Rahasia Sang Penyeduh Kopi


Rahasiasangpenyeduhkopi

Ada dua buah cangkir kosong terbuat dari kaca tebal bening di meja dapur kantor. Pak Maryono, lelaki tua bersahaja, si pesuruh kantor, memasukkan dua sendok kecil bubuk kopi kegemaran Pak Kepala ke dalam cangkir pertama. Empat sendok kecil gula pasir menyusul berikutnya. Lalu, ia melakukan hal yang sama persis pada cangkir kedua.

Ngiiiiiiiiing…!!

Ketel kecil di atas kompor menyuarakan lengkingan panjang, seolah menyeru kepada Pak Maryono. Cepat! Cepat! Cepat! Benda alumunium itu menghembus-hembuskan uap panas dari corongnya, bagaikan dengusan banteng kecil yang pemarah.

Iya…sabar…sabar….” Tubuh Pak Maryono yang kurus namun berisi, bergerak sigap ke arah kompor, mematikan apinya, lalu mengangkat ketel kecil itu. Sisa-sisa kecekatan masa mudanya masih terlihat jelas.

Cuurrr…..

Pak Maryono mengarahkan corong ketel ke arah dua cangkir berisi kopi-gula tadi. Bergantian. Satu demi satu.

Si ketel kecil sudah tenang sekarang. Amarahnya menghilang. Air mendidih yang membuatnya menggelak tadi, telah berpindah ke dalam cangkir-cangkir kaca.

Klinting….Klinting…Klinting….

Air dalam cangkir-cangkir itu mulai bergerak gelisah. Air yang semula bening, perlahan mengeruh, kemudian segera menghitam bercampur dengan bubuk kopi dan gula pasir. Gerakan sendok stainless steel bergagang panjang yang memutar membuat air dalam gelas semakin resah. Menimbulkan pusaran air yang pekat.

Pak Maryono melakukan ritualnya. Menyendok sedikit air kopi, ditumpahkan ke atas telapak tangan kiri, kemudian dicecapnya. Lelaki tua kurus itu tersenyum.

Pas!

Aroma harum menguar dari kegelisahan si air kopi, meresap ke dalam syaraf-saraf penciuman Pak Maryono. Hmmm….Benar-benar biji kopi pilihan. Hanya seekor luwak yang bisa melakukan pekerjaan sebaik ini. Di air mukanya yang selalu nampak bersih dan tenang, tersirat rasa puas. Segera, dipasangnya kopiah hitam untuk menutupi kepalanya yang diramaikan oleh beratus-ratus helai rambut kelabu dan putih keperakan.

Dua cangkir kopi istimewa siap dihidangkan.

Tok! Tok! Tok!

Siapa?” Seru Pak Kepala. Lelaki gendut, berambut tipis hampir botak, dan baru saja melewati umur empat tahun setengah abad. Ia duduk di belakang meja besar yang terbuat dari kayu jati tua kelas satu. Kursinya sangat besar, dengan bantalan lapis beludru yang empuk dan lembut.

Siapa itu, Pak?” Tanya seorang wanita yang duduk di depannya. Wanita itu masih muda dan cantik. Dengan baju setelan warna merah segar ala buah tomat yang baru dipetik. Kuku-kuku jemarinya berkuteks warna merah pula. Memegang erat-erat tas plastik hitam kusut di pangkuan. Sungguh kontras.

Bukankah ia seharusnya memangku Hermes atau Prada?

Maryono, Pak.” Suara dari luar menyahut.

Bibir Pak Kepala tersenyum. Bibir tebal warna abu-abu tua, semakin menggelap dari waktu ke waktu, karena kebiasaannya menghisap rokok kretek sepanjang hari.

Ia menyuruh Pak Maryono masuk.

Tatapan curiga wanita muda yang menjadi tamu Pak Kepala, mengiringi langkah Pak Maryono menuju meja. Dengan hati-hati dan sopan, Pak Maryono meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.

Dik Vita, ini Maryono. Pesuruh di kantor ini. Dia yang biasanya membersihkan dan menata ruangan saya. Tenang saja. Maryono sudah bekerja di kantor ini selama dua puluh tahun. Bahkan, sebelum saya duduk di kantor ini, Maryono sudah bekerja di sini. Tidak ada yang mengeluh tentang dia.” Pak Kepala membuat penjelasan untuk meredakan kegundahan tamunya.

Iya deh. Kalau Bapak yang bilang, saya percaya.” Wanita muda yang disebut Vita itu mengeluarkan suara tawa kecil yang dimerdu-merdukan. Tapi, di ekor matanya, tetap terbaca ketidaksukaan terhadap kehadiran Pak Maryono.

Mar, tolong ambilkan coklat Swiss di kulkas.” Perintah Pak Kepala.

Tanpa banyak bicara, Pak Maryono mengeluarkan coklat yang dimaksud dari kulkas kecil di sudut ruangan. Bulatan-bulatan coklat spesial sebesar kelereng berbaris rapi dalam kotak bening yang berembun karena hawa dingin kulkas. Masing-masing bulatan itu terbungkus kertas warna emas yang sengaja dikusutkan supaya tampak artistik.

Pak Maryono menyerahkannya dengan sesopan mungkin, sambil membungkuk.

Ini lho Dik Vita. Coklat Swiss yang saya ceritakan. Saya beli sewaktu kunjungan kerja di Switzerland. Teringat Dik Vita.” Pak Kepala terkekeh. Mengangkat dagu dengan ekspresi pamer.

Namun, wanita yang ia ajak bicara tidak menanggapi. Bersama kedua matanya, jari-jari Vita malah bergerak memeriksa dengan seksama isi map yang tadi diberikan oleh Pak Kepala, sebelum kedatangan Pak Maryono. Mulut dan keningnya berkerut-kerut menandakan tingkat keseriusan yang tinggi.

Dokumen pemberian ijinnya sudah saya tandatangani. Jadi, perusahaan Mr. Rottenheart bisa bebas melakukan aktivitas apapun di daerah ini.” Pak Kepala mengubah arah pembicaraan. Dari coklat Swiss ke dokumen perijinan. Ia kelihatan agak kecewa tidak mendapatkan respon yang diharapkan dari Vita.

Aman, Pak? Efek sampingnya?” Tanya Vita serius.

Dik, ini kan daerah pedalaman. Mata Presiden itu cuma ada dua. Mana bisa penglihatan beliau menembus hutan-hutan belantara dan menemukan daerah ini. Tenang saja. Media juga tidak akan masuk. Kecuali kalau wartawannya harimau, ular….Hak-hak-hak-hak!” Pak Kepala terbahak-bahak. Gelambir di kedua pipinya bergoyang-goyang.

Hahaha! Iya, sih, Pak. Tapi, Mr. Rottenheart khawatir, kejadian yang kemarin-kemarin di kantor ini terulang. Beliau tidak mau kena getahnya.”

Lho, ikut makan nangka, kok tidak mau kena getahnya?? Hak-hak-hak-hak!” Pak Kepala kembali tertawa. “Tenang saja kalau berurusan dengan saya. Aman! Bapak-bapak yang sebelum saya ini kan ceroboh. Kurang perhitungan. Mereka terlalu polos dan kolot dalam bermain. Kurang licin lah. Buktinya, sudah berpuluh-puluh dokumen perijinan khusus yang saya loloskan. Toh, sampai sekarang saya masih fine-fine saja.” Kesan pongah tersirat dari ekspresi bibir Pak Kepala yang melengkung ke bawah.

Kalau begitu…” Vita melirik ke arah Pak Maryono yang sedari tadi berdiri agak jauh di samping Pak Kepala. Lelaki tua kurus itu mematung dengan tangan lurus ke bawah, tertangkup membawa nampan.

Pak Kepala segera tanggap. “Mar! Ngapain kamu di situ?”

Pak Maryono tergagap. “Ah, eh-oh…anu Pak… nunggu perintah Bapak selanjutnya.”

Sudah. Tidak ada. Pergi sana. Nanti, kalau ada perlu, saya panggil.” Pak Kepala berkata kasar.

Pak Maryono mengangguk dalam dengan segan. Ia melangkah ke arah pintu ruangan.

Jangan khawatir, Dik Vita. Dia itu buta huruf. Bodoh. Orang semacam dia tahunya cuma perut kenyang – tenang.”

Krieet!

Pak Maryono menutup pintu ruangan Pak Kepala. Ia tersenyum lega, sambil berjalan menyusuri koridor kantor.

Sebentar lagi. Batinnya.

Ketika hendak masuk dapur yang letaknya di belakang kantor, langkahnya dihentikan oleh seorang wanita berumur empat puluhan yang memakai seragam dinas.

Pak Mar! Dicari dari tadi kok nggak datang-datang sih? Kemana saja?! Buatkan teh tawar gelas besar, ya! Awas! Jangan pakai gula! Kalau sudah jadi, antar ke ruangan saya segera! Jangan sampai dingin seperti kemarin!” Semprotnya dengan suara melengking.

Pak Maryono menjawab patuh. “Iya, Bu.”

Pak Mar. Kalau masih ingin kerja di kantor ini, jangan lelet dong! Masih banyak orang yang mau menggantikan Pak Mar! Atau mau saya usulkan–”

Bu! Bu! Ada SPK! Ada SPK!” Seorang laki-laki muda datang dengan tergopoh-gopoh. Ia juga pegawai staf di kantor itu.

Espeka siapa??”

S-P-K! Satuan Pemberantas Korupsi! Di ruang Pak Kepala! Cepat Bu!” Wajah lelaki itu tampak panik.

Mati aku! Kantor kita kena lagi?? Ya ampuuun….” Wanita itu memegangi kepalanya. Mungkin baginya, dunia baru saja runtuh karena berita itu.

Saya duluan, Bu!” Lelaki tadi buru-buru berlari, disusul wanita yang meminta teh tawar pada Pak Maryono.

Siang itu, Pak Kepala tertangkap tangan menerima uang suap di ruangannya.

Dua puluh tahun lalu. Markas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Maryono. Kamu dipindahtugaskan.”

Siap, Komandan! Boleh saya tahu kemana, Komandan?”

Kamu masuk SPK. Ini perintah langsung dari Bapak Presiden!”

Siap, Komandan!”

Klinting! Klinting! Klinting!

Dari ruang dapur di belakang kantor, terdengar suara sendok stainless steel bergagang panjang beradu dengan cangkir kaca. Di dalamnya, pusaran air kopi yang menghitam bergerak gelisah.

Pak Maryono melakukan ritualnya. Menyendok sedikit air kopi, ditumpahkan ke atas telapak tangan kiri, kemudian dicecapnya. Lelaki tua kurus itu tersenyum, lalu mengangkat nampan berisi minuman kopi yang telah selesai ia seduh.

Kuatkanlah langkah kaki hamba di jalan lurus-Mu. Tambatkanlah di hati hamba tali iman kepadaMu. Bimbinglah hamba menuju surgaMu.

Bismillahirrahmanirrahim…

Rahasia Pak Maryono tetap tersimpan dalam pekatnya warna kopi. Namun, segelap apapun warna kopi, tak akan mampu menahan aroma harumnya menguar keluar, untuk mengetuk pintu-pintu surga, bagi sang penyeduh kopi.

[Eryani Widyastuti]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s