Telepon Untuk Fajar


teleponuntukfajar

 

Ponsel Fajar berbunyi pada malam menjelang hari pertama puasa Ramadhan.

Selamat malam. Betul ini Adik Fajar Setiawan?”

E…, iya, betul. Maaf, ini siapa?”

Tunggu sebentar. Bapak Presiden mau bicara.”

 

Satu bulan sebelum telepon itu.

Srek… srek… srek… srek…

Aduuuh…! Pegaaaal…!”

Fajar berseru sambil merentangkan kedua tangannya. Genap satu minggu ia bekerja sebagai tukang sapu di kompleks perumahan mewah ini. Ia tidak dapat membayangkan betapa pegalnya badan Pak Rokhim, teman kerjanya, yang telah menyapu di sini selama 25 tahun.

Pak Rokhim. Lelaki tua pemurung yang aneh. Berperawakan kecil-ceking, dibalut kulit legam yang sangat keriput. Seluruh kepalanya telah tertutup uban. Wajah tuanya mengguratkan beban hidup. Umurnya kurang lebih 75 tahun. Tapi, bukan itu yang membuatnya aneh, melainkan cerita-cerita tentang anaknya.

Ini anak saya. Namanya sama denganmu. Fajar. Abdurahman Fajar.” Suara Pak Rokhim menyiratkan kebanggaan. Telunjuknya menunjuk sebuah foto yang terpampang di halaman depan surat kabar. Foto Bapak Presiden.

Oooo…” Fajar menahan diri untuk tidak berkomentar berlebihan. Awalnya, ia pikir Pak Rokhim sedang bercanda. Namun, nampaknya, itu bukan hobi Pak Rokhim.

Jangan didengarkan, Jar! Dia pikir, Presiden itu anaknya yang hilang. Segala berita tentang Presiden dikliping!” Jelas Bang Burhan, ketika Pak Rokhim pergi ke toilet.

Siapa sih yang tidak kagum dengan Bapak Presiden?” celetuk Mas Nurman yang duduk di sebelah Bang Burhan. “Pemimpin sederhana dan pro rakyat. Tuh, perusahaan-perusahaan asing yang mengeruk kekayaan alam negeri kita, sudah pada ditendang keluar Indonesia!” Mas Nurman mengepalkan tangannya dengan berapi-api. Kabarnya, Mas Nurman adalah seorang sarjana Ilmu Politik. Entah bagaimana bisa nyasar menjadi tukang sapu.

Lain hari, Pak Rokhim bercerita lagi tentang anaknya.

Istri saya meninggal waktu dia masih bayi. Bingung sekali. Kalau saya pergi memulung, siapa yang akan merawat dia? Akhirnya, saya taruh dia ke dalam gerobak yang biasa saya pakai kerja. Eh, tahu-tahu, bahu kirinya tergores paku di gerobak. Saya tahu, bekas goresan itu pasti masih ada.” Mata Pak Rokhim menerawang ke langit siang yang biru bersih.

Terus? Apa yang terjadi, Pak?” Fajar telah bertekad untuk meladeni saja obrolan Pak Rokhim, meski diiringi komentar teman-temannya. Kata mereka, hati-hati, ikutan gila!

Rasa kasihan terhadap seorang tua yang kesepian, membuat Fajar mengabaikan hal itu.

Sosok Pak Rokhim telah mengingatkannya kepada Kakek. Sejak Fajar lahir, ia tidak pernah mengenal ayah kandungnya. Kakek yang bekerja untuk menghidupi dirinya dan ibunya. Kakek mempunyai wajah yang bersih dan sumringah. Saat meninggal beberapa tahun silam pun, beliau memasang senyum.

Pak Rokhim menjawab pertanyaan Fajar. “Badannya panas sekali selama dua hari. Saya takut…, takut dia mati. Jadi, saya bawa dia ke Panti Asuhan Bunda. Saya ketuk pintunya, lalu lari sembunyi di balik tembok bangunan di dekat situ. Saya mengintip. Ternyata, anak saya diambil. Alhamdulillah!”

Tapi, kok Pak Rokhim bisa yakin kalau dia itu adalah presiden kita yang sekarang?”

Pak Rokhim tersenyum getir. “Setelah itu, saya berjualan koran dan majalah di perempatan jalan dekat Panti Asuhan, supaya bisa melihatnya setiap hari. Saya jadi tahu, mereka memberinya nama Abdurahman Fajar. Tujuh belas tahun saya melihatnya tumbuh menjadi remaja yang gagah. Sampai suatu hari, dia pergi. Kata petugas Panti, anak yang bernama Abdurahman Fajar sudah diangkat anak oleh Kyai Abdullah Rahman.”

Fajar termenung. Ah, benarkah Bapak Presiden itu anak Pak Rokhim, si tukang sapu yang duduk di sebelahku ini?

 

Satu minggu sebelum telepon itu.

Fajar menjumpai Pak Rokhim sedang duduk di bawah pohon besar yang rindang. Mata beliau basah oleh airmata.

Ia berjongkok di dekatnya. “Kenapa Pak? Sakit?”

Pak Rokhim menggeleng. “Tadi malam, saya mimpi istri saya. Dia bilang, Pak, ayo pulang! Sudah saya buatkan rumah bagus di sini.

Fajar menelan ludah. Muncul perasaan perih seperti saat kakeknya meninggal.

Saya ingin bertemu anak saya sebelum mati… saya mau minta maaf…” Pak Rokhim mengusap wajahnya.

Tidak usah dipikirkan, Pak. Oiya, tujuh hari lagi puasa Ramadhan. Nanti, hari pertama berbuka di rumah saya, ya? Daripada berbuka sendirian. Masakan ibu saya enak, lho!”

Pak Rokhim mengangguk. Senyuman sayu menghias wajahnya.

Tiga hari sebelum telepon itu.

Tetes cairan infus menitik-nitik, kemudian mengalir melalui selang bening yang mengulur menuju lengan seorang lelaki tua. Pak Rokhim.

Sebuah moge ugal-ugalan menabraknya hingga terluka parah, hingga kekurangan darah.

Sejak tadi, Fajar pontang-panting mengurus obat dan mencari kantung darah untuk keperluan Pak Rokhim.

Stok darah untuk golongan darah O sedang kosong!

Fajar menepuk-nepuk keningnya sendiri, kehabisan akal. Ia pun memutuskan untuk kembali ke bangsal tempat Pak Rokhim berbaring. Namun, ketika mencapai pintu, ia tertegun. Pak Rokhim yang tadi sendirian, sekarang dikelilingi beberapa orang berseragam medis.

Semakin ia mendekati tempat tidur Pak Rokhim, semakin kencang degup jantungnya. Jangan-jangan…

Adik siapa? Keluarganya?” tanya Dokter.

Fajar mengamati keadaan Pak Rokhim. Infus dan selang oksigen masih terpasang. Syukurlah, Pak Rokhim masih hidup!

Bu-bukan. Saya teman kerja Pak Rokhim…”

Tanpa sadar, Fajar menoleh ke ranjang samping Pak Rokhim. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya seakan terhisap keluar tubuh.

I… itu… kan??

Sosok itu! Sosok kurus tinggi yang sering muncul di televisi dan surat kabar! Dari lengannya mengalir darah merah melewati selang!

Dokter menangkap kekagetan Fajar. “Kebetulan, Bapak Presiden sedang mengadakan kunjungan mendadak ke sini. Beliau berkenan menyumbangkan darah untuk Pak Rokhim. Sebab ternyata golongannya sama.”

Apakah ada keluarga Pak Rokhim yang bisa dihubungi, Dik?” tanya salah satu perawat.

Fajar menggeleng. Matanya masih terarah kepada Bapak Presiden yang terlentang tenang.

Tiba-tiba, sebuah ide nekat merasuki Fajar. Ia menatap Dokter.

Eh, sebenarnya ada, Dok. Anak laki-lakinya. Empat puluh lima tahun lalu, waktu anak itu masih bayi, bahu kirinya terluka karena goresan paku. Lalu, Pak Rokhim menitipkannya ke Panti Asuhan Bunda untuk dirawat. Kemudian, anak itu diadopsi oleh Kyai Abdullah Rahman.” Fajar mengeraskan suaranya yang bergetar. Berharap, seseorang yang dimaksudnya mendengar jelas cerita ini.

Pak Dokter tertawa sinis. “Adik bicara apa? Kalau tidak punya keluarga, bilang saja.”

Entah dari mana datangnya, sebuah suara dalam dan berat berbisik di telinganya.

Bapak Presiden ingin bicara empat mata dengan Adik setelah proses donor selesai.”

Bulu kuduk Fajar meremang. Seorang pria tegap yang tadi berdiri di dekat Bapak Presiden, kini sudah berada di sampingnya.

Percakapan di telepon pada malam menjelang hari pertama puasa Ramadhan pun berlanjut.

Selamat malam, Dik. Saya Abdurahman Fajar. Bisakah Adik datang ke Jakarta? Bapak saya, Pak Rokhim, ingin bertemu.”

[Eryani Widyastuti ]

———————————————————————————————————-

Ingin membaca cerpen-cerpen seru lainnya? Klik di sini.

———————————————————————————————————–

Advertisements

2 thoughts on “Telepon Untuk Fajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s