktif?

Selama tiga hari aku berpikir dan menenangkan diri. Mendinginkan kepala, mengurai ide-ide. Tapi, buntu. Buntu. Buntu! Ya Allah, mohon, beri petunjukMu…

Bu Risma! Itu taksinya sudah datang! Tamunya datang, Bu! Tamu dari Jerman datang, Bu!” Sekali lagi, lamunan masa laluku dibuyarkan. Anak-anak kelas lima ribut bukan main melihat sebuah mobil bandara berwarna biru, berhenti di depan gerbang sekolah.

Aku mau minta tanda tangan, ah!”

Enakan minta digambarin pesawat terbang!”

Anak-anak ramai berkomentar, bersahut-sahutan. Mereka antusias sekali. Bu Dyah mengajak anak-anak itu segera menyambut tamu di pintu gerbang sekolah. Mereka berlari meninggalkan aku.

Hei, tunggu! Ibu ikut!” Aku berjalan tergopoh-gopoh. Lutut tuaku sudah tidak bisa diajak berlari lagi semenjak terserang arthritis.

Lalu, aku melihat, sosok asing itu.

Sepintas, hatiku mengharapkan seorang anak laki-laki kecil dan kurus yang keluar dari taksi itu. Namun, tidak mungkin terjadi. Anak laki-laki kecil dan kurus itu, kini telah tumbuh menjadi seorang pria muda bertubuh tegap, dengan pakaian resmi yang rapi. Di badannya, terselempang tas segi empat berwarna hitam. Dia nampak seperti seorang profesional muda. Bukankah, memang itu pekerjaannya?

Ah, inikah hasil perjuangan kami selama bertahun-tahun dahulu?

Kami.

Bukan hanya aku yang berjuang untuk menyelamatkan masa depan Damar. Waktu itu, aku berinisiatif mengajak Bu Meta untuk mengumpulkan teman-teman kami yang peduli pada pendidikan untuk menolong Damar. Kami mengajak mereka untuk memberikan berbagai les tambahan kepada muridku ini, dengan cara datang ke rumahnya. Gratis. Jadi, dia bisa tetap belajar sambil menjaga neneknya. Dan, orangtuanya tidak perlu dipusingkan dengan biaya tambahan.

Damar, apa cita-cita kamu?” Tanyaku. Setiap pulang sekolah, aku selalu mengajaknya mengobrol di ruang guru. Perhatian. Itulah yang dibutuhkan Damar saat ini. Bukan cacian dan tuduhan.

Sengaja aku pilih ruang guru. Sebagai simbol perlawanan atas kondisi di sekolah yang membuatku muak.

Mmmm…tidak punya, Bu.” Damar menggaruk-garuk kepalanya.

Aku tertawa kecil. “Kalau mimpi, punya, kan?”

Muncul binar di mata Damar yang bulat. “Punya, Bu!” Serunya. “Saya punya mimpi untuk membuat pesawat terbang seperti Pak Habibie!”

Wajah di depanku nampak cerah menceritakan detail mimpi yang selama ini dipendamnya. Inilah saat yang tepat untuk memberikan motivasi. “Wujudkan mimpimu, Mar.”

Damar menaikkan alis kirinya. “Bagaimana caranya, Bu? Itu kan cuma mimpi.”

Bisa, Mar. Ibu percaya kamu bisa. Kamu tahu, pesawat terbang bisa diciptakan juga diawali oleh mimpi. Manusia bermimpi ingin terbang seperti burung di angkasa.”

Wright Bersaudara, Bu!” Ia menyebutkan nama tokoh pembuat pesawat terbang yang terkenal itu.

Betul! Sebelum pesawat terbang bisa sebagus sekarang, mereka harus berjuang dulu. Banyak mempelajari ilmu yang berkaitan dengan pesawat terbang. Melakukan berbagai macam percobaan. Semua dilakukan dengan semangat sepenuh hati.”

Damar mengangguk-angguk antusias. “Iya, Bu! Dulu itu, pesawat terbang yang mereka buat berasal dari kayu! Bukan logam seperti sekarang!”

O iya?” Aku pura-pura terkejut.

Lalu, Damar menceritakan padaku informasi mengenai pesawat terbang yang telah dia baca di buku-buku. Rupanya, kebanyakan buku-buku pesawat terbang yang dia miliki dikirim oleh ibunya dari Hongkong. Ibunya membeli buku-buku itu di pasar buku bekas. Aku kagum atas perhatian yang diberikan oleh ibunya.

Lho, buku kamu kan kebanyakan berbahasa Inggris atau Cina. Kamu mengerti artinya?” Tanyaku heran. Bagaimana dia bisa paham arti buku yang dibacanya?

Hehe. Kalau bahasa Cina, saya tidak mengerti, Bu. Cuma lihat gambarnya saja. Tapi, kalau bahasa Inggris, saya tahu. Saya punya kamus tebaaal! Nenek yang membelikannya waktu saya ulang tahun. Duluuuu!” Damar tertawa.

Hah? Ternyata, dia juga belajar bahasa Inggris secara mandiri? Hebat sekali!

Pantas, nilai bahasa Inggrisnya bagus. Sayang sekali, sekolah ini meminggirkan Damar. Tidak bisa melihat potensi yang dimiliki anak ini, karena terjebak pemikiran yang picik. Rugi!

Bagus, Mar! Mulai sekarang, kamu harus fokus. Konsentrasi mewujudkan mimpimu. Pelajari dengan tekun semua mata pelajaran yang ada hubungannya dengan mimpi kamu. Allah pasti tahu kalau kamu bersungguh-sungguh, belajar dengan rajin. Allah pasti akan membimbing dan menolong kamu. Kelak, kalau kamu jadi orang sukses, kamu bisa menyenangkan Nenek, Ibu, dan Bapak.”

Mata Damar berkaca-kaca. Tampak sekali, dia berusaha menahan emosi. “Iya, Bu Risma. Saya tidak akan berkelahi lagi. Saya mau rajin belajar…. ” Suaranya terdengar serak.

Bagus! Nanti, Ibu dan Bu Meta akan membantu kamu.”

Terimakasih, ya, Bu!” Damar mengucek-ucek matanya yang mulai basah. “Kelilipan, Bu. Hehe.”

Puk!

Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh.

Bu Meta.

Gagah sekali murid kita ya, Bu? Sudah ganteng, pintar pula!” Bu Meta tersenyum penuh arti kepadaku. Kami berdua bersama-sama melewati perjuangan membesarkan Damar.

Lihat itu, Bu. Adik-adik kelasnya berebut bersalaman. Seperti artis saja, ya?” Aku tertawa.

Tidak disangka, ya, Bu? Si Bangku Belakang…” Bu Meta memeluk pinggangku. Dahinya menempel di pundakku. Menangis. Terharu.

Dalam hati, aku berseru. Kun Faya Kun! Ya. Takkan ada yang bisa menghalangi. Takkan ada yang dapat merintangi perubahan besar yang terjadi dalam hidup seseorang. Beginilah, jika Allah sudah berkehendak.

Aku mengelus-elus pundak Bu Meta. “Ibu Kepala Sekolah tidak boleh menangis. Nanti bedaknya luntur.”

Bu Meta tertawa dalam isak.

Di antara kerumunan anak-anak, Damar melihat ke arah kami. Dia tersenyum. Lebar sekali. Penuh percaya diri. Dan kepuasan.

Anak burung elang yang dulu disangka anak ayam. Kini terbang membumbung tinggi, membentangkan sayapnya hingga ke benua Eropa. Alhamdulillah, hatinya tetap menginjak bumi. Inilah kebahagiaan yang tak tak terukur besarnya, bagi seorang guru.

[Eryani Widyastuti]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s