Menelusuri Jejak Jalu


Menelusuri Jejak Jalu

 

Rama memandangi jam tua besar yang berdiri di ruang tamu. Saking besarnya, jam itu lebih mirip lemari kecil daripada sebuah jam. Tapi, untunglah, besarnya ruang tamu di rumah Rama bisa mengimbangi besarnya jam. Ruang semi terbuka bergaya pendopo, berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi. Sehingga, jam tua besar itu nampak sebagai ornamen yang serasi.

Jam empat sore.

Adzan Ashar telah berkumandang setengah jam yang lalu. Namun, Rama tak kunjung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Malahan, ia bergegas keluar halaman sambil menggamit sebuah tas keranjang rotan mirip kue pastel.

Kesempatan. Mumpung Bapak dan Ibu sedang ke pernikahan tetangga.” Gumam remaja kelas satu SMA ini.

Kukuruyuuuk….!!

Suara seekor ayam jantan menyambut Rama yang saja melangkah ke halaman depan. Suara ayam itu sangat nyaring dan terdengar lebih berkarakter dibandingkan suara ayam-ayam jago pada umumnya. Ya, karena ayam yang dipelihara di rumah Rama ini bukan ayam jago biasa, melainkan seekor ayam hutan pilihan. Badan ayam hutan ini lebih besar dari pada ayam biasa. Helai-helai bulunya lebih indah, dan suaranya lebih nyaring dengan warna suara yang unik. Ia telah memenangkan banyak kontes ayam hutan, baik tingkat lokal maupun nasional. Makanya, Bapak berani membayar mahal untuk membawa pulang ayam langka ini. Ia terbeli dengan harga tiga juta rupiah!

Rama menghampiri kandang Jalu, si ayam hutan. Ia membuka pintu sangkar yang berukir sepasang naga, kemudian memasukkan Jalu ke dalam tas rotan mirip kue pastel tadi. Jalu hanya mengeluarkan suara keerr….keerr… Ia ayam hutan yang tenang.

Mas! Jalu mau dibawa kemana?”

Suara itu mengagetkan Rama.

Ran…., jangan bikin orang kaget!” Tangan Rama mengelus-elus dada, sedangkan tangan satunya tetap menggamit keranjang rotan berisi Jalu. Rupanya, Rani, adik perempuan Rama yang duduk di kelas dua SMP, memergoki perbuatannya. Gadis kecil berkepang dua itu berkacak pinggang.

Nanti Bapak marah, lho. Mas Rama mau ke mana?” Rani menatap kakaknya yang berlalu begitu saja, tidak mempedulikan kata-katanya.

Repot punya adik perempuan. Cerewet! Rutuk Rama dalam hati.

Hari ini, ia bersama sekelompok remaja laki-laki kampung akan mengadakan acara sabung ayam di sebuah jalan setapak yang menjorok masuk ke dalam area yang diapit oleh sawah terbentang luas dan sungai kecil jernih berpagar rerimbunan bambu. Jauh dari jalan utama kampung mereka. Ya, ini adalah kegiatan rahasia. Kalau ada yang tahu, bisa ditangkap polisi! Dimarahi orangtua!

Kemungkinan ini malah membuat sifat pemberontak dalam diri Rama menggelak.

Berapaan nih taruhannya?” Tanya Subur, anak Pak Kepala Desa.

Lima puluh ribu!” Seru Deni, anak Pak Camat. Sabung ayam rahasia ini adalah idenya.

Ada lima ayam jago yang akan dipertarungkan. Semuanya adalah milik remaja-remaja dari ekonomi mampu, termasuk Rama. Yang lain, hanya menjadi penonton, karena mereka tidak punya ayam jago yang bagus untuk disabung.

Rokok…rokok…Masbro!” Tawar Deni. Satu pak rokok mild beserta korek apinya beredar di antara remaja-remaja itu.

Mas Rama! Ayo pulang! Bawa Jalu pulang! Nanti dimarahin Bapak!”

Rama menoleh kaget. Ternyata Rani lagi!

Kamu mengikuti aku?? Sudah, kamu pulang sana! Ini urusan laki-laki! Awas ya, kalau kamu mengadu ke Bapak!” Rama memelototi adiknya.

Tapi Rani tidak takut. Malah merebut keranjang rotan yang berisi Jalu dari tangan Rama.

He! Kamu ini!” Rama marah. Ia berusaha merebut kembali keranjang itu. Tapi,

Rani segera memegang tangan kakaknya. Menggigitnya.

Adu-duh!!”

Keranjang rotan terlepas dari pegangan Rama, terjatuh ke tanah. Jalu, yang sedari tadi berkoar-koar panik di dalam keranjang, melompat keluar, lalu terbang.

He! He! Jagonya terbang! Ada ayam bisa terbang!” Teriak teman-teman Rama terkejut. Belum pernah seumur hidup mereka menyaksikan ayam yang bisa terbang.

Jalu terbang merendah, lalu berlari setengah melompat ke arah yang berlawanan dengan jalan utama kampung. Itu artinya… Jalu menuju hutan!

Rama dan Rani berpandangan. Mereka berdua panik.

Jaluuuu….! Tunggu!!” Rama dan Rani berlari sekencang-kencangnya mengejar Jalu.

Krook….Krook…Krook…! Jalu berseru-seru. Mungkin, ia merasa senang pulang kembali ke rumahnya. Ke dalam hutan.

Rama dan Rani terus mengejar Jalu. Hingga akhirnya, mereka kehilangan jejak Jalu. Dan begitu sadar, ketika melihat sekeliling, mereka berdua sudah dikelilingi pohon-pohon pinus yang kurus tinggi. Cahaya matahari sore menerobos daun-daun pinus. Menerangi hutan kecil yang tidak lebat ini. Hanya pohon pinus dan semak-semak.

Mas, bagaimana ini?” Rani membungkuk memegangi lututnya yang lelah.

Rama tak bisa langsung menjawab. Nafasnya masih terengah-engah. Ia menengok ke arah kedatangan mereka tadi. Sebagian jalan setapak yang mereka lalui telah tertutup pepohonan dan semak-semak.

Kita pulang saja. Balik ke jalan setapak.” Kata Rama.

Tapi, Jalu bagaimana? Kalau Jalu hilang, Bapak bisa marah besar! Mas Rama tahu kan betapa sayangnya Bapak pada Jalu?”

Rama berpikir dalam diam. Ia belum pernah mengunjungi hutan ini sebelumnya. Kalau ia terus mencari Jalu, resikonya, ia dan Rani bisa tersesat. Tapi, bukankah orang-orang desa sering mencari kayu di hutan ini? Berarti, hutan ini aman untuk ditelusuri. Walaupun beresiko, tapi harus dicoba. Mumpung hari belum gelap. Ia juga masih bisa melihat arah jalan pulang.

Jalu. Si Ayam Tiga Juta Rupiah. Rani. Si Cerewet. Hehhhh…benar-benar duo bikin masalah. Ia menggeleng-geleng.

Ya sudah. Kita cari terus. Sampai ketemu. Mumpung belum Magrib.” Jawab Rama ketus. Ia masih marah pada adiknya. Gara-gara Rani menggigit tangannya, Jalu terlepas, dan kabur.

Rama memimpin di depan Rani, mencari-cari jalan mana yang bisa dilewati, sembari memperhatikan tanda kemunculan Jalu. Atau mungkin pencari kayu yang kebetulan lewat, supaya ia bisa bertanya. Namun, setelah beberapa waktu dicari, Jalu tidak muncul juga.

BUKKK!!

Sesuatu jatuh dari atas.

Ular!!” Pekik Rama. Tangan kanannya merentang. Memberi tanda kepada Rani supaya berhenti.

Sssssssssss……. Ular itu mendesis. Kulit tubuhnya berwarna hijau terang. Hanya ular sebesar ranting kecil. Tapi, bagaimana kalau ular ini berbisa? Ia belum pernah berhadapan langsung dengan seekor ular. Tubuh Rama kaku dibuatnya.

Pukkk!

Sebuah batu mengenai si ular hijau. Hewan melata kecil itu langsung beringsut. Ia mendesis sebentar, lalu merayap pergi, menghilang di antara rerumputan.

Sama ular kecil saja takut. Hihihihi!” Rani cekikikan. Rupanya, ia lah yang melempar batu untuk mengusir ular.

Mulut Rama berkomat-kamit sebal, ketika Rani berjalan melewatinya.

Biar aku yang memimpin. Aku tahu jalan ini. Aku dan teman-teman Pramuka pernah mengadakan kegiatan di hutan ini.” Rani memeriksa sekitar.

Ah! Ini, Mas!” Rani mengambil sesuatu dari semak-semak. Sehelai bulu panjang yang mengkilap. Berwarna hijau gelap dengan semburat biru dan merah tua.

Rama mendekati adiknya. “Apa itu?”

Ini pasti bulu Jalu. Sepertinya, bulu-bulunya ada yang rontok, tersangkut semak-semak. Kita cari lagi bulu yang seperti ini.” Rani menyodorkan sehelai bulu yang ia temukan pada Rama.

Rama mengamati bulu itu. Benar juga. Mirip bulu Jalu.

Mereka melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari tempat bulu pertama tadi, secara berurutan, mereka menemukan tiga… dua… satu… dua helai bulu senada yang tersangkut di berbagai semak. Rama dan Rani semakin bersemangat mencari.

Yakin bahwa posisi mereka sekarang sudah dekat dengan Jalu.

KROSAK! KROSAK! KROSAK!

Sesuatu yang bergerak di antara gerumbulan besar semak-semak.

Rama dan Rani berhenti melangkah. Mereka memasang mata dan telinga. Tapi, tidak ada yang terjadi. Suara itu hilang.

Ada harimau tidak di hutan ini?” Rama melirik ke arah Rani.

Tidak ada, Mas. Ini kan hutan pinus. Bukan hutan belantara.” Bisik Rani.

Terus tadi hewan apa?” Tanya Rama was-was.

Paling… Oh! Jangan…jangan sampai, deh, Mas….Begini…mundur pelan-pelan… Setelah agak jauh, kita lari, ya….” Rani menjelaskan dengan suara agak bergetar.

Rani mulai melangkah mundur pelan-pelan. Berusaha tidak menimbulkan bunyi. Diikuti oleh Rama. Mata mereka mengawasi gerumbulan semak-semak tempat sumber suara tadi.

Ran…, itu sebenarnya suara apa….” Hati Rama semakin tegang karena tidak

mengetahui apa yang sedang dihadapinya.

KREK!! Kaki Rama menginjak ranting.

Bersamaan dengan itu, seekor hewan berbadan bulat besar berwarna abu-abu gelap muncul dari semak-semak.

BABI HUTAAAAN…!!!”

Kedua kakak-beradik itu lari sekencang-kencangnya. Di belakang mereka, si babi hutan mendengus-dengus marah, lalu mengejar.

Mas! Belok! Belok!” Teriak Rani.

Tanpa berpikir panjang, Rama membelok ke jalan setapak yang lain. Dari belakang, Rani berlari menuju ke arahnya, dan langsung menubruk. Mereka berdua jatuh terjerembab di tanah.

Aduh!”

Sori, sori! Cepat sembunyi di semak-semak ini! Babi hutan tidak bisa berbelok!”

Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tidak tahu berapa lama mereka berdua bersembunyi, berjongkok dalam semak-semak. Menahan gatal gigitan nyamuk-nyamuk hutan dan dengingnya yang mengganggu telinga.

Lambat laun, cahaya matahari sore menghilang. Berganti gelap malam.

Mas, sudah malam ya, ini? Kok gelap?” Bisik Rani.

Ayo, keluar. Babi hutan itu pasti sudah pergi.” Ajak Rama.

Rama dan Rani keluar dari persembunyian, berdiri di jalan setapak. Benar. Hari sudah gelap. Yang nampak hanyalah bayangan-bayangan hitam pepohonan dan semak-semak. Udara malam yang dingin menambah ngilu hati yang ngeri.

Mas…mau pulang….” Rani memeluk erat tangan Rama. “Aku tidak bisa melihat jalan pulang …”

Rama sendiri juga ingin pulang. Secepatnya. Tapi, bagaimana caranya? Semua gelap. Terlalu berbahaya jika berjalan kembali pulang. Jalan setapaknya pun ada banyak. Bagaimana ia tahu jalan mana yang akan mengantar mereka pulang?

Rama takut. Sangat takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan adiknya.

Rani semakin erat memeluk lengannya. Itu membuat nalurinya sebagai kakak timbul.

Tidak!

Sekarang, bukan waktunya untuk berhati lemah. Ia harus bisa melindungi diri dan Rani. Rama mencoba menguasai ketakutannya dan berpikir sejernih mungkin.

Sebentar.” Rama teringat sesuatu. Ia merogoh sakunya.

Pyar! Sebuah cahaya kecil menyala di tangan Rama. Cahaya itu berasal dari handphone-nya.

Bawa handphone? Telepon Bapak, Mas!” Mata Rani berbinar.

Tidak bisa. Pulsa habis.”

Pundak Rani melorot karena kecewa.

Rama memeriksa keadaan sekitarnya. Pohon. Semak. Pohon. Semak. Batu.

Ran, itu ada batu besar yang tertutup tumbuhan menjalar.” Rama mengarahkan cahaya ke tempat yang ia maksud. Sebuah batu setinggi satu setengah kali orang dewasa. Tertutup tumbuhan-tumbuhan menjalar dan beberapa semak-semak kecil di sana sini. Bagian bawah batu menonjol keluar.

Kita bersandar ke situ saja. Daripada berdiri di tengah jalan ini.” Kata Rama berusaha tetap tenang.

Rani mengikuti Rama sambil tetap memeluk lengan kakaknya. Keberaniannya tadi sore ikut lenyap ditelan gelap.

Kita buat api dulu, ya? Kumpulkan ranting-ranting.”

Setelah berhasil mendapatkan cukup ranting, Rama merogoh saku celananya. Ada sebuah korek api yang biasa ia gunakan untuk merokok. Dengan sedikit gemetar, ia memantik api. Lalu membakar ranting-ranting yang telah dikumpulkan. Sebentar kemudian, mereka duduk beristirahat di depan api unggun kecil sambil bersandar pada batu besar tadi.

Rama mengeluarkan sesuatu lagi dari sakunya. Rokok. Biasanya, dengan merokok, ia bisa merasa tenang dan berpikir jernih. Tapi, Rani merebutnya tiba-tiba.

Hei, Ran! Itu rokokku.” Rama bersungut-sungut.

Minta rokok lagi. Kalau bisa, semua rokok yang ada di saku Mas Rama.” Katanya.

Rama tidak mengerti maksud adiknya. Tapi, ia turuti saja. Saat ini, ia tidak ingin bertengkar dengan adiknya. Bertengkar malam-malam di hutan? Bukan pilihan yang bagus.

Rani menyobek semua lintingan kertas rokok dari Rama. Ia mengambil tembakaunya, lalu menaburkannya di sekeliling tempat mereka. “Hewan-hewan berbisa tidak suka dengan tembakau. Sebenarnya, tembakau ini kurang banyak. Tapi, lumayan lah. Daripada tidak ada.” Jelas Rani. Sepertinya, rasa takutnya mulai berkurang.

Rama dan Rani hanya diam memandangi api unggun. Diiringi suara-suara serangga malam yang berderik-derik.

Wuih…bintangnya banyak, tuh, Ran! Langit sedang cerah.” Rama memecah keheningan.

Heeh. Bagus, ya?”

Di sela-sela bayangan pohon pinus, mereka berdua bisa melihat keindahan langit malam, bagai beludru hitam bertabur ribuan intan.

Mas Rama, maaf ya, gara-gara aku, Jalu jadi kabur. Aku yang membuat kita berdua tersesat.” Rani menatap Rama sedih.

Iya, kamu itu ada-ada saja.” Cibir Rama.

Sebenarnya, aku tidak mau Mas Rama kena marah Bapak lagi. Aku kasihan, setiap hari, Mas Rama dimarahi Bapak…” Rani memeluk kakinya yang menekuk rapat di badan.

Rama mengangkat alisnya. Ia tidak menyangka Rani peduli padanya.

Iya, aku memang anak nakal. Bapak jadi marah-marah terus. Beda dengan kamu. Kamu anak kesayangan Bapak.” Rama melempar beberapa ranting ke dalam api.

Siapa bilang? Waktu Mas Rama butuh uang buat masuk STM, Bapak kan menjual sepeda antik kesayangannya. Aku tidak sengaja dengar waktu Bapak bicara sama Ibu. Soalnya, uang Bapak sudah habis buat biaya rumah sakit Mbah.”

Rama mengerucutkan bibirnya. “Masa?”

He’eh.” Rani mengangguk.

Alunan musik rock tiba-tiba mengalun. Rama dan Rani saling berpandangan.

HP!!”

HP Rama berbunyi. Seseorang sedang menghubunginya.

Halo…”

Rama?? Ini Rama??” Terdengar suara serak seorang laki-laki dewasa di hpnya.

Tuuuuuut…..

Mati.

Sial! Sinyalnya hilang!” Rama berdiri dan berjalan di sekeliling api unggun sambil mengangkat HP tinggi-tinggi. Berharap balok-balok sinyal kembali muncul di sudut kanan atas layar HP.

Ia memeriksa. No service.

Bisa, Mas?” Tanya Rani penuh harap.

Rama menggeleng. Ia kembali duduk di sebelah Rani.

Mas Rama, aku mau sholat… Bagaimana caranya ini…” Rani merengek.

Aduh! Kamu itu ada-ada saja! Di tengah hutan begini, gelap! Mana aku tahu? Kamu kan yang paling rajin sholat?!” jawab Rama.

Rani termenung.

Mau pulang….” Rani merengek lagi.

Mana yang katanya Pramuka? Tersesat begini saja sudah cengeng!” Tukas Rama.

Kan, kalau Pramuka memang sengaja menginap di hutan. Jadi semuanya sudah disiapkan. Ada tenda, air, makanan, panci, jaket…” Rani menggosok-gosok kedua lengannya secara bersilangan untuk melawan hawa dingin.

Payah…”

Mas Rama…Lapar…”

Makan tuh daun di belakangmu!” Bentak Rama sebal. Ia mulai tidak tahan dengan rengekan adiknya.

Rani merengut. Dengan kesal, ia membalikkan badan, mencabuti sulur-sulur menjalar yang tumbuh di batu besar tempatnya bersandar. Lalu, melemparkan sulur-sulur itu ke dalam api unggun. Api itu bergoyang sebentar. Tak lama kemudian, lidah-lidahnya menjilat habis batang-batang dan dedaunan tanaman merambat itu.

Tuh! Sudah matang! Silahkan makan….” Ucap Rani sinis. Tangannya masih sibuk mencabuti sulur-sulur di belakang punggungnya, melampiaskan kekesalannya pada Rama.

Rama dan Rani diam dalam amarah. Suasana hutan di malam hari yang sepi, dingin, dan mencekam semakin terasa. Entah sudah jam berapa sekarang.

Jalu…Jalu…! Kalau tahu begini, sudah kusembelih kau dari dulu. Aku goreng supaya tidak membuat masalah seperti ini! Rama merutuk.

Tapi, kalau itu benar terjadi, dia tetap akan kena masalah. Dimarahi habis-habisan oleh Bapak. Ah, setidaknya, di hutan ini, dirinya bisa merasa lebih tenang. Telinganya hanya diisi oleh suara serangga-serangga malam. Dan matanya bisa menikmati keindahan langit malam bergemintang. Sungguh damai. Tidak ada omelan ataupun mata yang melotot marah.

Pukk!

Sesuatu mengenai pundak Rama. Ia menoleh kaget.

Dasar Rani. Bisa-bisanya kamu ketiduran dalam kondisi begini…Payah…” Rama tersenyum sinis. Ia menggeser posisi duduknya mendekati Rani, supaya adiknya bisa bersandar lebih nyaman. Diam-diam, ia merasa kasihan pada adiknya. Rama harus mengakui, Rani cukup tangguh untuk ukuran anak perempuan.

Rama melempar beberapa ranting baru ke dalam api. Kini, nyalanya bertambah terang dan menimbulkan hawa hangat di udara sekitar. Ia memutuskan untuk terjaga malam ini, sampai besok subuh. Kalau ada hewan-hewan berbahaya datang mengganggu, ia bisa segera mengusir mereka. Atau, siapa tahu, ia dapat mendengar suara Bapak dan orang-orang yang mungkin sedang melakukan pencarian sekarang. Tapi, apakah mereka tahu, kalau dirinya dan Rani tersesat di hutan, dan bukan di tempat lain? Apakah benar Bapak akan pergi mencarinya?

Mungkin bukan pergi untuk mencari aku. Pasti… untuk mencari Rani. Dengusnya dalam malam yang semakin tenggelam larut dalam kegelapan.

…………

……..

.

Hieeeegh…..! Hieeeegh….!

Terdengar ringkik kuda. Banyak kuda. Kaki-kaki kuda yang berderap-derap.

Jangan biarkan mereka lari! Kejaaar! Tangkaaap…!!

Suara teriakan orang-orang saling bersahutan. Teriakan marah. Teriakan kesakitan.

Ini di mana?

Rama membuka matanya. Tadi, tanpa sengaja ia tertidur. Di hadapannya sekarang, banyak laki-laki berpenampilan aneh. Beberapa menaiki kuda, sedangkan sebagian besar berdiri di atas kaki sendiri. Mereka membawa senjata dan saling berkelahi satu sama lain. Suasana malam yang semula tenang, berubah hiruk-pikuk dan kacau-balau.

Ini di mana? Siapa mereka?

Rama terkisap. Ia menoleh ke arah Rani. Adiknya tetap terlelap di sampingnya.

Ran! Ran! Cepat bangun!” Rama menggoyang-goyangkan tubuh Rani. Tapi tidak ada reaksi balik. Rani tetap tertidur pulas.

Pandangan Rama beralih ke sekelilingnya.

Ini bukan perkelahian. Ini pertempuran!

Mereka sedang berada di tengah-tengah pertempuran! Secara reflek, Rama segera memeluk untuk melindungi adiknya.

Orang-orang itu…

Rama mulai bisa mengenali. Para laki-laki bertelanjang dada dengan kain bermotif sebagai penutup tubuh bagian bawah sampai lutut. Rambut mereka tergelung ke atas kepala seperti bola kecil. Tombak, pedang, keris, beradu tempur di mana-mana…

Salah seorang yang berkuda dari para laki-laki itu menyadari keberadaan Rama dan Rani. Orang itu memacu kudanya ke arah mereka. Semakin dekat…

Semakin dekat….

DEKAT SEKALI!! Kaki-kaki kuda itu hendak menghunjam mereka!

Rama menubruk tubuh adiknya. Mereka berdua terjerembab ke rerumputan yang terasa basah. Sebuah keris kecil berkilau dalam kegelapan. Orang itu menusuk kakinya.

Rama menyambar keris itu. Tiba-tiba, keris itu berubah menjadi ular kecil dengan mulut menganga, memamerkan dua taring tajam. Rama mencekik ular itu sekuat tenaga. Memaksa mengatupkan mulut bertaring itu.

Dia mencekik, menekan, mencekik…

Badan binatang melata itu membelit kuat tangannya.

Hei! Ada sesuatu merayap di kakiku!

Rama melihat kebawah. Hiiiiiih!! Puluhan ular berjenis sama merayapi kakinya dengan cepat.

Ya Allah….ya Allah…ya Allah…!! Tolong….!!

Sekencang mungkin Rama berteriak memanggil namaNya. Tapi, suaranya tidak keluar! Oh, ia sungguh menyesal tidak sholat Ashar tadi di rumah. Kini, ia akan mati. Dan ia belum sholat. Sudah lama ia meninggalkan sholat.

Kaki Rama berdenyut nyeri. Rasa nyeri itu membawa sensasi yang membakar. Merayap…merayap…seperti ular-ular kecil…ke sekujur tubuhnya.

Sakit! Sungguh-sungguh sakit….!

Mata Rama terbuka mendadak.

Sinar lembut matahari pagi menyilaukan matanya yang telah semalaman berkutat dengan kegelapan. Pandangannya kabur. Ruangan putih.

Ini di mana?

Pak! Bu! Mas Rama sudah sadar! Aku panggil dokter, ya!” Suara Rani terdengar nyaring menusuk telinga.

Wajah pertama yang dilihat Rama adalah wajah sembab Ibu. Lamat-lamat. Kemudian, semakin jelas. “Alhamdulillah. Syukurlah, Ram. Kamu tidak apa-apa? Pusing? Ini di rumah sakit.” Ibu memegang dahi Rama. “Sudah mulai berkeringat, Pak. Panasnya sudah mulai turun. Alhamdulillah, anti racunnya sudah bekerja.” Mata Ibu basah.

Tak henti-hentinya beliau mengucap syukur.

Rumah sakit?

Lalu, muncul wajah yang ditakuti Rama. Wajah Bapak. Tapi, kali ini, bukan wajah marah. Sebuah senyum penuh kelegaan menghiasi wajah Bapak.

Jalu–” Tenggorokan Rama tercekat. Tiba-tiba ia merasakan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa berat.

Sudah, tidak usah memikirkan Jalu. Biar saja, Jalu hilang. Yang penting anak-anak Bapak pulang dengan selamat.”

Rama menangkap keteduhan di wajah Bapak. Sesuatu yang tidak pernah ia jumpai selama ini.

Sewaktu di hutan, kaki kamu digigit ular. Rani yang menyelamatkan kamu. Dia mengikat kakimu dengan kain bajunya. Jadi, racunnya tidak menyebar.” Lanjut beliau.

Aku…digigit ular? Heeh?

Kepala Rama terasa berdenyut-denyut. Muncul ingatan tentang keris yang berubah menjadi ular kecil.

Sudah sadar, Dik?”

Seorang laki-laki berjubah putih memasuki ruangan. Ia memeriksa denyut nadi Rama. Rani muncul di belakangnya. “Mas Rama! Kita menemukan candi!” Serunya riang.

Candi? Kepala Rama makin pening.

Rani menahan ceritanya hingga dua hari ke depan, ketika kondisi Rama membaik. Ia pun mulai bercerita.

Saat tertidur di hutan malam itu, Rani bermimpi buruk tentang prajurit-prajurit kerajaan Jawa yang sedang berperang. Kemudian, begitu waktu subuh tiba, ia terbangun. Dilihatnya, Rama sedang mengigau dan menggigil. Badannya panas. Ia juga melihat bangkai seekor ular kecil tergeletak di samping Rama.

Setelah melakukan pertolongan pertama yang ia pelajari di organisasi Pramuka, Rani mencoba menghubungi Bapak dengan HP Rama. Tentu saja gagal. Karena tidak ada pulsa dan sinyal.

Aku tidak mungkin meninggalkan Mas Rama sendirian untuk pergi mencari bantuan. Lalu, aku punya ide. Aku bersihkan tanaman-tanaman yang menutupi batu besar itu. Supaya aku bisa naik ke atas batu dengan mudah, dan mencari sinyal. Eh, ternyata batunya berundak-undak seperti tangga. Aneh, kan?”

Rama mengangguk lemah.

Aku terus membersihkannya. Karena hari semakin terang, aku bisa melihat relief-relief berbentuk manusia terpahat di batu itu. Aku kaget, Mas! Tapi, aku teringat Mas Rama. Jadi, aku abaikan saja. Aku memanjat sampai ke atas.

Dan….”

Dan, apa?” Tanya Rama penasaran.

Dan, aku dapat sinyal! Lalu, tring! Ada sms masuk di HP: Selamat! Anda mendapatkan bonus menelepon gratis selama tiga menit ke seluruh operator!

Rama terbeliak sejenak. Lalu, matanya beralih memandang keluar jendela kamar rumah sakit. Merawang jauh. Jauh, melewati jalan raya, berbelok ke areal persawahan desa, menelusuri jalan setapak kecil yang teriring aliran sungai kecil nan jernih. Di ujung jalan itu, ada sebuah hutan yang ditumbuhi pohon-pohon pinus. Ya, di situlah ia semalam.

Di hutan pinus itu… candi yang ditemukan Rani… apakah ada hubungan dengan mimpi mencekamnya tentang peperangan? Teriakan-teriakan itu… tapak kaki kuda yang hendak menghunjamnya dan Rani… lalu, ular-ular kecil itu… Semua terasa sangat nyata. Dan tiba-tiba saja, ia terbangun. Menemukan kenyataan bahwa nyawanya baru saja melewati lubang jarum kematian.

Pandangan Rama masih saja kosong menatap keluar jendela. Ia tidak tahu. Di dalam hutan itu, sekarang, banyak orang yang sedang berkumpul, bekerjasama membersihkan tanaman-tanaman yang menutupi sebuah batu besar setinggi satu setengah kali tinggi orang dewasa.

Selang beberapa jam kemudian, tampaklah sebuah candi kecil berundak dengan atap berbentuk stupa. Berdiri tegak dan terasing. Baru saja bangunan itu bangun dari tidur lintas jaman yang lelap, di bawah selimut hangat tanaman-tanaman rambat.

Rama menolehkan kepala pada Rani yang duduk di pinggir tempat tidur. Ia bertanya dengan suara lirih. “Ran…, apa kamu tahu… cara sholat di tempat tidur?”

[Eryani Widyastuti]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s