Pilihan Hati


Pilihan Hati

Aku mengenal dia ketika kami sama-sama mendaki gunung kecil di kota tempat kami menimba ilmu sebagai mahasiswa. Daniel; laki-laki berpostur tinggi, berambut gondrong seleher, sedikit selengekan, namun tetap tidak mengurangi tampang kerennya. Sehingga, ia selalu menjadi bahan perbincangan populer di antara para gadis di kampusku. Sedangkan aku; gadis berambut pendek, berkacamata, berpenampilan sedikit berantakan, dengan baju kebangsaan kemeja kotak-kotak lengan panjang, dan celana kain yang berpadu dengan sepatu kanvas. Entah, bagaimana dulu awalnya, sampai kami bisa akrab. Mungkin, karena kami memiliki kesukaan yang sama.

Aya! Aya!” Suara ceria yang terdengar familiar itu meyerukan namaku dari arah belakang. Aku menoleh.

Kulihat, Daniel berlari-lari di koridor gedung kampus sambil mengacung-acungkan sebuah buku kecil. Mataku melebar.

Itu dia komiknya!

Dapat kemarin?” Aku menyambutnya dengan gembira.

Nih!” Daniel mengulurkan komik yang ada di tangannya. “Semalam, begitu sampai rumah, aku langsung baca. Biar sekarang, kamu bisa gantian baca. Aku baik, kan?” Dia tersenyum kekanak-kanakan.

Aku mencibir saja. Supaya tidak tampak ekpresi suka dari wajahku. Maksudku, bukan hanya suka karena dia membawa komik yang kuinginkan. Tetapi, juga suka dengan caranya tersenyum seperti itu. Huff, sungguh memalukan kalau sampai Daniel tahu!

Kuambil komik itu dari tangannya. Komik yang istimewa. Karya komikus Indonesia yang baru saja memenangkan penghargaan di Jepang. Sedangkan di negeri sendiri, tidak ada institusi apapun yang memberikan penghargaan padanya.

Sungguh ironis.

Wuihhh…! Gambarnya memang keren, ya? Lihat. Latar belakangnya saja digambar sedetail ini. Gunungnya, pohonnya…Pantaslah kalau menang!” Komentarku sambil membuka halaman-halaman komik secara acak.

Oooh! Belum itu, Ay! Nanti, kamu akan lihat ada gambar sebatang pohon dengan seekor tonggeret yang sedang mengintip di balik lubang kayu! Bagus sekali! Pas untuk menggambarkan kondisi tokohnya di panel itu. Kereeen!” Serunya kagum.

Daniel memang selalu antusias mengomentari komik. Memperhatikan detail gambar dan ceritanya. Begitu pula aku. Kami sering memanfaatkan waktu makan siang seperti ini untuk membicarakan kegemaran kami.

Pada pertengahan obrolan kami yang seakan tanpa ujung, aku mengajak Daniel menuju kantin. Sebab, aku sudah berjanji akan mentraktirnya jika dia berhasil mendapatkan komik ini. Terpaksa, deh! Anggaran makan siangku jadi minus.

Kamu sudah ambil ambil perlengkapan wisuda, Dan?” Tanyaku sambil melahap semangkuk bakso pedas di emperan gedung kampus yang kosong, jarang dipakai.

Beberapa mahasiswa juga duduk segaris dengan kami, lengkap dengan mangkuk-mangkuk bakso ataupun mie ayam. Dua-tiga orang membentuk kelompok-kelompok kecil. Tiap-tiap kelompok duduk agak berjauhan, seakan tak ingin pembicaraannya didengar oleh kelompok yang lain. Asyik mengobrol dengan mulut komat-kamit mengunyah makanan. Sama saja seperti aku dan Daniel.

Daniel menelan makanannya dengan segera, meletakkan mangkuk baksonya, lalu, menyambar segelas es jeruk di sampingnya. Gluk! Gluk! Gluk!

Sudah.” Jawabnya singkat. “Sebenarnya, aku mau bicara tentang itu ke kamu.” Dia menatapku dengan sorot dalam.

Aku jadi rikuh. Maka, kubuang pandangan ke arah serombongan gadis-gadis berpostur semampai nan modis. Spontan, terlintas pikiran, kenapa Daniel tidak berteman saja dengan mereka? Bukankah gadis-gadis itu lebih menarik dibandingkan aku?

Rupanya, gadis-gadis itu menyadari kehadiranku dan Daniel yang sedang duduk di emperan. Mereka tampak berbisik-bisik, disertai pandangan tidak suka. Yah, sudah biasa. Aku sering dipandang seperti itu sejak akrab dengan Daniel.

Hei!” Daniel menyeruku. Membuyarkan lamunanku.

Eh! Iya, sori. Nggak enak sama fans kamu yang baru lewat.” Aku membela diri.

Fans apa?” Tanyanya heran. Daniel memang tidak pernah mau ambil peduli dengan perhatian-perhatian istimewa yang diberikan para gadis kepadanya. Tetap menjadi Daniel yang apa adanya; berpenampilan cuek, namun ramah kepada siapa saja.

Aku tersenyum. “Ah, tidak penting. Lanjut, Dan.”

Daniel berdehem.

Mmm…begini, Ay.” Katanya pelan. “Sebentar lagi, aku kan lulus, sedangkan kamu, baru dua tahun lagi lulus. Itu juga, kalau kuliah kamu lancar.”

Aku melotot. “Eh, kok begitu? Ya lancar, dong! Siapa juga yang mau jadi mahasiswa abadi?” Sergahku.

Daniel cekikikan. “Aya sewot. Sering-sering sewot, ya? Buat kenang-kenangan.”

Aku terdiam. Oiya, benar. Kenangan. Sebentar lagi, kebersamaan kami hanya akan jadi kenangan. Daniel harus pergi dari kampus ini. Bukannya aku tidak tahu kenyataan itu. Selama ini, aku hanya tidak ingin memikirkannya.

Aku menunduk. Tiba-tiba, rasa sedih memenuhi dadaku. “Iya ya. Aku jadi nggak punya teman ngobrol komik lagi, dong…” Aku menatap Daniel sedih.

Aya…mmmm…bagaimana kalau kita terus saja?” Mata Daniel terlihat serius.

Terus apa?” Dahiku berkerut tak mengerti. Tapi, hatiku mulai berdesir aneh.

Daniel menghela napas pelan. “Aya mau jadi pacarku?”

Pacar?? Aku terbelalak. Untung saja aku memakai kacamata. Jadi, Daniel tidak bisa menangkap kekagetanku. Rasanya, aku mendadak melayang. Sungguh membahagiakan mendengar seseorang yang aku sukai, ternyata menyukaiku juga.

Anu… eh… itu…” Aku tak bisa menemukan kata-kataku sendiri. Sebab, pertanyaan Daniel tadi seolah bertalu-talu di dalam diriku. Di telingaku, di kepalaku, di hatiku, di perutku, di lututku…

Pacar… pacar… pacar… Aku… pacar Daniel??

Anganku melambung, membayangkan betapa bahagianya diriku jika menjadi pacar Daniel. Terbayang olehku mendaki gunung, menyalakan api unggun di bawah langit malam penuh bintang bersama teman-teman… tetapi, dengan Daniel di sampingku. Selalu di sampingku. Kami berdua akan tertawa bersama sampai sakit perut dan berurai airmata, saling melemparkan obrolan konyol yang tidak penting… Kami tidak akan sekejap pun memejamkan mata. Karena, kami akan menunggu sunrise sambil membahas seru berpuluh-puluh judul komik…

DUK! DUK! DUK! DUK! DUK… Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar….!

Lalu, suara itu membangunkan aku dari dunia khayal. Suara adzan Dhuhur.

Aku terkisap. Mengusap mata di balik kacamataku. Astaghfirullah…

Aku memandang Daniel. Laki-laki ini. Dia laki-laki yang baik. Dan, aku menyukainya. Tapi, suara adzan Dhuhur tadi memaksaku untuk mengingat kenyataan yang sebelum ini selalu kutendang jauh di pojok kesadaranku.

Dia meyakini sesuatu yang tidak aku yakini. Dan, dia tidak meyakini apa yang aku yakini.

Sebuah kalung perak berliontin salib dengan ukiran seorang laki-laki kurus di tengahnya, menyembul dari lubang leher kemeja Daniel. Liontin itu. Simbol dari kenyataan yang tak pernah ingin aku sadari. Kini tiba-tiba menyeruak muncul di hadapanku. Seolah sengaja menusuk kedua bola mataku dengan ujungnya.

Aya mau sholat dulu?” Tawarnya. “Kamu kelihatan tegang. Apa aku tadi salah ucap?”

Daniel memandangku khawatir.

Dan, aku…boleh tidak, kalau aku tidak menjawab hari ini?” Ucapku hati-hati. Takut membuatnya tersinggung. Jujur, aku takut Daniel akan membatalkan pernyataannya tadi jika aku menunda jawaban.

Daniel tertawa. “Tentu boleh, Aya! Ini bukan soal ujian yang harus dijawab sekarang!”

Aku mengangguk-angguk malu.

Kok kamu jadi malu-malu begitu sama aku?” Oloknya. “Aku saja santai…”

Bohong!” Cibirku. Aku bisa melihat ketegangan di wajah Daniel.

Hehehe…” Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, sambil tersipu.

Kami tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan kami sendiri.

Selesai membayar bakso, kami pun berpisah. Daniel pulang ke rumah, sedangkan aku melangkah menuju masjid kampus. Ada rasa bersalah dalam setiap langkahku. Bukankah sejak awal aku tahu kalau Daniel itu berbeda keyakinan denganku? Tapi, kenapa aku terus saja berakrab-akraban dengannya? Sambil berharap untuk berhubungan sebatas teman tanpa ada perasaan istimewa apapun. Bohong kalau aku tidak pernah mengharapkan dia untuk menyukaiku.

Ah, kalau sudah sama-sama suka begini, apa yang kudapat? Senang? Iya. Bingung? Sangat!!!

Bu…., bagaimana?” Aku menyusup manja ke dalam pelukan Ibu yang sedang duduk santai di depan tv, menonton acara berita. Kami sedang berdua saja di rumah malam ini. Bapak sedang menghadiri rapat RT. Sedangkan kakakku pergi ke rumah teman.

Apanya yang bagaimana?” Tanya Ibu dengan nada lembut mendatar.

Daniel, Bu….Ibu tadi mendengarkan ceritaku, kan? ” Tanyaku manja.

Iya, iya. Ibu dengar tadi. Hmmm…bagaimana, ya? Kalau kamu sendiri, ingin pacaran tidak?” Ibu bertanya balik.

Hmmm…tidak tahu. Soalnya, aku cuma berpikir untuk berteman akrab dengan siapa saja yang aku suka. Lagipula, aku masih ingin fokus kuliah. Kalau pacaran…mmm…memang sebenarnya, pacaran itu buat apa ya, Bu?”

Waduh. Jaman Ibu dulu sih tidak ada pacaran. Dulu, setelah dikenalkan oleh Pakdhe, Bapakmu langsung datang melamar. Terus, nikah, deh. Jadi, ya, tidak ada pacaran, Aya. Coba kamu pikir dulu. Apa tujuan pacaran?”

Mmmm…ya, nikah lah, Bu. Masa cuma buat senang-senang? Tidak bagus, kan, seperti itu? Nanti malah kebablasan!” Aku mendengus prihatin.

Puk! Ibu menepuk punggung tanganku. “Betul! Nah, masalahnya, kalau sudah pacaran, apakah menjamin kalian berdua bakal menikah?”

Aku memanyunkan bibir. Benakku mengilustrasikan berbagai fenomena pacaran yang pernah kujumpai selama ini. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Ibu.

Lalu, misalnya, kamu dan Daniel akhirnya menikah; kamu mau memeluk agama apa? Islam, ata-”

Ya, Islam, dong, Bu!” Potongku emosi.

Ibu tersenyum.

Dan, Daniel? Tetap dengan agamanya? Suami itu pemimpin istri, lho, Aya. Bukan hanya untuk urusan dunia, tapi juga akhirat. Untuk menuju surga.”

Aku menatap kosong ke arah lantai. Jika punya suami nanti, aku ingin merasakan bimbingan seperti yang dilakukan Bapak kepada Ibu. Saat Ibu sedang menghadapi masalah, Bapak selalu mengajak Ibu untuk merenungkan kebesaran Allah. Apakah Daniel bisa melakukan itu, kalau tuhan yang dia imani saja tidak sama denganku?

Masih panjang lagi urusannya, Aya. Kalau kalian punya anak. Anak itu akan memeluk agama apa?”

Aku memandangi wajah Ibu dengan perasaan campur aduk. Bingung, sedih, dan ngeri. Apa jadinya nanti jika anak-anakku nanti tidak meyakini kebenaran agama yang aku yakini?

Aya, memang, memilih pasangan itu tidak bisa hanya atas dasar suka saja. Karena, memilih pasangan itu artinya, kita juga memilih seorang bapak untuk anak-anak kita kelak. Nabi juga sudah berpesan, bukan? Paling baik, pilihlah karena agamanya. Bukan berarti fanatik atau bagaimana. Sebab, agama itu kunci kebahagiaan dunia dan juga akhirat.”

Jadi, aku harus bagaimana, Bu?”

Ibu mengelus-elus kepalaku. Lembut sekali. “Berpikirlah. Sholat dulu sebelum membuat keputusan, supaya hati kamu tenang. Minta petunjuk kepada Allah. Ibu percaya, anak Ibu pasti akan membuat keputusan yang bijaksana.”

Aku mengangguk lemas.

Ya Allah…

Kata-kata Ibu benar sekali. Tapi, Engkau tahu, kan? Aku menyukai Daniel. Sangat menyukainya! Aku takut… aku akan kehilangan hari-hari yang menyenangkan seperti yang telah kulewati selama ini bersama Daniel. Aku… aku ingin terus bersama Daniel…!

Usai sholat tahajud, aku menumpahkan airmata di atas sajadah. Bersujud dalam kebimbangan. Mana yang harus aku pilih? Tuntunan agamaku, dengan mengingkari perasaanku sendiri? Ah, aku pasti akan sangat menderita. Atau aku pilih saja cinta, meski harus mengabaikan agamaku. Tapi, bagaimana dengan nuraniku?

Ya Allah… Mana yang harus aku pilih? Engkau atau Daniel? Tolong, beri aku kekuatan dan petunjukMu….

Bagiku, keadaan ini sungguh ironis. Aku dan Daniel memiliki perasaan sama. Tapi, malah, aku merasa patah hati. Rasa ini lebih menyakitkan daripada patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Oh, memang ini salahku sendiri! Menutup mata atas kenyataan yang ada pada hubunganku dengan Daniel. Haruskah aku nekat meneruskan hubunganku dengan Daniel? Ataukah aku harus berhenti di sini?

Ini sulit. Aku tidak siap kehilangan keduanya. Tidak Daniel, maupun keyakinan terhadap agamaku. Tapi….

Cukup satu malam.

Cukup satu malam bagiku untuk memikirkan jawabannya. Bukan karena aku menganggap remeh persoalan ini. Tapi, untuk apa aku berlama-lama memikirkannya? Membuat batinku semakin tersiksa. Dan pastinya, menggantung perasaan Daniel. Kurasa, itu ide yang buruk.

Aya!” Sesosok laki-laki melambaikan tangannya ke arahku dari kejauhan, ketika aku berjalan menuju kampus keesokan harinya. Daniel berdiri di gerbang belakang kampus. Dia tahu, aku selalu melewati jalan ini.

Ngapain pagi-pagi sudah berdiri di gerbang? Gantikan Pak Satpam?” Candaku. Sebenarnya, aku cukup terkejut. Sebab, tak terbiasa berjumpa dengan Daniel pagi-pagi seperti ini.

Sori, ya? Aku sedang menunggu pacarku!” Daniel berjalan menjajariku.

Kulitku terasa merinding mendengar kata-kata Daniel. Ngawur juga anak ini. Belum dijawab, sudah sok yakin…

Dan, tentang itu… boleh aku jawab sekarang saja?” Aku melihat ke arahnya.

Wajah Daniel terlihat antusias. Hidungnya kembang kempis menahan rasa gembira. Ia tersenyum senang. “Boleh!” Serunya riang, memperlambat langkah.

Bismillah….

Daniel, ngg…aku juga suka kamu.” Aku menundukkan kepala. Memandang kerikil-kerikil berserakan di jalan kecil yang kami lalui.

Aku sedang membuat jeda. Menenangkan hati untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Tapi, tiba-tiba, sebuah tangan besar dan berat memeluk pundakku. Aku kaget!

Eh!” Aku berusaha melepaskan diri, dan berhasil.

Daniel tersenyum tenang. “Kenapa? Tidak mau dipeluk pacar sendiri?”

Aku terdiam. Memperhatikan orang berpacaran sih sudah sering. Kalau berpacaran, itu yang belum pernah aku lakukan. Apa seperti ini? Lalu, berpelukan? Bergandengan?

Aku memutuskan untuk mengajak Daniel menepi. “Maaf, seharusnya, aku tidak menjawabnya sambil berjalan.”

Ya Allah, aku takut! Aku tidak ingin melakukan ini sekarang… tapi…

HARUS!

Ada apa, Aya?” Daniel mulai penasaran.

Aku menatapnya lurus dengan kebulatan tekad. Aku sudah menetapkan pilihan tadi malam. Aku tak akan mundur dan menjadi seorang pengecut. Apapun konsekuensinya, siap tidak siap, aku harus mau menghadapi.

Daniel. Yang tadi… aku tidak bohong. Aku memang suka kamu…” Aku memaksa suaraku untuk keluar, meski terasa berat dan agak tersendat.

Daniel tersenyum, “Ayolah, Aya. Jangan berputar-putar begitu. Kamu kenapa?”

Aku tidak bisa berpacaran denganmu.” Akhirnya kata-kata itu meluncur juga.

Senyum Daniel menghilang. Wajahnya menegang, tak mengerti. Seakan mendapatkan berita: mengulang semester depan!

Kamu…menyukaiku, tapi tidak mau berpacaran denganku? Ma-maksudmu, Ay?”

Hubungan kita tidak akan bisa berujung pada keseriusan–”

Apa maksudmu?” Sahut Daniel emosi. “Kamu pikir, aku main-main? Ya… aku tahu… mungkin di matamu aku adalah laki-laki selengekan yang tahunya hanya bercanda. Tapi, untuk kali ini aku serius. Kalau, aku sudah dapat kerja nanti, aku akan langsung melamarmu.” Daniel menggandengku, mengajak pergi. Tapi, kutarik tanganku sekuat tenaga.

Tolong, biarkan aku selesai bicara…” Aku berusaha menenangkan suaraku yang sedikit bergetar karena menahan sedih. Pernyataan keseriusan Daniel membuat dadaku semakin sesak.

Bagaimanapun juga, Dan… kita punya keyakinan berbeda mengenai Tuhan. Tidakkah kamu memikirkan itu?”

Daniel terdiam. Keningnya berkerut-kerut. Belum pernah kulihat Daniel seserius ini. “Ya. Aku tahu. Tidak masalah bagiku. Bukankah, banyak orang yang melakukannya?” Dia menatapku tegas.

Aku menggeleng. “Aku ingin dipimpin oleh laki-laki yang seiman denganku….”

Daniel menatapku kecewa. Wajahnya…entahlah, aku tidak bisa menjelaskan. Aku benar-benar kasihan melihatnya. Tapi, sepertinya, dia lebih merasa kasihan terhadapku. Sebab, airmata membanjir sudut-sudut mataku. Aku gagal membendung perasaanku sendiri.

Aya…jangan menangis…” Dia mengayunkan tangannya ke arahku. Namun, dia menariknya kembali.

Maaf, Dan….Aku tahu kamu laki-laki yang baik. Tapi, Allah menyuruhku untuk memilih seorang laki-laki karena agamanya. Bukan hanya karena menyukainya. Maaf….” Aku menegarkan diri menatap Daniel. Namun, pandanganku kabur tertutup genangan airmata.

Aku mengerti… aku mengerti…” Suara Daniel memenuhi telingaku. Ia mencoba meyakinkan aku. “Kamu memang gadis yang baik. Tidak salah aku menyukaimu. Sudah… kamu tidak perlu menangis… tidak perlu merasa bersalah terhadapku…”

Seandainya Daniel tahu penyebab airmata ini; aku tak hanya merasa bersalah telah menolak perasaannya, tetapi juga, aku merasa sangat kehilangan dirinya. Setelah ini, hubungan kami akan berubah. Aku tahu pasti. Daniel akan menjauh dariku, dan aku –tentu- akan menjauh dari Daniel. Kebersamaan kami pun akan lenyap ditelan takdir.

Allah…

Aku mengambil napas panjang, menghapus airmataku. Menguatkan hatiku.

Terimakasih, Dan…” Aku mencoba tersenyum selebar yang kubisa. Aku ingin menutup cerita tentang Daniel dengan kenangan baik. “Semoga Tuhan memberikan jodoh yang lebih baik dariku. Untukmu.”

Mata Daniel memerah. Tercekat sesaat, lalu berkata kepadaku dengan sorot terluka dan senyum terpaksa. “Iya, untukmu juga, Ay.”

Aku mengangguk, mengucapkan selamat tinggal, lalu kembali menyusuri jalanan menuju kampus. Sendirian. Tanpa gelak tawa Daniel di sampingku.

Air mataku tak bisa berhenti mengalir. Namun, terus menerus kuucapkan dalam hatiku… Ya Allah, saksikanlah. Aku telah memilihMU.

[Eryani Widyastuti ]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s